episode 41

1061 Words
Episode 41 Sebuah pasukan terdiri pria paruh baya bahkan remaja menjadi satu kesatuan untuk menegakkan keadilan bagi kaun hawa di kota Beras kutah, dengan peralatan seadanya mereka berkumpul di bawah temaram sinar rembulan, dipimpin seorang kesatria tangguh serta pangeran agung berjiwa mulia. Membulatkan tekad untuk menghancurkan keganasan pangeran Anjas dalam memperlakukan seorang wanita, kekejaman mengambil kehormatan seorang wanita secara paksa sungguh perbuatan tidak manusiawi, hukuman bagi manusia zalim seperti itu adalah hukuman rajam sampai mati. “Tuan, kita semua sudah siap untuk menyerang istana. Tapi apakah tuan baik-baik saja?” Seorang pemuda membawa sabit pedek biasa digunakan untuk menjumbret padi di sawa menghampiri Zein. “Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin mengatakan pada kalian semua, dalam pertarungan, tidak akan ada yang kembali dalam keadaan tanpa luka, sekalipun hanya memar di wajah. Apakah kalian siap, andaikan harus mengorbankan nyawa?” Pangeran Zein Zulkarnain berdiri di depan para penduduk berjumlah sekitar 100 orang. “Kami siap, lebih baik kamu mati sebagai seorang kesatria dari pada pulang hanya untuk ditindas.” Seorang pria paruh baya mengangkat senjata ke udara sebagai isyarat kesiapan dan kerelaan hati untuk maju ke medan tempur. “Kami juga siap.” Begitulah para kesatria dadakan tersebut, sang pangeran berdiri dengan tegak tanpa menunjukkan kelemahannya, iris safir menatap seluruh pasukan dadakan tersebut. “Aku akan berusaha untuk melindungi kalian, tetapi aku pun hanya manusia biasa. Jangan maju kalau memang situasinya tidak mendukung, dalam sebuah pertempuran bukan hanya julah pasukan yang diperlukan tetapi juga kesiapan mental, fisik dan siasat perang. Strategi yang matang bukan hanya mengandalkan otot tapi juga otak, kalian harus tahu itu. Berapa pun jumlah pasukan itu tidak akan mampu mengalahkan pasukan cerdas sekalipun jumlahnya lebih sedikit.”Putra mahkota tersebut memberikan arahan terhadapan para warga, ia berharap bahwa dengan arahannya itu setidaknya ada sebuah gambaran tentang apapun hal buruk yang akan terjadi nanti. “Kami akan berjuang hingga akhir.” Serempak seluruh pasukan dadakan tersebut mengangkat senjata seadanya ke udara. “Baik, kalau begitu kita akan segera berangkat. Aku ingin pasukan ini dibagi menjagi empat bagian, masing-masing bagian akan dipimpin oleh seorang komandan.” Zein kembali membarikan arahan, ia mengambil ranting lalu mulai menggambar di tanah, gambar simulasi istana Beras kutah. “Maaf, tuan. Tidak seorang pun di antara kami yang bisa memimpin sebuah pasukan, bagaimana bisa memimpin kalau pengalaman saja tidak ada,” kata salah satu anggota pasukan. Pangeran Bintang Tenggara tersebut diam memikirkan ucapan salah seorang tersebut, tidak ada yang salah dengan ucapannya tetapi dalam situasi seperti ini tidak mungkin melatih seseorang untuk menjadi pemipin pasukan. “Kami bersedia memimpin pasukan.” Mahesa, Arya dan Yuda berdiri di atas atap rumah penduduk. Zein Zulkarnain bersama para warga mendongak menatap ketiga kesatria tersebut. Tidak ada komentar apapun dari putra mahkota Bintang Tenggara tersebut selain iris safir menunjukkan perintah untuk turun dan tidak perlu banyak tingkah di atas atap rumah orang. Ketiga kesatria tersebut melompat ke bawah dan mendarat dengan sempurna di depan sang pangeran,”Pangeran Zein, kau tega sekali meninggalkan kami sendirian di tengah hutan. Apakah hatimu sudah mati hingga tidak memikirkan nasib kami, bagaimana kalau ada gorila memangsa kami.” Yuda mulai ngomel-ngomel sambil menyatukan kedua tangan di depan d**a sok menjadi orang teraniaya, jelas-jelas mereka semua memiliki kekuatan dan keterampilan dalam bertarung, akan sangat tidak mungkin ada gorila di “tengah” hutan. “Tidak perlu berderama di sini, kalau memang berniat membantu maka langsung bergabung saja. Sungguh suatu kebetulan kalian di sini, 100 orang akan dibagi menjadi empat. Setiap kelompok akan menyerang melalui sisi istana, depan, belakang serta samping kiri dan kanan, kita akan mengepung dari berbagai penjuru. Istana musuh paling banyak menempatkan penjagaan di depan dan samping barat, karena itu untuk mengecoh pasukan musuh kita akan membuat kedua bagian tersebut sibuk hingga samping kiri dan belakang bisa masuk lela menculik pangeran Anjas, kita akan membawanya keluar dari istana.” Pangeran Zein memberikan pengarahan sambil menggambarkan arah mana yang harus dimasuki para pasukan tersebut. “Biarkan aku dan Arya yang menjadi pasukan pengecoh, aku akan melindungi para warga, kau masuk saja dari samping kiri atau belakang. Cari kamar pangeran majas tadi.” Mahesa menyahuti bahkan tanpa sadar telah salah menyebutkan nama musuhnya. “Pangeran Anjas bukan pangeran Majas, baiklah kalau begitu sudah diputusakn pasukan Mahesa dan pangeran Arya yang akan menjadi pasukan pengecoh. Kita berangkat sekarang, ingatlah bahwa kalian harus berhati-hati.” Sang Pangeran membalikkan tubuhnya, ia menatap arah istana Beras tumaph di mana pangeran Anjas tinggal. “Kita berjuang hingga titik darah penghabisan!” Teriak Yuda sambi mengepalkan tangan ke udara. “Yeah!” Seluruh pasukan tersebut membalas dengan penuh semangat, setelah itu mereka pun membagi dan mengikuti pimpinan masing-masing memecah menjadi empat bagian. Istana Beras Tumpah. Pangeran Anjas geram mendengar berita bahwa seluruh pasukan yang diutus untuk membunuh pria tidak dikenal itu terbunuh di tempat, ia tidak sabar untuk menjajal sendiri kemampuan dari Zein Zulkarnain. “Pangeran, mereka akan menyerang istana ini. Perintahkanlah kami untuk memperketat penjagaan terhadap istana terutama kamar pangeran.” Seorang Jendral perang memberikan usul. “Tidak, aku ingin menyambut mereka sendiri di depan pintu gerbang. Kalian hanya perlu menjaga istri dan anakku saja, aku akan menyiksa para pemberontak itu. Mereka akan menyesal karena pernah hidup di dunia ini.” Pangeran Anjas menggeram penuh amarah, rahangnya mengeras tangannya mengepal menahan amarah. “Baik pangeran.” Jendral tersebut dengan patuh lalu sejenak menunduk hormat dan meninggalkan tempat tersebut guna menyiapkan pasukan. “Zein Zulkarnain, ternyata dia adalah putra mahkota Bintang Tenggar yang menghilang 22 tahun silam.” Dia melirik pengawal pribadinya. “Kirimkan pesan pada Raja Ku Ba Ngan kalau pangeran Zein Zulkarnain berada di kota Beras tumpah,” perintahnya. “Baik pangeran,” balas pengawal. Anjas tersenyum licik, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memusnahkan semua orang yang menentang kekuasaannya. Berjalan denga mengendap-ngendap para pasukan dadakan dibawah pimpinan Zein Zulkarnain mengitari sisi kiri istana Beras kutah, sang pimpinan memberikan arahan apakah mulai menyerang atau belum. Pangeran Bintang tenggara tersebut mengamati sekiling untuk memastikan keamaan daerah tersebut, dalam pertempuran tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Dengan gerakan tangan, sang pengeran memberikan arahan untuk para pasukan masuk satu persatu melalui dinding dengan cara memanjat. Sesungguhnya ini terlalu lama karena mereka tidak memiliki ilmu meringankan tubuh seperti dirinya, akan lebih mudah kalau mereka memilikinya. Zein mendongak ke atas sungguh suatu kebetulan di tempat tersebut ada sebuah dahan pohon, dahan tersebut terlihat sangat kokoh tidak akan jatuh jika untuk bergelantungan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD