ASUMSI

1545 Words
Tiffany mulai memasuki area rumah sakit. Dia menanyakan letak pasti tempat Louis di rawat pada sang resepsionis. Akhirnya, masuklah Tiffany ke kamar Louis. Dia tampak terkejut melihat bibinya datang menjenguknya. Entah siapa yang memberi tahunya bahwa ia sedang di landa mara bahaya. Tetapi saat pertama dia melihat sang bibi, hanya ada senyum yang bisa di pancarkan dari wajahnya. “ bibi “ sapa Louis Tiffany turut membalas senyuman dan sapaan dari Louis. Dia kemudian menyegerakan diri untuk duduk di kursi samping ranjang yang di tempali oleh keponakannya itu. “ Mengapa kau bisa separah ini?” Tanyanya sambil meratapi perban yang di balut di bagian paha nya. “ ahhh, hanya sedikit luka saja bi” Kata Louis menjawab. Tiffany memberikan buah tangan yang di bawanya untuk Louis. Dia meletakkan itu di laci samping ranjang nya. “ bibi membawakan buah, tolong dimakan” Ujar Tiffany. “ Terimakasih bi” Kata Louis “ ngomong-ngomong, apa Irene yang memberi tahumu bahwa aku sakit?” Tambah Louis. *** cklek Aku membuka pintu ruangan Louis, Setelah aku duduk berlama-lama untuk menyejukkan badanku di taman. Betapa terkejutnya aku saat mengetahui bahwa wanita yang duduk di samping Louis adalah Tiffany. Ku suruh Alvind untuk duduk di kursi yang terpajang di luar sementara waktu. “ Alvind, apa kau bisa duduk di sini dulu? aku harus melakukan perbincangan” Suruhku sambil menunjuk ke arah kursi. Alvind mengangguk pelan dan mulai duduk seraya menjilat es krim yang berada genggaman tangannya. Lalu ku posisikan diriku di samping Tiffany. “ apa kau sudah lama berada di sini?” Kataku sambil melangkahkan kakiku ke arahnya. “ Mengapa kau ada disini?” tanyaku dingin. “ aku yang memang berniat untuk kemari” ucapnya. “ apa kau kesini hanya untuk menagih uangku? tenang saja aku akan memberikan kepadamu sekarang” ujarku sambil menekuk tangan. “ irene” ketus Louis yang berusaha menghentikan bicaraku. Tiffany kemudian berdiri dari bangku duduknya, “ tapi sayangnya, aku tidak seperti itu Irene. Aku kesini bukan hanya menjenguknya. Dan orang yang telah membuatnya seperti yang membawaku kemari” ketus Tiffany. Aku menatap tajam matanya, dia mulai melangkah melewatiku tapi aku menarik tangannya. “ maksudmu? kau tau siapa yang membuat Louis seperti ini?” “ Aku tau “ Jawabnya. Tiffany hendak melangkahkan kakinya keluar karena tak tahan dengan perlakuanku padanya. Tapi lagi-lagi aku menarik tangannya dengan kuat. “ Tolong beritahu aku” sentakku padanya. Tiffany menghempaskan tanganku dengan keras, Dia mulai menaikkan nada bicaranya. Nada bicaranya menjadi semakin tinggi. “ Aku akan menjawab jika aku di perlakukan dengan baik” teriaknya. Aku menghela napasku untuk meredakan emosiku yang kian membuncah. “ baiklah, mari kita berbicara satu sama lain dengan baik” ucapku pelan. Dia menatap tajam mataku yang mulai tenang. Lalu dia menghempaskan badannya untuk duduk. “ jadi siapa yang menyakiti Louis?” tanyaku. “ rekan kerjamu, Vincent Morgant” jawabnya. Aku mengepalkan tanganku, akan tetapi aku mencoba untuk tenang. “ mengapa dia harus melakukan itu padaku?” “ aku hanya bisa memberitahumu soal ini Irene. Vincent morgant yang telah mengirim mata-mata untukmu. Aku tadi berada di kantornya, dan aku tak sengaja mendengar dia membentak para pengawalnya” “ aku melakukan ini sebagai rasaku meminta maaf untuk masa laluku yang dulu..” imbuh Tiffany “ bi...ayolah jangan mengungkit yang telah berlalu” sambung Louis. “ Tidak Louis, bibi mu ini sudah tidak kuat lagi menahan sakit. Aku hanya ingin menjadi orang yang berguna selama sisa hidupku. Walau aku memang terlahir sebagai wanita jalang, tapi setidaknya aku ingin mati dengan cara baik dan tentu saja memberikan jasa ku pada orang lain. “ Ucap Tiffany sambil termenung dengan tatapan kosong. “ dan informasi yang ku berikan, anggaplah sebagai jasaku pada kalian” katanya. “ Jadi Vincent yang memainkan permainan ini?” Ujarku sambil meninju ranjang Louis dan hendak beranjak pergi. Tiffany mencegahku, Kali ini dia yang menarikku. “ kau mau kemana?” tanyanya. “ Menemui Vincent Morgant” Gerutuku kesal sambil menghempaskan tangannya. Aku mulai melangkahkan kaki beberapa langkah ke depan, tetapi kata-kata Tiffany mampu membuatku membeku. “ Lay tidak pernah menyelesaikan masalah seperti ini” Ketusnya yang tiba-tiba menyebut nama paman Lay. Tanganku mengepal lagi untuk kesekian kalinya. Urat-urat di wajahku mulai bermunculan. Dan aku akhirnya membalikkan badan. Tiffany menatapku terus sambil memberikan wejangan. “ Bukankah kalian adalah anak dari hasil didikan mantan suamiku? Ilmu kalian, hebatnya kalian, bahkan pemikiran kalian adalah sebuah pembelajaran yang di berikan oleh Lay bukan? Tapi Lay tidak pernah menyelesaikan masalahnya dengan gegabah” Tegasnya seraya memainkan tangannya. Aku mendengus kesal, “ Irene, kamu harus bermain dengan cara yang rapi” Ucapnya dengan memberi penekanan padaku. “ mengapa, kau menjadi sok membantuku seperti ini? apa kau hanya ingin mengkhianati ku seperti Vincent hemm?” Sahutku sambil bergelak. “ Irene, aku memang pernah berkhianat. Tapi bukankah kau tahu, seseorang itu pasti berubah seiring berjalannya waktu?” “ aku sama sekali tidak peduli dengan omong kosong Tiffany” Ketus ku. “ Apa yang harus ku lakukan? sisa hidupku sudah tak panjang. Aku berkali-kali mengatakan padamu. Aku hanya ingin berubah, Terkadang ulat bisa menjadi kupu-kupu Irene” Jawab Tiffany. Dia mulai beranjak pergi, “ aku akan tetap membantu kalian. Karena kalian adalah darah daging kakakku sendiri” Bisiknya sambil menepuk-nepuk pundakku. *** Steve kini telah tiba di rumahnya. Dia memberikan pelukan hangat untuk sang ibu. Berulang kali ibunya menggoda Steve tanpa henti. “ apakah kau sudah menemuinya? apa kau sudah mangajaknya berkencan?” Tanya bu.Zoe sambil menepuk-nepuk pipi putranya. Steve menggelengkan kepalanya, ibunya terkejut. “ mengapa kau belum mengajaknya berkencan?” Katanya. “ ahh ibu, aku masih belum siap” Kata Steve sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa. Bu. Zoe menghampiri putranya dan mulai duduk di sampingnya dengan menekuk lutut. “ Bunga yang cantik itu banyak orang yang menyukai, jadilah orang pertama yang memetik nya sebelum di petik oleh orang lain” Ucapnya. Steve tertegun mendengar ocehan dari sang ibu. Hingga tiba-tiba suara ponsel ibunya berdering menghentak Steve yang berada di bawah lamunannya. “ Ya Zack, ada apa?” jawab Bu. Zoe yang ternyata panggilan itu adalah panggilan dari suami nya. “ oh berkas warna kuning? ya baiklah” Serunya. Bu. Zoe mengapit ponselnya antara dagu dan telinga, dia berjalan ke arah ruangan kerja Zacklee untuk mengambil berkasnya yang tertinggal. “ apa berkas itu adalah berkas yang berada di atas tumpukan buku?” tanya Zoe sambil membuka-buka isi berkasnya. “ iya baiklah” Ucapnya lagi. Steve menghampiri ibunya, dia mematikan telepon. “ ibu ada apa?” “ berkas ayahmu tertinggal” Jawabnya sambil memberikan senyuman pada putranya. “ ibu harus ke kantor ayah dulu. Ibu harus memberikan ini sebelum ayahmu mengamuk” Kata bu Zoe yang hendak pergi. Steve menghentikan ibunya, “ sebaiknya ibu istirahat. Biar aku yang menghantarnya pada ayah” Celetuknya. “ wahhh kau baik sekali. hati-hati ya” Katanya sambil mengusap rambut anaknya. Steve akhirnya pergi menemui ayahnya. Dia membanting stir dan mulai menancapkan gas untuk pergi ke perusahaan ayahnya itu. Di sana banyak karyawan yang memberi bungkukan badan padanya sebagai tanda penghormatan. Di samping itu pula, banyak yang takjub terhadap ketampanan dari putra bosnya itu. “ wahhh bigboss telah menghasilkan benih terbaik” bisik salah satu karyawan perempuan yang terpesona. Akhirnya dia mengetuk pintu ruangan ayahnya. Dari dalam terdengar suara ayahnya yang menyuruh masuk. Steve masuk ke ruangan dan segera memberikan berkas itu pada ayahnya. “ ternyata kau yang menghantarkan?” kata Zacklee basa-basi dan Steve menyaut. “ Steve, apa kau tidak tertarik untuk meneruskan usaha ayah nak?” tanya Zacklee. Steve menggeleng, “ kamu harus banyak belajar. Ini perusahaan penting yang menyangkut kesejahteraan bagi semua orang” “ iya, tapi aku tak minat sekarang. Aku ingin belajar nanti” kata Steve dingin. *** Louis melirikku, tatapan matanya seolah menunjukkan rasa khawatir yang berkepanjangan. Aku membuang nafasku keluar, sekujur tubuhku mulai terasa mendidih. Karena pengkhianatan yang di lakukan oleh Vincent melebihi dari panasnya api. “ Irene tolong tenang, duduklah” Ucap Louis menenangkanku. Aku mulai duduk ke kursi, “ rasanya aku ingin menusuk bola mata Vincent, atau memotong k*********a" “ Aku sudah tak terkejut jika orang itu adalah dia” katanya. “ Aku akan membalasnya” Kataku mendengus. “ ahh aku lupa, aku tidak memberi tahu Zacklee soal ini. Apa aku harus tetap berada di sini?” Ucap Louis bertanya. “ jika kau mau di rawat terserah saja” jawabku. Louis mengambil ponselnya dan menelepon bosnya. “ Halo Zacklee?” *** Steve ingin beranjak pulang namun dia terhenti setelah Zacklee menjawab telepon dari Louis dengan memperbesar volume panggilan. “ hei kemana saja kau seharian, apa kau fikir bekerja padaku itu untuk main-main?” Kata Zacklee memarahi Louis. “ ahhh ya, seperti yang kau tau bahwa sesuatu yang akan terjadi kedepannya itu tak ada yang tau. Dan yaa, aku sekarang berada di rumah sakit” kata Louis dari seberang. Steve serasa acuh dengan obrolan antara keduanya. Dia kemudian pergi tanpa izin. “ rumah sakit?” tanya Zacklee. langkah Steve terhenti. Pikirannya buruknya datang tak terduga. Dia berasumsi bahwa Irene pergi menemui bukan untuk menemui temannya melainkan menemui Louis. Matanya membulat, dia terus mendengarkan ayahnya berbicara. “ iya, aku mengalami luka tusuk di bagian paha” “ rumah sakit mana?” kata Zacklee. “ healthyimport” “ wah, baiklah selamat bersenang-senang di rumah sakit” jawab Zacklee sambil menutup panggilannya. Steve membalikkan badannya lagi menghadap ke arah ayahnya. Dia menghampirinya. “ ayah, dimana Louis di rawat?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD