bc

Istri Tak Diakui, Ternyata Ratu Dunia Elite

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
billionaire
dark
contract marriage
family
fated
dominant
kickass heroine
heir/heiress
drama
serious
scary
loser
city
musclebear
like
intro-logo
Blurb

“Istri itu tidak pernah ada.”

Vivian adalah istri sah, tapi tak pernah diakui. Dihina, disembunyikan, dan dikhianati, ia memilih pergi tanpa jejak. Tak ada yang peduli hingga seorang wanita misterius muncul dan mengguncang dunia elite.

Cantik, dingin, dan berkuasa.

Saat kebenaran terungkap, semuanya terlambat. Karena wanita yang dulu mereka injak kini menjadi sosok yang membuat mereka berlutut.

chap-preview
Free preview
01 - Istri Tidak Pernah Ada
“Apa benar dia istri Tuan Valeno?” Suara itu terdengar jelas, cukup keras untuk didengar siapa pun di ruangan megah itu. Vivian Kirana menahan langkahnya. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena gugup menghadiri pesta elite seperti ini, tapi karena ia tahu pertanyaan itu tidak benar-benar membutuhkan jawaban. Semua orang di ruangan ini sudah punya kesimpulan masing-masing dan semuanya sama. Ia tidak diakui. Vivian berdiri di dekat tangga marmer, gaun sederhana berwarna hitam membalut tubuhnya. Tidak mencolok, tidak istimewa, bahkan terlihat terlalu biasa dibandingkan para wanita lain yang berkilau dengan perhiasan mahal. Padahal, seharusnya ia adalah nyonya rumah. Namun kenyataan berkata lain. “Jangan bercanda,” sahut seorang wanita dengan tawa kecil yang menusuk. “Kalau dia istri Tuan Valeno, kenapa tidak pernah muncul di publik? Bahkan di acara penting seperti ini, dia datang sendirian.” Tawa kecil kembali terdengar. Vivian menunduk sebentar, mencoba mengatur napasnya. Sudah biasa, ia sudah terbiasa dengan bisikan seperti ini. Sudah terlalu sering. Tapi entah kenapa, malam ini terasa lebih berat. Mungkin karena ini pertama kalinya ia benar-benar keluar sebagai “istri”, meskipun tetap tanpa pengakuan. Mungkin karena malam ini ia masih berharap sesuatu akan berbeda. Harapan yang bodoh. Langkah kaki mendekat. Sepatu hak tinggi berbunyi tegas di lantai marmer. Vivian tahu siapa itu bahkan sebelum ia mengangkat wajahnya. “Vivian, kan?” Senyum wanita itu manis, terlalu manis untuk terasa tulus. Clara Mahendra. Wanita yang selama ini dikenal publik sebagai pasangan Valeno. Wanita yang selalu berada di sisi pria itu—di depan kamera, di setiap acara, di setiap berita. Bukan dirinya. Vivian mengangguk pelan. “Ya.” Clara menatapnya dari atas ke bawah, pandangan yang halus namun jelas mengandung penilaian. “Oh, kamu datang juga ternyata,” ucapnya ringan. “Aku kira kamu tidak akan berani muncul di acara seperti ini.” Vivian tidak langsung menjawab. Dalam diam, ia menggenggam ujung gaunnya. Ia harus tetap tenang. “Aku diundang,” jawabnya akhirnya, suara pelan tapi jelas. Clara tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. “Diundang?” Ia terkekeh pelan. “Sebagai apa?” Pertanyaan itu sederhana, namun cukup untuk membuat beberapa orang di sekitar mereka berhenti bicara dan memperhatikan. Vivian merasakan tatapan-tatapan itu. Menunggu. Menilai. Menghakimi. “Aku…” ia membuka suara, tapi kalimatnya terasa tertahan di tenggorokan. Sebagai apa? Istri? Kata itu terasa begitu asing untuk diucapkan di tempat ini. Seolah tidak pantas. Seolah bukan miliknya. Clara mendekat sedikit, suaranya diturunkan, tapi tetap cukup keras untuk didengar orang di sekitar. “Jangan memaksakan diri, Vivian,” katanya lembut. “Tidak semua tempat cocok untuk semua orang.” Kata-kata itu seperti pisau yang dibungkus sutra. Halus, tapi melukai. Vivian mengangkat wajahnya perlahan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia menatap langsung ke mata Clara. “Aku tahu tempatku,” katanya pelan. Clara tersenyum, tapi matanya tidak ikut tersenyum. “Kalau begitu, kamu juga pasti tahu… siapa yang seharusnya berdiri di samping Valeno malam ini.” Sunyi. Beberapa detik yang terasa panjang. Vivian tidak menjawab karena ia tahu jawabannya dan itu bukan dirinya. Dari kejauhan, sosok pria itu akhirnya muncul. Valeno Mahendra. Setelan jas hitam yang sempurna, langkah tenang, aura dingin yang membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Semua mata tertuju padanya. Termasuk Vivian. Dadanya terasa sesak tanpa alasan yang jelas atau mungkin, alasannya terlalu jelas untuk diakui. Valeno berjalan mendekat, tapi bukan ke arahnya. Langkahnya berhenti tepat di samping Clara. Seolah itu memang tempat yang sudah ditentukan. Seolah itu selalu begitu. Clara tersenyum lebar, menyambutnya dengan alami, seolah mereka memang pasangan yang sah dan Valeno tidak menolak. Tidak menjauh. Tidak melakukan apa pun. Vivian merasakan sesuatu di dalam dadanya runtuh perlahan. Bodoh, ia benar-benar bodoh karena masih berharap. “Maaf, aku terlambat,” ucap Valeno singkat. Clara menggeleng manja. “Aku tidak keberatan. Aku tahu kamu sibuk.” Nada suara itu. Lembut. Akrab. Nyaman. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan dari pria itu. Vivian berdiri beberapa langkah dari mereka. Cukup dekat untuk melihat. Cukup dekat untuk mendengar. Tapi terlalu jauh untuk dianggap ada. Valeno sempat melirik ke arahnya hanya sekilas. Tatapan itu datar, tanpa emosi seolah ia hanya melihat orang asing bukan istrinya sendiri. Vivian menelan ludahnya. Inner voice-nya berbisik pelan, getir. Lihat? Ini kenyataannya. Tidak peduli seberapa lama kamu bertahan… kamu tetap tidak akan pernah jadi apa-apa di sini. “Valeno,” suara Clara kembali terdengar. “Beberapa orang tadi bertanya tentang… statusmu.” Pria itu mengangkat alis sedikit. “Lalu?” Clara melirik sekilas ke arah Vivian, senyum tipis tersungging. “Aku hanya menjawab seperti biasa.” Valeno tidak langsung merespons. Beberapa detik hening. Kemudian ia berkata dengan tenang, tanpa ragu “Tidak perlu menjelaskan sesuatu yang tidak penting.” Kalimat itu jatuh begitu saja. Dingin tapi menghancurkan. Vivian membeku di tempatnya. Tangannya mengepal tanpa sadar. Tidak penting. Itu yang ia dengar. Itu yang ia rasakan. Ia tidak penting. Pernikahan mereka tidak penting. Keberadaannya tidak penting. Semua yang ia pertahankan selama ini tidak pernah berarti. Suara tawa kecil mulai terdengar lagi di sekitar. Bisikan-bisikan itu kembali muncul. “Sudah kubilang…” “Dia memang bukan siapa-siapa…” “Kasihan sekali…” Vivian menutup matanya sejenak. Dadanya terasa sesak namun anehnya, tidak ada air mata yang jatuh. Bukan karena tidak ingin menangis tapi karena ia sudah terlalu lelah untuk menangis. Acara terus berjalan. Musik mengalun pelan, percakapan memenuhi ruangan, gelas-gelas berdenting. Semua terlihat normal, kecuali bagi Vivian. Ia berdiri di sudut ruangan, memegang segelas minuman yang tidak pernah ia sentuh. Matanya sesekali tertuju ke arah Valeno. Pria itu tampak sempurna.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
5.5K
bc

Kali kedua

read
222.0K
bc

TERNODA

read
201.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
194.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook