"Sonia Augustina, dinyatakan bersalah dan harus membayar denda..."
Keputusan hakim yang disiarkan secara publik, membuat Sonia tidak mampu dengar lagi. Di mana letak kesalahannya sampai diperlakukan seperti ini? Dia bela Thomas mati-matian demi kebahagiaan yang tidak pernah didapat di rumah sendiri.
Masyarakat Inggris mulai benci Sonia, mau bantah apa pun lagi tidak akan ada yang bela dirinya.
Dia mulai menangis dan tidak peduli pandangan orang lain lagi.
Daniel yang tadinya hendak menolak keputusan hakim, terdiam dan menyerahkan sapu tangan sulaman ke Sonia, lalu menutup wajahnya dengan payung, supaya tidak ada yang melihatnya menangis.
Sonia mendongak dengan mata berkaca-kaca. "Jangan..."
Daniel tersenyum. "Anda tidak bisa menunjukkan tangisan di depan umum, Yang Mulia."
Para wanita di dalam sidang maupun yang menonton, hanya bisa menatap iri Sonia. Meskipun dinyatakan bersalah, masih ada yang peduli, bahkan statusnya sangat tinggi.
"Saya pastikan Anda bisa keluar cepat."
Sonia mendongak, menatap Daniel dengan mata sembab. "Aku tidak mampu bayar kalian."
"Kakak yang minta aku."
Sonia menatap bingung Daniel. "Kakak..."
Daniel tersenyum sedih. "Kau sudah melupakan aku?"
Kedua mata Sonia menatap ngeri Daniel. "Kau... adik Yuge?"
Kenapa...
Sonia berteriak di dalam hati.
"Tanyakan saja padanya, aku hanya ingin membantu kebodohan saudaraku."
Sonia tidak bisa berkata-kata.
Daniel berbisik di dekat Sonia. "Setelah ini ikuti salah satu orang aku ke belakang, kita tidak akan bayar denda."
"Tapi..."
"Mereka tidak bisa menuntut bangsawan tinggi."
Sonia menggelengkan kepala. "Tidak."
"Anda akan ditempatkan di salah satu kastil keluarga."
"Anak-anakku."
"Tidak." Daniel menjawab tegas. "Mereka tidak akan ikut."
Tidak lama, hakim pukul palu dan menyelesaikan sidang, Sonia diseret polisi ke luar dari ruang sidang. Namun, alih-alih diseret ke belakang gedung, Sonia di bawa ke depan gedung, para demonstran menunggu dan melihat Sonia.
"Lihat, dia sudah keluar."
Sonia bingung, dengan arahan Daniel yang tidak konsisten.
Banyak orang mulai melempar telur busuk, sepatu bau, dan berbagai barang lain yang bisa dilempar.
Sonia menunduk dan berusaha melindungi kepalanya, namun dua polisi di masing-masing sisinya, seolah tidak mau melindungi.
Sonia diseret dengan tubuh bau ke dalam mobil polisi yang sudah tua, dia bisa mendengar saluran radio wawancara suaminya.
"Hari ini sidang istri Anda, tidak khawatir?"
"Tidak, saya yakin hakim pasti akan bersikap adil."
"Sangat disayangkan sekali sikap istri Anda pada anak-anak."
"Saya juga tidak menyangka, dia akan melukai Ariana."
Sonia tertawa. "Sejak kapan aku melukai Ariana? Kenapa... semuanya tidak ada yang percaya?"
Polisi mulai menjalankan mobil tua dan berkomentar dengan nada sarkas. "Kasihan sekali calon pemimpin kita, punya istri tidak berguna, untung saja Lady Silvia selalu di sampingnya, aku mengharapkan yang terbaik untuk dua pasangan itu."
Sonia tertawa muram. "Mereka hanya saudara ipar, jangan berpikiran jauh. Thomas sangat setia padaku."
Dua polisi tertawa mengejek.
"Mau bertaruh?"
"Lihat saja."
Kening Sonia berkerut bingung, menyadari polisi putar arah. "Mau ke mana?" tanyanya dengan bingung.
"Lihat saja dari luar, hari ini Perdana menteri ada di panti asuhan bersama anak-anak."
Tidak lama, mobil sampai dan Sonia melihat pemandangan yang menyakitkan. Thomas dan adik tirinya bergandengan tangan, saling menatap seolah sedang jatuh cinta, mereka berdiri di antara anak-anak panti asuhan yang mengagumi mereka.
Jantung Sonia berdebar kencang, selama ini sudah dikhianati dua manusia yang dipercaya.
Polisi menjauhkan mobil dari panti asuhan, membawa Sonia yang dipenuhi amarah sekaligus penyesalan, menatap dua petugas yang menertawakan dirinya.
***
"KAKAK!"
"Apa yang terjadi?" Yuge lari menghampiri Daniel, begitu adiknya tiba di rumah. "Bagaimana kau bisa kehilangan dia?"
"Ada petugas yang menggeretnya, aku kira itu teman dari petugas yang aku suap, ternyata bukan. Mereka bahkan bawa ke depan."
"Aku sudah lihat siarannya, kemungkinan ini ulah Silvia. Thomas tidak mungkin melakukan perbuatan itu terang-terangan."
Daniel tertawa sinis. "Berani sekali dia."
Yuge memijat kening. "Sonia belum sampai ke penjara."
"Apa?" Daniel terkejut lalu melihat jam tangan. "Ini sudah jam sebelas malam."
Kedua mata Yuge menyip[it. "Perasaanku tidak enak."
Daniel juga merasakan hal yang sama, mereka berdua lari ke mobil dan melaju ke kediaman Thomas, pemandangan mengerikan, rumah megah calon perdana menteri terbakar, mobil pemadam kebakaran terdengar dari jauh, tidak ada tetangga dalam jarak dekat.
"KAKAK!" Daniel semakin panik begitu melihat Yuge lari mendekati api.
Para pengawal yang ikut di belakang, menghalangi Daniel.
"KAKAK DI SANA!"
"Tuan menyuruh kami untuk menahan Anda dan tidak ikut campur."
Daniel tidak bisa berkata-kata. "Kakak..."
Yuge lari ke kamar kesayangan Sonia di rumah ini dan menemukannya. "Sonia."
Sonia dengan wajah dan tubuh penuh darah, balik badan, menatap Yuge. "Apa yang kau lakukan di sini?"
Yuge melihat dua mayat di lantai marmer, tidak jauh dari tempat Sonia berdiri. "Thomas.. Silvia..."
Mendengar dua nama itu buat Sonia semakin marah. "Mereka pantas mendapatkannya."
"SONIA!"
"HENTIKAN!" teriak Sonia. "Jangan pernah panggil namaku lagi, aku muak mendengarnya! Semua karena perasaan ini..."
Yuge melihat Sonia berteriak marah dengan air mata mengalir, semua teriakan wanita cantik itu tidak masuk ke dalam telinganya, yang ada perasaan menusuk melihatnya jatuh seperti itu.
"Aku tidak ingin hidup, aku sudah bunuh mereka...".
"Siapa?"
"Anak-anakku... aku juga bunuh mereka."
Yuge menggelengkan kepala. "Tidak, kau tidak pernah tega pada mereka. Beritahu aku kenyataan, apa yang terjadi?"
"BERHENTI!" Sonia mengarahkan pistol kle Yuge. "Jangan mendekat, aku tidak mau mengharapkan kalian lagi."
Yuge akhirnya paham. "Silvia dan Thomas bunuh mereka, bukan? Lalu kau diculik dan dijebak bunuh mereka berdua, supaya rumah ini dan harta lainnya jatuh ke tangan mereka."
Kedua tangan Sonia gemetar, tangisnya pecah begitu mengetahui kenyataan pahit.
"Turunkan senjata... aku akan membantumu."
Sonia menggeleng cepat. "Aku sudah tidak sanggup lagi..."
"Sonia, kau hanya balas dendam, tidak ada yang salah. Aku akan berusaha keras mengeluar..." Kedua mata Yuge terbelalak begitu melihat Sonia perlahan menutup mata.
"Kau... berusaha bunuh aku?" Thomas menggeram marah dengan tubuh penuh darah. "Menjijikan..."
Kalimat terakhir yang didengar Sonia sangat menyakitkan.
Yuge dengan cepat menangkap tubuh Sonia dan memeluknya.
Thomas membangunkan Silvia. yang juga pura-pura mati.
"Apa ini? Bukan polisi yang datang?" tanya Silvia sambil meringis. "Dia berhasil menembakku di perut.
"Jangan gerak ban.."
DOR!
Silvia menjerit ketakutan begitu melihat Thomas sudah terkapar. "Tunggu... aku tidak tahu.."
Aku ingin mengulang waktu.
"Aku hanya mengikuti saran Leonard."
Mengabaikan semua rasa sakit yang muncul tanpa diundang.
Suara tembakan dua kali muncul di tengah kobaran api.
Mengabaikan orang-orang yang menyakitiku... tapi...
Aku mencintaimu...
Aku sangat mencintaimu...