Satu jam kemudian, pemilik toko buku datang dan tersenyum ke Stefan.
Stefan terkejut melihat pemilik toko buku yang dikenalnya. "Anda..."
"Hallo, aku Kurk," sapa pemilik sambil duduk di kursi toko buku yang sempit. "Maaf, penuh sesak, kalian pasti tidak nyaman berada di sini."
Sonia yang berdiri di samping Stefan, menggeleng. "Toko buku ini memang terlihat sesak tapi tidak ada debu sedikit pun, bahkan rak buku yang jarang diminati pembeli, terlihat bersih tanpa debu."
Kurk mengangguk pelan. "Saya suka pelanggan datang ke sini, meski tidak beli buku. Kebersihan adalah kunci utama."
Sonia melirik ke sang ayah yang terlihat sedikit menurunkan emosinya.
Stefan bertanya pada Kurk. "Buku resep yang dibuat istriku.. siapa yang menjualnya?"
Kurk bertanya pada Andre. "Buku catatannya sudah kamu ambil?"
Andre yang sedang memeluk sebuah buku besar, menyerahkannya ke Stefan. "Ya, ini catatan buku masuk."
Stefan mengambil dan cek daftarnya, lalu mengerutkan kening begitu melihat sebuah nama muncul di daftar itu. "Sonia, ada nama kau di sini."
Sonia tertawa muram. "Ternyata memang kepala pelayan selicik itu."
"Kepala pelayan?"
"Dad, apa ada tanda tangan di sana?"
Stefan mengalihkan tatapan ke daftar tanda tangan di samping nama penjual. "Ini, tanda tangan kau?" tanyanya sambil menunjuk gambar tanda tangan.
Sonia menggeleng yakin. "Dad, apa selama ini aku punya tanda tangan?"
Stefan baru menyadari kalau ketiga anaknya tidak pernah punya tanda tangan.
Kurk mengangguk. "Rata-rata anak bangsawan di bawah usia, tidak boleh memiliki tanda tangan, menghindari penyalah gunaan. Jika ada dokumen, mereka cukup memberikan cap jari."
Stefan mengerutkan kening. "Di bawah tanda tangan ada nama kau."
"Itu bukan berarti aku."
"Daddy tahu." Stefan mendecak kesal. "Ada yang memanfaatkan nama putriku."
Kurk membelai janggut sambil mengangguk kecil. "Itu sebabnya aku menyuruh penjual menulis tangan, Anda bisa lihat sendiri... nama di baris penjual dan tanda tangan, berbeda."
Stefan menutup buku dan bertanya pada Kurk. "Bisakah saya pinjam buku ini? Setelah selesai, akan saya kembalikan."
Andre menolak keras. "Pakai saja kamera untuk memotret yang Anda butuhkan, jangan bawa dokumen kami."
Stefan tidak tersinggung dan menuruti permintaan Andre. "Maaf, aku lupa mengenai itu."
Andre mendengus tidak suka.
Sonia bela ayahnya. "Ayahku hanya ingin mencari tahu pelakunya, tidak ada niat lain, jangan bersikap kasar."
Andre menatap Sonia dengan tatapan kesal. "Datang ke sini hanya ingin mencari buku resep? tidak mencari onar?"
Sonia melipat kedua tangan di depan d**a. "Wei, beritahu aku. Bukankah sekarang jam sekolah, kenapa kau ada di sini? Bolos?"
Andre menyadari kesalahannya dan membuang wajah. "Bukan urusanmu."
Kurk terbatuk, mengalihkan perhatian tiga orang yang punya urusan masing-masing. Setelah melihat ketiga orang itu memperhatikannya, dia tersenyum dan bertanya pada Andre. "Kenapa kau tidak beritahu mereka?"
Andre memutar bola mata. "Mereka hanya orang luar, tidak ada urusannya."
"Orang luar? Sepertinya kalian sangat akrab."
Andre menunjuk Sonia dengan dagu. "Dia selalu membully teman baikku, apa yang bisa aku lakukan? Dia jauh lebih berkuasa daripadaku."
Sonia tidak terima dituduh seperti itu. "Bukannya status kita sama? Kenapa kau malah bicara seperti itu?"
"Sejak kapan status kita sama?" tanya Andre dengan nada kesal. "Bukannya kau lebih tinggi dariku? Brenda dan Thomas saja tidak berani menyentuhmu."
"Hah! Mereka tidak berani menyentuhku karena ada Silvia dan ibunya, ibu mereka berdua teman dekat."
Stefan bertanya pada Sonia. "Apa yang terjadi di sekolah? sepertinya kalian bermusuhan."
Sonia menghela napas panjang. "Tidak ada."
Andre mendengus kesal. "Anggap saja tidak ada."
Stefan ingin bertanya lebih jauh, namun tidak bisa ikut campur masalah anak-anak, tapi ada satu yang membuatnya penasaran. "Kenapa kau tidak di sekolah?"
Andre tidak menjawab.
"Ayahku tanya, kenapa kau tidak sekolah hari ini?" tanya Sonia dengan nada kesal.
Kurk menjawab pertanyaan Stefan. "Aku menemukan dia bengong di depan toko dan dia bilang sudah diusir dari rumah karena kelakuan saudara tirinya yang selalu bertindak jahat pada sahabat baiknya di sekolah, dia dikeluarkan karena dianggap onar."
Stefan mengerutkan kening. "Ayah dan kakakmu tahu hal ini?"
Andre memutar bola mata dengan kesal. "Ayahku sama sekali tidak bisa ditemui, dan kakak? Dia tidak bisa diganggu, hanya percaya pada ucapan Brenda dan ibunya."
Jika Sonia terdahulu, percaya dengan semua omong kosong Brenda, Silvia dan Thomas. Sekarang, dia tidak pernah percaya dengan kelakuan mereka, namun ada yang membuatnya aneh. Di masa lalu, Andre masih sekolah seperti biasa. Bagaimana caranya bisa sekolah dalam keadaan seperti itu?
Stefan hendak bicara, dihalangi Sonia dengan memeluk tangan sang ayah.
"Dad." Sonia menarik ayahnya hingga mendekat. "Sebaiknya kita tidak terlalu ikut campur."
Stefan tidak setuju dengan ucapan putrinya. "Dia harus sekolah."
Bibir Sonia menipis. "Dad, semuanya pasti baik-baik saja, lagipula... dia pasti tidak suka ada yang ikut campur."
"Benar, aku tidak suka. Aku bisa mengatasi semuanya sendiri." Andre bisa mendengar ucapan Sonia dan ayahnya.
"Daddy dengar kan." Sonia menaikkan kedua alis dengan senyum sedih, memohon dengan sangat pada ayahnya tanpa suara.
Stefan memang peduli pada Andre, tapi jauh lebih peduli pada perilaku Sonia yang berubah. "Baiklah."
"Terima kasih," ucap Sonia dengan nada riang.
Stefan menatap takjub Sonia, sudah lama tidak melihat putrinya yang bersikap manja.
Sonia balik badan lalu menunjuk Andre. "Kami diam dan tidak akan ikut campur, tapi... berikan buku resep itu."
Andre memutar bola mata dengan kesal. "Aku tidak tahu harganya."
Tatapan Sonia beralih ke Kurk. "Tuan."
Kurk terlihat sedih. "Untuk apa beli buku resep tua? sebagian besar hanya berisi coretan tidak penting, kau pun juga tidak tahu bahasanya."
"Itu buku resep ibu kandungku dan yang mencoretnya juga beliau, sekarang aku tidak tahu keberadaannya... aku hanya ingin belajar masak buatan mom."
Kurk menghela napas panjang, lalu bicara ke Andre yang berdiri tidak jauh darinya. "Kau dengar sendiri kan? Sepertinya memang harus kita kembalikan ke pemilik asli."
"Dia bukan pemilik asli," gerutu Andre dengan kesal.
"Tapi dia anak dari pemilik asli," sahut Kurk.
Sonia menaikkan kedua alis. "Kau juga menginginkan buku itu?"
Andre mendengus. "Buku-buku di sini memang sudah tua, tapi sangat berguna untuk pengetahuan, aku tidak bisa berikan pada orang yang hanya menaruhnya sebagai pajangan."
Sonia tertawa geli mendengarnya. "Jadi, kau mengira buku-buku itu nantinya akan berakhir sebagai pajangan?"
"Setiap buku punya informasi yang sangat penting, banyak manusia yang mengabaikannya karena ini benda mati dan terlihat tidak berguna."
"Bagaimana kalau begini saja.." Sonia punya ide yang tiba-tiba muncul. "Aku tetap bayar bukunya tapi tetap ditaruh di rak yang sama."
Andre menatap heran Sonia. "Kenapa?"
"Buku ini sangat berharga untukku dan Daddy, tapi kalau ditaruh di rumah.. tidak aman, karena kami tidak tahu pelakunya, memang paling aman di perpustakaan ini."
Kurk langsung menolak keras. "Tidak, aku tidak mau melakukan itu. Bawa saja buku-bukunya setelah dibayar, kita bukan penjaga buku, hanya penjual yang mencari keuntungan."