Aldar menghela napas panjang, lalu tertawa dengan dengan ekspresi geram. “Harus berapa kali lagi kubilang, kalau aku masih suamimu, Kesh?” ujarnya sambil melepaskan kedua tangannya. “Pfuh ... andai saja mau, kita bisa menginap berdua malam ini di sini, biar saja barang-barangnya belum lengkap,” gumamnya sambil menunjukkan ekspresi kecewa. “Enak saja!” sahutku dengan kesal. “Kenapa sih, Kesh?” tanyanya lagi padahal yang sudah jelas jawabannya. “Pernikahan itu kegiatan terang-terangan, jadi, tak perlu sembunyi-sembunyi begini,” sahutku sambil meninggalkan Aldar dan masuk ke dalam rumah, lalu mencari tangga yang menuju lantai satu. Telinga ini menangkap embusan napas Aldar yang terdengar tak berdaya. Suara langkah Aldar yang mengikuti langkahku terdengar. “Kesh ...!” serunya terabaikan

