Episode 21
Mahesa memandang cemas putra mahkota Bintang tenggara tersebut, bagaimana pun juga tubuh sang pangeran belum sepenuhnya pulih. Masih terdapat sebuah racun mematikan di dalam tubuh berharga tersebut, sedang tubuh raja siluman buaya putih sangat sehat.
Pengawal pribadi tersebut terus memperhatikan kekuatan cemeti putih saat mencoba untuk menarik pedang milik sang pangeran, mereka berdua terlihat sama-sama mengeluarkan kekuatan sekuat tenaga.
“Pangeran Zein! hati-hati!” teriaknya.
Pats…
Raja siluman buaya putih terdorong kebelakang setelah cemetinya tak mampu menarik pedang yang ada dalam genggaman sang putra mahkota. Ia memandang Zein sengit, tidak disangka kalau ternyata seorang Zein zulkarnain memiliki kekuatan luar biasa meski tidak menggunakan pedang naga langit.
Zein hanya memandang siluman tersebut datar, sesungguhnya ia menyembunyikan tubuh ringkihnya yang mulai menunjukkan reaksi tak menyenangkan lagi. Rasa tidak nyaman mulai menyerang beberapa bagian dalam tubuh.
“Ternyata kau kuat juga bocah,” kata raja siluman buaya putih meremehkan.
“Itu hanya karena kau terlalu lemah,” balas Zein menghina, ia mengatakan yang sesungguhnya. Mana mungkin jika siluman tersebut kuat tidak mampu mengalahkan dirinya yang sedang terdapat sebuah racun di dalam tubuhnya.
Raja siluman buaya putih menggenggam erat cemeti putih tersebut menahan emosi yang ada dalam tubuhnya, berani sekali seorang manusia menghinanya. Padahal di luar sana banyak manusia yang menyembahnya.
“b******k! Kau ini seorang manusia yang tidak tahu diri! Di luar sana aku disembah, sedangkan kau di sini malah berani menghinaku. Apakah kau tidak takut aku akan memusnahkan mu?!” katanya geram melihat seorang manusia angkuh berdiri di depan matanya tersebut.
“Mereka hanya terlalu bodoh, kalau sedikit saja mereka menggunakan akal mereka untuk berpikir. Sangat tidak mungkin kalau mahluk lemah sepertimu bisa disembah, jangankan bisa menolong mereka. Bahkan sekarang menolong dirimu sendiri saja kau tidak mampu. Apakah masih bisa untuk menyembahmu?” balas Zein dengan senyum merendahkan.
Seluruh darah raja siluman tersebut terasa mendidih mendengar ucapan seorang manusia yang terang-terangan menghinanya,”sepertinya kau sudah bosan hidup, aku akan mengakhiri mu dengan kekuatan semburan api bajul buntung milikku,” jawab raja siluman tersebut.
Zein hanya diam sambil memperhatikan, apakah yang akan dilakukan oleh siluman tersebut. Kesombongan dan keserakahan telah menguasai si siluman hingga tidak sadar kalau perbuatannya sudah jauh dari kata benar.
Ratu buaya putih menggelengkan kepala, ia pun menjadi wujud manusia dan berlari menghadang sang suami. Dia tidak ingin suaminya mendapat murka dari Tuhan yang maha pengasih karena telah berlaku sombong dan kufur,”suamiku hentikan! Pedang itu bukan hakmu, kau juga tidak pantas berlaku sombong. Kita semua adalah mahluk ciptaan Tuhan yang maha pengasih, tidak pantas bagi kita untuk mengharapkan manusia untuk menyembah kita,” katanya sambil merentangkan tangan di depan sang suami.
“Diam kau La lapan! Seharusnya kau mendukung suamimu, bukan membela musuh suamimu!” balas raja siluman buaya putih murka.
La La pan menggelengkan kepala, siluman cantik tersebut tidak ingin suaminya berbuat kezaliman dan membuat murka sang pencipta,” tidak suamiku, kita sudah hidup di dunia ini ratusan tahun. Itu semua adalah karunia dari Yang maha pengasih, kita tidak boleh menjadi jin kufur yang mendustakan nikmat Tuhan semesta alam,” katanya masih mencoba mengingatkan sang suami bahwa apa yang telah dilakukan itu adalah suatu kesalahan.
“Ratu, tolong anda menyingkir. Aku akan menghadapi suamimu ini, biarkan dia menunjukkan seberapa kuat dirinya hingga ingin disembah,” kata Zein sambil memusatkan cakra di telapak tangannya.
La Lapan menoleh ke belakang, hatinya sedih melihat Zein juga mengeluarkan kekuatan petir langit. Ia sudah mendengar bahwa pria dengan gelar Arsy ratu sejagad itu memiliki kekuatan sebuah petir yang sangat dasyat. Tapi wanita siluman itu tetap menyingkir, dia tahu kalau apa yang dilakukan oleh suaminya memang sangat melampuai batas.
Raja siluman buaya putih dan pangeran Bintang tenggara saling berhadapan, di tangan mereka telah menyiapkan sebuah kekuatan sama besar. Mahesa dan La Lapan memang mereka dengan cemas dan khawatir, takut kalau terjadi sesuatu dengan yang terkasih.
“Pangeran Zein, kamu harus berhati,” gumamnya.
“Suamiku, aku berharap kamu akan mengerti. Apa yang kamu lakukan itu sungguhlah tidak benar,” gumam La Lapan.
Zein dan Raja siluman buaya putih saling melepaskan kekuatan mereka.
“Raiton sora!” teriak Zein bersamaan dengan petir dengan kekuatan besar menyerang siluman buaya putih.
“Bajul Buntung!” teriak siluman buaya putih bersamaan dengan sebuah kekuatan seperti cambuk berwarna merah menyala dilapisi dengan kobaran api menyala menyerang Zein zulkarnain.
Bajul buntung dan Raiton sora saling berhadapan, memberikan serangan. Dorong mendorong serta saling menghancurkan. Zein dan buaya putih saling mengeluarkan kekuatan mereka, tidak sedikit pun ada belas kasih dalam serangan tersebut.
Duar…
Ledakan terjadi akibat benturan kedua kekuatan tersebut, raja siluman buaya putih terpental jauh. Dia terluka parah karena terkena serangan raiton sora, La Lapan menghampiri sang suami lalu membawanya menghilang dari hadapan putra mahkota Bintang tenggara.
Zein masih berdiri tegak setelah mengeluarkan kekuatan tersebut, matanya masih belum teralih sedikit pun dari tempat sepasang siluman tersebut menghilang.
Puft…
Tiba-tiba ia menyemburkan darah dari mulutnya, Mahesa sangat terkejut. Ia menghampiri sang pangeran dengan rasa khawatir yang sangat mendalam,” pangeran Zein, apakah pangeran tidak apa-apa?” tanyanya khawatir.
Zein hanya diam, tapi tiba-tiba saja tubuh tersebut limbung dan Mahesa segera menangkap tubuh berharga tersebut. Ia tahu kalau putra mahkota Bintang tenggara tersebut telah memaksakan dirinya untuk bertarung, dan sekarang tubuh itu tak mampu untuk terus bertahan hingga membuatnya hampir pingsan.
Pedang naga langit memang sungguh sangat hebat, meski perlu perjuangan tak sembarangan tapi hasil memang tak mengkhianati usaha. Pedang 1,5 inci dengan cahaya putih kehijauan mencari ciri khas pedang tersebut. Pegangan pedang terdapat corak naga emas serta berwarna kuning keemasan.
“Pangeran Zein, pangeran berhasil mendapatkan pedang tersebut. Sekarang kita segera kembali ke istana Lintang Timur. Aku yakin, Ratu Arisandi tidak sabar menunggu kehadiran pangeran.” Mahesa sangat senang hingga tak memperhatikan kulit tangan sang pangeran mulai membiru.
“Ayah, kepalaku terasa pusing. Aku tidak tahu kenapa?” Zein menyentuh kepalanya, tubuh terasa melayang, napas terengah-engah.
“Apa?” Mahesa mengalihkan perhatian pada pangeran Bintang Tenggara tersebut, ia terkejut melihat tangan junjungannya membiru, dia yakin ini terjadi karena racun dalam tubuh Zein belum hilang sepenuhnya.
“Pangeran, sebaiknya pangeran harus istirahat. Pangeran tidak bisa meneruskan perjalanan, tubuh pangeran sangat lemah, apa lagi setelah mengalami pertempuran tadi,” sarannya.
“Kau benar, kita harus mencari tempat untuk istirahat sejenak.” Zein memutuskan untuk menuruti saran dari pengawal pribadinya tersebut. Mahesa mengangguk, ia pun mencari tempat untuk bisa dijadikan tempat berteduh, bibirnya tersenyum ketika mendapati sebuah pohon besar, daunnya juga rindang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
“Pangeran, kita istirahat di bawah pohon itu dulu.” Dia menunjuk arah pohon besar tersebut.
“Hm,” balas Zein. Mereka pun melangkahkan kaki menuju pohon tersebut lalu mendudukkan dirinya di bawah pohon.
“Pangeran, aku akan mencarikan air kelapa untuk pangeran. Air kelapa sangat bagus untuk melunturkan racun dalam tubuh,” kata Mahesa.
“Terserah kau saja, aku ingin istirahat dulu. Aku sangat lelah.” Zein menyandarkan tubuhnya di batang pohon sambil memeluk pedang naga langit diletakkan di dadanya.
“Baik,” balas Mahesa. Setelah itu ia membalikkan tubuh dan terbang meninggalkan tempat tersebut untuk mencari buah kelapa muda guna diambil airnya.
Pedang naga langit bersinar cerah, tak lama kemudian berubah menjadi seekor naga besar. Naga tersebut melingkar di samping tubuh Zein membentuk perisai untuk melindungi tuannya.
“Tuan sangat tampan, tuan juga berhati mulia. Tapi sayang sekali tuan sangat sedikit berbicara. Tuan, aku akan selalu melindungi mu. Karena sekarang kau adalah tuanku.” naga langit tersebut kembali bersinar dan berubah menjadi sosok manusia tampan dengan bulu-bulu mengalung lehernya. Rambutnya panjang hingga di bawah punggung berwarna kuning keemasan, di dahinya terdapat tanda mirip cula naga.
“Tuan sepertinya kelelahan, aku akan mencarikan tanaman obat untuk tuan.” Naga langit membalikkan tubuhnya lalu berjalan anggun ke tengah hutan untuk mencari tanaman obat, ia kembali menjelma menjadi seekor naga ketika melewati sebuah gunung agar lebih mudah untuk berjalan. Setelah sampai di pucak gunung, dia mengambil beberapa bunga rahasia, bunga surga. Bungan tersebut untuk segala macam penyakit dan racun, setelah mendapatkannya. Naga tersebut langsung terbang dan kembali pada tuannya.
Zein terkejut melihat seekor naga berwarna kuning keemasan, ia pun langsung bangkit dan menghunuskan pedang kearah naga tersebut,”siapa kamu?!” tanyanya penuh dengan waspada.
“Tuan, aku adalah pedangmu. Pedang naga milikmu, aku pergi sebentar untuk mencari bunga surga di puncak gunung. Tubuh tuan terkena racun, kalau tidak segera diobati, aku takut tuan tidak akan sanggup menahan racun tersebut terlalu lama,” jelas naga langit.
Zein tercengang, ia tidak menyangka kalau pedang miliknya sungguh berubah menjadi seekor naga raksasa,”sungguh? Kalau begitu, mana bunga itu?” tanya Zein memastikan.
Sebuah cahaya putih muncul dan menyilaukan mata, setelah cahaya itu lenyap digantikan oleh seorang pria tampan yang kembali membuat mata Zein terbelalak.
“Kamu bisa berubah menjadi manusia?” tanyanya tak percaya.
“Iya, tuan. Ini adalah bunga surga itu, tuan langsung makan saja. Setelah itu tubuh tuan akan baik-baik saja,” balas naga langit. Perlahan Zein mengulurkan tangannya untuk mengambil bunga tersebut lalu memakannya perlahan. Tak lama kemudian sebuah reaksi aneh terasa dalam tubuh putra mahkota Bintang Tenggara tersebut, rasanya seperti ada yang membakar tubuh dari dalam hingga membuatnya kesakitan. Tapi tak lama kemudian rasa tersebut hilang digantikan dengan rasa sejuk dan kemudian tubuh terasa ringan.
“Aku pikir aku akan mati tadi, sekarang aku merasa sangat baik-baik saja. Tidak ada sedikit pun rasa berat dalam diriku,” komentar Zein.
“Benar, tuan. Itu memang reaksi bunga surga itu, tuan. Tapi sekarang tuan baik-baik saja, tuan juga bisa menggunakan kekuatan saya untuk bersatu dengan kekuatan tuan hingga tuan bisa lebih maksimal dalam menggunakan kekuatan. Saya tahu kalau tuan akan bertarung melawan satria berkuda, pedang sembilan naga itu juga merupakan bagian dari pedang naga,” jelas naga langit.
“Maksudmu, kamu pada naga itu terdiri dari berbagai macam?” tanya Zein penasaran.
“Benar, tuan. Ada pedang sembilan naga, ada pedang naga putih, ada pedang naga merah. Dan terakhir adalah saya, pedang naga langit. Diantara semua pedang naga tersebut, mereka semua memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri, mungkin tuan merasa heran, darimana saya bisa tahu semua ini. Mereka semua adalah belahan dari saya tuan.” Naga langit kembali menjelaskan. Zein kembali tercengang, ia tak menyangka ternyata pedang yang akan dilawannya adalah belahan dari pedang naga langit tersebut, pantas saja semua pedang naga itu hanya bisa dikalahkan oleh pedang naga langit.
“Kamu sangat hebat naga langit, kalau begitu, izinkan aku meminjam kekuatanmu,” pinta Zein.
“Tentu tuan, saya sangat senang jika tuan tidak keberatan,” balas naga langit. Sejurus kemudian, pria rupawan jelmaan dari pedang naga langit tersebut berubah menjadi sebilah pedang tajam dan langsung masuk dalam genggaman tuannya.
Zein dapat merasakan kekuatan dari pedang tersebut sangat besar, aura panas dan dingin tapi bukan mirip kulkas dua pintu menjadi satu,”sungguh sangat luar biasa, aku baru kali ini merasakan kekuatan pedang seperti ini,” komentarnya.
“Terimakasih, tuan,” balas naga langit. Pangeran Bintang tenggara tersebut tersebut, setelah itu ia langsung menarik pedang tersebut dari sarungnya lalu mulai menggunakannya untuk berlatih.
**
Mahesa menghentikan langkah kakinya ketika merasakan sebuah kekuatan yang sangat besar, kekuatan tersebut seperti berasal dari sebuah pusaka. Tapi tidak tahu pusaka apa, matanya membulat ketika teringat tentang sebuah pedang yang baru saja dimiliki oleh pangeran Bintang Tenggara.
“Inikah kekuatan pedang naga langit? Tapi kalau pedang itu memiliki kekuatan sebesar ini, bisa jadi pedang itu akan menyerap seluruh cakra dan tenaga dalam milik pangeran Zein, aku harus kembali. Aku khawatir terjadi sesuatu dengan pangeran. Apa lagi kondisi tubuhnya sedang tidak sehat karena racun dalam tubuhnya masih belum sepenuhnya hilang.” Mahesa segera bergegas meninggalkan tempat tersebut dan terbang menghampiri pangeran Bintang Tenggara karena khawatir akan keselamatan sang pangeran.
Srat…
Sabetan pedang naga langit ke udara, menebas ruang kosong tapi tetap menimbulkan energi yang sangat dasyat. Zein menghentikan latihannya dengan senjata barunya lalu memasukkannya kembali ke dalam sarungnya.
“Pangeran Zein,” panggil Mahesa ketika melihat tubuh pangeran kesayangannya itu mampu berdiri dengan tegak dan terlihat baik-baik saja. Zein menoleh kebelakang, bibirnya tersenyum ketika mendapati pengawal pribadinya itu telah kembali dari mencari obat untuk racun dalam tubuhnya. Ia membalikkan tubuh lalu berjalan menghampiri sang pengawal.
“Kau sudah kembali,” katanya sambil memperhatikan beberapa tanaman obat yang digenggam oleh pengawal tersebut.
“Iya, benar. Aku sudah membawakan beberapa tanaman obat untukmu,” kata Mahesa sambil menunjukkan beberapa tanaman obat tersebut.
“Aku sangat berterimakasih, tapi aku sudah baik-baik saja. Bagaimana kalau kita simpan saja tanaman obat tersebut, aku yakin nanti aku pasti akan membutuhkannya,” balas Zein berusaha menolak dengan cara paling halus karena dirinya sudah mendapat penawar racun dari naga langit.
“Baik, aku akan menyimpan Tanaman obat ini. Kalau begitu, apakah sekarang kita akan langsung kembali ke kerajaan Lintang Timur?” tanya Mahesa memastikan.
“Benar, aku tidak ingin ratu aneh tersebut membahayakan Arya dan Yuda,” jawab Zein. Mahesa mengangguk, merekapun kembali berjalan untuk kembali ke Lintang Timur.