episode 22

2060 Words
Episode 22 Istana Lintang Timur Seorang ratu cantik duduk dengan gelisah di atas singgah sananya, pasalnya pria pujaan hatinya sudah pergi hampir dua hari, besok adalah waktu pertandingannya dengan satria berkuda putih, kalau sampai pangeran Bintang tenggara itu tidak datang, harga dirinya sebagai seorang ratu akan sangat dipertaruhkan. “Angga, apakah sudah ada tanda-tanda kalau calon suamiku kembali?” tanyanya tidak sabar. “Maaf yang mulia, tuan Zulfikar belum ada tanda-tanda kembali. Mungkin tuan sudah gagal, hingga sekarang belum ada seorang pun yang dapat menghadapi raja siluman buaya putih itu,” jawab Angga sambil menunduk hormat. Ratu Arisandi berdecak kesal, ia tidak bisa percaya kalau pria pujaan hatinya itu tidak akan mampu mengalahkan siluman. “Tidak mungkin! Kamu jangan sembarangan bicara! Temanku itu adalah seorang kesatria hebat, lagi pula batas waktunya masih kurang beberapa jam lagi bukan? Itu artinya masih ada waktu untuk,” sergah Yuda tidak terima mendengar sahabatnya diremehkan. “Itu benar, Zulfikar adalah orang yang sangat kompeten. Dia tidak akan mungkin kalah hanya dengan seekor siluman,” timpal Arya, ia juga sangat percaya dengan kemampuan sahabatnya tersebut. Lagi pula Zein tidak mungkin membiarkan kedua sahabatnya dalam bahaya. “Aku berbicara berdasarkan kebenaran, bukan omong kosong belaka,” elak Angga. “Hingga sekarang, Zulfikar belum juga muncul. Padahal sebentar lagi hari sudah mulai gelap, kalau dia memang orang yang hebat, tentunya sekarang dia sudah berada bersama kalian,” lanjutnya. Yuda mengepalkan tangannya menahan emosi, ia tidak terima begitu saja melihat ada orang yang seenaknya saja menghina dan merendahkan sahabatnya,”aku bilang kau jangan bicara sembaranga! Aku akan memotong lidahmu kalau kau berani bicara lagi,” amuknya. “Yuda, sudahlah. Kita tidak ada gunanya berbicara dengan yang memiliki penyakit cacat otak,” kata Arya sambil menahan tubuh Yuda agar tidak menerjang perdana mentri kerajaan Lintang Timur. “Memang ada penyakit cacat otak?” bisik Angga pada orang di sampingnya. Ratu Arisandi menahan senyum mendengar hinaan secara tidak langsung pada menterinya tersebut, pantaslah pemimpinnya sangat hebat. Anak buahnya saja sudah ahli dalam memilih kata untuk menghina orang tanpa disadari oleh orang tersebut. “Angga, yang dimaksud itu adalah kamu terlalu bodoh. Tapi aku juga yakin kalau sebentar lagi calon suamiku akan segera kembali.” Angga melotot horor, ternyata orang tersebut sedang menghinanya. Kalau saja tidak ingat bahwa di sini sedang ada ratu, mungkin akan dipotong saja lidah Arya. “Aku mau masuk, kalian bubar saja. Jangan lupa untuk selalu mencari kabar tentang calon suamiku,” kata ratu Arisandi, setelah itu ia turun dari singgah sananya dan berjalan meninggalkan ruang pertemuan tersebut. Semua pejabat dan bangsawan pun satu persatu meninggalkan uala pertemuan tersebut menyisakan Angga, Yuda dan Arya. “Yuda, ayo kita keluar juga. Tidak enak juga kalau harus berduaan dengan orang penyakitan, nanti disangkanya kita menganiaya,” kata Arya sambil menarik tangan sahabatnya. Angga sangat jengkel terhadap priab tersebut, ia pun langsung menarik pedang dari sarungnya lalu menghunungkan ke leher Arya,”dari tadi kau terus menghinaku, apakah kau pikir aku tidak berani membunuhmu?” Yuda terkejut dengan perlakuan kasar dari mentri Lintang Timur tersebut, ia tidak terima begitu saja kalau sahabatnya diancam seperti itu. Kalau saja bukan karena memiliki maksud dan tujuan, sudah pasti dia akan mengibarkan bendera perang dengan mentri tersebut. Arya tersenyum, ia menjepit pedang tersebut dengan jari telunjuk dan jari tengahnya kemudian mengangkat pedang tersebut dengan sangat tenang. Dia membalikkan tubuhnya menghadap perdana mentri tersebut,”jangan terlalu percaya diri, mentri. Aku tidak mengatakan kalau kau tidak berani membunuhku, tapi apakah kau tahu? Kalau kau menghina Zulfikar, bukankah itu artinya kau meragukan kemampuan ratumu sendiri? Apakah seorang Ratu Arisandi telah memilih seorang pria untuk dijadikan calon suami?” katanya dengan senyum meremehkan. Angga menggeram, tapi untuk saat ini dia memang harus menahan diri untuk tidak membunuh pria yang telah menghinanya tersebut, ia pun segera menarik pedangnya kembali dan memasukkan ke dalam sarungnya. Tanpa banyak bicara dan dengan perasaan dongkol, mentri tersebut berbalik dan pergi meninggalkan kedua pangeran tersebut. Yuda memandang Arya kagum, ia tidak menyangka kalau sahabatnya itu ternyata mampu untuk mengalahkan lawannya hanya dengan kata-kata yang lembut dari mulutnya. “Arya, kau sungguh hebat. Kau membuatnya pergi tanpa harus melakukan pertumpahan darah,” pujinya. Arya tersenyum, ia menoleh sejenak pada sahabatnya tersebut,”aku bukan kamu yang selalu menggunakan emosi untuk menyelesaikan masalah, senjata paling ampuh untuk memulai pertarungan atau menghentikannya itu adalah lidahmu sendiri. Jadi pandai-pandailah kamu dalam menggunakannya,” katanya sambil menepuk pelan bahu sahabatnya tersebut. “Ternyata kau bijak juga dalam berkata,” puji Yuda sambil menyingkirkan pelan tangan sang sahabat. Arya tersenyum, ia langsung membalikkan tubuhnya karena tidak ingin berlama-lama bersama sahabatnya tersebut. ** Zein dan Mahesa berjalan beriringan, mereka menuju arah kerajaan Lintang Timur. Zein tidak sabar untuk segera bertemu dengan ratu Arisandi, bukan karena perasaan rindu atau cinta dan sebagainya, ia hanya ingin mengetahui keadaan kedua sahabatnya, apakah ratu bengis itu memperlakukan mereka dengan baik atau tidak?. Pintu gerbang kerajaan tersebut akhirnya terlihat, perasaan lega menyambangi hati sang pangeran, ia semakin bersemangat untuk terus melangkah. Berita kembalinya Zein Zulkarnain telah sampai di telinga Ratu Arisandi, wanita cantik tapi bengis itu sangat senang. Ia menyuruh para dayang dan pengawal untuk menyiapkan pesta penyambutan karena calon suaminya telah kambi, sedang dirinya akan menyambut secara langsung kehadiran putra mahkota Bintang Tenggara tersebut. Ratu Arisandi menatap Zein Zulkarnain dengan wajah berseri-seri, pria rupawan itu akhirnya kembali setelah dua hari pergi untuk mengambil pedang pusaka naga langit. “Selamat datang kembali, kestria Zulfikar.” Ia memberikan sambutan selamat datang dan sengaja memanggil Zein dengan sama samarannya berharap pria itu tidak lagi memasang muka datar terhadapnya. Zein Zulkarnain diam tanpa ekspresi, memberi hormat saja tidak membuat sang ratu dongkol tapi tetap berusaha untuk tersenyum. Mahesa mengerti kalau penguasa Lintang timur tersebut tidak suka dengan sikap pangeran Bintang Tenggara tersebut, tapi karena masih membutuhkan sang pangeran untuk mengalahkan kesatria berkuda putih tetap memasang senyum palsu. “Terimakasih, Yang Mulia Ratu. Saya memberi ucapan terimakasih mewakili tuan muda Zulfikar.” “Aku tidak butuh, sudalah. Aku ingin tahu kekuatan pedang itu, berikan padaku sekarang!” balas Ratu Arisandi. “Tidakkah merasa malu meminta sesuatu yang bukan menjadi hak mu,” balas Zein sambil menatap digin ratu cantik tersebut. “Lancang! Aku sudah berbaik hati memberikan keramah tamahan terhadapmu, tapi kau selalu saja membuatku merasa marah. Apakah kau ingin mengumumkan perang antara kerajaanmu dengan kerajaanku?!” Ratu Arisandi menatap Zein murka, seluruh orang yang hadir di depan istana itu sudah siap untuk mengangkat pedang menunggu perintah dari ratunya. “Percuma kau ingin berperang dengan Bintang Tenggara, karena sekarang kerajaan itu dikuasai oleh Ku Bangan. Putra dari raja Ka Len Nan dari Xioxing. Aku akan sangat berterimakasih kalau kau menghancurkan pemimpin dzalim itu,” balas Zein dengan senyum manisnya. Mata Ratu Arisandi tidak bisa berkedip sedikit pun, ia terpana oleh senyum manis tersebut. Tapi kini dia tahu apa yang membuat pangeran rupawan dan dingin itu bisa menerimanya. “Ide bagus, aku akan membantumu merebut kembali kerajaanmu, tapi kau harus menjadi selirku. Ah, tidak. Kau akan menjadi rajaku, aku harap kamu bersedia.” “Tidak masalah, kalau kau bisa menghapuskan tradisi aneh di kerajaanmu ini. Tidak ada seorang wanita yang menikah dengan ratusan pria,” balas Zein dengan senringai tipisnya. “Baik, aku akan menceraikan semua selir-selirku. Aku hanya akan menikah dengamu, aku juga tidak akan lagi mengebiri seorang pria. Aku akan menghapuskan poliandri dan mengizinkan poligami. Aku juga akan menjadikan pria sebagai pemimpin, itu artinya kau akan menjadi raja di kerajaanku. Sekarang, kapan kita akan menikah?” balas ratu Arisandi tidak sabar untuk segera menikah. “Tidak semudah itu, buktikan dulu ucapanmu. Buat derkrit dan umumkan pada rakyat, kau harus memintak maaf pada seluruh rakyat yang kau dzalimi,” jawab Zein. “Apapun untukmu, mulai dari sekarang aku akan akan menjadi ratumu. Aku akan segera mengatur pernikahan kita, aku akan menulis dekrit. Apakah kau merasa senang?” balas Arisandi tanpa sedikit pun beban. Zein tersenyum puas, tidak disangka dirinya begitu mudah membuat ratu kejam itu menyetujui semua syarat darinya,”puas. Tapi aku tidak bisa menikahimu sekarang, tugasku masih sangat panjang. Aku harus merebut kembali kerajaanku, aku harus menyembunyikan identitasku sebagai seorang anggota kerajaan. Tunggulah setelah semua tugasku selesai, aku bukan orang yang akan mengingkari janji. Tapi semua akan batal kalau kau tidak bisa menjadi seorang penguasa yang baik.” “Aku setuju, aku akan menunggumu. Kalau begitu, izinkan kakakku ikut serta dalam perjalananmu. Dia akan bertugas sebagai memata-mataimu, kalau sampai kau tertarik pada wanita lain. Maka kau akan tahu akibatnya,” balas Ratu Arisandi. “Tidak! Aku tidak suka dimata-matai, sebagai seorang calon istri. Seharusnya kau harus lebih percaya padaku. Kalau kau tidak bisa percaya, lebih baik urungkan saja niatmu. Akan tiba masanya ke7 satria langit berkumpul, tapi tidak sekarang,” jawab Zein, ia mengambil pita yang ada di keningnya lalu menyerahkannya pada sang ratu. “Aku tidak memiliki apapun untuk melamarmu, anggap saja ikat kepala berupa pita ini sebagai lamaranku. Kau boleh menerima dan menolak, kau adalah seorang ratu terhormat, apakah kau akan menerima hanya sehelai pita putih ini?” Ratu Arisandi mengambil pita tersebut tanpa meminta pelayan untuk mengambilkannya,” aku menerimanya,” balasnya. Ia melepaskan mahkota di kepalanya lalu menggantinya dengan pita putih pemberian Zein. Sebuah cahaya kuning keemasan muncul dari pita tersebut ketika pita tersebut telah terikat di kepala, seketika pita tersebut berubah menjadi sebuah mahkota putih yang terbuat dari berlian. Semua orang yang menyaksikan takjub melihatnya, pita biasa ternyata bisa berubah menjadi mahkota yang sangat indah. “Ya Tuhan, aku tidak pernah melihat keajaiban ini. Sebuah pita biasa bisa berubah menjadi sebuah mahkota,” komentar orang-orang di tenpat tersebut. “Selama kau menggunakan mahkota itu, artinya kau telah menjadi calon ratu dari Zein Zulkarnain.” Zein tersenyum lembut. “Baiklah, aku akan menggunakannya. Aku tidak menyangka ternyata pita itu adalah sebuah mahkota,” kata Ratu Arisandi terkjub. “Itu adalah harta paling berharga untukku, karena itu adalah pemberian dari guruku. Jagalah dengan baik, jangan sampai hilang,” balas Zein. Setelah itu ia berbalik, seorang pemimpin harus bisa menjaga setiap ucapannya, karena itu ia mencoba untuk mempercayai kalau ratu tersebut bisa memegang janjinya. “Aku pasti akan menjaganya, aku pun tidak akan ingkar janji. Sebagai seorang penguasa, ucapanku tidak boleh untuk dilanggar olehku sendiri.” Ratu Arisandi tersenyum bahagia, dia tidak tahu saja kalau niat utama seorang Zein Zulkarnain hanya untuk menjaga perdamaian dunia, dengan menjanjikan pernikahan. Ia yakin ratu zalim tersebut bisa menjadi seorang ratu yang bijaksana dan tidak bersikap dzalim lagi terhadap rakyat. Mahesa mengikuti pangerannya tersebut, sebenarnya dia tidak setuju kalau seorang pria sebaik pangeran Bintang tenggara tersebut harus menikah dengan seorang wanita sejahat ratu Arisandi, tapi ia yakin kalau sang pangeran pastinya pertimbangan sendiri. Yuda sangat senang mendengar sahabatnya telah kembali membawa keberhasilan, ia pun segera menyeret Arya untuk menyambut sang sahabat. Kalau orang lain saja bisa memberikan sambutan, kenapa dirinya sebagai seorang sahabat tidak memberikan sambutan. Arya sangat kesal karena terus diseret oleh temannya tersebut,”Pangeran Yuda, tolong berhenti. Aku tidak bisa kau perlakukan seperti in terus.” “Sudalah, pangeran Arya. Kamu jangan memanggilku pangeran, kalau semua orang tahu bahwa kita ini adalah anggota kerajaan bagaimana? Sahabat kita bisa dalam bahaya.” Yuda terus mengoceh sambil menyeret pangeran Arya. Pangeran kerajaan Kayumas tersebut begitu bersemangat menyambut kembali pangeran Bintang Tenggara, ia tidak perduli kalau orang akan memandangnya aneh. Dia hanya perduli tentang hubungan persahabatan, dirinya sudah tidak sabar untuk melihat kehebatan benda pusaka berupa pedang tersebut, berharap Zein bersedia memperlihatkannya. “Baiklah, Yuda. Tapi aku bisa jalan sendiri. Orang akan menganggap kalau kita ini adalah pasangan gay kalau kamu terus menyerku,” kata Arya sudah kelewat dongkol. “Arya, apakah kamu tidak ingin menyambut pangeran Zein? Dia sahabat kita, masak kamu hanya diam diri sendiri,” balas Yuda sambil terus menarik tangan tangan Arya. “Iya, tapi kamu jangan tarik-tarik begitu! Aku bisa jalan sendiri,” sergah Arya, ia sangat tidak nyaman kalau ditarik-tarik. Yuda mengalah, ia pun melepaskan padangan tangannya lalu membiarkan sahabatnya itu berjalan sendiri,” nah, kan. Aku sudah melepaskan tanganmu, sekarang kau bisa pergi, tapi jangan sampai kau tidak hadir untuk menyambut kembalinya sahabat kita,” katanya memberi peringatan. “Aku tahu, kau tidak perlu memberiku peringatan. Sekarang pun aku akan pergi untuk menyambut pangeran Zein,” balas Arya sambil membalikkan tubuhnya lalu berjalan meninggalkan pangeran Kayumas tersebut. Yuda mencebik, rasanya ia ingin memukul kepala pangeran aneh tersebut, tapi ya sudahlah yang terpenting sekarang mereka harus menyambut kembalinya seorang pangeran Zein Zulkarnain.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD