Episode 26
Rahang ratu Arisandi mengeras mendengar ceramah dari Zein, menurutnya itu semua tidak beralasan, apa lagi memberikan ancaman terhadapnya, sungguh tidak akan pernah bermanfaat. Ia mengambil pedangnya lalu menghubusnya ke leher pangeran Bintang Tenggara tersebut.
Mahesa, Arya dan Yuda terbelalak melihat apa yang dilakukan oleh penguasa Lintang timur tersebut, tapi ketika mereka hendak membantu, Zein memberikan isyarat dengan tangannya agar mereka tidak ikut campur.
Putri Purnama sari panik dengan apa yang dilakukan oleh adiknya tersebut, sebagai seorang ratu seharusnya dia bisa berpikir lebih bijak lagi dalam mengambil keputusan apa lagi orang sedang dihunuskan pedang itu adalah seorang pangeran, kalau sampai terjadi sesuatu dengan sang pangeran, bukan tidak mungkin peperangan akan terjadi.
“Adinda, tolong tenangkan dirimu. Dia adalah seorang pangeran, kalau kamu berani menyakitinya, bukan tidak mungkin negara kita akan berperang. Pangeran Zein didukung oleh tida negara, itu tidak baik untuk kerajaan kita,” katanya mencoba untuk memberi nasehat pada adiknya.
Arisandi memicingkan matanya tajam,”jangan ikut campur! Atau aku tidak akan segan lagi untuk membunuhmu, melupakan ikatan persaudaraan kita,”desisnya tajam.
Zein Zulkarnain menghela napas, sungguh suatu perbuatan tidak baik ketika seseorang tidak mengindahkan naseht baik,”aku akan memberimu peringatan sekali lagi, singkirkan pedangmu. Atau aku tidak akan sungkan lagi.”
“Tidak perlu sungkan, cabut pedang naga langitmu. Kita akan melihat, siapa orang yang mampu menjadikan lawannya pecundang,” balas ratu Arisandi bengis.
“Baik,” jawab Zein sambil mencabut pedangnya, seketika cahaya jingga kemerahan mucul dari pedang tersebut, lagi-lagi ia merasakan cakranya seperti tersedot oleh kekuatan benda pusaka tersebut, tapi dia tidak memperdulikan.
Trang…
Pangeran Bintang Tenggara tersebut segera menangkis pedang sang ratu yang terhunus di lehernya,”sekalipun kau adalah seorang wanita, maka aku berkewajiban untuk meluruskan jalanmu. Tapi karena kau tidak bisa menggunakan cara halus, maka aku akan menggunakan cara kasar.”
“Omong kosong! Jangan kau pikir kau bisa mengalahkanku dengan mudah,” balas ratu Arisandi sambil kembali mengangkat pedangnya, tapi kali ini Zein tidak akan diam saja, ia langsung menangkis serangan itu dan menahannya. Matanya menatap dingin sang ratu, kekecewaan dan kemarahan menjadi satu dalam kekuatan tersebut.
Ratu Arisandi berusaha untuk menyudutkan sang pangeran, tapi sangat sulit, bahkan bergerak sedikit saja tidak. Ternyata seorang dengan sukma bergelar Arsy ratu sejagad memang memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan.
Zein tersenyum remeh, ia tahu kalau sang ratu tidak menyangka kalau ternyata dirinya mampu menahan serangan pedang tersebut,”apakah kau sudah mengakui kekalahanmu? Kau belum bisa mengalahkanku.”
“b******k! Kau meremehkanku, aku akan membuatmu menarik kembali ucapanku. Kau akan bersujud di kakiku dan memohon untuk ku nikahi,” balas ratu Arisandi marah.
“Buktikan saja semua ucapanku, tidak perlu banyak omong kosong!” Zein menambahkan kekuatan pada pedang naga langit, lalu sedikit mendorong pedang lawan, hanya sedikit tapi ratu Arisandi langsung terdorong jauh bahkan terpental jauh.
Pangeran Bintang Tenggara tersebut tersenyum simpul, matanya terus menatap sang ratu. Wanita cantik tersebut terlihat sangat marah, tapi siapa perduli. Ini baru awal, dan ratu sombong itu sudah terpental jauh,”kamu harus ingat! Sekuat-kuatnya seorang wanita tidak akan mampu mengalahkan seorang pria dalam fisik. Kecuali dalam urusan mengandung dan melahirkan seorang anak, Tuhan melebihkan pria dari seorang wanita, karena seorang pria adalah pemimpin seorang wanita. Apakah kau masih ingin bertarung denganku? Aku masih menunggu.”
Ratu Arisandi sangat murka, baru kali ini ada seseorang yang bisa mengalahkannya, ia bahkan tidak mampu untuk berdiri bahkan dipaksakan sekali pun.
“Jangan memaksa diri lagi, kau harus segera bertaubat. Atau aku harus membuatmu benar-benar tidak bisa bangun lagi,” ucap Zein sambil memusatkan kekuatan pada jari telunjuk dan jari tengahnya, setelah itu mengarahkan kedua jarinya tersebut diarahkan pada sang ratu. Sebuah tali tak kasat mata mengikat ratu Lintang timur tersebut.
“Apa yang kau lakukan padaku?!” amuk Ratu Arisandi.
“Aku hanya ingin memastikan bahwa kau tidak akan bergerak lagi, sementara kau sedang terikat, maka tuan putri Purnama sari yang akan memimpin kerajaan ini. Aku yakin, kerajaan ini akan menjadi lebih baik berada dalam kekuasaannya. Tidak perlu khawatir, tali itu tidak akan lepas selama hatimu masih dipenuhi dengan keangkuhan dan kedzaliman. Tidak perlu bantuan siapapun, Tuhan sendiri yang akan membantumu melepasnya, semua tergantung usaha hatimu,” kata Zein sambil menyarungkan kembali pedangnya, setelah itu ia berbalik dan kembali melompat turun. Tidak aga gunanya juga berlama-lama di kerajaan Lintang Timur, ia harus meneruskan perjalanan.
“Pangeran Zein, pangeran baik-baik saja bukan?” tanya Mehesa khawatir, ia segera menghampiri putra mahkota Bintang tenggara tersebut.
“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir,” balas Zein. Belum sempat bupati Pemis itu bernapas lega, sang pangeran sudah limbung dan tak sadarkan diri. Arya dan Yuda terkejut, ia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada sang pangeran, tiba-tiba saja pingsan.
“Paman, apa yang terjadi? Kenapa Zufikar tiba-tiba saja pingsan?” tanya Yuda khawatir.
“Aku juga tidak tahu, tapi memang ada yang tidak beres dengan pangeran Zein, aku melihatnya dia terus mengeluarkan keringat. Hah…aku selalu memanggilnya pangeran Zein, padahal aku sendiri yang memintanya untuk menyembunyikan identitasnya,” jawab Mahesa menghela napas.
“Bukan salahmu, paman. Lagi pula, ratu Arisandi sudah mengentahuinya karena pangeran Zein adalah salah satu kesatria langit, dan sangat kebetulan bahwa tuan putri kerajaan ini juga merupakan kesatria langit. Sekarang kita harus bagaimana? Kita kitak mungkin jalan kaki membawa pangeran ke perguruan rajawali, tempatnya sangat jauh. Apakah di sini tidak ada kuda?” balas Yuda.
Tiba-tiba saja pedang naga langit mengeluarkan cahaya putih berniar membuat semua orang silau, setelah cahaya itu lenyap. Terlihat seekor naga raksasa berwarna putih seperti duduk menunggu perintah.
“Serahkan tuan Zein padaku, aku akan membawanya keseorang tabib. Aku yakin tabib itu akan membantu tuanku.”
Mehesa, Arya, Yuda dan seluruh yang menyaksikan naga tersebut bisa berbicara menjadi tercengang, baru kali ini melihat seekor naga bisa berbicara. Bahkan naga tersebut sangat besar, apadah dunia sudah mau berakhir?
“Ka-kamu siapa? Kenapa ada seekor naga raksasa bisa berbicara?” tanya Mehasa tergagap.
“Aku adalah sukma dari pedang naga langit tersebut, pangeran Zein sudah membantuku terbebas dari kutukan, karena itu aku bisa berubah menjadi seekor naga. Kondisi pangeran Zein dalam keadaan tidak baik, aliran cakranya berantakan. Kemungkinan belum terbiasa dengan kekuatanku, tapi meski begitu, aku harus segera membawanya keseorang tabib,” jelas naga langit.
“Baiklah, aku percaya padamu.” Mahesa membantu Zein naik ke atas punggung naga tersebut. Ia pikir naga itu akan segera terbang, tapi nyatanya masih menunggu. Sungguh mereka tidak mengerti sama sekali.
**
“Kenapa kamu masih belum pergi? Apakah kamu ingin menunggu hingga pangeran Zein mati dengan lukanya?” tanya Mahesa geram.
“Tidak, kita cari tempat istirhat saja. Sambil kita mencari tabib, aku punya kenalan tabib wanita,” kata naga langit langsung terbang setelah membuat pengawal pribadi itu jengkel, sungguh hewan tidak punya perasaan.
“Sudahlah paman, tidak perlu jengkel. Dia hanya ingin membuatmu jengkel saja, sekarang kita hanya perlu mengikuti arah terbang naga itu. Tidak mungkin bukan kita akan membiarkan naga itu sendirian membawa pangeran Zein, bagaimana kalau pangeran Zein diapa-apain?” kata Yuda niat menenangkan malah membuat pengawal pribadi itu semakin kesal, ia pun langsung berbalik dan melompat terbang meninggalkan kedua pangeran tersebut.
Yuda heran melihat pria 40 tahun tersebut, tiba-tiba saja pergi tanpa mengatakan apapun,”kenapa dia tidak membawa kita juga?” tanyanya heran.
“Kamu terlalu banyak bicara, Yuda. Sekarang kita harus menyusulnya, dia sangat khawatir pada pangeran Zein jadilah dia seperti itu,” kata Arya berusaha membuat sahabatnya itu mengerti.
“Ya tapi juga tidak boleh begitu, tapi sudahlah. Dia orang tua maka kita harus menghormatinya, sebaiknya sekarang kita segera menyusul pria tua itu sebelum nanti makin marah,” balas Yuda. Arya tersenyum kemudian mereka berdua pun melompat terbang.
Naga langit tersebut meliuk-liuk di langit tanpa disadari kalau Zein telah siuman,”naga langit, kita ada dimana? Dimana yang lain?” tanyanya bingung.
“Pangeran, sukurlah pangeran sudah sadar. Aku akan membawa pangeran kerumah seorang tabib wanita, aku yakin dia bisa mengobati luka dalam pangeran Zein. Tapi aku sangat senang karena pangeran sangat kuat,” balas naga langit sambil terus terbang.
“Baiklah, aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit pusing saja,” jawab Zein.
“Pangeran duduklah dengan nyaman, aku akan membawa pangeran dengan nyaman dan aman. Sebentar lagi kita akan sampai,” kata naga langit. Tak lama kemudian, naga itu menukik turun dan berhentik di depan sebuah rumah yang terbuat dari kayu, halaman rumah itu cukup luas, di depannya terdapat banyak sekali berbagai macam jenis tanaman obat.
“Pangeran, kita sudah sampai,” katanya memberitahu.
Zein turun dari punggung naga tersebut dan membiarkan naga itu kembali berubah menjadi mansia, hampir saja pangeran mahkota Bintang tenggara itu tersungkur kalau naga langit tidak segera memegangnya,”pangeran, sepertinya pangeran Zein belum baik-baik saja. Pangeran jangan lagi terlalu memaksakan diri, sebaiknya kita langsung menemui temanku itu,” kata naga langit sambil memapah tubuh sang pangeran.
Zein mengangguk, memang tidak ada gunanya juga kalau dirinya harus memaksakan diri, pintu rumah itu terlihat terbuka. Kemungkinan orangnya di dalam, ia mengulurkan tangannya untuk mengetuk pintu,”permisi, apakah ada orang?” tanyanya.
Seorang gadis cantik mengenakan gaun biru keluar dari rumah tersebut, ia terkejut, matanya membulat melihat kakak pertamanya berdiri di depan pintu dengan dipapah oleh seorang pria rupawan yang dikenalnya,”kak Zein,” sebutnya.
Zein mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara seorang gadis muda memanggil namanya,”tabib, aku mintak maaf telah mengganggu waktu istirahatmu. Tapi aku sangat membutuhkan pertolonganmu, uhuk…uhuk…” ia terbatuh darah karena luka dalam tubuhnya sepertinya memang tidak bisa diremehkan.
Rasanya gadis itu ingin menangis melihat keadaan saudaranya, selama 18 tahun mereka berpisah dan bertemu dalam keadaan saudara pertamanya itu sepertinya sedang terluka.
“Kak Zein, ini aku. Aku Setianingrum, adikmu,” kata putri Setianingrum memperkenalkan dirinya.
Zein terkejut mendengar ucapan gadis cantik tersebut, rasanya ia tidak bisa percaya kalau saudarinya masih hidup,”adikku? Kau adik bungsuku?” tanyanya tidak percaya.
“Iya, ini aku. Aku tinggal di sini bersama Cempaka sari, kami berhasil melarikan diri dari kejaran prajurid raja Ka Lenan. Tapi ibu ditangkap oleh mereka kakak,” jawab Setia ningrum sedih.
Zein tersenyum haru, ia tidak menyangka kalau akhirnya mereka akan kembali bertemu. Dia menyerngit merasakan bagian tubuhnya kembali terasa nyeri,”Aku sangat senang kau baik-baik saja, aku juga senang bisa bertemu denganmu. Aku…” pangeran Bintang tenggara itu tidak mampu meneruskan ucapannya, luka dalam tubuhnya tidak bisa dianggap remeh hingga ia kembali tidak sadarkan diri.
“Pangeran Zein!” terika Mahesa dari kejauhan ketika melihat tubuh putra mahkota Bintang tenggara itu kembali pingsan. Ia pun langsung berlari menghampiri tubuh rapuh tersebut dan mengambilnya dari tangan Setia ningrum.
“Kamu siapa? Kenapa pangeran Zein bisa pingsan ketika di tanganmu?” tanyanya penuh selidik.
“Paman, ini aku. Apakah paman lupa denganku?” tanya Setia ningrum terharu bisa melihat kembali pengawal cerewet tapi baik hati tersebut.
Mahesa bingung, dia sama sekali tidak merasa memiliki seorang keponakan,”nona, kapan aku menikah dengan bibimu?” tanyanya membuat gelak tawa putri tersebut.
“Paman, aku ini putri Setia ningrum. Aku putri bungsu raja Ilyasa dan ratu Bilqis, aku saudara kembar putri Cempaka sari. Ceritanya panjang kenapa aku bisa sampai kesini, sekarang kita harus menolong kakak Zein dulu. Sepertinya kakak Zein terluka parah,” kata Setia Ningrum sambil membantu kakaknya masuk lalu membaringkannya kedalam dan membantunya berbarik di atas tempat tidur.
“Paman! Pangeran Zein!” teriak Yuda ketika sampai di depan rumah Setia Ningrum, mereka sangat kebingungan karena tidak melihat keberadaan kedua manusia tersebut.
Setia Ningrum mulai meracik beberapa tanaman obat untuk menyembuhkan luka dalam, tapi ia terganggu ketika telinganya mendengar suara orang berteriak di luar,”siapa mereka berdua?”tanyanya heran.
“Kalian siapa?!” tanya seorang gadis cantik bernada bengis.
Yuda dan Arya menatap gadis cantik itu heran, perasaan tadi tidak ada orang tapi kenapa muncul seorang gadis cantik membawa pedang serta binatang buruan di tangannya,”kamu siapa?”tanya Yuda balik.
“Ini rumahku dan saudariku, kamu kenapa teriak-teriak di depan rumah tami?”tanya gadis itu jengkel karena merasa kedua pria itu terlalu berbelit-belit dalam memberikan jawaban.
“Maaf, nona. Nama saya Arya, dan ini teman saya Yuda. Kami sedang mengikuti pangeran Zein zulkarnain dan paman Mahesa. Pangeran Zein dibawa oleh naga langit ke sini untuk berobat, tapi kami tidak menemukan pangeran dan paman,”jelas arya lebih sopan.
Gadis cantik itu tiba-tiba meneteskan air mata, ia teringat masa kecilnya ketika masih berada dalam istana Bintang tenggara. Dia dan Setia ningrum selalu dijaga oleh kakak pertamanya, tapi mereka sekarang berpisah karena kejahatan raja Xioxing.
“Apakah maksud kalian adalah pangeran Zein Zulkarnain dan Mahesa jenar?” tanyanya memastikan.
“Tentu saja, siapa lagi kalau bukan mereka. Kami ini teman seperguruan dan seperjalanan, kami khawatir kalau terjadi sesautu dengan pangeran Zein,” jawab Yuda.
“Mungkin kakak ada di dalam, ayo masuk,” jawab Cempaka sari ramah membuat kedua pangeran tersebut tercengang, bukankah tadi gadis itu sangat galak? Tapi kenapa sekarang berubah menjadi begiru manis. Itu semua tidak penting, yang terpenting sekarang, mereka harus masuk dan melihat bagaimana keadaan sahabatnya.
Di dalam Zein sudah kembali sadar setelah diberi saluran cakra medis dari Setia ningrum lalu diberikan ramuan obat, hanya saja tubuhnya masih sangat lemah dan tidak bisa digunakan untuk bertarung,”kak Zein, aku sangat senang bisa bertemu denganmu. Kenapa kakak bisa terluka seperah itu?” tanya Setia ningrum penasaran.
“Aku hanya terlalu berlebihan menggunakan tenaga dalamku ketika melawan satria berkuda putih, dan fisikku belum mampu. Sekarang bagaimana kau bisa menjadi seorang tabib wanita?”tanya Zein balik, tangannya membelai lembut puncak kepala adiknya, gadis itu berbaring di pangkuan kakaknya. Sedang naga langit sudah berubah kembali menjadi pedang dan Mahesa duduk sambil menikmati pemandangan di luar jendela.
“Aku dijual oleh pangeran Ku Bangan kakak bersama Cempaka sari, aku dibeli oleh seorang sudagar kaya yang tidak memiliki seorang anak. Kami diangkat menjadi anaknya, mereka sangat baik pada kami, aku diajari berbagai macam ilmu pengobatan sedangkan Cempaka diajari cara bertarung. Mereka bilang, bila suatu hari mereka sudah tidak ada, kita harus bisa menjaga diri dengan baik kakak,”jelas Setia Ningrum.
Zein mengepalkan tangannya hingga kuku jarinya terlihat memutih, ia bersumpah akan membuat perhitungan dengan orang-orang zalim tersebut, berani sekali mereka menjual kedua saudarinya.
“Kalau begitu dimana Cempaka?”tanyanya penasaran.
Syut…
Sebuah anak panah melesat ke arah Zein, dengan sigap putra mahkota Bintang tenggara tersebut menangkap serangan anak panah tersebut,”hah, Cempaka selalu saja main-main,” gerutu Setia ningrum.
“Ahahaha…” Cempaka Sari tertawa renyah hampir saja lehernya ditebas oleh Mahesa kalau Yuda tidak menahan pria tua itu.
“Paman, kenapa kau agresif sekali? Jangan main tebas saja,” tegur Yuda yang kebetulan berada di belakang Cempaka.
“Aku ini pengawal pribadi pangeran Zein, sejak kecil akulah yang merawatnya, menaruhnya di perguruan terhebet. Kau pikir aku akan diam saja kalau ada orang yang berani mencelakai pangeran Zein, minggir! Biar aku membunuh gadis sialan itu,” kata Mahesa sambil terus meronta dari pelukan pangeran Kayumas tersebut.
Cempaka sari langsung memeluk tubuh Mahesa membuat pengawal pribadi tersebut tercengang,”paman, ini aku. Aku adalah putri Cempaka sari, kau tidak akan mungkin tega membunuhku bukan?” katanya manja.
Zein hanya diam melihar eskpresi syok pengawal pribadinya tersebut,”Tenang saja, ayah. Dia tidak tertarik untuk menjadikanmu suaminya,” celetuknya jenaka.
“Pangeran, kau sungguh keterlaluan. Tapi aku sangat senang kalau kau memang adalah putri Cempaka sari,”kata Mahesa sambil menyarungkan kembali pedangnya lalu memabalas pelukan tuan putri tersebut.
Zein bangkit dari tempat duduknya, ia menghampinya adiknya tersebut,”Cempaka,” panggilnya. Putri Cempaka menarik diri dari pelukan pengawal pribadi kakaknya tersebut, ia membalikkan tubuhnya lalu menatap sang kakak dengan mata berkaca-kaca.
“Kakak,” katanya sambil menghambur ke dalam pelukan kakaknya, ia menangis bahagia karena akhirnya mereka bisa bertemu kembali.
“Kak Zein, bagaimana dengan ayah? Apakah ayah baik-baik saja?” tanyanya penuh harap.
“Tidak, ayah meninggal karena dibunuh oleh Ku Bangan. Aku mintak maaf karena waktu itu tidak mampu menyelamatkan ayah,” sesal Zein.
“Kak Zein, itu bukan salah kakak. Lagi pula, kakak juga masih pengeran kecil belum begitu menguasai ilmu bela diri,” balas Cempaka. Setelah itu melepaskan pelukannya lalu menatap kakak pertamanya itu dengan penuh semangat.
“Kakak, aku sudah bisa ilmu bela diri. Kelak kita akan merebut kembali kerajaan Bintang tenggara, karena itu aku ingin belajar ilmu bela diri bersama kakak,” katanya dengan senyum manisnya.
“Tidak, aku yakin kau sangat hebat. Bagaimana kalau kakak kalah darimu, kakak sama sekali tidak memiliki kemampuan ilmu bela diri, paman Mahesa yang selalu melindungiku. Jadi kamu berlatih saja dengannya,” balas Zein pura-pura menjadi lorang bodoh.
“Siapa yang sudah membuat seluruh arena pertandingan menjadi seperyi terkena gempa dengan kekuatan pedangnya dan raiton soranya,” celetuk Yuda pura-pura tidak tahu.
Cempaka melirik pangeran Kayumas tersebut, sepertinya kakaknya itu hanya pura-pura tidak bisa saja,”kakak, ayolah. Aku sudah dengar kalau ada seorang pria yang sangat hebat, kakak mau bukan berlatih denganku?” rengeknya.
“Tidak, kakak Zein tidak boleh menggunakan tubuhnya untuk bertarung dulu. Aku baru saja menutup luka dalam tubuhnya, kalau sampai terbuka lagi, kau mau tanggung jawab,” larang Setia Ningrum. Cempaka sari merengut sebal, tidak tahu lagi kapan mereka akan berjumpa, dia hanya ingin berlatih ilmu bela diri dengan kakak pertamanya.
“Tidak apa, aku bisa bertarung denganmu,” balas Zein tidak tega melihat adiknya sedih.
“Tapi, kak,” kata Setia ningrum khawatir.
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja,” jawab Zein dengan senyum lembutnya.
“Tapi kalau luka dalam kakak terbuka lagi bagaimana?” tanya Setia Ningrum khawatir.
“Aku sungguh akan menebas kepala putri Cempaka sari,” jawab Mahesa sambil melenggang pergi membuat putri cantik tersebut merengut.
“Hore, aku sudah tidak sabar untuk kembali menyaksikan pertandingan. Aku yakin pangeran Zein pasti akan mengeluarkan kekuatan supernya,” celetuk Yuda membuat Zein mendelik galak.