MATA-MATA

1524 Words
Anak kecil itu menarik tanganku, yang saat ini aku masih terengah-engah karena kelelahan berlari. Dia memberikan kursinya padaku, dengan maksud agar aku bisa menjenguk Louis. Aku menatap ke arah luka tusuk Louis, pahanya di perban membuatku tak bisa menahan rasa sesak di hati ini. Tanganku mengepal, hingga kepalaku bergetar karena emosi. “ katakan siapa yang membuatmu seperti ini?” Kataku geram. “ sepertinya dia seorang mata-mata, dia mengikuti dari belakang. Aku mencoba menangkap nya. Tapi sial dia menyimpan pisau di kantongnya” jawabnya santai. “ tapi aku beruntung, karena anak kecil ini aku masih bisa selamat” “ aku tak tau, jika dia tidak lewat dan mencari bantuan. Aku tak akan tau bagaimana aku nantinya” imbuhnya sambil menatap wajah sang anak kecil. Aku turut menatap wajahnya, Wajah polosnya dan karena dia telah menolong adikku. Aku menjadi menyesal telah menbentaknya tadi. Aku berjongkok ke arahnya, dan mulai bertanya. “ oi, siapa namamu?” Tanyaku padanya. “ Alvind Kylie. “ Jawabnya dengan suaranya yang masih imut. “ nama yang indah. Aku harap kau tumbuh dengan baik” ujarku padanya sambil tersenyum. “ Apakah anak sepertiku bisa menjadi pria hebat sepertinya?” Tanyanya sambil menunjuk ke arah Louis. “ Dia hebat, Aku ingin menjadi seperti kakak itu” tambahnya polos. Aku bergelak, “ kau pasti akan tumbuh dengan baik. Dan menjadi sepertinya” “ ngomong-ngomong dimana kau tinggal, mengapa kau mengantar Louis. Apa orang tuamu tidak mencarimu?” Tanyaku lagi. “ Panti asuhan “ Katanya. “ aku anak buangan, mereka membiarkan ku sendirian dan aku tumbuh besar di yayasan itu” Imbuhnya. Senyumku yang terpasang kemudian menjadi datar, mendengar jawaban miris yang keluar dari bibir mungilnya. “ Tidak ada orang tua yang berani membuang anaknya Bocah Kecil” “ emmm Alvin, kau harus bisa tumbuh dengan baik” Jawabku sembari membelas rambutnya yang halus dan meremas pipinya. “ sebagai gantinya, Kakakku akan membelikanmu ice cream” Celetuk Louis menyambung obrolan kami berdua. Bocah berpipi chubby itu tersenyum senang dan mengangkat kedua tangannya ke atas. “ apa kakak janji?” Teriak nya sumringah dan menyodorkan jari kelingkingnya. Aku melayangkan jari kelingkingku juga, sebagai tanda bahwa aku telah berjanji. “ aku janji” Kepalaku mulai berpaling lagi ke arah Louis. Aku benar-benar penasaran siapa yang telah melakukan kejahatan ini padamu. Dan siapa orang yang berani memata-mata Louis. “ Aku bersumpah, aku akan mencari orang itu” bisikku pada Louis. *** Telinga mata-mata Vincent terus di dekatkan ke arah pintu, dia menguping dengan cermat dan menelaah setiap perkataan mereka. Lalu saat dia tau bahwa Louis telah di serang oleh seorang mata-mata. Pikirannya mulai tertuju kepada Drag, rekan pengawalnya. “ apa jangan-jangan Drag yang melakukan ini?” gumamnya dalam hati. Irene dan Louis sama sekali tak merasa peka terhadap seseorang yang kini tengah memata-matai mereka. Hanya satu, bocah kecil penyelamat yang dengan isengnya membuka pintu ruangan. “ uuuu siapa kau?” Ucap Alvind Seketika mata Irene dan Louis menoleh ke arah Alvind yang tiba-tiba berteriak di depan pintu. Pengawal Vincent dengan cepat lari bergegas. Irene segera pergi mengejarnya, dia sudah berlari cukup jauh. Tapi Irene tak bisa menghentikan kakinya untuk menangkap si penguntit. Irene terus menolehkan lehernya ke kanan dan ke kiri, Dia menendang sebuah mobil yang terparkir di depan rumah sakit karena kehilangan jejak. “ b******k siapa orang itu” Kemudian dia pergi ke ruangan Louis lagi, tapi matanya mulai terarah ke arah cctv yang terpajang di depan ruangan. Irene menjetikkan jarinya, dan kemudian pergi ke ruang petugas bagian penjaga. Mata Irene di sipitkan dengan tujuan agar ia bisa melihat orang aneh itu dengan jelas. Dan dia kemudian membulatkan matanya saat mengetahui bahwa orang tadi menguping pembicaraannya dari arah luar. “ tidak beres, siapa yang mengirim mata-mata ini padaku” pikirnya bertanya-tanya. Dia masuk lagi ke kamar Louis, Louis nampak sangat khawatir karena Irene tiba-tiba pergi. “ ada orang yang memang ingin bermain-main dengan kita Louis” kata Irene sambil meletakkan jari telunjuknya ke dagu. Mereka berdua menatap tajam seolah bola mata mereka sedang melakukan suatu kode. Lalu mereka berdua saling mengangguk bak seseorang yang sudah ahli menyelesaikan sesuatu hanya dengan kode mata. *** Vincent memukul meja nya dengan keras, Karena Drag telah lalai kepada perintahnya. “ kau tahu jika Irene mengetahui kalau aku memata-matainya?” teriak Vincent. Drag menunduk karena ciut dengan sentakan Vincent yang menggelegar, “ dia pasti akan membalas perbuatanku” “ aku sudah memperingatkan kepada kau Drag, jangan sampai lalai. Karena Irene bukan wanita biasa. Dia bisa melakukan segalanya” Teriak Vincent hingga suaranya memenuhi seisi ruangan. “ aku tak tau apa yang harus aku katakan jika dia benar-benar mengetahui kalau aku dalangnya” gerutunya sambil memegangi keningnya yang terasa pening. Tak lama kemudian, pengawal yang di tugaskan untuk memata-matai Irene datang. Dia bernama Billy, datang menyapa tuannya sambil menekuk badannya 90 derajat. “ Irene pergi bersama Steve tuan. Steve adalah putra Zacklee, kemudian dia lari dan pergi ke rumah sakit. Karena adiknya mengalami luka tusuk” lapornya pada Vincent. “ rumah sakit mana?” “ healthyimport tuan, di dekat rumah Irene” “lalu Bagaimana soal Louis?” tanyanya. “ Louis baik-baik saja, tapi ku dengar Irene akan mencari orang yang telah melukai adiknya” Lagi-lagi Vincent memukul mejanya, suara pukulan itu membuat kedua pengawalnya terhentak. “ kau tau siapa yang menyerang Louis?” sindir Vincent. “ Rekanmu Drag Antonio” Kata Vincent memanjakan nada bicaranya. Billy menatap wajah rekannya itu, dia sudah menyangka sejak awal bahwa Drag yang telah melukai Louis. “ Aku mau, kalian hadapi masalah ini dengan rapi. Segera lapor kepadaku, apa yang akan Irene lakukan nanti. Dan kita masih memiliki satu nyawa, karena Irene masih memercayaiku. Dia tak mungkin mencurigai” Kata Vincent. “ tapi sekali lagi ku peringatkan, Bermainlah dengan cara yang rapi. Kalau sampai kalian melakukan kesalahan lagi. Lihat saja apa yang akan aku lakukan” Teriak Vincent. Mereka berdua menundukkan kepalanya lagi dan membungkuk, “ baik tuan” katanya serentak. *** Steve duduk di tempat duduknya lagi. Dia meratapi pantai, dan mulai mengeluarkan sesuatu dari kantongnya. Sebuah kalung titanium dengan bandrolnya yang cantik membentuh pisau. Dia tersenyum saat menggenggamnya. Padahal hari ini, dia bermaksud untuk memberikannya pada Irene. “ tapi sayang dia sudah pergi” Desis Steve yang terlihat bersedih. Steve menyeruput kelapa mudanya sambil berpikir keras, “ apa aku harus melamar Irene?” Pikirnya. “ ku pikir dari gerak-geriknya dia sudah menunjukkan kalau dia menyukaiku” Imbuhnya lagi. *** Rencana Vincent untuk memata-matai Irene akhirnya terbongkar. Seorang wanita paruh baya sedari tadi berdiri di hadapan pintu ruangan Vincent. Dia turut terhentak karena Vincent menyentak pengawalnya. Dia hendak membuka pintu ruangannya, tetapi karena dia mendengar bahwa Vincent telah merencanakan sesuatu, hal itu menghentikan tangannya yang hendak membuka pintu. Dia terus berdiri, mendengarkan Vincent berbicara bersama para pengawalnya. Saat Vincent menyebut nama Irene, Tangannya kemudian mengepal. Dia adalah Tiffany, Yang memang berniat datang untuk menemui Vincent karena membutuhkan uang. Tetapi, dia baru saja mengetahui bahwa Vincent memang bukan rekan sejati. Niatnya untuk memuaskan Vincent ia urungkan, Karena Vincent telah berencana untuk mempermainkan Irene dan Louis. Tapi aku pun tak percaya, Bahwa Irene akan sepenuhnya menaruh rasa percayanya pada Vincent sebagai rekan. Yang membuatnya semakin terluka, adalah Karena Louis masuk rumah sakit hari ini. Dia segera membalikkan badannya untuk menemui Louis, setelah dia mengetahui informasi bahwa Vincent akan berbuat apa selanjutnya. *** Aku memalingkan wajahku ke arah anak kecil yang mulai duduk di sofa ruangan sambil memainkan kakinya. Ku layangkan tanganku di hadapannya yang menunduk. “ ayo, kita beli ice cream” kataku mengajaknya. Dia menggenggam telapak tanganku, kemudian dia menundukkan kepalanya dengan cepat. “ ayo” Kita pergi keluar dari ruangan Louis, dan mulai beranjak ke arah kantin rumah sakit. “ apa kakak seorang mafia?” tanya nya sambil mendongakkan kepalanya ke arahku. “ mengapa kau bertanya seperti itu?” kataku pelan. “ Karena meskipun kau wanita kau terlihat keren” jawabnya. Aku tertawa tipis, lalu dia kembali berkata. “ suatu saat aku ingin menikah dengan wanita sepertimu” “ kau harus banyak belajar terlebih dulu yaa” jawabku. Setelah lama melakukan banyak perbincangan, akhirnya kami telah tiba di kantin rumah sakit. Aku membelikannya banyak ice cream. Wajahnya semakin sumringah dengan matanya yang berbinar terang melihat makanan favoritnya telah berada di tangannya. Dia memintaku untuk menemaninya makan di taman, Dan aku menuruti permintaan Alvind. “ wahh enaknya” Ucapnya sambil menjilat ice cream. “ apa pengasuh panti asuhan itu tidak mencarimu?” tanyaku . “ Dia pasti mencariku, tapi dia bukan ibu asliku kan” Jawabnya. “ tapi dia yang marawatmu sampai kau tumbuh besar. Hei, kamu harus menghormatinya. Dia harus kau anggap seperti ibumu sendiri” “ apa dia jahat?” kataku lagi-lagi bertanya. “ tidak” “ nahh itulah sebabnya kau harus menyayangi nya” Alvind mengedipkan matanya berkali-kali, “ wow, kau baik sekali” sahutnya. Setelah berlama-lama aku menikmati angin sepoi-sepoi di bawah pohon rindang yang berada di taman rumah sakit, akhirnya aku masuk lagi untuk menjaga Louis. Alvind menggandeng tanganku, dan sialnya aku mulai teringat pada Steve tadi. Entah dia akan berpikir apa tentangku. Jujur, aku masih belum puas untuk menenangkan pikiranku di pantai bersamanya. Dan betapa terkejutnya aku, saat aku membuka pintu ruangan Louis. Tampak Tiffany duduk di sebelahnya. “ Tiffany?” Kataku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD