Bab 2

1224 Words
Jangan anggap remeh akan sesuatu, karena itu bisa menipu. Seorang pria tengah menatap pemandangan dari atas gedung berlantai 20. Pemandangan keseharian yang membuatnya tidak pernah bosan, walau harus melihat pemandangan yang sama hampir setiap harinya. Pria bernama Devan Tora Sanjaya menoleh ketika pintu terbuka. Menampilkan seorang pria bertubuh tinggi dengan otot besar yang bernama Robert. “Ada apa, Robert?” “Sore ini ada pertemuan khusus dengan anaknya Pak Haris, Tuan.” Robert mengingatkan jadwal penting Dev. Dev tersenyum, menampakkan wajah tampan yang kian menggoda. Andai saja yang berdiri di sebelahnya saat ini adalah seorang perempuan, mungkin dia akan segera melompat dalam pelukan Dev. Namun, sayangnya sekarang dia bersama Robert. Pria yang sudah bersamanya sejak kecil, juga menjadi orang kepercayaannya. “Apa dia serela itu bertemu denganku?” Robert tidak terkejut dengan pertanyaan Dev. Bagi semua orang Dev adalah ketakutan yang harus dihindari. Dalam mimpi sekalipun, tidak ada yang sudi bertemu dengannya. Devan Tora Sanjaya, pria muda yang memiliki kedudukan tinggi. Memiliki banyak sisi untuk dikagumi, juga banyak sisi untuk ditakuti. Dev menjadi idola para gadis muda, bahkan walau hanya sekedar menjadi pembantunya saja mereka rela. Itu karena ketampanan wajah yang dimilikinya sangat mendamba. Namun, di sisi lain, Dev juga orang yang sangat ditakuti. Itu karena cara kerja yang meresahkan, juga kekejaman yang ia lakukan. “Bukankah mereka sama saja seperti yang lainnya? Manusia yang hanya tertarik pada uang.” Dev menambahkan dengan jijik. Betapa ia benci pada orang-orang yang mengangungkan uang. Tidak terkecuali dengan keluarga ini. Beberapa waktu yang lalu, Dev sudah memutuskan untuk menerima kerja sama dengan sebuah perusahaan yang hampir saja bangkrut. Tentu saja dengan persyaratan yang tidak mudah. Dalam syarat yang tidak tertulis, Pak Haris sudah memberi kebebasan pada Dev untuk meminta apa saja padanya. Dengan kata lain, Pak Haris siap mengabdi dan mengikuti segala keinginan Dev. “Apa anda ingin membatalkannya, Tuan?” tanya Robert sebelum pergi. “Tidak perlu. Kau yang akan menggantikan aku menemui dia.” Dev merasa malas bertemu dengan orang-orang yang menurutnya tidak penting. “Baik, Tuan.” Robert yang sama sekali tidak keberatan dengan titah Dev, pun langsung menyetujui tanpa syarat. Baginya sudah biasa menjadi pengganti Dev, dia sama saja seperti tangan kanan Dev. Lalu Dev tidak perlu bertemu dengan orang-orang tidak penting seperti mereka. “Saya permisi.” Robert meninggalkan ruangan Dev. ** Gauri sudah bersiap. Mengenakan pakaian serapi mungkin. Tidak perlu mewah dan mencolok, karena ia sedang tidak mengikuti audisi apapun. Walaupun memakai pakaian resmi, Gauri masih memadukan busana dengan modis. Dia harus terkesan lebih baik walau dalam pakaian seperti ini. Gauri mengemudi mobilnya dengan kecepatan sedang, menurunkan jendela untuk menikmati pemandangan sore di jalanan kota. Menempuh waktu hingga 30 menit, dia sudah sampai di perusahaan DTS Group. Sebuah bangunan berlantai 20, yang Gauri hampir tidak pernah bermimpi untuk menginjakkan kakinya di tempat ini. Tidak ingin membuang banyak waktu dengan mengagumi tempat itu, Gauri segera melangkah masuk. Dia langsung disapa oleh seorang wanita di meja resepsionis. “Selamat sore, Nona, ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita itu ramah. “Selamat sore, Saya Gauri Hasna. Saya sudah membuat janji dengan, Mr. Dev.” Gauri memperkenalkan diri. “Baiklah. Seseorang akan membawa anda ke ruang pertemuan. Silakan menunggu di sana.” Gadis itu menunjuk sofa khusus untuk tamu. “Baik. Terimakasih.” Gauri duduk di tempat yang telah tersedia. Seraya menunggu, dia mengedarkan pandangan ke seluruh area yang bisa dijangkau oleh matanya. Tidak bisa dipungkiri, Gauri sangat mengagumi gaya modern yang terdapat dalam bangunan megah ini. Dan yang membuatnya sangat terkesan, adalah air mancur yang berada di tengah-tengah aula. Dia hampir tidak percaya, jika DTS Group menghabiskan jutaan biaya untuk membangun tugu dengan logo perusahaannya. Tidak lama berselang, seorang gadis dengan seragam rapi datang. Seregam yang dipakai seluruh karyawati perusahaan tersebut. “Selamat sore, Nona Gauri.” Gauri kembali tersadar dari ketertarikan matanya. “Selamat sore.” “Mari saya antar ke ruang pertemuan.” Gauri segera bangun, mengikuti langkah wanita yang mendahuluinya. Dia dibawa menuju lift, menekan langsung tombol dengan angka 20. Gauri merasa gugup, dia tidak menyangka akan secara langsung bisa menaiki lantai tertinggi di perusahaan ini. Setelah tiba, dia diarahkan ke sebuah ruangan berukuran luas, ruangan khusus penerimaan tamu yang bisa langsung bertemu dengan Dev. “Anda bisa menunggu di sini, Nona. Sebentar lagi Mr. Dev akan tiba.” “Baik, terimakasih.” Gauri menduduki sofa setelah wanita itu menghilang dalam lift yang membawanya kembali turun. Sekali lagi, Gauri dibuat melongo dengan gaya interior yang mewah. Hampir mirip dengan istana. Melebihi kemewahan yang ia jumpai di bawah sana. Belum juga rasa kagumnya hilang, Gauri melihat lambang DTS yang tertempel di dinding dengan bentuk emas permata. Namun, dia tidak menjumpai satu gambar pun yang menunjukkan sosok sebenarnya pemilik nama Devan Tora Sanjaya. Tiba-tiba fokus Gauri beralih pada derap langkah yang semakin mendekat. Gauri buru-buru merapikan diri, demi menyambut pria yang diyakini adalah pemilik perusahaan ini. Begitu sosok langkah itu tiba, Gauri mendapati tatapan heran yang mendalam. Robert terkejut ketika yang dijumpainya adalah seorang gadis muda yang cantik. “Anda ….” “Saya utusan, Pak Haris Arimaja.” Gauri dengan cepat menjelaskan siapa dirinya sebelum Robert selesai berkata. Dia juga berdiri dan membungkuk dengan hormat. “Anda anak, Pak Haris?” Robert semakin tidak percaya. Robert sempat berpikir bahwa anak Pak Haris adalah seorang pria, bukannya wanita anggun dengan penampilan modis yang rapi seperti ini. “Iya benar," sahut Gauri menampakkan jajaran gigi putih yang rapi. "Anda, Mr. Dev? Saya datang untuk tanda tangan kontrak kerjasama.” Gauri yang tidak ingin membuang banyak waktu, langsung membicarakan ke inti permasalahan dan tujuannya datang kemari. Robert menggeleng. “Bukan, saya adalah, Robert. Orang kepercayaan, Tuan Dev.” “Oh, begitu.” Raut wajah Gauri langsung berubah kecewa. Dia telah memberi banyak energi untuk bertemu dengan seseorng yang ternyata bukan seseorang yang dimaksud. Orang kaya memang punya kuasa bukan? Bahkan bisa meminta bawahan untuk mewakili. Namun begitu, Gauri tetap tidak ingin mempermasalahkan kedatangan Robert. Bertemu dengan Dev atau tidak, itu sama saja. Yang terpenting dia bisa dengan cepat menyelesaikan kerja sama dan bisa segera pergi dari sini. “Silakan duduk. Kita bisa langsung memulainya.” Gauri tersentak ketika Robert kembali berbicara. Baru menyadari jika saat ini posisinya masih sedang berdiri. Pantas saja dia dipersilakan untuk duduk kembali. Robert mengeluarkan beberapa lembar dalam map berwarna biru, sekaligus memberi pena pada Gauri. “Di mana saya harus tanda tangan?” tanya Gauri penuh keseriusan. “Kamu sepertinya sangat buru-buru sekali, Nona. apakah tidak ingin membaca terlebih dahulu?” Robert merasa bahwa saat ini Gauri sama sekali tidak menyadari tindakannya. Atau bisa saja Gauri melakukannya karena terpaksa. Satu hal yang Robert tidak paham, mengapa Gauri setuju dengan kerja sama ini. Saat orang lain ingin menghindar, dia malah datang menawarkan diri pada mangsa. Bahkan Pak Haris saja begitu licik mengganti posisinya pada Gauri. “Untuk apa saya membaca ini. Ayah saya pasti lebih memahami,” ujar Gauri tersenyum. Jawaban Gauri benar-benar membuat Robert kagum dan kesal. Kagum karena Gauri begitu patuh pada ayahnya, kesal karena dia harus menginjakkan kakinya ke kandang singa. Dia yakin, pasti Pak Haris sengaja membawa anak gadisnya kemari. “Baiklah. Kamu bisa tanda tangan di sini.” Robert menunjukkan garis tersebut, lengkap dengan tanggal. “Ini.” Gauri menyerahkan kembali lembaran tersebut setelah selesai melakukan tugasnya dengan baik. "Terima kasih." Robert meriksa sekali lagi. Membaca nama yang tertulis tepatnya. Gauri Hasna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD