“ tapi itu khusus untuk Pak Neil saja atau karaywan lain boleh ke sana ? “
“ boleh kesana kok karaywan lain, tapi jarang sekali ada yang mau ke sana, mau ngapain di atas sepi kok “ katanya
“ Aku kasih kopi ke Pak Neil dulu ya mbak. makasih risolnya “ kata office boy itu dengan senyum ikhlasnya. Aku segera menghabiskan risol ku dan kopi yang ku buat, karena jam istirhat sebentar lagiakan habis. Aku tidak tahu harus bagaimana nanti saat meeting intern, karena ini pertama kalinya Aku mengikuti.
Disela – sela persiapan meeting intern, Aku mencoba membaca laporan keuangan yang dikoreksi Pak Neil agar Aku bisa sedikit mengerti apa yang akan di bahas Pak Neil.
“ Langsung saja jelaskan repoortnya “ Kata Pak Neil di ruang meeting. Dimulai drai devisi finance menjelaskan laporan mereka, setelah itu devisi purchase, ada salah satu orang dari bagian purchase merasa aneh ku lihatnya. Speerti ketakutan dan pucat wajahnya.
“ Bisa jelaskan kenapa ada pembelian yang tidak jelas dan tidak harusnya di beli kenapa di beli. Dan itu nominalnya besar, bisa untuk makan satu perusahaan ini “ kata Neil dengan suara baritone yang menyeramkan. Tanpa ada suara menjawab pertanyaan Neil, karena semua terdiam mukin karena ketakutan.
“ Masih bisa diam ! “ Brak ! suara itu mengejutkan satu ruangan termasuk Aku. Neil tampak sangat marah, namun tidak ada penjelasan dari kesalahan yang Ia temukan.
“ permisi Pak Neil, ijin bicara. Mungkin ada perwakilan dari devisi kalian yang bisa memberi penguat bagi kita semua disini “ kata Lei dengan menatap para karaywan dalam meeting
“ Rumi ? , Nana? , Dito ? ada yang bisa jelaskan ? “
“ erhem !, ijin menjawab, mengenai hal ini kami sedang melalukan penelusuran sehingga kami belum bisa memberikan jawabn posti. Tapi kami janji dalam dua hari inikami akan bekerja keras untuk mendapat kejelasan permasalahan iini “ Kata Dito
“ ok good, jangan lupa report untuk project baru. “ Kata Pak Neil kemudian meninggalkan ruang meeting. Tak terasa sudah jam empat sore, Aku bersiap – siapa akan pulang. Dan benar kata Pak Lei, kalau Aku di minta datang ke acara undangan nanti malam. Smeakain bingung dengan situasi dan gaun yang akan ku pakai nanti malam.
“ Nanti malam temani Aku ke undangan peresmian gedung bantuan, Lei akan menjemput mu nanti malam jam tujuh malam. “ kata Neil
“ baik pak “ jawab ku dengan ragu namun harus ku lakukan. Aku menghubungi Karli untuk meminta bantuan menemani Ibu di rumah. Aku segra pulang dan mencari baju yang akan AKu pakai untuk Acara. Ku buka lemari, Aku keluarkan baju satau persatu namun tidak ada yang pas. Jam sudah menunjukkan jam enam, sedangkan Aku masih belum bersiap – siap. Rasanya ingin menangis dan lari di situasi seperti ini. Situasi yang mengharuskan hadir. Jarum jam terus berputar menuju jam tujuh malam, Aku bersiap mandi dan make up sendiri di rumah.
“ Permisi Bu, Saya Lei. Ingin menjemput Sabrina ada acara kantor. Dan Ini baju untuk Sabrina “ kata Leidengan sopan
“ oh iya Nak, silahkan masuk. Ini baju apa ya ? “
“ ini baju untuk di pakai acara undangan sekarang bu, Pak Neil yang memintanyatadi. “ kata lei sopan
“ oh begitu, saya panggilkan Sabrina dulu ya. Sepertinya sudah siap. “ kata Ibu ku
“ Nak, Pak lei sudah menunggu ? “ panggil ibu ku sambil membuka pintu kamar ku
“ Iya Bu, Aku masih bingung mau pakai baju apa “ kata ku di dalam kamar
“ Ini bajunya sudah ada “ kata Ibu ku sambil memberikan paperbag bersisi baju
“ Ini dari mana Bu “ Tanya ku
“ Dari Pak Neil, Pak Lei yang memabwanya ke sini. Cepat ganti bajunya, jangan biarkan Pak Neil dan Pak Lei menunggu. Acaranya keburu selesai nanti. Ibu temani Pak Lei ya “ kata ibu, ku buka paper bag itu dan memakai bajunya.
“ Ini enggak salah, untuk ku ? ini terlalu seksi “ Gumam ku sambil berkaca di depan cermin. Dress warna putih tanpa lengan terlihat mahal namun buat ku kurang percaya terdiri karena sedikit terbuka. Tapi ini adanya, bergegas Aku keluar kamar karena Ibu sudah memanggil ku berkali – kali.
“ Kok lama sih Nak, kasihan Pak Lei menunggu, dari tadi di telpon Pak Neil terus lho. Anak ibu cantik “ kata Ibu ku sambil merangkul pinggang ku
“ Ibu, jangan mulai lagi di depan Pak Lei. “ bisik ku pada Ibu
“ Kita bisa pergi skearang ? “ Tanya Lei namun sorot matanya sekan berbicara memuji penampilan ku
“ oh iya. Bu Sabrina pamit dulu ya. Ar, Tolong jagain Ibu ya, kalau ada apa – apa langsung telepon Aku ya ? “
“ Beres Bos. Sudah enjoy saja, tenang saja kalau Ibu sudah sama Aku pasti aman “ kata Karli sahabat ku
Sesampainya Di sana Aku tiba – tiba terasa gugup. Dari luar sudah terlihat megah acaranya apalagi di dalam. AKu mencoba menenangkan Diri dengan mengambil nafas sedalam mungkin.
“ Apa yang kamu lakukan ? “ Tanya Lei yang meilhat Ku terlihat mengambil nafas sambil memejamkan mata
“ A – jujur saya nervous, Pak “
“ Tenang saja, di dalam tidak menyeramkan yang kamu bayangkan. Kita hanya menghadiri peresmian. Acaranya hanya menikmati makanan “
“ Kalau hanya menikmati makanan, kenapa Saya juga harus hadir pak “
“ Kerena kamu sekretaris pribadi Neil, dan harus ada perwakilan dari kita. Nanti kamu akan lihat, sebaiknya kita masuk. Pak Neil sudah menunggu “ Kata Pak Lei
Dengan langkah ragu Aku tetap berjalan menuju gedung tersebut, suara music sudah terdengar mewah. Satu langkah lagi Aku sudah berada di dalam ruangan yang membuat ku tidak nyaman.
“ Huftttt akhirnya, ternyata enggak semenakutkan yang AKu bayangkan “ kata ku dalam hati. Neil melihat kedatangan Ku dan Lei. Neil tampak terlihat sangat tampan malam ini, tak tahu kenapa mata ku melihatnya seperti itu. Tatapan Pak Neil pada ku juga sangat tajam numun lembut, Aku tak pernah melihat tatapan mata seperti itu dari Pak Neil. Semakin dekat Aku sedikit menundukkan kepala, untuk menjauhi tatapan mata Neil yang menusuk jantung Ku rasanya.
“ Kenapa Lama kalian datang ? “ Tanya Neil lembut tak seperti biasanya Dia berbicara di kantor
“ Sedikit macet “ jawab Lei Singkat dan pelan sambil mengambil minuman yang di tawarkan pelayan pada ku juga
“ Gimana Bos, Cantik ? “ bisik Lei pada Neil namun masih terdengar di telinga Ku. Aku berpura – pura tak mendengar dengan mengalihkan pandangan Ku pada panggung yang megah
“ hem, Srupp “ Jawab Neil sambil meneguk minuman terakhir di gelasnya
“ Maaf Pak, apa bisa saya mulai sekarang “ sahut salah seorang WO dan Neil menganggukan kepala. Acara yang di nanti segera di mulai, tak tahu kenapa jantung KU semakin berdetak kencang seperti habis lari marathon
“ Selamat Malam para tamu undangan yang saya hormati, perkenalkan Saya Indra yang akan memandu acara mala mini. Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk memandu acara paling bermakna dan sangat berarti ini. Baik, tidak menunggu lama kita akan mendengarkan sambutan dari sosok yang terpenting dalam terselenggaranya acara ini. Mari Kita sambut CEO Dari PT One Feel Bapak Neil Carlos, Berikan tepuk Tangan ! “
“ Terima Kasih. Selamat Malam semua, pertama saya ucapkan terima kasih atas waktu luang para tamu undangan. Saya tidak akan banyak memberikan sambutan karena acara ini untuk merayakan dan mensyyukuri apa yang sudah kita impikan selama ini. Khususnya anak – anak di rumah bantu yang akan menjadi generasi penerus kita. Pesan saya untuk kalian, tetap harus memiliki semangat, harapan yang besar namun tetap rendah hati. Para bapak dan ibu Pembina di sini akan memberikan arahan juga pendidikan yang baik. Dan saya ingin tempat ini memberi nyaman siapa saja yang berada di sini, dan tentunya kalian semua tidak hanya sekolah di sini tapi hidup bersama saling mengasihi dan memberikan support satu sama lain. Sehingga memunculkan anak – anak yang luar biasa memiliki prestasi dengan karakter yang sudah terbentuk dengan baikl. Kalian bisa menggunakan semua fasilitas di sini dengan gratis, tapi tetap di jaga dengan baik ya. Saya rasa itu saya dari saya, dan mulai malam dan detik ini saya resmikan gedung bantuan ini. “ kata Neil dan menarik tali kain yang menutupi gedung tersebut.
“ Bawa ini Naik, dan berikan ke Neil “ bisik Lei pada Ku dengan memebrikan satu buket bunga
“ saya Pak “ Tanya klku sambil menunjuk diri sendiri
“ Bukan !. tentu saja kamu, cepat naik “ kata Lei dengan sedikitbcandaannya. Aku segera membawa Buket bunga itu naik ke panggung dan memberikannya pada Neil. Setelah itu terdengar tepukan meriah dari para tamu undangan di sana. Aku pun ikut tersenyum lebar dengan tepuk tangan lembut, dan tiba – tiba Neil menarik pinggang ku. Betapa terkejutnya Aku langsung menatap Neil dengan gugup. Smentara Pandangan Neil tetap ke depan sambil senyum.
“ Thanks “ kata Neil pelan pada Ku
“ hem ? iya “ jawab Ku Gugup.
Setelah sambutan itu, acara berikutnya hanya makan dan menyapa para tamu undangan satu persatu. Begitu meriahnya acara ini, dan Aku tak pernah tahu kalau Pak Neil ternyata ada sisi baiknya. Aku menikmati makanan dan minuman yang belum pernah Ku makan. Tiba – tiba saja ada seseorang yang menarik tangan Ku pelan.