Kita Tinggal Berdua Di Sini

1056 Words

Aku mengambil napas panjang ketika mengenali milik siapa tangan yang melingkar ini. “Harusnya rumah ini ada lebih awal,” bisiknya sambil meletakkan dagunya di atas kepala ini. “Maaf,” imbuhnya sambil lebih menekankan dagu itu hingga makin terasa tekanannya. Aku hanya diam dan menekan perasaaan sedih yang mendadak mencuat. “Kesh ...,” lanjut pemilik lengan kekar ini. “Kita tinggal berdua di sini, ya ...,” bisiknya sambil mempererat pelukannya. “Ah!” teriaknya ketika kakinya kupijak kuat-kuat. “Kesh!” protesnya dengan kesal setelah melepaskan kedua tangannya. “Hei! Aldar! Sadar dong! Sadar!” teriakku dengan marah. “Aku nggak pingsan, Kesh,” sahutnya dengan raut wajah bersungut-sungut. “Nggak usah disuruh sadar,” lanjutnya dengan wajah geram. “Emang hidup berdua di sini, enggak mun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD