episode 46

1091 Words
Episode 46 Mahesa membawa Zein Zulkarnain di sebuah gubuk di dekat hutan, dia tidak ingin pangeran Bintang Tenggara tersebut kembali melakukan peratungan. Dibaringkan tubuh ringkih tersebut di atas tempat tidur terbuat dari bambu( pelonco). “Pangeran Zein, tolong bertahanlah!” Pengawal tersebut memusatkan cakra penyembuhan paada kedua telapak tangannya, terlihat warna putih kebiruan menguar dari telapak tangan tersebut, sang pengawal menaruh kedua telapak tangan tersebut di atas d**a junjungannya tersebut. Dahi Zein Zulkarnain menyerngit menahan sakit seperti sengatan listrik pada jantung dan paru-parunya,”pangeran Zein, tolong bertahanlah!” Mahesa terus mengeluarkan energi murni miliknya, ia memejamkan mata untuk berkonsentrasi lebih dalam melihat keadaan putra Mahkota Bintang Tenggara tersebut. Sebuah ruang kosong gelap dan sunyi, terlihat sosok pria terikat kedua tangan dan kaki dengan rantai, sekujur tubuh penuh dengan darah. Kaki terasa lemas seketika, jantung berebar melihat kengerian di depannya. Ia seorang pengawal maka harus berani melihat bahkan menghadapi setuasi seperti ini. Perlahan dengan perasaan tegang Mahesa melangkahkan kaki menghampir sosok pria tersebut. Pria itu terkejut ketika melihat sosok ular menjelma manjadi manusia berdiri di depan tubuh pria terikat tersebut, jelmaan mengulurkan tangannya ke arah pria malang tersebut. Jleb… Crat… Tangan jelmaan ular menembus d**a pria terikat tersebut, Mahesa terbelak tak percaya melihat kekejaman di depannya, dia ingin menghentikan tapi mendadak tubuh terasa kaku bahkan kaki seperti tertancap tak mampu bergerak. “Jangan panik, Mahesa!” Pengawal tersebut mengalihkan perhatiannya pada asal suara tersebut, dari sudut ruang hampa seorang pria memakai mahkota besar di kepalanya dengan tongkat komando, tangan kirinya memegang sebilah pedang tajam. “Si-siapa kau?” tubuh Mahesa mendadak gemetar ketakutan melihat sosok pria bermahkota tersebut, cahaya kuning keemasan menguar dari sekitar, berkarisma serta mengeluarkan aura intimidasi tajam. “Arsy ratu sejagad, aku adalah manusia utusan Tuhan Yang Maha esa untuk menjaga dan melindungi alam semesta, meciptakan perdamaian serta keadilan di bumi.” Arsy merupakan perwujudan salah satu sukma Zein Zulkarnain. “Lalu… siapa pria yang disiksa itu?” tanya Mahesa merasakan kengerian melihat penyiksaan sosok pria terikat tersebut. “Pangeran Bintang Tenggara, dia adalah Zein Zulkarnain. Yang kau lihat itu hanyalah sebuah gambaran rasa sakit dideritanya. Sosok jelmaan ular itu adalah ibarat racun dalam tubuhnya, sedang pria diikat itu adalah jantung dan paru-parunya. Kalau kau perduli padanya, segera dapatkan bungan seribu tahun karena itu adalah obat penawar untuknya.” Sang Ratu menghilang setelah menyampaikan pesan tersebut. “Mahesa!” Pengawal tersebut kebingungan, suara putra mahkota Bintang Tenggara menggema di telingannya, tetapi dia tidak melihat sosok tersebut selain pria yang kini sedang disiksa tersebut. “Pangeran Zein!” Dia berteriak memanggil nama junjungannya tetapi tidak ada hasil, rasa putus asa lantaran tidak menemukan keberadaan sang pangeran. “Pangeran Zein! Aku akan menyelamatkanmu!” Zein Zulkarnain terkejut bahkan jantungnya seperti mau copot mendengar teriakan pengawal pribadinya tersebut, ketika dipanggil hanya diam tetapi ketika dirinya hendak berbaring lagi malah berteriak dengan lantang hingga menggetarkan bumi. Plak.. Mahesa terkejut merasakan pukulan cukup keras di kepalanya, ia pun membukak mata karena terkejut, sosok putra mahkota Bintang Tenggara dengan wajah jengkel adalah pertama kali dilihatnya. “Pangeran Zein, apakah pangeran baik-baik saja?” tanyanya memastikan. “Aku sangat baik selain jantungku hampir saja melompat mendengar teriakanmu,” omel Zein Zulkarnain. Pengawal tersebut termenung, ingatannya masih berputar pada sosok pria terikat dan disiksa untuk melambangkan jantung dan paru-paru sang pangeran, ia yakin pasti rasanya sangat sakit ketika racun tersebut mulai menyerang. “Pangeran, jangan menggunakan kekuatan pangeran lagi. Biar aku yang bertarung untuk pangeran, aku bersedia. Aku tidak ingin melihat pangeran kesakitan lagi.” Mahesa berlutut di hadapan sang pangeran, tubuhnya bergetar karena ketakutan, bayangan sosok sang pangeran disiksa tidak bisa hilang dari bayangannya. “Kamu ini kenapa? Aku adalah seorang kesatria, hal yang tidak mungkin dilakukan oleh seorang kesatria adalah membiarkan rakyat menderita. Aku tidak akan menggunakan kekuatanku kalau tidak dibutuhkan.” Pangeran Zein turun dari tempat tidurnya lalu membantu sang pengawal untuk bangkit. “Pangeran Zein, tapi aku tidak bisa melihatmu terikat dan tersiksa dengan rasa sakit di jantung serta paru-paru pangeran.” Mahesa masih mencoba untuk membujuk putra mahkota Bintang Tenggara tersebut. “Aku baik-baik saja, lagi pula…” Sang pangeran membalikkan tubuhnya, mendongakkan kepala menatap langit gelap,”apakah kau tahu? Setiap kali rasa sakit itu datang … aku seperti mau mati saat itu juga. Tapi … aku selalu ingat ucapan ayah.” Zein Zulkarnain kembali membalikkan tubuh dan menatap pengawal pribadinya tersebut. “Seorang pemimpin harus lebih mementingkan rakyatan keselamatan warga, aku melakukan itu. Sekalipun tubuhku akan hancur, tapi aku tetaplah pewaris tahta … aku adalah harapan rakyat Bintang tenggara.” Perlahan tangannya menyentuh dadanya, di mana dia sering merasakan kesakitan di saat mengeluarkan kekuatan miliknya,”sekalipun jantungku harus hancur, aku tidak keberatan. Karena aku terlahir untuk melindungi rakyatku.” Mahesa memangdang sang pangeran penuh haru, mendiang raja Illyasa memang tidak salah dalam memilih penerus, jiwa kepemimpinan sang pangeran sangt kuat dia lebih mencintai rakyat dibandingkan diri sendiri, seorang pemimpin sejati tanpa perduli dengan pengorbanan diri. “Pangeran, aku Mahesa Jenar, tunduk dan patuh pada anda. Selamanya akan menjadi pengawal anda.” Zein Zulkarnain tersenyum kecil, rasanya tak pantas untuk orang sehebat pengawal pribadinya tersebut harus mengatakan kalimat semacam itu, karena memang dirinya bukan siapa-siapa tanpa sang pengawal serta ayah angkatnya. “Mahesa, kau telah membantuku selama ini. Kau bahkan merawatku dan memberikanku pendidikan yang terbaik, menurutku … kau tidak perlu melakukan hal seperti itu. Aku berhutang banyak padamu.” Pengawal pribadi tersebut menundukkan kepala,”pangeran Zein, pangeran adalah seorang manusia berbudi luhur. Pangeran bahkan tidak pernah melupakan apapun yang ku lakukan terhadapmu, pangeran memiliki rasa balas budi.” Sang pangeran tersenyum,”kau tidak perlu mengatakan hal seperti itu, ayah. Uhuk…uhuk…” Putra mahkota Bintang tenggara tersebut kembali terbatuk hebat, satu tangan menyantuh d**a dan tangan yang bebas menutupi mulutnya. “Pangeran Zain!” Pengawal itu kembali panik melihat junjungannya terbatuh hebat, bayangan dalan ruang hampa tersebut kembali menghantuinya, tanpa sadar ia memeluk tubuh ringkih sosok pangeran tersebut seperti seorang ayah memeluk putranya ketika sang putra sedang sakit. “Pangeran, jangan dipaksakan. Pangeran istarahat saja dulu, pangeran sedang tidak sehat.” “Tidak, aku harus memeriksa keadaan rakyat, aku harus memeriksa sendiri apakah mereka baik-baik saja selama aku tidak sadarkan diri atau tidak. Aku tidak bisa beristirahat.” Zein menolak saran dari Mahesa, tetapi ia memperhatikan pria tersebut. Rasanya sangat aneh kalau dipeluk seorang pria, tidak menyenangkan dan tidak nyaman. “Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan?”  “Mememul pangeran, dulu saat pangeran Zein masih kecil dan sakit, maka saya akan dengan senang hati memeberikan pelukan kasih sayang ini.”Pengawal tersebut menjelaskan alasan di balik perbuatannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD