episode 43

1052 Words
Episode 43 Arya dan Yuda saling bertatapan, mereka sama-sama menerka-nerka tentang apa yang hendak dilakukan oleh putra Mahkota Bintang Tenggara tersebut, keluar dari istana sendirian dengan tujuan untuk mengalihkan perhatian. Tong Sam Pah bersama dengan pasukannya tiba di istana Beras Tumpah setelah mendapat kabar bahwa pangeran Zein Zulkarnain berada di kota tersebut, atas perintah raja Ku Ba Ngan jendral perang sekaligus perdana mentri Bintang Tenggara sekarang itu bergegas mencari sang pangeran untuk menangkap dengan tuduhan pemberontak. Sekitar 300 orang prajurid dibawah komando berdiri di depan pintu gerbang istana Beras Tumpah, kesempatan bagi Zein Zulkarnain untuk mengadudomba kedua pasukan tersebut. Sang pangeran mengeluarkan pedang naga langit milinya dan menancapkan pedang tersebut di atas tanah,”Naga Langit, tunjukkan wujud manusiamu!” Sesuai dengan perintah tuannya, padang tersebut berubah menjadi sosok pria tampan rupawan beramanik emas. “Saya memenuhi perintah tuanku.” Menekut satu lutut dan menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan terhadap pemiliknya. “Aku punya perintah utukmu.” Zein Zulkarnain menatap lurus para pasukan Tong Sampah yang masih berdiri di depan pintu gerban istana Beras kutah. “Saya bersedia memenuhi perintah tuanku.”   Senyum dingin bertengger di bibir sang pangeran, dalam sebuah perang tidak perduli cara curang atau pun tidak karena paling penting adalah sebuah kemenangan. “Pergi dan bergabunglah bersama pasukan Tong Sam Pah, buat rumor bahwa pasukan pangeran Anjas sudah menunggu di balik pintu gerbang dengan persenjataan lengkap serta terdiri dari 1000 orang bersiap untuk membunuh seluruh pasukan Jendral Tong.” “Baik, Tuanku. Saya siap melaksanakan perintah.” Naga Langit segera bangkit dari tempatnya dan merubah diri menjadi salah satu anggota dari pasukan Tong Sampah. “Kakak, apakah jendral Tong tahu … kalau di balik pintu gerbang ini sudah bersiap 1000 pasukan untuk membunuh kita semua?” Naga itu mulai menjalankan perintah tuannya, dia menghasut satu persatu anggota pasukan. Prajurid yang diajak bicara tersebut tidak yakin, ia telah menerima kabar bahwa pangeran Anjas sendiri telah mengundang Jendralnya untuk datang karena mereka telah menemukan pemberontak negara. “Itu tidak mungkin, pangeran Anjas sendiiri telah mengirimkan surat pada Yang Mulia raja Ku Ba Ngan, dalam surat itu mengatakan kalau pemberontak negara Zein Zulkarnain telah ditemukan,” bantah prajurid tersebut. “Itu hanya siasat, lagi pula … pangeran Zein itu tidak mungkin ada di tempat seperti ini. Bukankah dia seorang buronan? Pastinya tidak akan datang di tempat umum apa lagi kota Beras kutah.” Naga Langit berusaha untuk meyakinkan prajurid tersebut, bibirnya tersenyum tipis kala melihat air muka sang prajurid telah menunjukkan adanya benih-benih kecurigaan terhadap pangeran Anjas. “Benar juga, kalau begitu aku akan menyampaikan pesan ini pada Jendral Tong. Aku adalah orang kepercayaan Jendral, aku tidak akan membiarkan pasukan kita hancur.” Parjurid tersebut melangkahkan kaki ke depan dan menghampiri sang Jendral. Tong Sam Pah mengamati pintu gerbang tersebut, matanya memperhatikan setiap ukiran dalam pintu tersebut,” Jendral.” Jendral Tong menoleh pada prajurid kepercayaannya tersebut,”apa Aspal?” mata sang Jendral menatap lurus prajuridnya tersebut. “Jendral, menurut informasi, sekarang pangeran Anjas menunggu kita di balik pintu gerbang dengan 1000 pasukan bersenjata lengkap.” Tong Sam Pah mengeraskan rahang, kalau sampai itu memang benar dia tidak akan pernah memaafkan tindakan pengkhianatan dari pangeran kecil tersebut, tetapi sebelum itu alangkah lebih baik kalau memastikan sendiri. Sang Jendral terbang ke udara menggunakan ilmu meringankan tubuh, ternyata apa yang dikatakan oleh prajuridnya itu memang sangat benar, di balik pintu gerbang ini terdapat 1000 orang prajurid dengan senjata lengkap,”Jahannam! Jangan kau pikir rencana busuk kalian akan berhasil!” Tong sampah segera mengumpulkan kekuatannya di telapak tangan tanpa banyak bicara lagi pria tersebut mngerahkan seluruh kekuatannya menghantam ribuah prajurid tersebut. Zein Zulkarnain tersenyum penuh kemenangan, rencana mengadu domba kedua pasukan telah berjalan dengan sangat baik, ia yakin sebentar lagi pangeran Anjas harus bertempur dengan jelmaan pasukan iblis. “Tidakkah kalian merasa, kezaliman kalian pada rakyat telah membuat kalian menderita. Inilah balasan bagi seorang pemimpin zalim.” Sang Pangeran membalikkan tubuhnya lalu melompat ke atas dinding lalu mendarat di tanah dengan sempurna, air muka terlihat begitu ceria dengan senyum sumringah menghiasi bibirnya. Arya dan Yuda menatap sang pangeran penuh tanda tanya,”Sepertinya rencana pangeran Zein telah berhasil, tapi apa yang telah dia lakukan?” tanya Arya. “Aku juga tidak tahu, tunggu sampai dijelaskan karena kalau kita bertanya mungkin pangeran Zein akan marah dan mengatakan mata kita sliwer,” balas Yuda. Pangeran Bintang Tenggara tersebut menatap kedua sahabatnya dengan senyum menghiasi bibirnya, tanpa kedua pangeran tersebut bisa jadi semua rencananya tidak akan berhasil. “Kita harus segera keluar dari tempat ini, karena akan terjadi perang besar antara pasukan Tong Sam Pah dan pasukan pangeran Anjas.” Arya dan Yuda mengerutkan kening, mereka sama sekali tidak mengerti maksud ucapan sang pangeran,”maksudnya itu apa? Kok bisa ada pasukan Tong Sam Pah? Darimana datangnya?” tanya Yuda. “Tidakkah kau merasa pertanyaanmu terlalu bodoh? Seharusnya kau sudah bisa menebak bahwa pasukan Tong Sam Pah, itu dari Bintang Tenggara.” Zein tersenyum sinis menatap sahabat terbaikknya tersebut. Yuda melotot horot, paras rupawan di depannya tersebut selalu mengeluarkan kata sepedas cabai,”Pangeran Zein, aku hanya bertanya. Malu bertanya sesat di kamar,” balasnya sewot. “Sudalah, sebaiknya kita segera keluar dari tempat ini sebelum pertarungan besar dimulai.” Zein membalikkan tubuh, meletakkan kedua ujung jari telunjuk dan jari tengah di atas pertemuan alis memusatkan kekuatan lalu mengarahkannya pada dinding. Dalam sekejap dinding tersebut hancur menjadi debu. Pasukan dadakan terdirin dari warga biasa tersebut menatap takjub kekuatan sang pangeran, terlihat lemah tetapi ternyata memiliki kekuatan tak terbatas,”jika masih ada waktu untuk mengagumi kekuatan seseorang lebih baik gunakan untuk mempelajari cara menggunakan kekuatan tersebut.” Suara barinton rendah menyentakkan para warga untuk segera keluar dari istana tersebut, melarikan diri dari pertempuran dua kubu tak ada hubungan dengan mereka, oleh karena itu tidaklah cocok bagi mereka untuk ikut campur dalam pertempuran. Satu persatu warga tersebut keluar dari istana, setelah memastikan bahwa tidak ada lagi orang tertinggal sang pengaran segera membawa pasukan dengan jumlah tak seberapa tersebut meninggalkan area istana. Mahesa tercengang melihat pertempuran besar antara Tong Sam Pah melawan pangeran Anjas, tidak sedikit dia menyangka kalau kerajaan Bintang tenggara akan ikut campur dalam.  Tatapannya masih terus mengamati pertarungan tersebut, sekalipun hanya 300 orang prajurid tetapi kekuatan mereka tidak bisa diremehkan, terlihat sekali kalau pasukan pangeran Anjas juga berjuang keras menghadapi 300 orang prajurid pilihan tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD