PERUBAHAN

1102 Words
"Kamu mulai banyak kemajuan, semua tugas berhasil dikerjakan sendiri." Yuge tersenyum bangga begitu melihat koresi tugas rumah Sonia. "Matematika dasar tidak ada masalah, tapi kalau sudah masuk perhitungan menjengkelkan, rasanya merusak mata," ucap Sonia sambil menyangga pipi dengan kedua tangan dan menggoyangkan kaki ke depan-belakang. "Kau tidak sakit mata?" Georgia yang sedang mengatur buku, menoleh. "Tidak." Sonia menghela napas panjang. Yuge berdiri lalu membereskan peralatan sekolah Sonia di atas meja. "Kau lelah?" tanyanya dengan nada lembut. Georgia menatap jijik Yuge. Yuge balik menatap Georgia. "Apa?" Kepala Sonia bersandar di atas meja. Di masa lalu, dirinya selalu cemburu melihat interaksi antara Yuge dan Georgia, sekarang dia tidak ingin memikirkan masalah sepele, belajar lebih banyak menguras tenaga dan pikiran daripada memikirkaan perasaan lawan jenis. "Menyebalkan." Perhatian Yuge dan Georgia beralih ke Sonia yang sekarang wajahnya menghadap meja. "Kenapa?" "Badan dan kepalaku rasanya sakit semua, tapi kenapa ingatanku tidak bisa digunakan?" keluh Sonia tanpa sadar. "Memangnya ingatan apa yang ingin kau gali?" tanya Yuge dengan raut wajah penasaran. Sonia menegakkan tubuh lalu menatap Yuge yang berdiri di samping kursinya. "Kau tidak akan paham masalah wanita." Yuge mengacak rambut Sonia dengan lembut. Sonia menyingkirkan tangan Yuge dan menggeram marah. "Acak-acak rambut Georgia saja jangan aku, menyebalkan." "Rambut Georgia tidak selembut milikmu," jawab Yuge. "Pelihara saja hewan, biar kau sepuasnya acak kepala tanpa protes, mereka malah suka," sahut Georgia. Sonia mengangguk setuju. "Atau wanita di luar sana, mereka kan suka sama ka.." Kedua matanya terbelalak begitu menyadari dirinya diangkat dan ditaruh di atas meja. "Apa yang kau lakukan?" Kedua tangan mengapit tubuh Sonia, kepala Yuge sejajar dengan kepala tunangannya. "Kau tadi suruh aku apa?" Georgia yang tidak ingin mengganggu, dengan cepat membereskan barang di atas meja dan keluar dari perpustakaan, sekarang hanya dua orang di dalam perpustakaan. Selama di perpustakaan, Sonia baru tahu kalau selama ini Georgia punya hak istimewa, salah satunya menggunakann perpustakaan sekolah sesuka hati. "Sonia." Perhatian Sonia beralih ke wajah Yuge. "Apa?" Kedua alis Yuge bertaut, baru menyadari sekarang kalau Sonia sudah tidak menatap kagum dirinya. "Kau, suka dengan kekasihmu itu?" "Kekasih?" Sonia memiringkan kepala, berusaha mencerna pertanyaan Yuge. "Siapa?" "Jangan pura-pura tidak tahu," tegur Yuge yang mulai kesal. "Semua orang di sini sudah tahu hubungan kalian." Sonia menatap Yuge. "Apa? Kau berusaha mencari alasan?" "Tidak, aku hanya penasaran. Dari mana pertanyaan ini muncul?" "Kau..." "Pertama, aku bukan kekasih Thomas, kita hanya pura-pura. Kedua, bukan urusanmu karena kau sendiri punya hubungan dengan Georgia." "Berapa kali aku harus bilang..." "Masalah itu, juga bukan urusanku." Potong Sonia. "Aku akui, di masa lalu sudah melakukan kesalahan konyol, cemburu tidak pada tempatnya, bahkan kelakuanku tidak mencerminkan seorang bangsawan." Yuge terdiam. "Aku tidak akan pernah mengganggu kau lagi, aku juga tidak akan cemburu dan melakukan hal konyol, apalagi mengejarmu." "Sonia." "Aku sudah menyadari semua kesalahanku." "Sonia." "Aku juga tidak akan mengganggu Georgia." "Diam," ucap Yuge dengan nada rendah. "Jangan bicara hal konyol." "Kau selama ini selalu menyalahkanku... " "Banyak saksi mata yang bilang, kau bully Georgia." "Aku memang melakukannya." "Jawab yang jujur." Sonia menyisir rambut ke belakang dengan jari lentiknya. "Kenapa kita jadi bahas soal ini?" "Kau yang mulai duluan." "Hah." Sonia mencibir kesal. "Kita sudah bertunangan." "Kau ingin aku batalkan pertunangan kita?" "SONIA!" Sonia menjadi kesal, bingung dengan perilaku Yuge yang seenaknya. "Kau ingin aku berkencan dengan wanita lain?" tanya Yuge. Tanpa terasa air mata muncul dan mengalir begitu saja di kedua pipi, Sonia berusaha menghapusnya. Yuge yang melihat pemandangan itu, melunak. "Sonia." "Jangan sentuh aku." Sonia menepis tangan Yuge. "Aku hanya ingin hidup damai dan tidak mengganggu siapa pun." Entah kenapa, insting Yuge mengatakan kalau Sonia sebenarnya butuh seseorang. Selama ini dirinya tidak buta dengan kelakuan tunangannya, namun dia tidak ingin menghancurkan masa depan anak perempuan itu. Tanpa sadar Yuge menarik Sonia, masuk ke dalam pelukannya. Sonia yang ditarik masuk, terkejut. Namun tidak bergerak dan meronta, hanya diam di dalam pelukan Yuge. Kepalanya semakin sakit, memikirkan perilaku Yuge yang sangat berbeda di masa lalu, pria itu tidak pernah lembut, bahkan selalu mengabaikan dirinya. *** "Kau sudah pulang, ayahmu khawatir jika pulang malam dan menyuruhku tidak mengizinkan kau keluar malam lagi." Seinna jalan menghampiri Sonia yang baru masuk. "Tidak ada pria di rumah, kita juga tidak bisa terlalu mengandalkan pelayan, sebaiknya kau menjaga diri dan..." "Ini mengingatkan aku...." Sonia balik badan dan menatap tajam Seinna. "Kenapa anak-anakmu tidak bisa masuk kamarku setiap ditanya ayahku, tapi bisa masuk ke kamarku tanpa sepengetahuan ayahku." Sienna terkejut sebentar lalu berusaha mengendalikan emosi dan tersenyum. "Sonia, apa yang kau bicarakan? Adik-adik nakal lagi? Aku akan menegur mereka dan..." "Tidak masalah aku pulang malam atau pagi, ada pengawal yang menjagaku, berbeda dengan dua anak kau yang tidak punya pengawal... ah, tiga ya? Tiga anak." Senyum Sienna menghilang. "Sonia, kenapa tiba-tiba kau memusuhiku?" "Sejak kau mengizinkan kepala pelayan menjual buku resep mom, aku sudah tidak percaya lagi." "Sonia, kepala pelayan sudah mengaku dan aku tidak terlibat sama sekali." Geleng Sienna yang hampir menangis. "Selama ini kau sudah aku anggap sebagai putri kandung sendiri, aku tahu betapa berharganya buku resep itu untuk kalian, tidak mungkin aku melakukan kejahatan tidak masuk akal." "Karena itu, jangan ganggu aku." "Apa?" "Aku tidak akan mengulanginya, kau sudah dengar sendiri." Kepala Sonia sudah sakit, rasanya ingin cepat berendam dan istirahat di dalam kamar. "Sudah jam sebelas malam, aku ingin istirahat, besok tidak sekolah." "Aku panggil dokter." "Tidak perlu." Sonia naik tangga, mengabaikan Sienna yang masih berdiri di tempat. Begitu sampai di tempat tidur, Sonia mengisi bak mandi air hangat, pasang alarm dan menyalakan lilin aroma therapy. Lima menit kemudian, dia mulai berendam dan menyalakan radio, mendengar lagu pop dengan mata tertutup. Di masa lalu,Yuge tidak pernah terlihat peduli, bahkan lebih banyak mengabaikannya, meskipun sebelum Sonia meninggal, pria itu terlihat peduli. Sekarang dirinya kembali ke masa lalu, tidak mungkin Yuge ikut berubah, kecuali.. "Yuge kembali ke masa lalu?" gumam Sonia lalu menggeleng cepat. "Mustahil, tidak mungkin dia kembali, tapi.." Jika memang Yuge kembali ke masa lalu, kenapa pria itu terlihat peduli pada dirinya? Sementara Sonia merenung di kamar mandi, Yuge berdiri di balkon, menatap taman sambil menikmati pemandangan hutan. "Kakak sudah pulang?" "Ada apa?" Daniel masuk ke dalam kamar Yuge yang gelap, satu-satunya cahaya hanyalah bulan. "Ada undangan dari salah satu artis terkenal, dia mengadakan seperti biasa dan kakak diundang VIP, kakak mau datang?" "Tidak tahu." Daniel berdiri di samping Yuge. "Kenapa? Padahal ini salah satu jalan buat menyelidiki..." "Aku tidak ingin membahasnya sekarang, hanya ingin istirahat." Daniel menghela napas panjang. "Ah, aku lupa. Maafkan aku, selamat malam kak." "Hmm." Yuge menjawab tanpa melihat Daniel. Daniel jalan keluar kamar Yuge, menatap punggung kesepian sang kakak membuat hatinya sakit, beban yang diberikan sangat tidak masuk akal, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD