Silvia menemui Brenda dan bertanya dengan nada penasaran. "Semalam, kak Thomas ke mana?"
Brenda yang sedang baca majalah fashion, melirik Silvia dengan angkuh. "Buat apa kau cari tahu?"
Silvia duduk di samping Brenda, melihat pemandangan para pria bermain anggar. "Semalam, Sonia keluar sampai pagi."
Tangan Brenda berhenti membalik halaman, dia menatap Silvia dengan tatapan penasaran. "Sonia keluar malam?"
Silvia mengangguk.
"Dari mana dia punya keberanian keluar malam? Bukannya dia takut hantu?"
"Selama ini, dia juga menempel pada kak Thomas kan?"
Kedua mata Brenda menyipit, menatap Silvia dengan kesal. "Kau juga menempel pada adikku, jangan terlalu sering perlihatkan kebodohan kalian."
Jantung Sillvia berdetak kencang. "Kakak hanya menemaniku keluar sebentar."
"Kau lupa, sewaktu konser kemarin? Dia memeluk bahumu saat bicara denganku."
"Dia hanya melindungiku dari kerumunan, tidak ada niat lain."
Brenda memutar mata dengan kesal. "Kerumunan saat mengantri?"
"Jiwa sosial kak Thomas sangat tinggi, jadi..."
"Cukup! Aku tidak peduli semua alasan kalian, yang pasti aku tidak ingin kau menghancurkan rencana kami."
"Aku paham, tenang saja. Tidak ada hubungan khusus di antara kami."
Brenda memiringkan kepala lalu berpikir sejenak. "Atau..."
Silvia menatap Brenda dengan gugup. "Atau?"
"Atau, jika ayah tiri mengakui posisimu sebagai anak dan mendapat sedikit warisan, mungkin bisa kita bicarakan, tapi entahlah... adikku sangat pemilih orangnya."
Silvia hanya anak dari seorang pelayan yang dipercaya istri dari ayah tirinya, dengan banyak keburuntungan, ibunya bisa menikah dengan majikan dan bisa memiliki status sebagai istri. Namun keberuntungan itu baru dipakai ibunya, dia dan sang adik belum mendapat keberuntungan yang sama.
Silvia menghela napas panjang.
"Kenapa?Sulit? Bukankah kau dekat dengan Sonia?"
"Akhir-akhir ini entah kenapa dia menjauh, bahkan tidak melihat ibuku sama sekali."
"Ini mengingatkan aku, dia tidak pernah bertemu denganku sama sekali."
Silvia mengangguk cepat. "Benar, aneh sekali dia tiba-tia menjauh."
"Kalian mengawasinya 'kan?"
"Tentu saja."
Brenda mendecak kesal. "Padahal aku mau minta tolong padanya."
"Bagaimana kalau kau ke tempat kami? Bilang saja mau bertemu dengan Sonia dan..." Silvia terdiam begitu melihat raut wajah Brenda yang agak kesal. "Aku tidak bermaksud..."
"Dia yang harusnya datang, bukan aku."
"Ada apa ini?"
Silvia yang tadinya ketakutan, tersenyum begitu melihat Thomas datang. "Kak."
Thomas mengangguk lalu menepuk kepala Silvia yang langsung berdiri begitu melihatnya datang, berbeda dengan Sonia yang angkuh dan merasa tinggi. "Hallo."
Brenda melirik adiknya yang terlihat akrab dengan Silvia. "Bagaimana?"
"Tidak masalah, aku bisa ikut."
"Eh? Kalian mau ke mana?"
Thomas menjawab dengan senyum tampan. "Ah, ada acara amal. Kami akan datang, jadi kami cari barang yang akan didonasikan."
"Amal..." Silvia mengerutkan kening. "Siapa yang mengadakan amal?"
Brenda memberikan sebuah nama dan kedua mata Silvia berbinar.
***
"Pesta amal kan?"
"Kau tahu?" tanya Sonia yang menatap Yuge, duduk di hadapannya, memeriksa tugas rumah. Setelah Yuge berkali-kali memergoki dirinya selalu baca dan bolos pelajaran yang tidak disukai, Pria itu memaksanya ikut belajar, bahkan bantu mengerjakan tugas rumah, sehingga saat pelajaran, dia tidak akan terlalu banyak tertinggal.
"Jangan datang." Georgia yang duduk di sebelah Sonia, menjawab sambil tetap mengerjakan soal.
"Dia artis terkenal dan banyak yang memuji sikapnya yang rendah hati." Sonia ingat, di masa lalu dirinya datang ke acara amal itu dan memang terlihat mewah, hanya ada sedikit kekacauan.
"Dia memang bagus di publik, tapi kita tidak tahu sifat aslinya, aku sudah mencoret yang salah dengan pensil, kau bisa perbaiki." Yuge mengembalikan buku tugas Sonia.
Sonia menerima dan memeriksanya. "Aku sudah berharap pulang cepat dan tidur nyaman, ternyata masih belum selesai, menyebalkan."
"Kau bisa bertahan di perpustakaan baca buku sejarah, bagaimana bisa mengantuk hanya karena kerjakan tugas rumah?" tanya Yuge yang tertawa kecil.
Sonia cemberut mendengar ucapan tunangannya dan menunjuk dengan pensil. "Baca dan mengerjakan tugas sangat berbeda, aku harus berpikir."
Yuge mengambil pensil Sonia dan menaruhnya di samping buku tugas. "Kerjakan."
"Bagaimana kalau aku dipaksa datang ke sana? Hari ini dan seminggu ke depan, Daddy ke luar kota bersama kak Ryo, Sam menginap di villa, hanya aku sendirian di sana."
"Memangnya kau mudah kena rayuan? Bagaimana bisa ada orang yang bisa memaksamu ke sana?" tanya Yuge.
"Menginap saja di rumah Yuge, kalian sudah bertunangan kan?" Georgia mengambil jalan pintas yang tidak pernah ada di dalam pikiran mereka. "Daripada bingung mencari jalan lain."
Sonia cemberut, Yuge yang melihatnya sedikit tersinggung, namun tidak dibicarakan.
Sonia menghela napas lalu menggeleng sedih. "Aku tidak bisa meninggalkan kastil, bagaimana kalau mereka mengambil barang-barang keluarga tanpa sepengetahuan aku? Tidak, tidak akan."
Yuge mengangkat kedua alis lalu menatap Georgia yang kembali sibuk dengan soalnya, dia melirik Sonia yang juga sibuk berpikir.
"Yah, memang lebih baik tidak datang ke amal, mengerjakan tugas saja sudah sulit, apalagi datang ke sana." Sonia menyuarakan isi pikiran tanpa sadar.
"Aku dengar, kepala pelayan di rumahmu dipecat?" tanya Yuge.
Sonia jadi kesal mengingatnya. "Wanita itu sudah merombak rumah tanpa kami sadari, menyebalkan. Memang dia siapa?"
Yuge paham 'dia' yang dimaksud, tapi yang membuatnya aneh adalah hubungan mereka sekarang. "Bukankah kalian sangat dekat?"
"Itu dulu." Sonia melambaikan tangan dengan santai. "Setelah dipikir ulang, buat apa punya hubungan baik dengan pelakor rumah tangga, dia yang buat mom kami diusir dari rumah, meski sekarang dad sudah menyesal."
Yuge mengangguk paham. "Mereka pasti sudah buat kesalahan besar, sampai kau sadar dan menyesal."
"Tentu saja," Sonia menjawab dengan lantang dan kesal.
Georgia menyembunyikan senyum, tangan dan otaknya memang digunakan mengerjakan soal, namun telinganya masih bisa dibuat mendengar percakapan mereka berdua.
"Aku akan mengirim seseorang ke kastil keluarga kau, nanti biar ayahku yang bicara ke ayahmu mengenai hal ini."
Kedua mata Sonia membulat lalu tidak lama meredup, dia tidak bisa membuat orang lain ikut campur. "Tidak, aku bisa mengatasinya sendiri."
"Kau yakin?" tanya Yuge yang merasa tidak yakin.
Sonia mengangguk. "Iya, aku yakin."
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
"Oke."
Georgia mengangkat kepalanya dari buku, menatap Yuge yang terlihat bingung sementara Sonia sudah kembali memperbaiki tugas sekolah yang salah.
Yuge yang merasa diperhatikan, melirik Georgia yang sedang menatapnya.
Georgia menggeleng kesal lalu kembali mengerjakan soal, urusan Yuge dan Sonia bukan urusannya.
Sementara itu, di kediaman Augustina. Silvia menemui ibunya dan merengek.
"Acara amal artis yang aku sukai, aku harus datang dan berikan barang yang bagus. Ibu, aku harus datang."
"Masalahnya apa yang harus kita donasikan? Tidak ada barang berharga yang bagus."
Silvia cemberut. "Bukannya ada kamar yang bisa kita ambil beberapa barangnya?"
"Jangan terlalu banyak diambil, kalau mereka tahu, bisa bahaya. Kapan acaranya?"
"Masih beberapa hari."
"Biar aku pikirkan nanti, aku akan mencari gaun dan perhiasan yang cocok untukmu."
Silvia menghela napas panjang, kenapa bukan dirinya yang dilahirkan sebagai bangsawan?