"Kak Sonia sudah bangun?"
"Kak, bangun kak."
"Kakak ayo, ke sekolah."
Alis Sonia berkerut, tiba-tiba kedua mata yang tadinya gelap menjadi terang, suara yang dikenal, kembali muncul.
"Kakak masih tidur? Dia mabuk?"
"Aduh, semalam pasti sama Thomas."
"Kita harus beritahu sekolah."
"Ya, jangan sampai sekolah bersikap tidak adil hanya karena kak Sonia mabuk."
Sonia buka mata perlahan, melihat punggung Silvia yang berdiri di samping tempat tidur, dia mulai mengingat kenangan menyakitkan. "Silvia?"
Silvia balik badan dan tersenyum. "Kakak sudah bangun? Semalam pasti minum banyak."
Sonia memijat kening, kepalanya memang terasa pusing. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan suara serak.
"Semalam sepertinya kakak bersenang-senang dengan Thomas, aku senang melihat kalian akur."
"Thomas?" Sonia mengerutkan kening dengan bingung, masih berusaha mencerna situasi sekarang, bukankah sekarang harusnya dia meninggal?
Silvia mengangguk semangat.
"Aku minum dengan Thomas? Drama apa yang kau bicara..." Sonia terdiam begitu menyadari seragam yang dipakai adik tirinya dan juga wajah yang masih kekanakan. "Kau sekolah?" tanyanya dengan sorot mata waspada. Tidak mungkin, Silvia mencari sosok pengganti untuk mempermainkannya.
"Tentu saja, kita di sekolah yang sama."
Sonia turun dari tempat tidur dan berdiri di depan cermin satu badan terdekat.
"Tanggal berapa sekarang?"
Silvia menjawab dengan semangat.
Sonia semakin pusing mendengarnya dan kembali berbaring di tempat tidur, sangat tidak bisa dipercaya, tidak mungkin dirinya kembali muda. "Keluar!"
"Kakak?" Silvia terkejut.
"Keluar dari kamarku!" perintah Sonia dengan nada dingin. "Lain kali kalau mau masuk kamarku, ketuk dulu. Meskipun ibumu dulunya pelayan pribadi ibuku, sekarang dia sudah menjadi istri ayahku, bukan?"
Senyum Silvia yang sedari tadi mengembang, perlahan hilang. "Kak... bukankah..."
"Tolong, jangan ganggu aku." Sonia menghela napas panjang lalu ambil ponsel di atas nakas. "Panggil kepala pelayan."
"Kakak sakit? Aku akan beritahu sekolah kalau kakak..."
"Kalau aku semalam mabuk dan tidak bisa berangkat sekolah?" tanya Sonia.
"Kakak."
"Keluar."
Silvia menggigit bibir bawah dan jalan ke luar kamar dengan langkah lunglai.
Sonia menghela napas dan menatap langit kamar dengan mata sendu, kamar yang selalu dirindukan di masa lalu, penyesalan yang tidak bisa memutar kembali wak...
Tunggu!
"Aku kembali ke masa lalu?"
"Bagaimana caranya?"
"Bagaimana bisa?"
"Yang Mulia panggil saya?" tanya kepala pelayan yang tiba-tiba berdiri di samping tempat tidur Sonia.
Sonia mengerutkan kening begitu melihat kepala pelayan masuk tanpa salam atau mengetuk pintu. "Di mana sopan santun kau?"
"Ya?" kepala pelayan terkejut mendapat teguran dari Sonia. "Anda masih mabuk? Mau saya ambilkan sup dan air hangat?"
"Sejak kapan kau menjadi kepala pelayan di rumah ini?"
"Yang Mulia."
"Ah, aku ingat... sejak ayahku mengusir ibu kandung, ada seorang wanita yang berani mengubah beberapa peraturan, termasuk kepala pelayan?"
"Saya..."
"Selama ini Silvia dan Sarah memakai fasilitas rumah ini, kan?" tanya Sonia dengan hati-hati, sambil berusaha menggali ingatan di masa lalu.
"Benar."
"Aku tidak mau mereka pakai fasilitas milikku."
Kepala pelayan terbelalak. "Yang Mulia, biar bagaimana pun mereka adik Anda."
"Hanya adik tiri, bukan sedarah. Mereka bisa memakai fasilitas yang diberikan ayahku, tidak dengan fasilitas aku."
"Saya mengerti."
"Satu lagi."
"Ya?"
"Biarkan aku istirahat seharian."
"Baik."
"Ah, ngomong-ngomong..."
"Ibuku meninggalkan buku resep di dapur, bawakan ke kamar."
"Yang Mulia, itu buku lama dan Anda..."
"Aku hanya ingin melihat."
"Barangnya berdebu dan..."
"Aku tidak peduli."
"Yang Mulia bisa minta ke Nyonya."
Sonia menaikkan salah satu alis lalu turun dari tempat tidur dengan langkah tergesa-gesa. Dia melihat ibu tiri dan kedua anaknya di lantai bawah.
Silvia yang menyadari kehadiran Sonia, tersenyum dan melambaikan tangan. "Kakak."
Sonia menatap dingin Silvia.
Ibu Silvia yang sedang bicara dengan seorang pelayan, mengalihkan tatapannya ke lantai dua dan tersenyum.
Jika di masa lalu, Sonia percaya dengan senyuman mereka, sekarang dia tidak bisa percaya lagi.
"Di mana buku resep ibuku?"
Senyum ibu tiri Sonia memudar. "Apa yang kau bicarakan, sayang?"
"Di mana buku resep ibuku?" tanya Sonia yang merasa menyesal karena tidak peduli pada barang-barang ibunya.
Ibu tiri Sonia melirik kepala pelayan yang berdiri di belakang Sonia. "Kepala pelayan lebih tahu barang-barang itu."
Sonia tersenyum masam. "Kau dulu pelayan pribadi ibuku, kan?"
Ibu tiri Sonia terkejut, selama ini Sonia selalu menghormati dan menghargainya sebagai sosok ibu pengganti. "Sonia."
"Yang Mulia, kau bisa memanggilku seperti itu," tegur Sonia.
"Kakak, kau sudah dirawat ibuku dengan kasih sayang, kenapa malah bersikap kasar seperti itu?"
Sonia mengalihkan tatapan ke Silvia sekilas, lalu kembali menatap ibu tirinya. "Di mana buku resep ibuku?"
Ibu tiri Sonia mencari jawaban pas, supaya tidak kena masalah.
"Di mana semua buku resep ibuku?" tanya Sonia dengan nada tinggi. "Kalian tidak lancang membuangnya, kan?"
"Ada apa ribut-ribut?"
Sonia melihat ayahnya masuk ke dalam rumah dengan tubuh lelah, ibu tiri Sonia bergegas mendekatinya namun ditolak ayah Sonia.
Melihat itu, Sonia menyadari sesuatu.
"Dad."
Stefan mendongak, putrinya masih berdiri di lantai dua, bersandar pada pagar tangga dengan baju tidur. "Apa yang kau lakukan di jam segini? Bukannya sekolah."
"Dad, aku mencari buku resep mommy, kata kepala pelayan ada di dia tapi kata dia, kepala pelayan yang tahu."
"Aku ingat, Oran pernah meninggalkan buku resep di dapur, ada rak khusus buku resep di sana. Ada di mana sekarang?" tanya Stefan pada istrinya.
Ibu tiri Sonia terlihat gugup dan menundukkan kepala.
Sonia menghela napas panjang. "Dad, lelah?"
Stefan yang semakin merengut melihat istrinya, menjawab dengan nada kesal. "Tidak, aku juga ingin tahu buku resep ibumu."
"Buku resep itu berisi makanan tidak sehat, apalagi ada menu isi organ hewan, kalian tidak bisa makan makanan tidak layak seperti itu." Ibu tiri Sonia berusaha menjelaskan. "Beliau memang baik, tapi... kebiasaan anehnya yang suka masak dan makan makanan yang aneh, sangat tidak baik untuk kalian."
"DIAM!" bentak Stefan. "Aku dan putriku, bertanya... di mana buku resepnya?"
Ibu tiri Sonia menggeleng panik, lalu menunjuk kepala pelayan. "Aku tidak tahu, hanya melihat sekilas buku itu dan melarang koki masak pakai buku itu. Dia yang tahu, urusan dapur dan lainnya, dia yang urus."
"Nyonya..." Kepala pelayan panik sekaligus terkejut dengan pengkhianatan tuannya. "Saya tidak tahu apa pun."
Sonia menuruni tangga perlahan lalu jalan mendekati Stefan, ayahnya. Memeluk erat lengan sang ayah.
Batin Sonia merasakan penyesalan yang mendalam karena tertutup emosi. Di masa lalu, dia benci ayah kandungnya karena tiba-tiba mengusir ibu, bawa wanita lain masuk ke dalam rumah dalam keadaan hamil.
Stefan menoleh dan melihat anak perempuan yang selalu membencinya, malah memeluk lengan dengan erat. Dia menjadi khawatir. "Sonia?"
Sonia menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan, seolah berusaha melepas beban berat. "Mungkin aku tahu keberadaan buku-buku itu."
"Bagaimana kau tahu?" tanya Sonia.
Sonia tidak mungkin cerita mengenai dirinya kembali ke masa lalu. "Tebakan."