episode 29

1982 Words
Episode 29   Sebuah rumah kayu sederhana terdapat seorang wanita 50 tahunan, wanita itu sedang menyulam benang, rambutnya disanggul dan memakai selendang hijau. “Ibu.” Seorang bocah kecil memanggil ibunya sambil membawa secangkir teh. Wanita paruh baya tersenyum mengalihkan perhatiannya pada sang bocah, ia tersenyum lembut. “Iya, putriku. Apakah kamu lapar? Atau haus? Ayahandamu sebentar lagi datang,” balas wanita tersebut. Cara mengajari putrinya memanggil ayahnya sudah seperti keluarga kerajaan, karena memang dia merasa kalau dirinya seorang ratu. “Ratuku.” Seorang pria 60 tahun datang dengan wajah penuh amarah, ia tersenyum iblis ketika melihat sang istri. Dia yakin kalau bisa membawa wanita tersebut bertemu dengan orang-orang di warung makan tadi, mungkin mereka akan bersikap hormat terhadapnya. Wanita paruh baya tersebut bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri sang suami,”kanda, apakah yang membuatmu terlihat sangat marah?” tanyanya lembut. “Kau adalah seorang ratu sejagad, tapi tadi aku bertemu dengan beberapa pemuda yang sudah meragukan identitasmu. Mereka bahkan tidak mengetahui kalau kau bisa meramal masa depan,” jelas pria 60 tahun tersebut. Wanita itu mengangguk, sebenarnya dia tidak tahu apa itu ratu sejagad. Sejak dulu namanya memang Arsy, dan suaminya memberitahunya kalau dirinya adalah seorang ratu, sekali pun tidak mengerti apapun tentang istrilah Arsy ratu sejagad tapi dia hanya percaya apa yang dikatakan oleh sang suami. “Suamiku, apakah kau ingin membawaku ke sana?” tanya Arsy. “Benar, aku sangat ingin membawamu menemui mereka. Aku yakin setelah melihatmu, mereka akan mengakui bahwa apa yang ku katakan benar. Bukankah kau mampu melihat wujud sukma manusia?” balas ki Trenggalek. “Benar, aku memang mampu melihatnya. Ada apa memangnya?” tanya Arsy bingung. “Bagus, kalau begitu kau harus melihat sosok sukma pria sombong tersebut,” jawab ki Trenggalek. Wanita itu mengangguk, setelah itu mereka pergi ke warung makanan untuk bertemu dengan Zein dan kawan-kawannya. Warung makan… Zein, Yuda, Mahesa dan Arsy sudah menyelasaikan makanannya. Mereka hendak keluar dari tempat tersebut untuk kembali meneruskan perjalananan, tapi dihentikan oleh ki Trenggalek yang datang bersama istrinya. “Jangan berharap bisa kabur untuk menghindari kesepakatan, aku sudah membawa istriku, Arsy ratu sejagad. Dia akan melihat siapa wujud sukmamu, dengan begitu kau tidak akan pernah bisa sombong lagi,” kelakar ki Trenggalek. Zein mendengus sebal, ia pikir pria tua itu sudah melupakan  ucapannya, ternyata kembali dengan  seorang wanita. “Aku tidak latri, aku hanya berpikir kalau kau mungkin tidak akan datang. Karena tidak ada gunanya juga merebutkan sebuah gelar,” balasnya. “Heh, kau pikir aku adalah seorang pengecut sepertimu. Ini istriku, dia akan melihat wujud sukmamu,” jawab ki Trenggalek. “Baik, kalau istrimu memang bisa melihat wujud sukmaku. Silahkan saja, aku tidak keberatan sama sekali,” ucap Zein tenang. Arsy mengangguk, ia pun mulai memejamkan matanya menembus tubuh dan melihat wujud sukma tersebut. Seorang pria berambut panjang sebahu, dengan mahkota besar di atas kepalanya. Bajunya berwarna kuning keemasan, di tangan kanananya terdapat sebuah pedang panjang dan tangan kirinya terdapat sebuah tongkat dengan ujung tongkat berbentuk bunga teratai. Wanita tersebut terbelalak, ternyata pria di depannya tersebut adalah seorang ratu, Arsy ratu sejagad yang sesungguhnya. “Apakah sudah selesai, nyonya?” tanya Zein setelah melihat reaksi wanita tersebut. Arsy terbelalak, ia sungguh tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan seorang pria memiliki sukma seorang penguasa hebat,”kau adalah…” belum selesai wanita tersebut berbicara, seseorang sudah menyela ucapannya. “Dia, Zilfikar. Nyonya, sepertinya kau lebih dari suaminya yang tidak tahu apapun itu, aku bisa melihat dari ekspresimu. Kau sudah tahu bukan, siapa orang yang ada di depan matamu ini?” sela Mahesa tidak ingin ada yang membongkar siapa Zein yang sesungguhnya. “Benar, aku sudah tahu siapa kau yang sebenarnya. Atas nama suamiku, aku mintak maaf karena suamiku telah bersikap tidak hormat terhadapmu. Sekarang izinkan kami untuk pergi,” jawab Arsy sopan. “Silahkan.” Mahesa mempersilahkan wanita tersebut untuk membawa suaminya pergi, tidak ada gunanya juga pria sok tahu tersebut berada di sekitar sini, hanya akan membuat orang ingin muntah saja. Zein memperhatikan sepasang suami istri tersebut, ia dapat melihat kalau wanita itu jauh lebih mengerti dan bisa diajak bicara ketimbang suaminya, dia juga yakin kalau ilmu yang dimiliki juga lebih tinggi. “Fikar, kenapa kau terus menatap mereka? Apakah ada sesautu yang kau pikirkan?” tanya Yudah heran. “Tidak, aku hanya merasa, wanita itu jauh lebih bisa diandalkan ketimbang suaminya. Pria itu hanya bersikap sombong meski sejatinya tidak bisa melakukan apapun. Mengatakan sesuatu yang tidak diketahui sama saja melakukan suatu kebogongan,” jelas Zein. Yuda mengangguk, kalau dipikir-pikir memang benar apa yang dikatakan oleh pria tersebut, tapi tetap saja pria adalah pemimpin wanita kecuali wanita tersebut bisa membuat suaminya mengerti bahwa apa yang dilakukan itu adalah suatu kesalahan. ** Bintang Tenggara “Siapa sebenarnya Arsy Ratu sejagad itu? Aku pikir dia adalah seorang wanita, tapi aku dengar lagi ternyata dia adalah seorang pria.” Ka Len Nan mendengar kabar dari putranya kalau ada seorang kesatria yang memiliki kekuatan misterius dengan gekar Arsy ratu sejagad. Awalanya Ku Bangan mengira kalau ratu itu seorang wanita sesuai dengan gelarnya, tapi ternyata ada yang bilang itu seorang pria hingga dirinya harus pergi ke keraajaan milik sang putra tentu saja kerajaan hasil rampasan dari raja orang lain. “Ayah, aku juga tidak tahu. Tapi salah satu warga wanita dari desa Kepus mengatakan kalau dia adalah seorang pria bernama Fikar. Dia bersama empat orang pria sebagai rekan seperjalanannya, aku sangat ingin bertemu dengannya. Karena dia adalah seorang kesatria tersembunyi yang diramalkan akan menjadi penghancur kekuasaan kita,” balas Ku Bangan gusar. “Saya sudah mencari berita tentang Fikar, Yang Mulia. Ternyata dia hanya seorang pengembara yang mengumpulkan 7 pusaka langit,” sahut Tong Sampah. “Apa? 7 pusaka langit? Memangnya ada tujuh pusaka semcam itu?” tanya Ka Le Nan tidak percaya. “Ada, ayah. Menurut orang-orang itu, jika ke 7 pusaka langit sudah terkumpul, kesatria tersembunyi itu akan bisa menguasai dunia ini dan menciptakan keadilan serta memberantas kedzaliman. Aku khawatir dia akan bertemu dengan Zein Zulkarnain dan membantu Zein untuk mengambil kembali kerajaan kita ini, ayah,” sela Ku Bangan. Ka Len Nan mengangguk, memang sangat masuk akal apa yang dikatakan oleh putranya tersebut, ia juga sangat khawatir akan kejadian itu, tapi sekarang dirinya harus mencari keberadaan Arsy ratu sejagad dan kesatria tersembunyi itu dulu. “Kau benar, aku akan menyuruh banyak orang untuk mncari Arsy ratu sejagad dan kesatria tersembunyi lalu membawanya kemari dan membunuhnya, tidak ada siapapun yang boleh menghancurkan kekuasaanmu.”  Raja Xioxing itu menatap anak dan perdana mentri kerajaan Bintang tenggara serius, bibirnya tersenyum karena yakin bahwa rencananya pasti akan berhasil. Ku Bangan dan Tong sampah tersenyum penuh misteri, mereka pun juga akan mencari cara untuk menemukan keberadaan Arsy ratu sejagad dan kesatria tersembunyi tersebut, jangan sampai pewaris asli Bintang Tenggara terlebih dulu menemukannya. ** Zein bersama ketiga orang rekan seperjalanannya melanjutkan perjalanan menuju sebuah tempat pusaka kedua, tapi di tengah perjalanan lagi-lagi mereka harus bertemu dengan segerombolan penjahat atau bisa disebut sampah masyarakat. Dengan pakaian serba hitam serta topeng rubah di wajahnya, para perampok tersebut mencegat perjalanan sang putra mahkota. Mahesa langsung berdiri di depan junjungannya, ia tidak akan pernah membiarkan siapapun melukai sang putra mahkota Bintang Tenggara, dia yakin kalau sekarang raja Ka Lenan sudah mendengar berita tentang kemunculan seorang kesatria dengan kekuatan besar yang mampu menundukkan ratu Arisandi, ratu cantik dengan kezaliman di atas rata-rata. Kemungkinan kalau para perampok tersebut adalah utusan raja zalim tersebut sangat besar, karena itu dirinya tidak boleh keceplosan memanggilnya sebagai pangeran Zein, ia harus memanggilnya Satria atau Zulfikar. “Siapa diantara kalian yang bernama Zulfikar?! raja Arm menginginkan kepalanya.” Salah seorang pasukan topeng rubah tersebut bertanya dengan suara penuh dengan aura pembunuhan. Zein hanya diam tanpa ekspresi, berita tentang Arsy ratu sejagad dan kemunculan kesatria tersembunyi sudah tersebar, orang-orang di depannya ini menjadi bukti bahwa banyak sekali orang yang menginginkan kematiannya. Itu artinya raja Arm juga seorang raja yang lalim dan kejam. Arya dan Yuda saling berpandangan sejenak, mereka merasa heran karena sepertinya berita tentang Arsy ratu sejagad dan kemunculan satria tersembunyi telah tersebar, padahal mereka sangat tidak ingin berita itu tersebar, karena akan sangat berbahaya untuk seorang Zein Zulkarnain. “Tuan-tuan, kalian salah orang. Kami tidak ada yang mengenal nama yang anda sebuatkan tadi, kami ini hanya seorang pengembara. Jadi, tolong tuan-tuan untuk pergi dan mencari di tempat lain saja,” kata Yuda dengan senyum manisnya, berharap kalau para topeng rubah tersebut tidak mengganggu perjalanan mereka. Para topeng rubah tersebut terlihat saling  berpandangan, setelah itu tanpa berbicara lagi langsung menyerang Zein, Yuda, Arya dan Mahesa secara bersamaan. “Apa yang terjadi? Kenapa mereka langsung menyerang kita?” tanya Yuda bingung, ia melompat ke belakang memberikan ruang untuk menghindar dan memberikan perlawanan lebih leluasa. “Aku juga tidak tahu,” jawab Arya sambil menangkis serangan salah satu pasukan rubah tersebut, ia juga tidak mengerti kenapa meraka tiba-tiba menyerang, padahal sudah dijelaskan kalau mereka tidak tahu tentang orang yang mereka cari. Trang… Mehasa menahan serangan tombak dari salah satu anggota pasukan rubah, matanya melirik sang putra mahkota Bintang Tenggara, bagaimana pun juga tubuh Zein belum pulih dari racun aneh dalam tubuhnya. Duar… Zein keluar dari kepulan asap serta ketua pasukan topeng rubah tersebut mengeluarkan jurus api, ia mendarat sempurna di atas tanah. Matanya masih menatap sang pimpinan dengan penuh kewaspadaan, sepertinya memang ada yang salah dengan orang-orang tersebut. “Kenapa raja kalian ingin membunuh kami? Bukankah temanku sudah mengatakan kalau kami tidak kenal orang yang kalian cari?” tanyanya heran. Pimpina kelompok bertopeng rubah tersebut menghentikan penyerangannya sejenak, ia sama sekali tidak tahu7 alasan orang yang menyuruhnya untuk membunuh siapa saja orang yang berkaitan dengan Arsy ratu sejagad atau bahkan orang yang terlihat sangat mencurigakan, mereka hanya membutuhkan uang bukan yang lain, jadi semua itu tidak ada pentingnya sama sekali. Apapun alasan dibalik p*********n ini semua hanya memenuhi perintah dan mendapatkan uang. “Kami hanya pembunuh bayaran, tugas kami membunuhmu. Siapapun yang berhubungan kesatria tersembunyi harus dibunuh.” Srign… Pimpinan kelompok bertopeng rubah itu kembali menebaskan pedangnya pada pangeran Bintang tenggara tersebut, tapi sang pangeran berhasil menghindar dengan terbang ke belakang. Zein mengangkat pedangnya ke udara lalu menebaskan pedang naga langit ke arah pimpinan kelompok bertopeng tersebut, sebuah cahaya kemerahan bercampur dengan angin besar menjadu satu membentuk sebuah kekuatan besar ketika dihantamkan pada musuhnya. Wuss…. Brak… Ketua pimpinan kelompok bertopeng rubah tersebut terhempas kebelakang dan menabrak pohon besar dengan luka menganga di bagian depannya. Zein mendarat dengan sempurna, tatapannya sangat tenang seakan tak melakukan apapun sama sekali. “Bangunlah! Bukankah kau sangat ingin membunuhku? Tanpa izin Tuhan penciptaku, pencipta langit dan bumi. Kau tidak akan bisa menyentuhku meski hanya sedikit.” Melihat ketuanya terluka parah, seorang anggota pasukan bertopeng rubah tidak tinggal diam begitu saja, ia mengeluarkan sebuah busur dan anak panah yang telah dilumuri oleh racun. Dia yakin dengan racun ini, pria yang telah membuat ketuanya itu terluka akan tamat. Sret… Anak panah tersebut melaju dengan sangat cepat dan menancap pada punggung Zein hingga menembus dadanya. Jleb… Putra mahkota Bintang Tenggara tersebut sangat terkejut dengan serangan tersebut, ia bahkan tidak sempat untuk menghindar. Mahesa terbelakak, ia segera menebas musuhnya lalu menghampiri pangerannya tersebut,”Pangeran Zein, apakah kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir. “Sepertinya panah ini telah dilumuri racun,” jawab Zein, tubuhnya sudah sangat lemas, luka panas tersebut juga terasa sangat sakit. Yuda dan Arya segera menghampiri Zein, hingga memberikan kesempatan untuk para penjahat itu kabur. “Fikar, kau baik-baik saja?” tanya Yuda khawatir. “Kita harus segera mengobati luka pangeran Zein, mungkin di daerah sini ada sebuah desa dan dalam desa tersebut ada seorang tabib. Aku sangat khawatir kalau racun ini akan membawa pada hal terburuk,” sahut Arya setelah memperhatikan luka dan darah yang mengalir dari luka tersebut. “Baik, kau benar. Kita tidak bisa membiarkan ini terlalu lama,” sahut Mahesa. Terimakasih telah membaca cerita ini…  Jangan lupa Follow dan love serta berikan komentar setelah membaca.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD