“Gila ya?!” Pekik Nara kepada Kirana yang berdiri di depannya. Semua orang yang ada di ruang rapat terlihat begitu terbiasa melihat Nara yang hanya asisten Producer utama mereka, memarahi atasannya seperti ini.
“We need this sponsor.”
“I know, but .... Bakso Aci di film bergenre Office Life, It’s Inappropriate!” Nara menekan kata-kata itu sebelum kemudian menarik rambutnya panjangnya pertanda dia sedang benar-benar kesal. “aku masih bisa ngerti kalau itu film horror yang kita kerjakan, kita bisa membuat mereka pergi camping dengan membawa produk itu karena mudah dibuat.Ini Office life, hampir 90% lokasi syuting kita di kantoran. Bagaimana mungkin ada bakso aci dan itupun harus dimakan oleh Pemeran utama.”
“Kita bisa saja bikin Female Lead kelaperan terus makan bakso aci di kantor,” kata Kirana memberi ide yang langsung membuat mata Nara mendelik.
“terus bawa kompor portable begitu?”
“Kan bisa dimasak di microwave,” ujarnya lagi tak mau kalah. Senyum bingarnya terlihat bangga dengan ide-ide yang diberikan. Nara mencondongkan tubuhnya ke meja dengan tangan yang bertaut menatap ke arah Penulis skenario yang menggelengkan kepala. Dia tahu terlalu risky dan memaksa jika harus memasak bakso aci yang lumayan ribet di kantor, dia masih bisa meminta penulis Skenario memasukkan scene pantry jika itu adalah iklan kopi.
“CEO sama Karyawatinya makan Bakso Aci di kantor, terlebih di dalam kontrak juga dimasukan ceker Pedas. Oh Gods... Aku nggak bisa ngebayangin scene itu terlebih dengan dua Lead aktor Film ini.” cibir Nara membuat senyuman yang ditampilkan Kirana terhenti.
Nara menunduk lesu, bukan bermaksud untuk membangkang perintah atasannya. Dia dan Kirana memang sudah sering seperti ini, berbeda pendapat. Kirana adalah tipikal bos yang mau mendengarkan pendapat bawahannya, meskipun pada akhirnya dia dan yang lain memang harus mengikuti semua perintah yang akhirnya dia berikan.
“Akankah dua pemeran utama film ini mau untuk memakan produk sponsor. They ...”
Nara tak dapat melanjutkan ucapannya. Wajahnya tampak pias jika sudah membicarakan dua pemeran utama untuk Film CEO and Me yang sedang dalam proses syuting saat ini. Cerita Mainstream yang diangkat dari salah satu platform novel terkenal di Indonesia yang menceritakan tentang Cinderella masa kini yang membuat PH mereka menghabiskan budget besar untuk menciptakan kesan Crazy Rich Indonesia yang nyata.
“Arianna Rasya tak akan pernah mau makan itu bakso aci,” lirih Nara memijat keningnya yang kini terasa sakit. Arianna Rasya seorang artis yang sedang naik daun dengan image polos dan sok ingin dilindungi oleh seluruh netizen Indonesia itu nyatanya berbeda dengan yang semua orang bayangkan. Wajahnya terlihat seperti malaikat tanpa dosa, namun Arianna adalah salah satu artis yang terkena star syndrom dan bertindak menyebalkan dan semena-mena dengan semua kru film. Bagi Kru Film Arianna lebih bisa disebut sebagai iblis berwajah cantik.
Beberapa orang bahkan sengaja menjauhinya agar tidak terkena omelan menyebalkan dan tindakan kasar yang dia lakukan. Dan kini, Si Nyonya besar Marco Film ini malah membuat Artis Besar itu memakan makanan kekinian yang pedasnya bukan main.
Sedangkan Lawan mainnya, Ini baru pertama kalinya, PH mereka bekerja sama dengan Narendra Priya Pradipta. Aktor nomor satu di Indonesia yang menguasai perfilman Indonesia dengan akting dan pesonanya yang menakjubkan. Jika bisa mengikuti julukan yang diberikan oleh Netizen Korea kepada idolanya maka Narendra layak disebut National’s Future Husband.
Tampan, Mempesona, Mapan bahkan yang dia dengar bahwa dia adalah putra sulung dari Konglomerat di Indonesia yang entah mengapa memutuskan untuk menjadi seorang Aktor dan Public figure daripada menjadi pewaris dari kerajaan Bisnis yang dimiliki oleh orang tuanya.
Nara sendiri belum pernah bertemu langsung denganya, namun dari seliweran kabar yang sering dia dengar dari orang-orang. Narendra adalah tipikal pria yang lahir dari keluarga kaya dengan karisma yang membumbung tinggi. Image pria angkuh yang dimilikinya seperti yang sering dia lihat di Drama Konglomerat kini akan terpampang langsung di depannya.
“Aku yakin MLnya juga nggak bakalan terima produk ini. Ini nggak sesuai sama Image yang sudah dia jaga selama ini,” desah Nara menggelengkan kepalanya membuat Kirana akhirnya berdiri.
Dia menatap Nara dengan penuh permohonan, sebelum akhirnya raut wajahnya berubah begitu menyebalkan. “Ah, Pokoknya gue nggak mau tahu,” ujarnya kini mengeluarkan sikap semena-mena dan Bossy yang selalu dia perlihatkan.
“Na... ini hidup dan matinya PH lo, produk itu harus masuk PPL dan lakuin dengan cara kita. Buat sehalus mungkin bukan kayak bikin iklan di TV. Aku nggak mau ada kata-kata persuasif yang terdengar jelas kalau kita lagi ngiklanin produk.”
Nara terdiam, saat Kirana menepuk bahunya beberapa kali, memberi kode bahwa produk sponsor harus berada di film mereka bagaimana pun caranya. Dan kini dia adalah orang yang bertanggung jawab atas hal itu. “I know you can do it,” ujarnya dengan senyum tiga jari.
“Lanjutkan rapatnya. Aku yakin kalian bisa melakukannya,” Kirana mengucapkan hal itu dengan mudah dan kemudian berjalan meninggalkan semua orang di ruang rapat.
Beberapa orang yang masih berada di ruang rapat hanya memandang tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, tatapan mereka akhirnya menatap penuh permohonan ke arah Nara yang terus menunduk sembari menarik rambut panjangnya.
Semua orang di ruang rapat menatapnya. Dia yang biasanya lebih bisa berkepala dingin daripada Kirana terlihat kalut membuat semua orang menggigit bibir mereka. Jika Nara saja tak dapat menyelesaikan masalah ini bagaimana mereka. Suasana di ruang rapat berubah menjadi hening dengan suasana yang mencekam, hanya detak jam yang bergerak seirama dengan debaran jantung mereka yang menggila. Jika seorang Naraya Aruna yang biasanya selalu tenang, kini terlihat panik apalagi mereka.
Jika itu adalah iklan untuk barang-barang branded atau setidaknya luxury brand mereka tak akan sepanik dan sebingung ini. Image makanan merakyat yang dimiliki oleh bakso Aci membuatnya susah menyatu dengan film yang sedang mereka tangani.
Mereka tahu, bahwa iklan ini sangat mereka perlukan. Jika mereka tak berhasil dengan iklan ini, mereka semua tak yakin bisa menutupi cost yang mereka habiskan untuk film ini. “Na..” Penulis skenario itu belum sempat melanjutkan ucapannya, namun Nara sudah terlebih dahulu mengangkat kepalanya dengan cepat, semua orang terlonjak melihat ke arahnya. Wajahnya yang awalnya berkerut kini mengeluarkan seringai kecil, pertanda bahwa dia mendapatkan sedikit ide yang mungkin bisa membuat mereka lolos dari masalah.
“Kita bisa buat scene CEO itu pergi ke rumah Riana kan?” tanya Nara ke arah Penulis Skenario yang terdiam. Bola mata Mira, penulis skenario itu ke atas memikirkan kata-kata Nara sebelum kemudian tersenyum cerah dan mengangguk cepat.
“Ah.... kita bisa membuat CEO itu mampir ke rumah Riana saat gadis itu sedang memakan bakso aci,” jawabnya cepat. Nara menarik napasnya dalam sebelum kemudian menganggukan kepala.
“Kita akan pakai Scene itu, setidaknya itu tidak terlalu memaksakan PPL kita masuk,” kata Nara pada akhirnya, dia merapikan semua bahan rapatnya dan berdiri, “Aku akan berusaha membujuk Riana kalian siapkan semua hal yang dibutuhkan. Rapat selesai,” ujar Nara sebelum kemudian kembali ke mejanya.
****
“Are you Insane?!”
Nara mengernyitkan keningnya saat menunduk, dia sudah mempersiapkan diri untuk mendapat hardikan itu dari orang di depannya. Sama seperti dia yang memekik ke arah atasannya perihal ini, dan dia akhirnya mendapat karma karena telah memekik keras ke atasannya.
Gadis cantik itu sedang duduk di kursinya dengan angkuh, kedua tangannya bersilang dan menatapnya dengan tatapan yang ingin membunuh. Dia tak akan bohong dengan mengatakan bahwa wanita di depannya ini jelek. Arianna Raisa adalah salah satu artis yang terkenal dengan wajah cantik dan akting yang mumpuni, namun tentu saja semua itu berbeda 180 derajat dengan sikapnya yang begitu menyebalkan, bossy dan angkuh.
Arianna adalah tipikal serigala berbulu domba. Tubuhnya mungil dengan wajah yang baby face membuatnya terlihat seperti gadis yang harus dilindungi, walau sebenarnya yang terjadi adalah semua orang seharusnya melindungi orang-orang yang berurusan dengannya.
Dan sekarang, Nara mencoba bersikap tenang untuk menghadapi tabiat pemeran utama wanita di filmya ini yang mempermalukannya di depan seluruh kru film dengan teriakan yang menggelegar. Semua orang menatap mereka dengan takut-takut.
Arianna bukan satu atau dua kali membuat keributan di lokasi syuting. Beberapa filmnya bahkan ada yang ditunda karena sikap semena-menanya di lokasi syuting.
Nara melirikkan mata ke kanan dan ke kiri, sebelum kemudian menunduk dan coba mengatur emosinya. Dia sudah sering menghadapi artis-artis yang bersikap menyebalkan seperti gadis yang berusia dua atau tiga tahun di bawahnya ini. Artis-artis yang tak mengerti bagaimana kerja keras orang-orang di balik layar dan berpikir bahwa hanya karena merekalah sebuah film akan berhasil di pasaran.
“kamu nanti tinggal memasaknya dan berpura memakan salah satu baksonya dengan nikmat,” ujar Nara berusaha tenang dan berbicara dengan nada yang sopan. Dia terus menundukkan kepalanya, berusaha untuk tetap menghormati artis di depannya. Salah satu cara agar artis-artis yang sok besar mau dibujuk adalah dengan tetap hormat meskipun sikap mereka begitu keterlaluan dan itu yang dilakukan oleh Nara sekarang. Tak peduli bahwa Arianna Raisa di depannya sedang duduk dengan angkuh dan menatapnya seperti sampah yang harus segera dia buang. Dia tetap menahan egonya untuk tidak ikut campur.
“KAMU GILA MEMAKSAKU UNTUK MAKAN BAKSO PEDAS SIALAN ITU?!” pekik Arianna berusaha memancing keributan. Gadis itu sontak berdiri membuat tubuh Nara mundur selangkah. “Kau mempermainkan aku?! Kau ingin aku gendut?! Kau tahu berapa banyak kalori yang ada dalam satu bakso itu. Ah....”
Arianna mengangkat kepalanya, pakaian sederhana yang dia kenakan untuk perannya berbeda 180 derajat dengan mimik paling menyebalkan yang dia perlihatkan. Dia berjalan mendekati Nara, “Aku tahu, Kau ingin membuatku mati kepedasan dengan memakan makanan menjijikkan itu?” tanyanya menekan jarinya ke arah Nara.
Jarinya yang menusuk sedikit di bawah pundak Nara membuatnya mengangkat kepala, rasa nyeri yang dia rasakan membuatnya akhirnya menatap mata Arianna dan hal itu membuat wajah artis itu semakin memerah. “Wah, Orang rendahan seperti kamu berani menatap mata aku, kenapa nantang?” ujarnya lagi semakin kurang ajar, terus menantang Nara untuk membuat keributan.
Nara menarik napas dalam, memberi kode kepada beberapa asisten koordinator yang mulai emosi dengan perlakuan Arianna untuk tidak ikut campur. “Seperti yang saya katakan tadi, kamu bisa berpura memakannya, mengunyahnya dengan senikmat mungkin dan memuntahkannya setelah sutradara berteriak ‘cut’” kata Nara dengan sopan.
“YA! MENGUNYAHNYA! GILA! Melihat makanan itu saja membuatku mau muntah dan kamu memintaku untuk memakannya.”
“Tapi itu sudah ada dalam kontrak kerja kamu..”
“YAK!” pekik Arianna semakin menggelegar. Wajahnya memerah, tatapannya memburu seolah ingin merengut rambut Nara dengan cepat dan menariknya keras. Semua orang yang ada di lokasi syuting terlihat awas, menyadari gadis itu akan berubah mengerikan jika Nara tidak pergi dari hadapannya. Dan sepertinya, Nara terus berusaha untuk mempertahankan keinginannya.
“KAMU TULI?!” Teriaknya semakin menggila, berusaha mengintimidasi Nara, namun Nara yang semakin berani membalas tatapannya membuatnya semakin tak terkendali. Tubuhnya semakin mendekat dan tangannya bergerak ke wajahnya.
Nara sendiri menutup mata, menerima semua konsekuensi yang akan dia hadapi asalkan pemeran utamanya mau memakan iklan mereka. Dalam hati, dia sudah mulai menghitung mundur sembari berharap tubuhnya akan baik-baik saja.
“Biar aku yang melakukannya?”
Suara bariton seorang pria yang memecah kesunyian yang sedari terjadi. Hiruk pikuk orang berbisik mulai kembali bergema bersamaan dengan suara sepatu pentofel yang mulai berjalan menghampirinya. Mata Nara perlahan membuka. Tatapannya bergerak dari atas melihat sepatu pria super mahal yang perlahan bergerak mendekatinya, berdiri di depannya dengan menjadi penengah antara dia dan Arianna.
Napas Nara tercekat saat melihat pria tampan dengan gaya bak CEO berada tepat di depannya menatapnya dengan sorot mata yang membuatnya lupa cara bernapas. Celana kain berwarna Navy yang terlihat mengkilat seolah begitu cocok berpadu dengan kemeja putih dan juga vest dengan warna yang sama. d**a bidang yang dia miliki membuat semua orang terpana bahkan tanpa melihat wajah pria itu.
Di sana, dengan sorotan mata tak percaya. Nara melihat seorang pria tampan dengan sorot mata yang berhasil membuat semua wanita klepek-klepek yang terlihat semakin memesona dengan alis tebal yang terlihat pas dengan wjaah tampannya, hidungnya mancung, serta rahang yang tegas dan kokoh seolah menampilkan aura seorang CEO yang benar-benar dibutuhkan oleh film ini.
“Aku saja,” suara bariton itu kembali terdengar.
“Eh, apa?” tanya Nara berhasil menghembuskan napasnya dan menggelengkan kepala cepat meminta otaknya untuk kembali fokus. Pria itu terlihat tersenyum tipis namun sepertinya mampu membelah lautan seperti tongkat yang dihempaskan oleh nabi Musa.
Dia berdecak geli, “Jika pemeran utama wanita tidak mau memakan produk sponsor itu, Aku bisa melakukannya. Kamu tidak keberatan kan?” tanya pria itu lagi membuat Nara terdiam sejenak. DI dalam hati, dia berusaha untuk mengendalikan diri dan kembali bersikap tenang.
Tangannya merapatkan map yang dia bawa, seolah dengan mendekapnya menutupi d**a. Pria itu tidak dapat mendengar debaran jantungnya yang menggila sekarang. “Ah tentu saja,” ujar Nara dengan nada yang bergetar. Dia berpura batuk dan berdeham untuk menghilangkan kegugupan yang dia alami karena untuk pertama kalinya sejak dia bekerja di industri ini, dia terpesona dengan Aktor tampan yang bermain untuk filmnya.
“Good,” ujar pria itu menganggukkan kepala, dia membalikkan tubuh ke arah Arianna yang kini kembali mengubah imagenya menjadi gadis polos di depan pria itu dan menampilkan senyum paling manisnya. “Nggak ada masalah lagi kan?” tanya pria itu kini mengarah ke arah Arianna dengan sorot mata tajam membuat gadis itu dengan cepat menangguk seperti seekor kerbau yang dicucuk hidungnya.
“Jangan buat syuting berantakan hanya karena tindakan sepele seperti ini,” ujarnya dengan senyuman namun terdengar nada sarkas yang membuat senyuman di wajah Arianna membeku. Wajah gadis itu terlihat memerah karena malu, namun pria tampan di depannya itu tidak peduli
“Asisten Produser film ini?” tanya Pria itu ke arah Nara yang berhasil membuat debaran di jantungnya semakin menggila.
“Perkenalkan saya Narendra, Kirana banyak bercerita tentang kamu,” ujarnya mengulurkan tangan dan menatap Nara dengan lembut yang hampir saja berhasil membuat pertahanan Nara porak poranda. Dia tak menyangka bahwa Narendra Priya Pradipta akan menolongnya di situasi yang tidak mengenakkan seperti tadi