episode 27

3219 Words
Cempaka mengeluarkan pedang miliknya, sekalipun dengan sudaranya sendiri dan hanya berlatih ilmu bela diri, ia tetap tidak akan pernah segan-segan untuk melawan. Zein berdiri di satu sisi, di tangannya juga terdapat sebilah pedang, itu adalah pedang milik Arya karena kalau miliknya kemungkinan baru dikeluarkan saja adiknya itu sudah tidak akan sanggup menahan auranya. “Kak Zein, aku akan bersungguh-sungguh dalam melawanmu. Aku berharap kakak juga tidak akan segan-segan memberikan perlawanan terhadapku,” kata Cempaka memberi peringatan. “Tidak masalah,” jawab Zein dengan senang hati, tapi baru saja dia ingin menggunakan kekuatannya, dadanya kembali terasa nyeri. Sepertinya luka dalamnya akan terbuka lagi kalau dirinya memaksakan diri menggunakan kemampuan tenaga dalamnya, jalan satu-satunya adalah tidak mengguanakan kekuatan tenaga dalam. Srat… Cempaka langsung menyerang Zein terlebih dulu, pangeran Bintang tenggara itu dengan mudah menghindari serangan adiknya. Ia mengamati serangan sang adik, sepertinya ilmu bela dirinya juga masih sangat standar, belum bisa masuk ke dalam dunia persilatan. Akan sangat berbahaya kalau dengan ilmu hanya seperti itu, karena kemungkinkan akan langsung terbunuh. Zein menahan pedang milik adiknya dengan pedang yang ada di genggamannya,”Cempaka, dengan kemampuan ilmu pedangmu ini, kau tidak akan bisa merebut kembali Bintang Tenggara. Sekarang Ka Lenan, Tong Sampah dan Kubangan juga semakin kuat, kau harus belajar yang lebih baik lagi,” katanya sambil terus mempertahanlah dan tidak menyerang balik gadis cantik itu. “Kakak jangan senang dulu, aku belum mengeluarkan ilmu tenaga dalamku,” kata Cempaka dengan seringai tipis di bibirnya. ia mulai memuasatkan seluruh kekuatannya pada telapak tangannya lalu menyalurkan pada pedang miliknya. Zein tersentak, ia merasakan sebuah aliran tenaga dalam dalam pedang adiknya tersebut, tidak disangka kalau adik kecilnya tersebut telah belajar ilmu tenaga dalam,”bagaimana kak Zein? Aku rasa kak Zein tidak akan menyangka kalau aku mampu menyudutkan kakak,”kata Cempaka sambil mendorong terus pedang kakaknya. Pak.. Zein sedikit menghentakkan kakinya untuk mengalihkan sedikit tenaga dalam ke pedang miliknya, hanya sedikit dan itu bisa membuat Cempaka terpental,”Adikku, dalam pertarungan kau tidak boleh meremehkan musuhmu, sekalipun musuhmu itu terlihat lemah. Bisa jadi dia hanya sedang menguji kemampuanmu saja,” kata Zein sambil menatap sang adik yang berusaha bangkit dari tersungkurnya. Uhuk… Uhuk… Zein terbatuk setelah menggunakan tenaga dalamnya sekalipun hanya sedikit tapi ternyata itu berdampak bagi keadaan fisiknya,”kak Zein!” teriak Cempaka khawatir. Pria mahkota itu mengacungkan pedangnya pada gadis cantik tersebut sebagai isyarat bahwa jangan sampai ada rasa kasihan terhadap musuh,”Cempaka, kau harus ingat. Aku yang berdiri di depanmu sekarang adalah seorang musuh yang harus kau hadapi, sekalipun kita hanya sedang belatih, tapi kau harus serius,” katanya sambil menahan nyeri di dadanya. “Tapi,” kata Cempaka ragu, ia tidak tega melihat sang kakak terlihat menahan sakit. “Kalau kau tidak mengangkat pedangmu dan kembali menyerangku dengan sekuat tenaga, maka aku yang akan menggunakan pedangku ini untuk memotong lehermu!” kata Zein memprovokasi adiknya, ia tentu saja tidak akan melakukannya. Tapi dia harus mengajarkan pada gadis itu dunia persilatan yang sangat kejam. “Tuan putri, jangan ragu! Seranglah musuhmu!” teriak Yuda memberi semangat. Sejenak Cempaka berpikir, tapi Zein tidak mengizinkan adiknya itu terlalu lama dalam berpikir karena bisa jadi disaat dirinya berpikir maka musuh sudah berada di depan mata dengan serangan yang dasyat. Pangeran Bintang tenggara melompat ke udara dan menebesakan pedangnya ke arah adiknya,”Cempaka, awas!” teriaknya memberi peringatan. Cempaka mendongak keatas, ia terbelalak melihat sang kakak sudah siap menebaskan pedangnya, rasanya dia tidak bisa percaya kalau seorang pria yang tadi terlihat sangat kesakitan masih bisa begitu lincah bahkan melompat keudara untuk menyerangnya. Trang… Dengan cekakatan gadis cantik tersebut menangkis serangan sang kakak, pria itu sangat kuat. Sekalipun dalam keadaan terluka tapi kekuatannya masih belum bisa terkalahkan, ia bahkan sudah sekuat tenaga untuk menahan serangan tapi tidak ada kesempatan untuk membalas. “Kenapa, adikku? Bukankah tadi kamu begitu sombong didepan kakakmu ini? Sekarang buktikan ucapanmu itu!” kata Zein sambil terus menakan adiknya tersebut. Cempaka benar-benar dalam keadaan tersudut, dia sungguh merasa tidak akan mampu mengalahkan kekuatan kakaknya tersebut. Deg… Zein mengcengkram dadanya kuat, terlalu asik bertarung ia melupakan kalau tubuhnya sedang terluka dan tidak bisa menggunakan tenaga dalam untuk sementara waktu. Brus… Semua orang yang melihatnya terbelalak, apa lagi Cempaka. Wajahnya basah karena semburan darah milih sang kakak,”kak Zein,” katanya khawatir. Zein menahan nyeri di dadanya, tapi ia tidak boleh lemah. Aduknya harus menjadi kuat, karena bisa saja dia akan sangat lama tidak berjumpa lagi,”sudahlah, Cempaka. Jangan menatapku seperti itu, dalam pertarungan terluka itu wajar. Sekarang kau harus menyerangku, kalau hanya mengandalkan pertahana tanpa sebuah serangan, kau tidak akan mampu mengalahkan musuhmu.” Cempaka mengangguk, ia tahu kalau sekarang kakaknya dalam kondisi tidak sehat tapi masih tetap berusaha untuk melatihnya dalam pertarungan, dia pun menggunakan kekuatan penuh untuk memberikan serangan balasan terhadap kakaknya. “Phonik menangis!” Duagh.. Bersamaan dengan teriakan itu, Cempaka mengeluarkan kekuatannya hingga bisa membuat Zein terlempar tapi pangeran Bintang tenggara tersebut masih bisa mendarat dengan sempurna. “Pangeran Zein!” Mahesa menghampiri pangeran tersebut, ia khawatir kalau akan terjadi sesuatu dengan Zein. “Aku baik-baik saja, sudahlah. Kau tidak perlu memperlakukanku seperti anak kecil begitu,” kata Zein kesal setiap kali mwlihat tatapan khawatir dari pengawal pribadinya tersebut. “Pangeran Zein, aku hanya khawatir padamu. Bagaimana pun juga, selama 18 tahun ini aku adalah ayahmu, tentu saja ku sangat perduli padamu,” jelas Mahesa. Syut… Pengawal tersebut terkejut ketika pedang naga langit tiba-tiba lewat di depannya, ia yakin itu tadi adalah sang pangeran yang melakukannya,”aku akan membunuhmu kalau kau masih saja suka memperlakukanku seperti anak kecil,” ancam Zein sambil memegang pedang naga langit miliknya, ia bahkan menghunuskan pedang tersebut di depan Mahesa. Cempaka dan Setia khawatir akan terjadi pertarungan sengit antara Zein dan Mahesa, tapi melihat Yuda dan Arya menahan tawa sepertinya itu sudah hal biasa terjadi di antara mereka. “Ba-baik, singkirkan dulu pedang pangeran itu. Aku tidak akan menatapmu khawatir lagi, pangeran memang sudah dewasa dan sangat tanggung. Lebih sekarang…” Mahesa tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi untuk membuat pangeran tersebut tidak marah lagi, ia melihat kearah pangeran Kayumas, sepertinya sekarang dia tahu apa yang harus dilakukan. “Yuda, sekarang kamu cari kidang atau apapun hewan buruan untuk dipanggang dan dimakan. Aku juga akan ikut, biarkan pangeran Zein di sini bersama Arya dulu,” katanya sambil melenggang pergi dan menarik tangan Yuda tak perduli kalau pria itu tidak mau. Arya tersenyum, ia berjalan menghampiri Zein. Pangeran tersebut terlihat masih kesal,”pangeran Zein, apakah aku boleh izin untuk …” belum sempat pria itu berbicara Zein sudah terlebih dulu menyela. “Kau tidak perlu menghindariku, aku akan mencari buruan ikan. Mereka tidak membawa busur, bagaimana cara mereka berburu?”. “Kakak, kau harus diobati. Jangan pergi,” kata Setia ningrum. “Iya, kakak. Kami masih sangat merindukanmu,” timpal Cempaka. “Pangeran, Zein. Biar aku saja yang pergi, harap kau jangan sembarangan menggunakan pedangmu itu, aku akan segera kembali,” kata Arya langsung melompat keudara dan pergi meninggalkan sang pangeran bersama kedua adiknya. “Kak Zein, apakah pedang kakak itu hebat? Paman Mahesa sepertinya sangat takut?” tanya Cempaka. “Iya, nanti kalau kau sudah cukup kuat. Kau bisa menggunakan pedang ini,” balas Zein sambil menunjukkan pedangnya. “Baiklah, sekarang sebaiknya kita masuk kedalam dulu. Aku akan membuatkan makanan untuk kakak, sekalian kita bisa bercerita,” ajak Setia Ningrum sambil menganggeng lengan kakaknya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Cempaka duduk di depan kakaknya, ia masih sangat merindukan sosok sang kakak. Tidak disangka, seorang yang dulu sangat lemah berubah menjadi kuat,”kenapa kau menatapku, adikku?” tanya Zein lembut. “Kak, aku mendengar kalau ada seorang bernama Zulfikar. Dia memiliki kekuatan yang sangat besar bahkan bisa mengalahkan kesatria berkuda putih,” kata Cempaka sambil menopang dagu. “Aku tahu, kau tidak perlu mencari tahu tentang dia. Kau lihat saja kakakmu ini, aku tidak pernah mencari siapapun tapi selalu dicari,” jawab Zein sambil memainkan sebuah sumpit di atas meja. Cempaka memperhatikan tangan kakaknya tersebut, dirinya sedang berbicara serius, tapi pria satu ini malah asik bermain. Apakah dianggap ia hanya bergurau,”kak Zein, kenapa kau malah main sumpit?” kesalnya. Zein tersenyum lembut menatap adiknya, ia menaruh pedang naga langit di atas meja,”pedang itu bernama naga langit, aku yakin kau tahu siapa Zulfikar tersebut,” katanya memberi isyarat bahwa dirinyalah orang yang sedang dicari tersebut. Cempaka terperangah, ia bahkan sampai kehabisan kata-kata ketika mengetahui bahwa seorang pria yang dicari ternyata adalah sudara kandungnya sendiri,”kenapa kakak tidak menggunakan nama asli kakak?” tanyanya heran. “Kau sangat tahu bahwa Ku Bangan dan  Ka Lenan masih mencariku, satu tempat ke tempat lain aku bahkan harus menggunakan nama yang berbeda. Tapi hanya pada orang-orang tertentu aku menggunakan nama asliku,” jelas Zein. Tak lama kemudian Setia ningrum datang bersama beberapa makanan, ia menaruh makanan tersebut di atas meja. “Kak Zein, aku mintak maaf karena hanya bisa menyiapkan makanan seperti ini untukmu. Kakak tidak perlu khawatir, aku sudah menyisahkannya untuk teman-teman kakak dan paman Mahesa,” katanya sambil mendudukkan diri di samping Cempaka. “Terimakasih,” kata Zein sambil tersenyum menatap saudarinya tersebut. “Dinda, kau bilang ibu ditangkap oleh Ka Le nan. Apakah kau tahu di mana ibu sekarang? Apakah ibu masih hidup?” tanyanya penasaran. “Iya, kakak. Ibu masih hidup, tapi hidup ibu tidaklah baik. Ibu menjadi seorang pelayan di sebuah warung makan, tapi itu lebih baik dari pada menjadi seorang pelayan tempat tidur. Ibu juga menggunakan nama samaran,” jawab Setia ningrum. “Apakah ibu sering kesini?” tanya Zein penasaran. “Tidak kakak, ibu sangat jarang kesini. Tapi jika kakak mau kita bisa temui ibu sekarang,” sahut Cempaka riang. “Tidak, kakak Zein masih terluka. Di tempat itu sering sekali terjadi perampokan, ibu akan baik-baik saja. Karena di sana pemilik warung itu dilindungi kakak,” kata Setia Ningrum tidak setuju. “Aku ingin bertemu dengan ibu, dinda tidak perlu khawatir. Dinda cempaka akan melindungi kita, bukankah dia sangat ahli dalam ilmu bela diri?” kata Zein langsung bangkit dari tempat duduknya. “Ha?” Cempaka syock karena kakak pertamanya itu malah seakan sengaja menguji dirinya. “Itu benar, kak Zein sedang sakit, jadi kau saja yang melindungi kami,” kata Setia ningrum ikut-ikutan. Mau tidak mau Cempaka akhirnya setuju. Sebuah kedai makanan yang sangat ramai oleh pengunjunjung, Zein memperhatikan kedai tersebut, ia mencari sosok sang ibu tercinta. “Ah…tuan, tolong janagn seperti ini. Saya ini hanya seorang pelayan,” kata seorang wanita berusaha untuk terus memberontak dari cengkaram seorang pria yang ingin berbuat tidak baik padanya. Pangeran Bintang tenggara tersebut mengalihkan perhatiannya pada wanita tersebut, ia terkejut melihat wanita tersebut ternyata adalah ibunya. Dia langsung menghampiri sang ibu dan menarik pria itu dari belakang lalu menghempaskannya hingga menabrak meja. “Tolong hargainlah seorang wanita, apakah anda merasa kurang perkasa untuk memaksa seorang seorang wanita?” kata Zein sopan tapi penuh cibiran. Cempaka dan Setia Ningrum ikut menghampiri kakaknya tersebut, ia tidak mungkin membiarkan saudaranya sendirian dalam menghadapi penjahat tersebut. “Ibu,” kata Cempaka memeluk ibunya. Ratu Bilqis ketakutan dalam pelukan putrainya tersebut, ia terus memperhatikan sosok pria rupawan yang kini berada di depannya. Rasanya ingin menangis melihat sosok tersebut, tapi dia tidak tahu siapa pria itu. Penjahat itu sangat marah dengan apa yang dilakukan Zein, ia pun bangkit dan langsung menyerang pangeran Bintang tenggara tersebut. Dengan mudah Zein menghindari serangan tersebut lalu membalasnya dengan serengan yang lebih dasyat. Duagh… Ia menendang penjahat tersebut hingga terpental jauh,”kau masih harus belajar 100 tahun lagi untuk bisa mengalahkanku,” kata Zein angkuh. “Kau! Siapa kau sebenarnya?” geram penjahat tersebut. “Zulfikar, kau harus ingat nama itu dengan baik. Lain kali kalau kau bertemu denganku, aku tidak ingin kau melakukan tindak kejahatan lagi. Kalau tidak aku akan langsung mengirimmu ke akhirat,” jawab Zein. Penjahat tersebut lagsung kabur karena yakin tak akan mampu mengalahkan seorang pria yang telah mengalahkan seorang satria berkuda putih. Zein membalikkan tubuhnya, ia menatap ibunya dengan penuh kasih sayang serta kerinduan,”terimakasih, tuan. Apakah kau ini kekasih Cempaka?” tanya Bilqis penasaran. “Bukan, aku tidak tertarik untuk menjadi kekasihnya. Tapi, bagaimana kalau kita bicara diluar saja, tidak enak kalau bicara di sini. Aku tidak yakin kalau penjahat itu tidak akan datang lagi kemari dan menuntut balas,” jawab Zein. Ketiga wanita itu mengangguk setuju, mereka memilik rumah Cempaka dan Setia ningrum sebagai tempat berbicara,”namaku, Zein Zulkarnain. Aku adalah putra dari raja Ilyasa dan ratu Bilqis,” kata Zein memperkenalkan diri di depan ibunya. Bilqis rasanya tidak bisa percaya kalau ternyata dirinya telah bertemu dengan anak kesayangannya, ia pun memeluk putranya tersebut,”anakku, maafkan ibu. Ibu tidak bisa melindungimu, kau harus hidup terlunta-lunta,” katanya penuh sesal. “Tidak, ibu. Akulah yang harus mintak maaf, sebagai seorang pria, aku tidak bisa melindungimu dan ayah. Aku bahkan membiarkan ayahku mati di depanku,” balas Zein, rasanya sangat sakit mengingat kejadian 18 tahun yang lalu tersebut. Episode 27 Kerjaan Bintang tenggara Berita kekalahan Lintang Timur oleh seorang Arsy Ratu sejagad telah tersebar bahkan hingga ke kerajaan besar tersebut, raja Ku Bangan dan perdana mentri Tong Sampah tidak mengerti siapa wanita yang telah mengalahkan ratu cantik tapi kejam tersebut. Meraka menganggap bahwa Arsy ratu sejagad adalah wujud sukma seorang wanita, padahal sejatinya itu adalah wujud dari seorang pria bernama Zein Zulkarnain. Dalam acara pertemuan di aula kerajaan Ku Bangan membahas tentang ratu misterius tersebut, banyak dari para pejabat juga sangat penasaran dengan seorang yang dianggap ratu tersebut. Identitas dari Arsy ratu sejagad ditutup sempurna, tidak ada seorang pun yang pernah menyebutkannya, bahkan orang yang menyelidiki hanya mengatakan bahwa kerajaan tersebut pernah didatangai seorang pria bernama Zulfikar. “Apakah ada diantara kalian yang tahu tentang keberadaan ratu Arsy ratu sejagad?” tanya Ku Bangan. Para pejabat tersebut saling memandang satu sama lain, lalu menggelengkan kepala. “Sangat misterius orang tersebut, apapun tentangnya selalu tertutup. Kita harus mencarinya, aku ingin dia menjadi ratu di kerajaan ini. Kemampuan seperti itu pasti bisa membuat negara ini lebih berjaya dan berkuasa,” kata Ku Bangan yang pastinya akan membuat ayam tertawa kalau saja dia tahu bahwa ratu yang diinginkan itu adalah seorang Zein Zulkarnain. “Benar, Yang Mulia. Kalau begitu, buatlah selebaran untuk mencari keberadaan Arsy Ratu sejagad tersebut,” timpal Tong Sampah penuh kebanggaan, ini juga pasti akan membuat para kucing terkekeh geli mendengarnya. “Suruh orang untuk membuat pengumuman! Siapa yang bisa membawa Arsy ratu sejagad padaku, akan aku berikan kedudukan yang tinggi di kerejaan ini.” Ku Bangan memberikan perintah pada para bangsawan dan perdana mentri. ** “Benarkah?” “Iya, ternyata kumunculan satria pilihan itu bukan omong kosong belaka. Banyak orang sudah bertemu dengannya dan menyaksikan sendiri kehebatannya.” “Siapa? Siapa orang yang pernah bertemu dengan satria pilihan itu?” “Ki Trenggalek, dia bilang sudah pernah bertemu dengan satria yang akan membawa perdamaian tersebut.” Zein hanya duduk dengan tenang dalam warung makan bersama Mehasa, Arya dan Yuda saat mendengarkan orang bergosip tentang dirinya, mereka semua sok tahu dan merasa dekat dengan seorang kesatria pilihan dengan gelar Arsy ratu sejagad padahal satu pun tidak ada yang kenal. “Fikar, mereka itu sedang membicarakan apa si? Kita baru juga sampai di desa Sewu godong, tapi sudah mendengar berita aneh,” tanya Yuda penasaran. “Mereka membicarakan seorang kesatria langit, kesatria pilihan yang dikabarkan akan membawa perdamaian untuk dunia,” jawab Mehasa. “Aku jadi penasaran, lebih baik aku tanya dulu deh.” Yuda bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri gerpmbolan orang-orang yang telah membicarakan tentang seorang kesatria langit tersebut. “Maaf, tuan-tuan. Saya mau numapng tanya, satria pilihan itu apakah dia adalah Arsy ratu sejagad?” tanyanya memastikan. “Benar sekali, ada yang mengatakan dia adalah perwujudan dari Satria tunggal, dewa cahaya, Arsy ratu sejagad. Dia adalah seorang wanita yang sangat cantik dan sangat hebat, ki Trengggalek sudah pernah bertemu dengan ARJ,” jawab seorang pemuda 30 tahunan. Hampir saja pangeran Kayumas itu tertawa, tapi demi kesopanan lagi pula Zein masih belum pulih dari kondisinya, tabib wanita di lereng gunung waktu itu mengatakan ada suatu racun aneh dalam tubuh pria tersebut. Lebih baik untuk kesopanan diam dulu. “Tuan, apakah ki Trenggalek yakin kalau Arsy ratu sejagad itu seorang wanita? Apakah bukan seorang pria?” tanyanya memancing. “Tentu saja aku sangat yakin, dia adalah seorang wanita dengan t**i lalat di bahunya.” Seorang pria 50 tahunan tiba-tiba datang dan menyahuti pembicaraan mereka. Zein melirik sejenak pria tersebut, sudah jelas dia hanya pembohong besar. Mana ada dirinya memiliki t**i lalat di bahunya, apa lagi mengatakan kalau dirinya seorang wanita, sungguh suatu kebohongan yang tidak masuk akal. Pria itu bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri sahabatnya, sejenak ia memandang pria 50 tahunan tersebut,”alangkah lebih baik kalau tuan tidak mengatakan tentang suatu kebohongan terhadap sesuatu yang tidak kau ketahui. Dia bukan wanita melainkan pria tulen, tidak sedikit pun ada tampang wanita dalam dirinya.” Ki Trenggalek mengerutkan keningnya, ia mencoba memejamkan matanya sejenak untuk melihat siapa pria rupawan yang berbicara di depannya tersebut. Sayangnya kemampuan mata bhatinnya tidak sanggup menembus apa yang ada dalam diri seorang Zein zulkarnain hingga dalam penglihatannya, pria itu bukan siapa-siapa dan hanya manusia biasa. “Kau ini hanya seorang dukun sudah berani berbicara seperti itu.” Yuda terkejut, ia menoleh pada Zein,”Fikar, apakah kau adalah dukun beranak?” tanyanya jenaka. Zein mendelik galak mendengar pertanyaan tak masuk akal tersebut, membuat pangeran Kayumas tersebut nyengir,”Tuan, anda menyebut diriku duku, kalau begitu anda apa? Anda mengatakan kalau anda kenal dan pernah bertemu dengan Arsy ratu sejagad. Apakah anda bis amembuktikannya? Anda saja salah menyebut gendernya, anda bilang dia seorang wanita, kapan anda melihat dirinya menjadi seorang wanita? Bagaimana cirinya, hanya sebuah t**i lalat di bahu. Kalau saya memberitahuku, bahwa sahabat saya ini memiliki t**i lalat di bahu, apakah berarti dia adalah Arsy ratu sejagad. Jangan sembarangan membicarakan tentang orang yang anda sendiri tidak tahu,” katanya tajam. Ia tidak ingin ada orang yang sok tahu tentang dirinya, apa lagi menyebutnya dukun. Ki Trenggalek merasa sangat dipermalukan, ia memang pernah bertemu dengan seorang wanita yang memililiki t**i lalat tersebut, dan orang tersebut adalah istrinya sendiri. Wanita itu sangat suka melakukan pemujaan di daerah pantai selatan, bersemedi di goa-goa hingga memiliki kekuatan megic berasal dari jin penunggu hutan. “Kamu jangan berkelit, aku bisa melihat kamu dengan mata bahtinku ini. Kamu ini memiliki pendamping ratu pantai selatan, dan dari leluhurmu.” Yuda bingung mencerna ucapan pria tua tersebut, ia yakin kalau sahabatnya itu tidak kenal sama sekali denga ratu pantai selatan. Jangankan pendamping ratu ghaib, dia saja bahkan selalu berusaha mengusir mahluk ghaib yang mencoba untuk dekat dengannya. “Ratu selatan? Apakah maksudmu ratu ghaib yang suka datang mengganggu itu? Aku sama sekali tidak tertarik didampingi oleh dia. Apa lagi dukun jin botol, sangat tidak tertarik. Sebaiknya kamu berhenti sok tahu tentang diriku, apa lagi kamu mengatakan tahu dan pernah bertemu dengan Arsy ratu sejagad. Kalau kamu terus mengatakan ketidak benaran, kamu akan bertemu dengan Arsy dan mendapatkan hukuman darinya karena berani menyebarkan rumor tidak benar tentangnya,” balas Zein jengkel karena ada orang yang sok tahu tentang dirinya.  Ki Trenggalek tersentak, tiba-tiba saja tubuhnya membeku. Baru kali ini ia mersakan tekanan kekuatan yang sangat besar, siapa sebenarnya pria di depannya tersebut?. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD