The legend of the hidden knights episode 45
Iris safir putra mahkota Bintang Tenggara melirik malas pangeran Anjas,”pikiranmu terlalu picik, pangeran. Aku sama sekali tidak memiliki sebuah keinginan untuk menguaasai kota Beras kutah, bukankah telah ku katakan bahwa diriku hanya ingin melindungi seluruh manusia di muka bumi ini dari kezaliman pemimpin sepertimu.”
Klereng mata itu kembali bergulir menatap lawan bertarungnya, jendral Tong Sam Pah menatap penuh selidik pria beriris safir tersebut,”siapakah dirimu sesungguhnya? Ada gerangan apa manusia seperti mu menghentikan pertarungan kami.”
“Siapa aku , itu bukanlah urusan pencuri seperti kalian. Sejarah kelam Bintang Tenggara, p*********n serta pengkhianatan, perampasan kerajaan. Tidak pernah termaafkan.” Zein Zulkarnain menatap penuh dendam pada sosok pembunuh raja Ilyasa.
Seorang pangeran kecil menjadi sosok dewasa, kecakapan serta kerupawan yang mampu memikat setiap kaum hawa berubah menjadi iblis pendendam kala bertemu dengan mantan pembunuh ayahnya, tetapi tidak seorang pun menyadari siapa sosok pangeran bermata biru tersebut.
Sang jendral menatap penuh selidik lawan di depannya tersebut, sebuah perasaan familiar masuk ke dalam relung hati,”kau sepertinya tahu betul tentang sejarah kejaraan Bintang Tenggara, apakah kau … salah satu penduduk Bintang Tenggara?” tanyanya curiga.
Putra mahkota Bintang tenggara tersebut menyeringai sinis, apa yang dikatakan oleh jendral tersebut sangatlah benar,”itu semua sudah tidak penting, karena aku tidak akan pernah bersedia dipimpin oleh seorang raja yang zalim bahkan hanya menjadikan seorang gadis sebagai mainan setelah diambil kehormatannya.”
“Bedabah! Kau sudah melewati batasanmu, aku tidak akan pernah mengampunimu.” Jendral Tong murka, ia kembali mengeluarkan kekuatannya.
“Menyingkirlah pangeran Anjas, kau hanya akan menganggu pertarungan kalau masih di sini.” Zein Zulkarnian melompat kebelakang ketika Tong Sam Pah menghunuskan pedang ke arahnya.
Trang…
Pangeran Bintang Tenggara menahan serangan pedang tersebut dengan pedang naga langit miliknya, iris safir bertatapan dengan iris merah jendral Xioxing tersebut.
Pangeran Anjar tercengang melihat pertarungan sama hebat tersebut, tidak pernah terpikirkan sedikit pun kalau di dunia ini ada orang dengan kekuatan mampu melawan anggota kerajaan Bintang tersebut.
Ia segera meninggalkan arena pertarungan tersebut sebelum terkena imbas. Mahesa gelisah karena anak asuhnya justru pergi kemedan perang dalam kondisi racun masih berada dalam tubuhnya, duduk tidak nyaman bahkan ikan di genggamnya pun tidak tersentuh.
“Paman, apa yang membuat paman terlihat begitu gelisah?” tanya Arya sambil menyodorkan setusuk ikan bakar.
“Pangeran Zein pergi ke medang perang, aku khawatir racun dalam tubuhnya semakin menyebar dan aku tak bisa menyelamatkannya.” Pangawal serta manda adipati tersebut mengulurkan tangan menerima tusukan ikan tersebut.
Arya mendudukkan diri di samping sosok pengawal tersebut, ia terkejut mendengar ucapan sang pengawal sekaligus ayah angkat dari putra mahkota Bintang tenggara tersebut.
“Apakah maksud paman … sekarang pangeran Zein sedang bertarung melawan Tong Sam Pah?” tanyanya memastikan.
“Benar, aku tidak sempat mencegahnya untuk pergi. Pangeran Zein sudah terbang ke istana terlebih dulu.” Mahesa bangkit dari tempat duduknya, iris kecoklatannya menatap lurus pada istana kota Beras Kutah.
“Aku harus kesana, aku khawatir kalau terus menggunakan kekuatan , pangeran Zein tidak akan baik-baik saja. Pangeran Arya dan pangeran Yuda tunggu di sini saja, akan sangat berbahaya bila pangeran Anjas datang. Menurut pengamatanku, pangeran Zein pasti mencoba untuk membuat pangeran kejam itu untuk memintak maaf terhadap rakyat.”
Arya mendongak menatap pria 40 tahun tersebut, hanya bisa mengangguk karena percaya bahwa pria itu tidak akan pernah membiarkan junjungannya celaka,”baiklah, aku akan menunggu di sini. Berhati-hatilah.”
Mahesa mengangguk, setelah itu ia terbang menjuru istana kota Beras kutah.
Bruk…
Sang pangeran terjatuh di atas lututnya, salah satu tangannya menyentuh dadanya sedang tangan yang bebas digunakan untuk menancapkan pedang di laintai paping menahan tubuh agar tidak tersungkur.
Iris safirnya menatap sosok pembunuh raja Ilayasa, ia yakin kalau sebentar lagi pembunuh itu akan lenyap dengan sekali serangan, tetapi racun dalam tubuh ternyata lebih memihak musuh, di saat dirinya sedang bertarung racun tersebut menyerang jantungnya.
Tong Sam Pah mengerutkan kening ketika melihat sosok pria bermahkota bulan bintang tersebut terjatuh di atas kedua lututnya, wajah pucat terlihat menahan sakit. Bibir menyeringai iblis, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan untuk membunuh pria tak dikenal tersebut.
“Ehhehe… sepertinya kekuatan besar itu juga mempengaruhi tubuhmu, bukankah itu menunjukkan bahwa alam berpihak padaku. Sekarang kau harus merasakan kesakitan teramat saat tombak neraka milikku menyonyak tubuhmu.”
Zein zulkarnain tidak pernah berhenti untuk berusaha melawan pembunuh ayahnya tersebut, dengan sisa tenaga.
“Raiton sora!”
Sang pengran mengeluarkan jurus petir langit bersamaan dengan kekuatan tombak neraka dikeluarkan oleh Tong Sam Pah hingga dua kekuatan besar kembali berbenturan.
Blar…
Mahesa terkejut mendengar suara ledakan tersebut, ia mempercepat terbangnya, kegelisahan tak menentu dalam hati membayangkan sosok pangeran junjungannya akan menderita.
Zein zulkarnain masih menahan serangan Tong Sam Pah dengan kekuatan petir langit miliknya, tidak perlu dengan racun dalam tubuh semakin mengoyak organ tubuh terpenting dalam diri.
Jendral Tong mengerahkan kekuatan penuh untuk melawan sang pangeran, dia merasa marah pada dirinya sendiri karena harus mengerahkan tenaga dalamnya dengannya hanya untuk melawan seorang pria sekarat.
“b*****h! Aku akan membunuhmu!” Sang jendral kembali menambah kekuatan pada serangan tersebut, putra mahkota Bintang Tenggar sedikit terdorong ke belakang tetapi dia berhasil memberikan serangan balik.
Puff…
Sang pangeran menyemburkan darah dari mulutnya, rasa nyeri di d**a semakin tajam namun ia tetap berusaha untuk bertahan dan memberikan perlawannya.
Mahesa mengamati pertarungan tersebut, terlihat dari sudut pandangnya sang pangeran teelah melewati batas kesanggupannya,”pangeran Zein, aku tidak akan pernah membiarkan terjadi sesuatu padamu.”
Dia memusatkan kekuatan pada telapak tangannya lalu mengarahkan pada jendral Tong.
Blarr…
Tong Sam Pah terlempat setelah terkena serangan dari pengawal pribadi tersebut, dia mengalami luka dalam sangat serius,”sialan! Siapa yang berani menyerangku dari nelakang,” desisnya.
Mahesa menghampiri putra mahkota Bintang Tenggara tersebut, ketika tubuh rapuh tersebut limbung dia segera menangkapnya lalu membawanya pergi.
Tong Sam Pah menyipitkan mata melihat sosok pria yang membawa putra mahkota Bintang Tenggara tersebut,”bukankah itu tadi … Mahesa jenar? Aku yakin itu pengawal pribadi mendiang raja Ilyasa. Lalu untuk apa dia datang dan membawa pemuda itu?”
“Akh … uhuk… uhuk… sialan!” Jendral tersebut menggeram kesal, dirinya terluka karena pengawal tersebut, diabersumpah kalau nanti bertemu kembali pasti akan membuat pria itu menyesal karena sudah berani ikut campur dalam pertarungannya bahkan membela orang lain.