“ Sab, Aku masih aneh saja dengan Pak Neil. Kamu harus hati – hati ya. Kalau ada apa – apa kamu bilang. “ kata Sisi dengan khawatir
“ iya mbak, tapi sebenarnya kenapa mbak. apa Pak Neil jahat atau apa ? “ Tanya Sabrina dengan takut
“ Pak Neil tidak jahat, dan Dia tidak akan menyakitimu secara fisik. Aku takutnya kamu di kecewakan,karena Pak Neil itu orangnya susah di mengerti. Dan dia juga sangat jarang dekat dengan perempuan aplagi dengan karywannya. Makanya dia ambil Pak Lei untuk jadi asistennya “ kata Sisi
“ Aku juga sempat berpikir seperti itu, Mbak. “
“ tapi ya sudahlah jangan terlalu di pikirkan, Aku Yakin Pak Neil baik kok. “ kata Sisi.
Disaat Aku sedang mencerna perkataan Mbak Sisi, Pak Neil mengirim pesan Whatshap. Dia meminta ku untuk menjadwal ualang meeting dengan PT Nice World. Dan memintaku untuk memesan makanan di restoran yang sudah Ia sebutkan namanya. Dengan segera Aku memesankan makanan itu, agar tidak mendapat omel darinya.
“ Mbak, tahu restoran ini ? “ tanyaku pada Mbak Sisi
“ ini kan jauh dari sini, Sab. Kenapa emangnya ? “
“ Pak Neil meminta ku untuk memesankan makanan. “ jawabku
“ Wah kamu harus kesana, karena Resto itu tidak ada di grabfood atau aplikasi food lainnya. Karena itu emang restoran elit, bahakan salah satu bahan makanannya di datangkan langsung dari luar negri. “
“ Terus gimana ini mbak, Aku harus kesana ?. nanti kalau Pak Neil Tanya Aku gimana ? “
“ Tapi kan Pak Neil yang menminta mu untuk pesan makanan kan ? ya sudah berangkat saja. Pakai supir kantor. “ kata Mbak Sisi, namun dengan ragu Aku akhirnya meminjam motor salah satu karyawan untuk ke restoran tersebut agar lebih cepat, karena motor ku ada di apartemen Neil.
Dalam perjalanan menuju Resto, Pikiran ku tidak karuan memikirkan perkataan Mbak Sisi. Hingga tanpa Aku sadari, handphone ku berdering siapalagi kalau bukan Pak Neil.
“ kamu di mana ? “ katanya
“ Saya perjalan ke Resto pesan makanan Bapak. “ jawab ku
“ kenapa harus kesana, huftttt ! “ gerutu Neil dengan marah dan menutup teleponnya
“ Sisi, Aku Minta finance report. Sekarang ! “ perintah Neil
“ aduh apalagi ini, tinggi lagi nih darahnya. “ gumam Sisi
Dengan cepat Sisi meminta laporan terbaru ke devisi Finance. Lei keluar dari ruangan Neil dengan raut wajah yang kurang menyenangkan. Sisi yang melihat itu pun bertanya pelan pada Lei.
“ Pak Lei, are you ok ? “ Tanya Sisi
“ No, Iam not. Sabrina kenapa harus pergi ? kenapa Dia tidak memesannya melali telepon ? “ gumam Lei masih terdengar Sisi
“ oh itu tadi saya yang menyuruhnya langsung kesana, karena Resto itu kan tidak ada aplikasi online. Dan Aku juga tidak kepikiran agar Dia by phone saja. Maaf Pak, soalnya Aku juga blank saat lihat Pak Neil datang bersamaan dengan Sabrina tadi. “ kata Sisi
“ ok, sudah terlanjur marah. “ kata Lei kemudian menghubungi Sabrina yang kebetulan baru lima meni yang lalu sampai di resto dan sedang emnunggu pesanannya.
“ Sab, kamu pulang saja. Biar makanannya di ambil supir “
“ lho Pak, ini kurabng sebentar lagi jadi. Kalau Saya tinggal kan sayang. Paling sepuluh menit lagi jadi pak. “ kata Sabrina
“ ok terserah kamu, yang penting kamu harus segera sampai di kantor, Pak Neil menanyakan mu “
“ baik Pak “ jawab ku dengan rasa campur aduk antara jengkel, capek dan marah. Sementara Neil sedang focus memeriksa laporan keuangan dari devisi finance, seakan Dia lupa tentang emosi yang Dia luapkan tadi pagi.
Maknan sudah jadi, Aku pun segera menuju ke kantor dengan kecepatan yang menurut ku itu sudah sangat cepat. Baru kali ini Aku bekerja aneh karena memiliki bos yang temperature emosinya tdak di ketahui. Setelah lima belas menit akhirnya Aku sampai di kantor dengan d**a dag dig dug rambut berantakan karena Aku sedikit berlari menuju lift.
“ Maaf Pak, maknan pak Neil sudah di pantry sednag di siapkan office boy “ kata ku pada Lei yang sedang focus menatap layar laptop tanpa tahu kedatangan ku begitu juga mbak Sisi
“ Astaga Sab, kamu buat kaget saja. “
“ kamu acak – acakan sekali Sab, sana ke toilet dulu rapikan diri mu “ sahut Mbak Sisi. Dengan cepat Aku meletakkan tas ku dan pergi ke toilet. Di kamar mandi Aku mengambil nafas untuk megaturnya dengan baik. Aku kembali duduk di kursi ku dan mengerjakan tugas ku.
“ Sab, kamu sudah menghubungi PT Nice World ? “ Tanya Pak Lei
“ sudah Pak, dan sudah ada konfirmasi dari mereka. Mereka bersedia menunggu waktu Pak Neil. “ jawab ku
“ okey, kamu sudah mengerti dan paham tugas dari Pak Neil ? “
“ sudah Pak, hanya saja beberapa hal yang tidak Saya mengerti. Ehmmm . . . apa mungkin sekeretaris pribadi harus bersikap inten, mulai dari persiapan berangkat kerja, makan, jadwal dan hal lain di luar kantor itu wajib saya lakukan ? “ Tanya Sabrina sedikit keberatan
“ Kamu betul Sab, semua itu harus kamu lakukan selama menjadi sekpri pak Neil. Karena hal itu pun yang Aku lakukan, termasuk saat Pak Neil Galu pun Aku harus siap siaga “ kata Pak Lei dengan senyum
“ ha ? . . . “ kata Ku
“ Karena AKu Laki – laki jadi tidak akan baper, lain dengan mu. Jangan sampai kebawa perasaan dengan Pak Neil ya ?, kalau itu terjadi, tanggung sendiri akibatnya. Aku dan Sisi tidak bisa membantu mu “
“ Ah kalau itu sih tidak akan pak, karena komitmen ku bekerja. “
“ good. Malam ini Pak Neil ada undangan peresmian rumah bantu, kemungkianan nanti kamu juga akan di minta menemaninya. Kamu tidak ada acara kan ? “ Kata Lei
“ Tidak ada sih Pak. Tapi ibu ku sendirian di rumah, kasihan. Tidak biasa ibu Aku tinggal kalau malam. “ kata ku dengan sedih
“ mungkin kamu bisa minta tolong sahabat mu untuk menemani orang tua mu “ Kata Lei
“ Pak Lei kok tahu “
“ Apa yang tidak Dia tahu, Sab. Dia itu detektif dadakan “ Sahut Mbak Sisi dengan tawa
“ Tapi AKurat dong, iya kan ? “ Kata Pak Lei dengan senyum lebarnya, Mbak Sisi pun senyum setuju
Saat perbincangan seru kami, tiba – tiba Pak Neil keluar Ruangan dengan membawa Finance repot yang telah di koreksinya.
“ Ada yang tidak beres dengan ini, ada meeting dengan devisi Finance dan purchase “ kata Neil sambil meletakkan berkas itu di meja Sabrina lalu pergi menaikki lift
“ wah apa lagi ini, ada saja hari ini surprisenya banyak banget. Pak Neil mau ke mana itu ? “ Tanya Mb Sisi
“ Biasa lah Si, kayak enggak tahu kebiasaan Bos kalau lagi emosi tingkat mahadewa. “ jawab Pak Lei santai
“ Mbak, ini saya langsung buat memo ke devisi Finance dan Purchasse ya, tapi jam berapa meetingnya ? “ Tanya Sabrina
“ siang ini Pak Neil ada jadwal meeting dengan client enggak ? kalau enggak ada, meeting internnya buat jam dua saja. Tapi konfirma lagi ke Pak Neilnya ya “ jawab Mbak Sisi yang baik dan sabar membantu ku. Hal yang tak ku suka adalah berkomunikasi langsung dengan Pak Neil. Karena jawabnnya selalu absurb.
Tanpa Ku ketahui, Pak Neil menenangkan diri di rooftop. Dan Aku baru tahu kalau di Rooftop ada tempat yang nyaman dan bagus, di mana sengaja di buat untuk menikmati langit luar. Dan ini penemuan baru ku saat nanti Aku sedang penat.
“ Maaf Pak Neil, Apakah meeting intern bisa saya adakan di jam dua siang ? “ Aku mengirim pesan pada Pak Neil lima menit yang lalu, namun belum ada jawaban hanya tampil read saja. Buat tidak tenang untuk pergi lunch. Dan setelah menunggu lima belas menit sebelum jam lunch tiba, Akhirnya Pak Neil menjawab pesan ku.
“ ok “ jawabnya singkat menunjukkan dingin hatinya. dan Undangn elektronik ke devisi Finance dan Purchase langsung ku kirim melalui group mereka. jam makan siang pun tiba, Aku mengambil bekal buah yang di siapkan ibu tadi pagi dan menikmatinya di pantry dengan beberapa karyawan lain, hingga satu persatu dari mereka pergi karena selesai maksi. Perut ku masih terasa lapar karena tadi pagi belum sempat makan pagi. Aku ingat masih memiliki frozen food di kulkas kantor, bergegas Aku menyalakan kompor dan menggorengnya. Aku kebiasaan tidak ingin menganggu ofiice boy saat istirahat berlangsung, karena Aku merasa mereka juga perlu istirahat. Kecuali perintah Bos satu itu.
Saat asik menganggkat makanan ku lettakan piring, Aku mendengar suara baritone Neil meminta Office boy untuk membuat kan secangkir kopi.
“ Mb Sabrina lagi buat apa, wangi sekali baunya “ kata Oicce boy yang masuk ke pantry karena akan membuatakan kopi bos besar
“ ini risol, kamu mau ? Aku bagi satu ya, aku taruh sini “
“ Aduih mbak, makasib lho. Bukan maksud ku minta mbak “
“ santai saja, bos minta kopi ya ? “
“ iya mbak, kok tahu ? “
“ Aku dengar tadi, Pak Neil sering yak e rooftop ? “ Tanya ku
“ Iya mbak, kalau lagi suntuk, soalnya ak selalu lihat berkali – kali, kalau habis marah hebat, Pak Neil selalu naik ke atas. Makanya di atas di buat senyaman mungkin. “ jawabnya