Seinna yang melihat suami dan anak tirinya terlihat dekat, menjadi khawatir. "Sonia, kau bisa terlambat ke sekolah. Tidak bisa bolos lagi."
Stefan mengerutkan kening begitu mendengar ucapan Seinna. "Kau sering bolos?"
Sonia tahu, tidak bisa berkilah. Dia hanya kembali ke usia 16 tahun, bukan sebelum ibu tiri dan anak-anaknya muncul. "Iya, aku malas ke sekolah."
"Sonia." Stefan siap berikan Omelan, namun Silvia maju dan bicara terlebih dahulu.
"Dad, jangan terlalu keras pada kakak."
Sonia memeluk erat tangan Stefan. "Dad."
Stefan mengalihkan tatapan dari Silvia lalu kembali ke Sonia, dia menghela napas panjang lalu menepuk lembut kepala Sonia. "Kau sudah makan?"
Soni menggeleng pelan.
"Ayo, Daddy masak nasi goreng untukmu."
Senyum Sonia melebar begitu mendengar ucapan Stefan, dia masih ingat ucapan ibunya ketika mereka makan malam.
"Masakan Indonesia pertama Daddy kalian, nasi goreng, rasanya enak sekali. Murah juga untuk bahannya."
Sienna menggigit bibir bawah dengan cemas. "Pelayan sudah menyiapkan makanan dan koki sudah memasak, kalian bisa makan..."
Silvia bicara pada Sonia. "Kak, ada konser indie bagus, tidak jauh dari rumah, kita bisa ke sana dan.."
Sarah mengangguk dan bantu Silvia merayu. "Hari ini ke sana yuk."
Sonia angkat salah satu alis lalu tersenyum sinis. "Kalian bangunkan aku tadi untuk bolos?"
Silvia terkejut. "Kakak, bukan seperti itu. Kita masih sekolah, kita berangkat nanti sepulang sekolah."
'I... ya, kita ke sana setelah sekolah."
Stefan tidak mau mendengar omong kosong lagi. "Ayo, Sonia."
"Dad, aku boleh..." Silvia maju dan menatap sedih Stefan. "Aku juga ingin makan nasi goreng."
Sonia menarik tangan Stefan, menjauh dari Silvia. "Dad, aku mau cerita."
"Oke."
Silvia menatap iri Stefan dan Sonia yang sudah jalan menjauh.
"Kak."
Seinna bertanya pada kepala pelayan. "Di mana mobil anak-anak? Mereka bisa terlambat."
Kepala pelayan menjadi khawatir. "Nona, tidak berangkat.. Jadi, nona-nona lain tidak bisa pakai mobilnya."
Silvia mengalihkan tatapan ke Seinna. "Mom."
Seinna memegang kepalanya yang sakit. "Pakai mobil Leo saja."
"Tapi, selama ini Tuan muda ke sekolah jalan kaki."
"Bukannya dia punya fasilitas?"
"Ditarik sejak bertengkar dengan Tuan Samuel," jawab kepala pelayan.
Sienna mendecak kesal. "Anak itu tidak berguna sama sekali."
"Kami sudah terlambat." Rengek Sarah sambil melihat jam tangan merek mewah.
Silvia semakin kesal. "Aku jalan sendiri saja."
"Aku pesankan..."
"Tidak perlu." Silvia jalan menjauh dari ibu dan kepala pelayan, keluar dari kastil dengan langkah kesal.
"Kakak, aku ikut."
Sementara itu, Sonia berdiri di samping ayahnya, melihat persiapkan barang untuk masak. "Ada yang bisa aku bantu?"
Stefan terkejut melihat putrinya berinisiatif membantu. "Kau... ada sesuatu yang kau inginkan?"
Kedua mata Sonia berkedip. "Tidak, aku hanya ingin bantu."
Stefan hendak mengatakan sesuatu, lalu terdiam. "Kau duduk saja di sana."
Sonia menggeleng. "Aku ingin bantu."
Stefan mengerutkan kening lalu periksa kening anaknya dengan punggung tangan. "Tidak panas."
Sonia menyingkirkan tangan Stefan. "Setelah makan, temani aku keluar. Daddy tidak lelah kan?"
"Jadi, kau memang butuh sesuatu? Kau bisa minta kepala pelayan dan..."
"Dad, aku tidak minta belanja, hanya saja ke suatu tempat bersama Daddy."
Stefan menghela napas panjang. "Daddy masak ini dulu, kita sarapan bersama lalu berangkat."
"Daddy tidak lelah?" tanya Sonia sambil melihat kedua tangan ayahnya sibuk mengolah bahan.
"Tidak, anak Daddy lapar."
Sonia terharu dengan jawaban Stefan, kenapa tidak dari dulu dia menurunkan ego untuk bisa berkomunikasi dengan ayah kandungnya. "Maaf."
"Hm?" Stefan menatap Sonia dengan tatapan heran. "Ada apa? Kau melakukan sesuatu di luar?"
Sonia menggeleng lalu berpikir sejenak dan mengangguk.
Stefan tertawa. "Mana yang benar?"
"Keduanya," jawab Sonia dengan nada muram.
"Oke, nanti kau cerita pas kita sarapan."
Sonia berpikir sejenak lalu menggeleng. "Tidak ada, Sonia hanya lapar," ucapnya dengan nada manja.
Stefan menaikkan salah satu alis, heran dengan perubahan sikap Sonia yang drastis, padahal sebelumnya dia terlihat menjauh dan menatap dirinya dengan tatapan benci.
Stefan tidak bisa menyalahkan sikap ketiga anaknya yang seperti itu, mereka bertiga adalah saksi kesalahan terbesar dalam hidupnya, penyesalan pun tidak akan bisa merubah masa lalu, yang terbaik memang menjalani hidup tanpa menoleh ke masa lalu.
Namun, entah kenapa ada yang mengganjal di hati Stefan, dan dirinya yang terlalu pengecut, tidak berani mengutarakannya.
***
Tiga jam kemudian, selesai sarapan dan bersiap, Sonia mengajak Stefan ke sebuah toko buku tua di London.
Kening Stefan berkerut begitu berdiri di depan toko, setelah turun dari mobil mewahnya yang dikendarai sopir.
"Kita di mana?"
Sonia memeluk lengan ayahnya. "Ayo."
"Kau ingin beli buku? Kenapa tidak bilang dari awal?"
Sonia tersenyum sedih, tidak menjawab, hanya menyeret ayahnya masuk ke dalam toko buku.
"Selamat datang."
Stefan terkejut begitu melihat seorang anak muda yang dikenalnya, mengapa. "Andre?"
"Oh, Paman."
"Kenapa di sini?"
"Hanya kerja sambilan."
Sonia tahu Andre kerja sambilan di toko buku, tapi tidak tahu ini tempatnya. Dia melepas tangan Stefan lalu pergi mencari buku yang diincarnya.
Andre mengikuti Sonia dari belakang, takut diacak-acak. "Mencari apa? Bisa aku bantu?" tanyanya dengan tatapan penasaran. "Di sini tidak ada majalah gosip."
Sonia balik badan lalu bertanya. "Ada buku resep masakan Indonesia atau campuran lainnya, dengan tulisan tangan campur kliping?"
Andre terkejut mendengar pertanyaan Sonia. "Untuk apa mencari itu?"
"Ada atau tidak? Tapi aku yakin sekali pasti ada di tempat ini."
Kening Andre berkerut tidak suka. "Ada atau tidak, buku itu tidak bisa dirusak dan..."
"Aku tidak berniat merusaknya." Sonia potong kalimat Andre dengan nada tidak sabar. "Ibuku dari Indonesia."
Andre tidak terkejut dengan ucapan lawan bicaranya.
"Aku hanya ingin menemukan buku resep milik ibuku."
Andre menghela napas panjang lalu balik badan, Sonia mengikuti dengan ragu. Tidak lama, anak laki-laki itu menemukan rak berisikan buku kliping yang dicarinya.
Kedua mata Sonia berbinar. "Ini dia."
"Kau yakin?" tanya Andre dengan nada tidak yakin. "Jangan mengakui."
"Buku ini ditulis Ibuku, dulu dia semangat memasak untuk kami. Sebenarnya, ibuku tidak pintar masak, hanya tahu masakan dasar saja, makanya belajar dari buku yang dibuatnya, ada juga yang diubah dengan tulisan tangan sehingga mudah mengolah bahan." Sonia menjelaskan dengan nada antusias, lalu menyadari ayahnya sudah ada di belakang Andre. "Dad."
Stefan menatap sedih Sonia. "Buku resep ibumu... kenapa ada di sini? Bukannya di dapur?"
Sonia tidak tahu bagaimana menjelaskannya, karena pasti memunculkan salah paham dan menganggap dirinyalah yang membuang buku-buku ini.
Andre menjelaskan pada Stefan. "Setiap orang yang menjual buku ke tempat ini, selalu ada catatannya, menghindari hal yang tidak diinginkan, mengingat kami menerima banyak buku lama."
Stefan menatap kecewa Andre. "Buku resep tulisan tangan juga masuk ke toko buku ini? Siapa yang mau beli?"
Andre menggeleng. "Buku ini sudah ada sebelum saya bekerja di sini, sekitar dua tahun lebih."
Stefan menaikkan kedua alis. "Aku ingin melihat catatan penjualnya."
"Aku ingin beli buku ini, berapa harganya?" tanya Sonia.
Andre mengalihkan tatapannya ke Sonia. "Aku tanya dulu ke pemilik, buku-buku ini tidak pernah ditulis harganya karena tahu tidak akan ada yang berminat membelinya."
Stefan tertawa masam. "Dia tahu tidak akan ada pembeli tapi dia membeli buku-buku resep istriku? Konyol sekali."
Andre menatap tidak suka Stefan. "Anda bisa bicara langsung dengan pemilik, tapi saya sarankan bertindak sopan pada Beliau."
Sonia memegang erat tangan Stefan yang sudah mengepal, berusaha menahan marah. "Dad."
Stefan menarik tangannya, menatap lurus Andre. "Aku tunggu."