SALINAN VIDEO

1717 Words
Seusai semalaman memantau Vincent di tempat kosong, Irene pulang sebelum matahari menjelang. Tak nampak sama sekali Louis berada di rumahnya. “ Kemana bocah itu? “ Tanya nya kebingungan. Pagi-pagi sekali tak seperti biasanya Irene sudah bersiap dengan mengenakan setelan kerjanya. Tali sepatunya kini di ikat pertanda bahwa Irene benar-benar hendak pergi bekerja. Tak lama, matahari terbit dari ufuk timur. Cangkir yang awalnya di penuhi dengan seduhan kopi hangat kini telah kosong. Saatnya ia berangkat ke arah tujuan. Sesampainya di sana, Beberapa pekerja menatap Irene. Irene benar-benar berhasil menyapu wajah semua orang. Tetapi kali ini, bukan paras yang membuat orang lain menatap melainkan bekas luka yang berada di bibirnya. “ Hei, ada apa dengannya? “ Bisik pekerja lain pada rekannya. “ Entahlah, aku tidak berani bertanya padanya. Dia sedikit menyeramkan hari ini “ ungkapnya menjawab. Langkah Irene yang terhenti setelah mendengar beberapa pekerja lain membicarakannya, kini melangkah lagi. Bak seseorang yang tak mengalami kejadian apapun, ia merasa tak peduli dengan orang lain yang membuatnya menjadi buah bibir. Tetapi memang bibirnya terasa perih dan ngilu, saat jarinya meraba bagian bibirnya yang terasa sakit. Ia kini paham bahwa luka itu ada setelah semalam Vincent menendangnya wajahnya. “ Dasar dia! “ Kata Irene di dalam hatinya di barengi dengan nafas beratnya. *** Di sisi lain, ada seseorang yang sibuk memutar-mutarkan kursi kantornya dengan sumringah. Flashdisk rampasan yang kini sudah ada di genggaman tangannya membuat orang ini merasa lega. “ Dengan ini, kau tak akan bisa menjatuhkanku Vincent Morgan “ kata Zacklee merasa puas. Dari luar, terdengar suara sepatu yang tampaknya mengarah ke ruangan Zacklee. Seseorang yang tak kalah necis, dengan lagaknya masuk ke ruangan Zacklee tanpa Izin. Tangan Zacklee yang semula memegangi flashdisk, dengan spontan memasukkan Flashdisk itu ke dalam laci. Benar saja, orang itu adalah Vincent yang percaya diri berdiri di hadapan Zacklee. “ Kau sudah berusaha keras ya? “ Kata Vincent menyindir sembari membuka kacamata nya. “ Sayang sekali, kau tak bisa melenyapkanku. Takdir masih saja memihakku adik “ imbuhnya tertawa jahat. Zacklee turut tertawa dan membalas ocehan Vincent. “ Memihakmu? Heh, setelah kau kehilangan benda kesayanganmu kau masih berkata takdir masih memihakmu? “ Ucapnya sambil menertawakan Vincent. “ Benda ini yang kau maksud? “ Jawabnya sambil memberi tahu Video pembunuhan Zacklee di ponselnya. “ jadi bagaimana, kau ingin aku menyebar atau hanya menyimpan video ini? “ Lanjutnya sembari menaik turunkan alis kanannya. Senyum jahat Zacklee berubah menjadi datar setelah ia melihat Video salinan yang berada di ponsel Vincent. *** Semalam saat Irene dan Vincent merencanakan kerja sama.. “ Mengapa kau menatapku seperti itu anak muda? “ Tanya Vincent pada Irene yang asik menatapnya dengan mata tajam. “ Mengapa kau menyimpan Video aibmu sendiri di Flashdisk itu? “ Tanya balik Irene. Vincent menghela napas nya dalam-dalam, “ Entahlah, aku sama sekali tak pernah tahu bahwa di flashdisk itu tersembunyi Mengenai Videoku sendiri.” “ Bagaimana bisa? “ “ Aku juga tak tahu, bahwa peristiwa itu terekam oleh kamera pengintai di kamar ibu “ “ Siapa orang yang kau curigai? “ Tanya Irene. “ Ayah...ya mungkin itu ayah “ “ Ahhh pantas saja, Kunci Pin di folder aman itu sangat mudah di cari “ “ Apa? “ Kata Vincent dengan membulatkan matanya. “ Jika benar ayahmu yang melakukan itu, mungkin Ia sengaja menyimpan Videomu ke dalam Flashdisk mu agar suatu saat seseorang dapat membongkar kejahatanmu. Kau benar-benar putra yang jahat ya? “ Ucap Irene. “ Pantas saja ayah tak pernah mau memberikan warisan perusahaannya untukku, mungkin ayah mengetahui bahwa aku memang jahat sampai tega membunuh ibuku sendiri. Siapa lagi jika bukan ayah? Tapi dia bodoh. Dia dengan ringan hati menyerahkan asetnya pada Zacklee yang juga sama-sama jahatnya sepertiku hingga membunuh ayah “ “ Jadi kau dan Zacklee saudara “ “ Saudara tiri, tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau kami saudara. Ibuku meninggal dunia saat mengetahui bahwa ayah bermain api dengan ibu Zacklee. Tapi ibu itu benar-benar baik padaku. “ “ Matamu berkaca-kaca, Kau menyesali perbuatanmu ya? Untuk apa menyesal itu tak kan mengubah kejahatanmu. Dan tidak bisa mengembalikan nyawa ibu tirimu itu.” Ungkapnya. “ Kau sendiri, mengapa ingin sekali menghancurkan Zacklee apa salahnya? “ Pikir Vincent. “ Kau tak perlu tau, cukup aku yang tau dan jangan pernah mencoba menari tahu. Cukup jalankan perintahku “ ujar Irene. Selanjutnya, Irene mengambil Ponsel Vincent di Saku belakangnya untuk menyalin Video pembunuhan Zacklee sebagai alat untuk memerasnya lagi. *** “ Bocah itu cukup cerdik untuk membuat Zacklee panik rupanya “ Zacklee mendorong Vincent ke dinding dan mencoba merampas ponselnya untuk menghapus bukti. Vincent sendiri lebih berusaha untuk mengalihkan ponselnya agar Zacklee tidak berhasil merampasnya. “ Kau, jangan mencoba bermain-main denganku “ teriak Zacklee. “ Kau panik adik kecil? “ Kata Vincent memancing emosi Zacklee. Dengan emosi, dan wajah penuh amarah, Zacklee kembali mengambil langkah dengan Menarik kerah jas kakak tirinya itu. Mata mereka saling melotot tak terkalahkan. “ Berikan ponselmu sekarang! “ Sentak Zacklee Vincent menepis tangan Zacklee yang menggenggam erat kerahnya dan menendang perut nya dengan tendangan menukik. Ia pun dengan cepat mengambil pistol dan mengarahkan pistol itu ke arah kepala Zacklee. Zacklee tengkurap di atas lantai, dengan santai Vincent memerasnya. “ Yayasan oxford “ Katanya singkat. “ Jika kau sukses kau tak perlu itu “ jawab Zacklee yang membuang wajahnya dari hadapan Pistol. “ Aku butuh yayasan Oxford, jika tidak aku akan membuka lebar rahasiamu “ imbuh Vincent. “ Tidak,aku tidak akan menyerahkannya. Kau tak akan pernah bisa mengambil aset berharga ku. Rumah sakit oxford itu sangat besar, kau akan mendapat banyak keuntungan dengan itu. Dan aku tak mau kau mendapatkannya “ Jelas Zacklee. “ Begitu ya? Kau sudah tau kan, perusahaanku bekerja di bidang informasi dan berita. Jika kau mau itu, video ini akan di liput oleh para penyiar berita di perusahaan ku “ ungkap Vincent dengan menginjak kepala Zacklee. “ Dasar kau anjing, aku akan membalasmu “ sahut Zacklee mengumpat. “ Akan ku beri kau waktu tiga hari untuk mempertimbangkan semuanya. Aku juga tak akan membuatmu mati sekarang, karena aku masih ingin memerasmu lebih jauh “ jawab Vincent sembari mengangkat kakinya yang berada di atas kepala Zacklee dan melangkah pergi. “ VINCENT MORGAN.....” Teriak Zacklee sambil menepuk tangannya ke lantai dengan keras. Zacklee berdiri dan segera mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang yang di percayainya, siapa lagi kalau bukan Louis. “ Kau segera kesini, cepat! “ Teriak Zacklee dengan nafaa terbirit-b***t. Louis meluncur ke ruangan Zacklee, jika kau ingin tau kemana Louis hingga tak pulang semalaman? Setelah Louis memberikan laporan kepada Zacklee, Louis pergi ke club malam untuk memuaskan diri setelah mendapat komisi dari Zacklee. Lalu, sekarang Zacklee menyuruhnya lagi. Ia dengan segera meluncur ke perusahaan Zacklee untuk menemuinya. “ Ada apa lagi? “ Gerutu Louis sambil mengkondisikan nafanya yang tak stabil karena berlari. “ Orang itu mempunyai salinam Videoku, percuma saja kau merampas Flashdisk ini. Dia masih memiliki Videoku “ “ Video apa yang kau maksud? “ Tanya Louis pura-pura tak tau. Zacklee terdiam dan membungkam mulutnya. “ Mengapa kau diam? “ “ Ahh baiklah, aku akan memberitahumu. Video itu soal aku yang membunuh ayahku sendiri. Kau cepat cari Vincent dan rampas ponselnya. Hapus Videonya, aku tidak mau tau. Jika kau tidak berhasil, aku akan melampiaskan amarahku padamu “ jawab Zacklee kesal. Louis menatap tajam Zacklee yang tampak seperti orang bodoh, rupanya ia menjadi burung yang kebingungan mencari arah pulang menuju sarangnya. Dasar orang naif! Tetapi ia menganggukan perintah Zacklee dengan terpaksa, ia lari keluar dan arah tujuannya sekarang adalah pergi ke kedai Irene untuk membicarakan soal ini. *** Steve menancap Gas mobil sportnya untuk pergi menemui Irene di tempat Irene bekerja. Tak disangka, Steve kini pergi sendirian tanpa di temani oleh sopir yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Ia juga merancang beberapa bunga yang di sulap hingga menjadi bucket bunga yang cantik untuk di berikan pada Irene. Rasanya hatinya telah mantap untuk memacari Irene walaupun ia tak tau apa arti dari laki-laki Sejati seperti apa yang Irene katakan. Terlebih dahulu ia pergi ke swalayan untuk membeli beberapa minuman bersoda kesukaan Irene untuk di berikan kepada Irene agar ia lebih semangat bekerja. Kini jaraknya sudah dekat ke arah kedai, ia memarkirkan mobil Sportnya itu di tempat parkir dan keluar sembari membawa bucket bunga. *** Louis pun secara bersamaan datang ke kedai dan menjumpai kakaknya itu. Kakaknya masih sibuk melayani pelanggan, tetapi ia tetap meluangkan waktunya untuk menemui adiknya. “ Ada apa hingga datang kesini? “ Tanya Irene sambil melipat tangannya “ Irene, ada apa dengan bibirmu? “ “ Jangan khawatir, aku tak apa. Ada apa? “ “ Kau bilang kau akan merencanakan sesuatu untuk Zacklee. Apa ini rencanamu dan Vincent, mengapa Vincent memiliki salinan itu? Kau ini benar-benar menyebalkan. Sekarang, aku lah yang bekerja dua kali “ oceh Louis Irene hanya mengangguk-angguk mendengarkan ocehan Louis yang panjang. “ Kau tidak pernah berfikir dua kali apa? Kalau Vincent memiliki salinan video itu, lalu Zacklee akan menyuruhku menghabisinya lagi. Kau tau itu kan? “ Tambah Louis Irene menutup mulut Louis dengan mencapit bibir mungilnya. “ Diam, kau istirahat saja di rumah. “ Ucap Irene singkat. *** Steve mematung di depan mobilnya memerhatikan Irene dan Louis dari kejauhan. Matanya tak bisa berbohong, dirinya di bakar api cemburu saat melihat Irene bersama pria lain. “ Siapa pria itu, hingga menyentuh bibir Irene? “ “ Dia sedikit tampan, tapi tak bisa mengalahkan ketampananku. Dan tinggi, tapi aku juga tak kalah gagah “ Bibir nya pun di manyunkan di susul dengan alisnya yang hampir menyatu. “ Melihat pria itu, membuatku ingin membual. Tapi aku ingin membual pada siapa? “ Steve masuk ke mobilnya lagi dan menutup pintu mobilnya rapat-rapat, tetapi matanya masih tak bisa untuk tak menatap Irene lagi. Steve keluar lagi dari mobil, karena ia teringin sekali rasanya berbincang dengan Irene. Tetapi hatinya tetap saja panas. Namun jika ia membiarkan Irene berbicara dengan lelaki itu secara santai dan saling menyentuh, itu sangat membuat hatinya terasa gundah. “Jika kau ingin menciumku, jadilah lelaki sejati terlebih dahulu “ Steve teringat lagi pada perkataan Irene padanya. Mungkin ini yang Irene maksud menjadi laki-laki sejati? Dengan bertarung dan bersaing dengan lelaki itu? “ Baiklah, kalau kau menginginkan itu. Aku akan bersaing dengan pria itu “ ucap Steve percaya diri. Kakinya mulai melangkah untuk menghampiri Irene dan Louis, siap tak siap, entah siapa pria itu. Ia akan selalu berjuang untuk mendapatkan hati Irene. “ Aku juga akan berbicara dengan pria itu? Lihat saja!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD