SEBUAH JASA

1318 Words
Asumsi yang memenuhi isi kepala Steve mendorongnya untuk pergi kerumah sakit yang di temoat oleh Louis itu. Dia menjadi berambisi untuk pergi kesana dan mencari tahu tentang kebohongan Irene. Langkahnya mulai tiba di depan kantor ayahnya. Dia menaiki mobil miliki dan segera meluncur ke arah tujuan. Rasa takutnya akan kebohongan Irene mulai menyelimuti dirinya. Entah dia siap atau tidak menerima kenyataan bahwa nanti jika terbukti Irene telah memoerdayanya. Akhirnya mobilnya di parkirkan ke halaman depan rumah sakit. Dia mulai bertanya kepada sang resepsionis mengenai ruangan yang menjadi tempat perawatan bagi pengawal ayahnya itu. Di sisi lain, Louis masih harus di rawat inap dalam 1 hari hingga kondisinya pulih. Selebihnya, Irene akan merujuknya ke rumah sakit Oxford agar adiknya bisa mendapatkan perawatan lebih baik dan fasilitas yang lebih elit. Mengingat kondisi kakinya saat ini yang masih belum bisa di gerakkan, karena luka tusuknya terlalu dalam dan belum mengering. Jadi besok atau lusa mau tidak mau Louis harus di rawat di Oxford. Tangan Steve mulai tergerak untuk membuka gagang pintu ruangan tempat Louis. Dia seketika terbelalak tak menyangka bahwa Irene benar-benar ada di samping Louis. Matanya perih karena hampir meneteskan air mata, Irene menganga karena dia juga tak menyangka bahwa Steve tengah berada di hadapannya. “ Steve” kata Irene sedikit kaku. Irene hendak berdiri dari bangkunya dan menghampiri Steve yang masih tertegun berada di depan pintu. Lalu Irene menutup pintu agar pembicaraannya tidak di dengar oleh Louis. Steve menatap Irene dengan penuh kekecewaan, “a- apa yang kau lakukan disini?” tanya Irene terbata-bata. Steve hanya membungkam, “ Steve, jawab aku mengapa kau ada disi--” “ Kau berbohong” Sahut Steve memotong pembicaraan Irene. “Steve, aku tidak bermaksud untuk..” “ Mengapa kau berbohong? “ kata Steve lagi. “ dengarkan penjelasan ku du-” “ Tapi kau tetap saja berbohong, apa kau tak bisa bilang saja kalau teman yang maksud adalah Louis mantan pacarmu? Apa sesulit itukah untuk jujur saja padaku? Aku tidak pernah marah padamu jika..” oceh Steve “ Aku memang harus menolongnya Steve. Lalu apa aku harus mengatakannya padamu jika aku harus menolong mantan pacarku? Aku tau kau sakit hati untuk itu” Sentak Irene menghentikan omongan panjang Steve. Steve mendongakkan kepalanya yang tadinya menunduk karena rasa kecewanya, Dia kemudian bergelak walau nampak air mata telah menggenang di pelupuk matanya. “ oh sial, apa aku memang harus cemburu? “ katanya sambil memaksakan cara ketawanya. “ Kau tak harus cemburu Steve, aku tidak akan pernah memacarinya lagi” Ucap Irene. “ Aku minta maaf Irene, karena aku sudah menyalahkanmu. Kau...itu tidak salah. Hanya aku yang terlalu mengharapkanmu” desis Steve. Seketika mata Irene terkejut mendengar jawaban dari Steve, “ Aku yang selalu berekspektasi tinggi padamu. Dan ku pikir kau akan mengerti perasaanku” imbuh Steve. Steve kemudian membalikkan badannya dan melangkah menjauhi Irene. Sebulir air matanya jatuh membasahi pipi kanannya. Irene terus menatap Steve yang beranjak pergi hingga bayang-bayangnya tak nampak lagi. Lalu ia masuk ke dalam, Louis terus menyoroti kakaknya itu yang terlihat biasa saja. “ apa dia cemburu?” tanya Louis. Irene mengerdikkan bahumya. “ bukankah kau mencintai Steve?” tanyanya lagi. “ ahhh sedikit” Jawabnya sambil menghela napas. “ ku lihat dia romantis sekali hingga dia menghampirimy kesini” Kata Louis meledek. Irene menyenggol luka tusuk Louis yang berada di pahanya. Lalu Louis berteriak sekencang-kencangnya. “ jangan menggodaku b******k” Ketus Irene menjawab ledekan Louis. “ Sialan, ini masih sakit bodoh” Gerutu Louis. *** Steve pulang dengan perasaan kacaunya. Dia menghempaskan dirinya ke ranjang dan menghela napas panjang. Perasaan kali ini bukan amarah, melainkan rasa cemburu yang membubung tinggi di dalam tubuhnya. Seketika air matanya jatuh lagi, membasahi bantalnya yang bersih. “ mengapa harus sesakit ini?” “ Dia menemani laku-laki padahal sudah jelas pada Louis yang pernah mengurungku di dalam gudang” “ Apa benar? Irene mencintainya?” desis Steve berulang kali yang terus memikirkan Irene. Terlintas sebuah memori yang membuat Steve semakin tersiksa yaitu saat di rumah sakit, Irene mengatakan bahwa dia tidak akan memacari Louis lagi. “ tapi aku sakit hati karena itu Irene. Kau tidak akan memacarinya, tapi kau selalu ada di sampingnya” kata Steve menggurutu sendiri. Dia mengambil kalung titanium itu lagi dan mengangkatnya hingga tepat berada di atas matanya. “ apa aku akan benar-benar memberikan ini padamu?” *** Keesokan harinya, Suasana di rumah sakit terasa dingin. Matahari naik sepenggalan, masuk dan menembus ke jendela ruangan Louis. Membuat mataku yang terpejam mulai terbuka sedikit demi sedikit. Louis sudah terlihat bangun sambil memainkan game yang berada di ponselnya. Aku merileks kan badanku yang masih terasa kaku. Karena aku tidur di kursi kecil. Lalu Alvind masih terlihat lelap dalam tidurnya. Karena dia bersikeras tak mau pulang ke panti asuhannya. Dia ingin menjaga Louis, hingga dia keluar dari rumah sakit ini. Aku pergi ke taman untuk mencari angin segar. Angin-angin berhembus, semua pasien terlihat sedang memantau danau yang berada di dekat taman. “ uhhh menyegarkan sekali” kataku sambil melakukan gerakan olahraga. Aku melakukan olahraga lari pagi di sekitar pantai. Dan aku merasa bahwa seseorang telah memantauku sekarang. Aku yakin dia adalah mata-mata Vincent yang mencoba melakukan sesuatu padaku. Tapi karena aku telah menyusun rencana jahat, aku diam seolah aku tak menyadari bahwa dia mengintipku di balik pohon. Ku coba berlari lagi sejauh mungkin dan menjauhi area rumah sakit untuk memastikan bahwa dia mengikutiku. Tentu saja benar, laki-laki berhoodie hitam itu terus berada di belakangku walau jaraknya jauh Tapi aku bisa menyadari nya. Ku buat dia kelelahan, karena aku sengaja berlari sejauh mungkin untuk membuatnya penat. *** Di sisi lain, Steve melempar-lempar makanannya ke ikan koi yang sengaja ia pelihara di tamannya. Walau begitu, tatapan matanya masih kosong dan matanya terlihat sembab. Dia tak bisa berhenti memikirkan Irene, yang terus menghantui pikirannya. Lalu dia mencoba menatap ponsel dan mencari kontak Irene. Dia ingin menghubunginya. Tapi ibu jarinya tak bisa leluasa menekan tombol panggil. “ aku masih marah padanya. Aku harus jual mahal” ucapnya kesal sambil memasukkan ponselnya lagi ke dalam saku. *** Pagi ini memang terlihat segar untuk Irene. Tapi tidak dengan Tiffany, Dia terus telentang di ranjangnya dan memegangi area rahimnya. Padahal dia ingin membuang air kecil, namun wanita itu menahannya karena sakit. Dia menangis terus meneruk, suara isak tangisnya terdengar. Dia menangisi takdirnya yang hanya seperti ini. Dia tak bisa bahagia seperti wanita lain. Dia hanya berpikir bahwa dirinya tidak berguna layaknya sampah. Tiffany hanya ingin mati dalam ketenangan. Walau umurnya sudah tak panjang lagi, dia tetap memikirkan seribu satu cara untuk membalas kebaikannya oada Irene. Berkatnya, rumah yang ia singgahi saat ini tak diambil oleh bank. Dan karena ia juga ingin memperbaiki masa lalunya yang terbilang parah. Apa hal yang harus di lakukannya untuk itu? “ aku ingin mati dengan meninggalkan banyak jasa” kata Tiffany. “ apa yang harus ku lakukan untuknya?” jawabnya. Hal yang membuat pikirannya gundah adalah karena kondisi Louis. Dia mengenang masa lalu bersama ayah Louis. Orang yang berhati mulia itu, dan dengan istrinya yang mampu menerima sikap jahat dirinya. “ Hans tidak pernah berbuat salah padaku. Bodohnya aku yang melakukan banyak kesalahan untuknya” rintihnya. Isak tanginya terus terdengar. Dia tak bisa berhenti nenahan tangisannya. Lalu Tiffany mulai menelepon Irene. *** Aku menjawab panggilan dari Tiffany. “ ada apa?” “ apa Louis baik-baik saja?” kata Tiffany sambil menyeka air matanya. “ ya” jawabku datar. “ Kau masih menjaganya sekarang?” tanyanya lagi. “ tidak, aku berada di taman” ucapku. “ Kau meninggalkan Louis sendirian? bagaimana jika ada pengawal Vincent yang hendak berbuat jahat padanya?” kata Tiffany memarahiku. Benar juga, mengapa aku meninggalkan Louis sendirian di kamarnya. Di belakangku telah muncul satu pengawalnya yang berpura-pura seperti orang merokok. Padahal dia hendak memergoki ku. Aku dengan segera menutup telepon dari Tiffany dan berlari ke rumah sakit. Rasa khawatirku menggebu. Aku khawatir akan terjadi sesuatu pada Louis. Aku segera bergegas menaiki tangga dan membuka pintu kamar inap. “ Louis” ucapku membuka pintu ruangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD