episode 44

1093 Words
Episode 44 Tong Sam Pah menatap benging Pangeran Anjas, sang pengaran terengah-engah tanpa dia tahu apa yang terjadi, pasukan Bintang Tenggara memberikan serangan dadakan terhadapnya. Luka sayatan pedang melintang di lengan kiri, cairan berbau anyir membasahi tanah istana Beras kutah, 100 pasukan hanya tingga setengah. Panheran Anjas menatap nanar Jendral Tong, dia harus menjelaskan atau seluruh istana akan hancur, hanya itu pilihan yang ada. “Jendral Tong, mohon Jendral untuk tenang. Saya tidak pernah berkhianat pada Bintang Tenggara, saya dan pasukan saya menanti kedatangan pasukan Pangeran Zein Zulkarnain. Saya sungguh tidak mengira kalau di luar gerbang justru pasukan Jendral Tong.” Tong Sam Pah bersiap mengeluarkan ilmu tapak kaki kuda, tatapan sengit dan penuh kebencian masih belum memudar dari iris kecoklatannya,”tidak ada pasukan Zein Zulkarnain, apakah kau ingin mencoba untuk berbohong? Atau sengaja ingin mencari perlindungan dengan membuat alasan palsu.” “Tidak! Saya tidak berbohong, saya yakin ini semua rencananya. Dia sengaja mengadu domba kita, percayalah! Saya dan seluruh warga kota Beras Kutah akan berada di pihak Jendral Tong.” Pangeran Anjas berusaha meyakinkan Tong Sam Pah, dia terdesak dalam permainan sendiri. Di sisi lain, Zein Zulkarnain bersama warga merayakan keberhasilan dengan membakar binatang hasil buruan, para warga merasakan sosok keadilan serta kebijaksanaan dalam kepemimpinan sang pangeran. “Apakah kita tidak terlalu cepat untuk berpikir bahwa pasukan pangeran Anjas sudah kalah? Atau mereka justru kembali menghasut Tong Sam Pah  untuk balik menyerang.” Mahesa menatap sosok wajah pucat sang pangeran, dia telah berpengalaman dalam melakukan pertarungan melawan musuh. “Aku tahu, karena itu aku sudah menyuruh Naga Langit untuk menyamar menjadi salah satu prajurid dari pangeran Anjas. Aku sangat mengenal Tong Sam Pah, dia adalah jelmaan iblis, kejam dan tanpa belas kasih, aku yakin Tong Sam Pah tidak akan terima bila pasukannya dibantai habis oleh prajurid pangeran Anjas.” Sang Pangeran tersenyum tipis membayangkan kejadian dalam pertempuran antara kota Beras kutah dengan Bintang Tenggara. “Apakah wajah pucatmu itu juga berhubungan dengan kekuatanmu yang terhubung dengan pedangmu?” celetuk Yuda penasaran. Arya dan Mehesa kembali memperhatikan paras rupawang sang pangeran, di bawah sinar rembulan paras putih pucat tersebut menghiasi alam semesta, memberi kisah memilukan dalam menapaki alur kehidupan. “Iya, dia sudah terikat denganku. Setiap kekuatan yang digunakan akan menyerap kekuatan dariku, tapi tidak apa. Demia kebaikan semua, seorang pemimpin sejati haruslah lebih mementingkan rakyat dari pada diri sendiri, keselamatan rakyat menurutku jauh lebih penting dari pada apapun.” Sang Putra Mahkota menatap penuh kasih seluruh warga, mereka terlihat begitu bahagia hanya dengan daging hewan buruan, kelagaan tanpa beban terlihat begitu jelas dalam setiap paras mereka. Mahesa terdiam menatap sosok junjungannya, memang pantas mendapatkan gelar putra mahkota, calon raja penguasa dunia,”pangeran Zein, memanglah pantas mendapatkan menjadi sososk putra mahkota, semoga kita bisa segera kembali merebut kerajaan Bintang Tenggara dari tangan orang-orang zalim tersebut.” Sang pangeran hanya tersenyum tipis, tatapannya menerawang jauh ke arah tanah kelahiran, kerajaan di mana ayahanda tercinta terbunuh oleh penguasa Bintang Tenggara yang sekarang. “Tidak perduli seperti apapun, entah itu aku menjadi rakyat jelata atau seorang pangeran, aku akan tetap ada untuk rakyat Bintang Tenggara. Melindungi rakyat tidak harus menjadi seorang raja, tetapi seorang raja harus bisa melindungi rakyatnya. Itulah kenapa… tidak mudah untuk menjadi seorang pemimpin, jika tak mampu maka sebaiknya lepaskan tahta berikan pada orang yang lebih mampu, sekalipun itu … bukan anggota kerajaan.” “Itu benar, aku sangat setuju. Tapi … tidak semua orang akan berpikir seperti itu, tahta, harta dan wanita. Semua itu akan menjadi kebanggaan bahkan menjadikan manusia bersikap angkuh hingga tidak perduli lagi pada norma yang ada.” Yuda menatap sahabatnya tersebut. “Hah, itu benar. Meski begitu … kita juga tidak bisa mengubah pemikiran mereka, tetapi kita bisa merubah pemikiran kita sendiri.” Zein membalikkan tubuhnya, ia langsung terbang dan mendarat di atas dahan pohon, iris safir sang pangeran memperhatikan jalannya pertarungan antara prajurid Tong Sam Pah dan pengaran Anjas, dari tempatnya berdiri, terlihat jelas sang pangeran kuwalahan menghadapi pasukan dengan jumlah lebih sedikit tersebut. Uhuk… Uhuk… Sedikit menyentuh d**a kiri saat rasa sesak dan nyeri kembali menyapa jantung, meski begitu sebagai seorang pemimpin dirinya tidak boleh menyerah. Naga langit kembali menjelma menjadi salah satu prajurid Beras kutah, dengan kekuatan dimilikinya, jelmaan dari salah satu pusaka langit tersebut membunuh dan melukai preajurid Tong Sam Pah. Memusatkan kekuatan pada mulut lalu menyemburkan pada pasukan Bintang tetanggara dengan pimpina Jendral Tong Sam Pah, semburan kekuatan api membakar hampir setengah dari pasukan tersebut. Jendral Tong menggeram melihat banyak dari pasukannya gugur dengan serangan bola api dari Naga langit, ia menagami penampilan sang naga, seragam yang digunakan adalah milik pasukan Beras Kutah. Sang Jendral semakin yakin bahwa pangeran Anjas memang berniat untuk menipu dirinya. “Bukti sudah sangat jelas, pangeran masih tidak tahu diri! Lihatlah prajuridmu itu! Dia memiliki kekuatan api, bagaimana caramu untuk menjelaskan padaku!?” Tong Sam Pah murka. Pangeran Anjas terkejut melihat seorang pria rupawan mengenakan seragam prajurid seperti pasukan miliknya melibas habis pasukan dari Bintang Tenggara, ia sama sekali tidak pernah melihat pria tersebut,”tidak, saya tidak mengenal pria itu. Percayalah! Kalau aku memiliki 10 orang prajurid seperti itu, saya tidak akan mungkin susah paya menjelaskan apapun pada jendral Tong.” Api sudah membakar jiwa, setetes emmbun tidak akan mampu memadamkan api peperangan tersebut, sang jendral telah murka tidak ingin lagi mendengarkan pembelaan apapun dari sang pangeran. Kekuatan telah terkumpul di telapak tangan tangan siap untuk dihempaskan. Pangeran Anjas gemetar karena ketakutan melihat sosoj tersebut, aura yang dikeluarkan seperti dewa kematian. Tubuh terguncang, jantung berpacu dengan cepat napas memburu mata melebar. Slap… Sang pangeran memejamkan mata siap untuk menerima sebuah rasa sakit menghujam tubuhnya, tetapi hingga beberapa detik, tidak ada sedikit pun rasa sakit diterimanya. Pimpinan kota Beras kutah tersebuh memberanikan diri untuk membuka kedua mata, betap terkejut ketika melihat sosok pria mengenakan mahkota bulan bintang dengan huluf alif di tengahnya berdiri tegak menghalangi serangan tersebut dengan sebilah pedang di tangannya. “Akuilah semua kejahatanmu di hadapan rakyatmu pangeran Anjas, pergilah! Biarkan aku mengurus jendral Tong Sam Pah. Sekalipun kau sering berlaku zalim, tapi rakyatmu begitu mencintaimu.” “Siapakah dirimu? Kenapa kau ingin membantuku!?” pangeran Anjas tidak bisa berpikir jernih, ia tidak tahu mengapa masih ada orang dengan kerelaan hati memberikan bantuan dan menangkis serangan musuh demi dirinya. “Tidakkah kau sadar? Aku berdiri di sini untuk rakyat Beras kutah, tida,k ada hubungannya dengamu.” Sosok tersebut tetap tenang, iris safir menatap jendral Bintang tenggara dengan tatapan datar sedatar triplek.  “Apapun alasanmu, aku tetap berterimakasih. Tapi kau orang asing, aku tidak mungkin membiarkanmu menjadi pemimpin kota ini,” sergah pangeran Ajnas. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD