episode 28

742 Words
“Yuda, ayo kembali. Aku akan mencincangmu kalau kau berani berpikir aku adalah wanita,” kata Zein sambil membalikkan tubuh meninggalkan Yuda dan kembali ke tempat duduknya. Grduk… Mahesa terkejut melihat putra mahkota Bintang Tenggara tersebut seperti hampir terjadi ketika hendak duduk, ia yakin memang ada yang tidak beres. Bagaimana mungkin mau duduk saja seperti goyah keseibangan tubuhnya. “Pangeran Zein, apakah pangeran baik-baik saja? Pangeran nampak tidak sehat,” tanyanya. “Tidak apa, aku baik-baik saja. Hanya tiba-tiba merasa lemas saja,” balas Zein berusaha tenang, meski sebenarnya tubuhnya terasa gemetar. Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Yuda kembali duduk di samping sang pangeran mahkota Bintang Tenggara, matanya masih memperhatikan ki Trenggalek, pria tua itu duduk di salah satu meja warung. Tapi tangannya seperti sedang melakukan sesuatu, mulutnya berkomat kamit seperti sedang membaca mantra, entah mantra apa. Deg… Zein menundukkan kepala, punggungnya terasa panas, perutnya seperti diaduk hingga rasanya mau muntah. Sepertinya ada yang sedang mengirim energi negatif terhadapnya, mungkin sedang melihat apa yang ada dalam dirinya. Sayangnya tubuhnya sedang lemah hingga ketika ada benturan energi, terasa sangat terasa panas. “Ada pa Fikar?” tanya Yuda heran. “Tidak apa, sepertinya ada yang mengirimkan energi negatif dan ingin mencoba kekuatannya padaku. Punggungku terasa panas, perutku terasa diaduk. Tapi tidak masalah,” jelas Zein. Ia memejamkan matanya lalu memusatkan energi murni pada keninganya untuk melacak siapa orang yang sembarangan mengirim energi negatif terhadap dirinya. Bibirnya tersenyum ketika mengetahui bahwa sumber energi tersebut dari dukun yang baru saja datang dan mengatakan dirinya mengetahui tentang ratu sejagad, ia menarik napas dalam lalu menghempaskan kiriman energi negatif tersebut Uhuk… Dukun tersebut langsung muntah darah membuat semua orang terkejut,”ki Trenggalek, aki kenapa?” tanya orang yang bersamanya. Zein tersenyum, ia kembali membuka matanya lalu memandang pria tua itu dengan senyum remeh,”jangan suka mengirimkan serangan tanpa permisi,” katanya menggunakan bahasa bibir tanpa bersuara. “Ehehehe, Fikar. Orang itu kalau mau adu kekuatan juga harus lihat dulu, siapa yang diajak. Kalau orang tersebut lemah ya jangan ngaku kuat, kalau terluka siapa yang malu?” sindir Yuda sambil menyesap teh, matanya melirik ki Trenggalek yang kesakitan dengan mata penuh amarah. Zein hanya diam, sejujurnya ia pun gemetar setelah menggunakan kekuatan tersebut, tapi kalau orang tersebut tidak diberi pelajaran, maka dia akan membuat kebohongan dimana-mana. Mahesa menolehkan kepalanya kebelakang, ternyata orang yang tadi menyebarkan rumor bahwa dia adalah manusia sakti yang telah bertemu dengan Arsy Ratu sejagad baru saja melakukan serangan diam-diam terhadap pemilik sukma sang Ratu sejagad. Mantan bupati Pemis itu kembali mengalihkan perhatiannya pada makanan di depannya dengan senyum mengejek, selemah-lemahnya seorang Zein zulkarnain juga tidak akan pernah bersedia untuk diremehkan. “Pangeran, Zein. Apakah anda baik-baik saja, pangeran belum pulih total. Tapi meski begitu, aku yakin pangeran tidak akan pernah membiarkan ada orang yang sombong dan sok tahu.” “Aku setuju, alangkah lebih baik kalau manusia itu jangan sok tahu tentang Arsy ratu sejagad. Suka sekali meramalkan bencana, apakah sudah siap untuk menghadapi bencana tersebut?” lanjut Arya. Brak.. Ki Trenggalek menggebrak meja, ia tidak suka kalau disindir-sindir, dia bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri meja Zein dan teman-temannya. “Kalian kalau mau, jangan main belakangan!” Zein tersenyum ringan, ia mengambil gelas teh di depannya lalu meminumnya hingga habis dan meletakkannya kembali. “Apakah aku tidak salah dengar? Kau menuduh kami main belakang. Apakah menurutmu aku tidak menyadari betapa pengecutnya dirimu?” pangeran Bintang Tenggara tersebut mendongakkan kepalanya menatap pria tua tersebut. Ki Trenggalek terbelalak, ia tidak menyangka kalau pria 30 tahun tersebut mengetahui perbuatan busuknya. “Kenapa? Kau tidak menyangka kalau aku tahu? Aku hanya mengembalikan seranganmu kau sudah muntah darah. Kau sudah sangat tua, jadi lebih baik tidak perlu berpikir untuk melakukan serangan terhadapku, apa lagi sangat ingin tahu siapa diriku,” lanjut Zein dengan senyum penuh maknanya. “Siapa bilang?” balas Ki Trenggalek dengan suara bergetar karena ketakutan, tapi ia tidak mungkin menunjukkan kalau dirinya sedang ketakutan. “Dengar? Suaramu saja terdengar jelas bergetar karena ketakutan, tapi kau masih sempat mengelak. Sebenarnya kau ingin diperlakukan seperti apa? Kau ingin terkenal dan dikatakan sebagai manusia hebat dengan mengarang cerita tenteng Arsy Ratu sajagad? Kalau kau memang benar, bawa dia padaku,” tantang Zein dengan tatapan mata setajam elang.  “Baik, aku akan meminta izin dulu. Kebetulan aku memang sangat dekat dengannyam, karena dia adalah istriku sendiri. Karena aku adalah kesatria pilihan yang diramalkan akan datang itu,” balas Ki Trenggalek sombong
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD