Nara tersentak, tubuhnya terkesiap saat merasakan tubuhnya melayang. Otaknya freezing selama sepersekian detik, sebelum kemudian ia merasakan sesuatu menyentuh bibirnya. Mata Nara membealak, sementara tubuh kekar Narendra menghimpitnya. “Mas...” “Ssttt ...” katanya pelan, wajah Narendra seperti menahan sesuatu yang ingin melesak. Nara tak dapat kembali bersuara saat bibir Narendra terlebih dahulu menekan, Nara masih terlalu syok dengan apa yang terjadi hingga hanya bisa terpaku. Tangan Narendra bergerak pelan ke arah pinggangnya. Ini bukan lagi jenis ciuman mereka yang canggung dan malu-malu. Ia tak tahu dengan apa yang ia rasakan sekarang. Perlahan tangan Nara bergerak mengalung di leher Narendra, sedangkan tangan pria itu semakin merapatkan pelukan pada pinggangnya. Nara merasakan

