Bab 5

1535 Words
“ Maaf Mbak tamunya Pak Neil, Ya ? “ Tanya Mbok Suni dengan ramah “ Iya, kenalkan saya Sabrina. Saya karaywan Pak Neil “ jawab Sabrina dengan mengulurkan tangan ke Mbok Suni. Namun Mbok Suni tidak menyambut tangan Sabrina, bukan karena sombong tapi Mbok SUni merasa Ia tak pantas menerima jabatan tangan itu. Dengan cepat Sabrina menarik tangannya. “ maaf “ kata Sabrina canggung “ saya yang minta maaf mbak, maaf buka apa – apa. Tapi tangan saya kotor, jadi enggak membalas jabat tangan mbak. oh ya mbak Mari saya buatkan sarapan “ kata Mbok Suni dengan tangan mempersilahkan Sabrina untuk masuk ke ruang makan “ oh terima kasih bu, saya sudah sarapan. “ kata Sabrina “ panggil saja saya Mbok Suni. Tapi tadi Pak Neil berpesan agar saya buatkan sarapan untuk mbak Sabrina “ kata Mbok Suni “ ehm . . gitu ya. Tapi terima kasih Mbok, tadi sebelum ke sini, ibu sudah bawakan saya bekal. Itu bekal saya masih ada di motor. “ kata Sabrina dengan senyum ramahnya “ oh . . ya sudah kalau begitu mau minum apa ? “ Tanya Mbok Suni “ Teh saja kalau tidak merepotklan, Mbok. Terima kasih banyak “ “ tentu saja tidak merepotkan, silahkan duduk Mbak. Pak Neil sedang bersiap – siap, sebentar lagi juga turun untuk sarapan. Saya buatkan teh dulu ya “ kata Mbok Suni “ ya mbok, terima kasih “ “ Tumben karaywan Pak Neil datang kesini selain Mas Lei. Tapi Mbak Sabrina cantik dan sangat sopan “ gumam Mbok Suni sambil membuatkan Teh “ Mbok, Dia sudah datang belum ? “ Tanya Neil tiba – tiba sudah berada di ruang makan “ Eh Pak Neil. Iya mbak Sabrina ada di ruang depan, ini saya sedang buatkan teh “ kata Mbok Suni “ tidak usah, suruh ke sini saja. Buatkan sarapan yang sama seperti saya. “ kat Neil sambil merapikan lengan kemejanya “ b . . baik Pak “ jawab Mbok Suni dan langsung segera menghampiri Sabrina “ Mbak Sabrina, Pak Neil sudah di meja makan. Mbak Sabrina di minta ke sana, Mari saya ikut saya “ kata Mbok Suni. Sabrina dengan raut wajah terkejut dan bingung mengikuti mbok Suni. Sementara Neil sudah menikmati sarapannya “ Pagi Pak “ sapa Sabrina pada Neil “ Pagi. Duduk “ perintah Neil sambil sedikit mengunyah makanannya. Aku menarik kursi perlahan dan duduk di samping depan Neil dengan canggung. Sementara Mbok Suni sibuk memberikan alat makan dan menghidangkan sebuah roti untuk ku juga teh yang di buatnya tadi. Aku masih diam melihat kesibukan mbok Suni di depannya, sesekali melirik Neil yang sedang menikmati roti dan kopinya. “ Silahkan, mbak Sabrina. Kalau butuh sesuatu bilang saya ya “ kata Mbok Suni pelan. Sabrina menjawab dengan senyum dan anggukan yang mengisyaratkan terima kasih “ Makanlah, aku tidak mau mendengar cacing di perurt mu “ kata Neil dengan wajah datar “ terima kasih Pak, Tapi saya tadi sudah makan di rumah “ kata Sabrina “ apa Ibu mu tidak mnegajarkan cara bertamu ? “ kata Neil dengan ketus membuat Sabrina jengkel “ Baik, saya makan. Maaf “ kata Sabrina pelan sambil menundukkan kepala menatap sepotong roti bakar buatakan Mbok Suni. Ia mengigit Roti itu sedikit demi sedikit dan mencoba menelannya paksa, sesekali minum teh nya untuk mendorong rotinya agar dapat masuk ke tenggorkan dengan cepat, untuk mengurangi kecanggungannya. “ Tugas pertama. Catatan semua kebiasaan ku di kantor dan di rumah. Mulai dari menyiapkan pakaian saya, jadwal meeting dan sampai saya pulang. Kamu juga harus siap dua puluh empat jam ketika saya butuhkan sewaktu – waktu “ “ uhuk . . . uhuk ! “ Sabrina tersedak mendengar tugasnya yang unik menyiapkan pakaian untuk Neil “ Kamu kenapa ? “ Tanya Neil menatap Sabrina sambil mengulurkan segelas air “ Maaf . . . maaf Pak. Tapi tugas menyiapkan pakaian itu apa harus saya yang kerjakan ? “ Tanya Sabrina gugup “ tadi saya kan sudah bilang, kurang jelas ! “ kata Neil tegas. Sabrina terdiam mencerna tugasnya “ Tapi maaf pak, kalau boleh saya tahu, kenapa Pak Neil mengangkat saya sebagai sekretaris pribadi bapak. Kan sudah ada Pak Neil dan juga Mbak Sisi. “ kamu mengatur saya !, bukankah saya berhak melakukan apa apapun terhadap karyawan saya. Kamu keberatan dengan tugas baru mu ?, ajukan surat resign sekarang kalau kamu keberatan “ kata Neil tegas “ ha ? “ Sabrina terkejut menatap Neil dengan wajah tak bisa di artikan “ kenapa ? “ Tanya Neil santai sambil menyeruput kopinya “ Boleh saya minta waktu untuk memikirkannya, Pak ? “ kata Sabrina dengan perasaan bingung, seakan – akan Neil tahu kesusahan dan titik kelemahan Sabrina “ kamu pikir saya banyak waktu untuk menunggu jawab kamu yang tidak penting itu ? “ kata Neil nada tegas sambil bangkit berdiri. Sat Neil akan melangkahkan kakinya meninggalkan meja makan, Sabrina dengan cepat memutuskan keputusan terpentingnya “ Saya terima pak ! “ kata Sabrina membuat langkah Neil terhenti, kemenagangan berpihak pada Neil “ lalu kenapa kamu masih beridir di sana “ kata Neil sambil berjalan menuju mobil. Supir membukakn pintu mobil, Sabrina masih berada di luar mobil. Neil yang melihat Sabrina yang masih berdiri di samping mobil segera menutup pintu mobil dan bilang ke Tejo agar Sabrina masuk ke dalam mobilnya. Tejo pun turun dan menghampiri Sabrina yang masih terpaku diam dengan keputusannya “ Mbak Sabrina, mari masuk. Di tunggu Pak Neil “ Kata Tejo “ em . . . tapi motor ku gimana ? “ Tanya Sabrina “ tidak ada yang mau ambil motor tua mu itu. Cepat masuk ! “ sahut Neil yang tiba – tiba membuka kaca jendela mobil. Dengan cepat Aku masuk ke dalam mobil duduk di sebelah Neil. Selama dalam perjalanan, Aku hanya bisa diam sambil memandang luar kaca mobil. Aku merasa tidak nyaman duduk di sebelah Neil atasan ku. Tejo melirik kaca spion tengah, melihat kedua manusia yang membuatnya juga merasa aneh di dalam mobil. Karena biasanya Neil bebrbicara ketika hanya berdua saja dengannya, entah Tanya keseheraian Tejo atau Mbok Suni. “ Cit !!!!! “ Tejo mendadak berhenti mengerem mobilnya membuat badan Sabrina terpental ke depan & Neil juga terkejut “ Ada Pa Jo ! “ Tanya Neil keras “ Maaf Pak, ada kucing lewat “ jawab Tejo dengan gugup “ ha . . hhh erhem “ Sabrina mengambil nafas pelan seketika Neil baru menyadari bahwa di sampingnya ada Sabrina “ Kamu tidak apa – apa ? “ Tanya Neil “ iya pak, saya baik – baik saja. “ kata Sabrina sambil memegangi dadanya yang berdetak kencang “ minum ? “ Neil memberikan Sabrina sebuah botol minum berisi air putih yang selalu ada di dalam mobil Neil. Sabrina minum dan menegukan dengan pelan “ Terima kasih Pak, maaf “ kata Sabrina Sopan membuat Neil heran dengan sikap kecil yang di buat Sabrina “ Lain kali jangan melamun Jo. Sekarang jalan “ kata Neil sambil membenahi Jas nya Mobil kembali melaju sedang menuju kantor, lima belas men sudah sampai dari kejadian rem mendadak tadi. Aku Turun segera begitu juga Pak Neil, banyak mata melihat ku saat Aku berjalan mengikuti Pak Neil. Karena bagi mereka ini hal yang asing, biasanya Lei yang selalu berjalan bersama Neil. Aku tahu apa yang ada di pikiran mereka, dari sorot mata mereka sudah terlihat jelas mereka mempertanyakannya. Tapi Aku tidak peduli, semua ini juga bukan keinginan ku. Neil dan Sisi yang kebeutlan sedang berada di satu ruangan terkejut melihat kedatangan ku dan Neil bersama. “ Lei, mulai sekarang Sabrina jadi seketraris pribadi ku. Dan kamu jadi manager Sabrina. “ kata Neil kemudian masuk ke ruangan nya di ikuti Sabrina. Sabrina menoleh kebelakang mengisyaratkan dengan menundukkan kepala dan senyum. “ wah dalam bahaya tuh anak “ celetuk Lei “ iya Pak, semoga aman ya. Dia kan baru di sini, masih belum bisa mengerti karakter Pak Neil. Aku takut nanti di kena pecat kilat kayak yang lainnya “ kata Sisi “ huft semoga saja tidak “ kata Lei sambil menagmbil nafas dalam. Beberapa menit lalu setelah Sabrina masuk ke ruangan Neil, Sabrian keluar dengan membawa buku agenda di tanggany. “ Sab, kamu baik – baik saja ? “ Tanya SIsi “ iya mbak, Pak neil meminta jadwal har ini. Saya boleh minta ke mbak sisi, biar saya note di buku ku “ kata Sisi “ tentu saja boleh, Sab. Aku kasih draftnya ya biar nanti kamu juga bisa langsung catatn di computer dan buku mu. By the way, . . . ? “ “ kenapa Aku bisa jadi sekpri Pak Neil kan ? “ sahut Sabrina dengan senyuman “ iya, itu maksud ku. “ kata Sisi tersenyum “ AKu juga heran, karena Pak Neil itu bilangnya mendadak. Baru semalam bilang dan paginya saya di suruh ke apartemennya. “ kata Sabrina “ ke Apartemennya ? “ Tanya Sisi dan Lei bersamaan menatap Sabrina “ huum, aduh kok menatap kuk begitu ? “ “ oh enggak, kok tumben saja Pak neil bisa menyuruh karaywan perempuan ke apartemennya. Yang boleh datang ke sana itu hanya Pak lei. “ jelas Sisi “ ah benarkah ?, lalu gimana kak ini ? “ Tanya Sabrina polos. Saat sedang asik mendengarkan cerita Sabrina, suara handphone Lei berdering, siapa lagi kalau bukan dari Neil “ eh bentar ya “ kata Lei kemudian masuk ke ruangan Neil
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD