Episode 42
Selendang hitam terdapat di tangan dan dilempar ke atas pohon, dengan ilmu meringankan tubuh pria itu terbang ke dahan lalu mengaitkan selendang tersebut hingga tidak akan goyah bila digunakan untuk bergelantungan. Pangeran Zein mengulurkan selendang tersebut ke bawah agar para prajurid dadakan tersebut bisa naik ke atas dan masuk ke dalam istana.
“Naik satu persatu!” Sang pangeran menyeru para warga yang telah menjadi prajurid dadakan, sementara para prajurid naik sang pangeran mengawasi dari atas tempat tersebut, ia juga dapat melihat keadaan dari berbagai macam penjuru.
Dari arah kanan terlihat pasukan yang dipimpin oleh Arya mulai memasuki arena istana, mereka juga tidak kalah mengenaskan yaitu dengan membantu sesamanya naik melewati dinding dengan cara menaiki pundak temannya sedang pemimpinnya sudah berada di atas genteng.
Dari arah kanan terlihat beberapa orang prajurid sedang berjaga, mereka memegang senjata lengkap di tangannya, kalau dilihat dari pasukan yang dibawa Yuda serta pengalaman dalam berperang maka pangeran Kayumas itu tidak akan mampu untuk mengatasi. Pangeran mahkota Bintang Tenggara mengeluarkan beberapa jarum perak lalu dilemparkan ke arah prajurid tersebut hingga roboh dan tersungkur ke tanah.
Yuda mengacungkan jari jempol memandang sang pangeran di atas dahan, Zein Zulkarnain menatap pria itu tanpa minat, dirinya bukan anak kecil yang harus diberikan jempol cukup anggukan kepala saja itu lebih terlihat sebagai seorang memberikan kepercayaan.
Setalah itu ia mengalihkan perhatian ke arah pintu grbang utama, iris biru tersebut menyipit melihat sosok pangeran Anjas justru berdiri di garis depan dengan pasukan lengkap.
“Sepertinya tidak berguna kalau kita harus menunggu bola, lebih baik menjamput bola sekalian. Tapi tidak ada salahnya juga jika menyerang dari seluruh penjuru, memangkap satu orang memang mudah tapi bila seluruh pasukan dikerahkan akan mempersulit juga.” Putra mahkota Bintang Tenggara tersebut menatap lurus ke depan, pancaran mata tajam bersebrangan dengan sinar rembulan redup.
Seluruh pasukan berjumlah 25 orang miliknya telah berhasil memasuki halaman belakang, begitupun milik Arya serta Yuda, kini mereka semua berkumpul di halaman tengah, ketuga pemimpin pasukan saling berpandangan menyusun rencana yang harus dilakukan selnjutnya.
“Pangeran Anjas berada di depan pintu gerbang bersama pasukan, sepertinya mereka mengira kalau kita semua akan menyerang dari arah depan,” kata Pangeran Zein mengutarakan penjelasannya setelah melihat persiapan serta perangkap dari pangeran Beras kutah tersebut.
“Tunggu, pangeran Zein! Diarimakah pangeran bisa mengatakan seperti itu? Apakah pangeran melihat dengan mata kepala pangeran atau mata orang lain?” tanya Arya sangsi.
“Apakah kamu berpikir aku melihat dengan mata rabunmu?” balas Pangeran Zein datar.
Hampir saja gelak tawa menggema dalam halama tersebut dari para prajurid dadakan mendengar balasan jawaban dari pangeran Bintang Tenggara tersebut, sedang Arya mendengus sebal, tidak menyangka sahabat pendiam itu kalau sekali bicara malah membuat orang dongkol setengah mati.
“Baiklah, kalau begitu apa yang harus kita lakukan sekarang?” Yuda menyela pembicaraan, dia sudah hafal tabiat dari putra mahkota Bintang Tenggara tersebut, meski terlihat pendiam tapi terkadang kalau bicara suka membuat orang sakit hati.
“Apa lagi? Tentu saja menggempur dari segala arah, aku akan melihat apakah pasukan utama sudah mulai menyerang, kalian tunggu aba-aba dariku.” Zein Zulkarnain langsung membalikkan tubuhnya lalu melompat ke atap untuk melihat situasi yang ada, terutama di depan pintu gerbang.
Pasukan utama dipimpin oleh mantan Jendral Mahesa jenar, dengan jumlah prajurid terdiri dari remaja dan orang tuan, mereka semua mengenakan seragam seadanya serta senjata juga seadanya.
“Apa kalian sudah siap? Kita akan mendobrak gerbang ini.” Sang jendral memberikan pertanyaan untuk mengecek kesiapan para prajurid dadakan tersebut.
“Kami siap menyerang kapan saja untuk menyerang.” Kompak dan tanpa rasa takut sedikit pun, tekad dan semangat juang telah mendarah daging hingga meneselusup dan menyatuh dalam nadi menghilangkan sisa rasa takut yang ada.
Zein mengirimkan sinyal dengan cahaya merah tipis seperti benang pada pangawal pribadinya tersebut, sang pengawal mendongak ke atas. Terlihat putra mahkota Bintang Tenggara tersebut menggerakkan tangan seakan ingin mengatakan bahwa pasukan besar pangeran Anjas berada tpat di depan pintu gerbang, mereka semua bersiap untuk membunuh dengan pasukan panah dan tombak, sebaiknya menyingkir dari tempat itu dan pindah posisi.
Mahesa mengangguk, ia pun memberi isyarat pada pasukan tak banyak itu untuk bersembunyi sambil menunggu perintah dari sang pangeran,”pasukan pangeran Anjas berada di balik gerbang ini, mereka siap dengan seribu pasukan lengkap, kita hanya berjumlah 26 orang, lebih baik kita bersembunyi untuk mengatur siasat selanjutnya.”
Mereka mengangguk dan mengikuti arahan pimpinan pasukan tersebut, Zein Zulkarnain mengangguk ketika melihat pasukan dari pengawal pribadinya itu telah kembali, sekarang dirinya harus memikirkan cara untuk memecah 1000 orang pasukan tersebut, memang pangeran zalim dan kejam. Melawan rakyat sendiri saja harus menyiapkan 1000 orang pasukan khusus dengan lawannya hanya 100 orang warga biasah, jangankan untuk dilatih ilmu pedang atau perang, bahkan mereka saja hanya tahu bercocok tanam dengan cangkul dan sambit,”sungguh manusia zalim, aku harus mencari cara untuk memecahkan 1000 orang tersebut. Kalau aku dan para warga melawan pasukan sebanyak itu, sama saja dengan bunuh diri, apa lagi mereka terlihat pasukan elit, jangan berpikir untuk menang sekalipun jumlahmu lebih banyak.”
Sang pangeran melompat turun dari atap tersebut, ia mendarat dengan sempurna dan kembali bergabung bersama pasukan lainnya,”pasukan milik pangeran Anjas kurang lebih 1000 orang, kita tidak akan bisa mengalahkan jumlah pasukan sebesar itu hanya dengan kekuatan otot. Jadi pasukan itu harus dipencar, jangan biarkan pasukan itu menjadi satu.”
“Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Yuda menatap seluruh pasukan yang hanya sedikit tersebut.
“Aku akan memancing memancing separuh dari pasukan mereka agar bisa meninggalkan tempat ini, uhuk…uhuk…” Zein kembali terbatuk ketika menyampaikan rencananya pada para prajurid dan kedua temannya tersebut, udara dingin sungguh tidak baik bagi kondisi kesehatan tubuh rapuhnya.
“Pangeran Zein, apakah anda baik-baik saja? Bagaimana kalau aku saja yang memancing sebagian pasukan pangeran Anjas?” tanya Arya kahwatir.
“Tidak, aku baik-baik saja. Aku tidak berharap pemilik mata rabun bisa mengalihkan perhatian prajurid.” Pangeran Bintang Tenggara tersebut menatap datar pada sahabatnya tersebut.
“Baiklah, kalau begitu … apa yang ingin kamu lakukan? Tidakkah kamu merasa terlalu berat melawan 500 orang sendirian?” Yuda menatap sang pangeran penasaran.
“Siapa yang akan melawan mereka? Aku akan pergi sebentar, tunggu saja di sini.” Putra mahkota Bintang Tenggara tersebut membalikkan tubuhnya dan kembali terbang dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya.