BERKUNJUNG

1021 Words
"Hari ini dia sepertinya tidak ke perpustakaan." Georgia melihat Yuge mondar mandir jendela dan pintu yang tertutup. Jarang ada siswa yang datang ke perpustakaan, penjaga perpustakaan sembunyi tidak jauh dari pintu masuk, selalu muncul jika siswa butuh namun menghilang jika tidak dibutuhkan. Unik tapi sangat efektif untuk para siswa yang berusaha menjaga privasi. Yah, kebanyakan siswa sekolah merupakan anak-anak orang kaya yang mampu beli buku, pergi ke perpustakaan merupakan suatu aib bagi mereka. "Biasanya jam segini dia bolos kelas." Georgia melirik jam tangan. "Sudah lewat satu jam malah, dia berhasil." Yuge duduk di kursi, berhadapan dengan Georgia. "Baguslah kalau begitu, aku tadi hanya perhatikan situasi di sekitar." "Kau akan mengajaknya ke pesta amal?" "Tidak, untuk apa?" "Aku kira kau akan mengajaknya, mengingat semalam..." "Jangan buat gosip tidak perlu." Yuge menepis ucapan Georgia. "Aku hanya mau bantu dia" "Sebaiknya kau minta maaf." "Untuk apa?" "Kemarin sepertinya dia sangat takut." "Takut? Bukannya dia malah senang?" "Memangnya kemarin dia senang? Merayu kau lagi?" Yuge memikirkan itu juga, sepertinya Sonia sudah berubah, mungkin hatinya untuk pria lain? "Tidak kan? Aku lihat dia ketakutan dan benci?" "Benci padaku?" "Sebaiknya kau ajak dia ke pesta amal sebagai permintaan maaf." Yuge menggeleng kecil. "Tidak, dia bisa pergi bersama teman-temannya." "Kau yakin? Bukankah mereka semua parasit?" Yuge memikirkannya lalu melirik Georgia. "Dia juga dekat dengan Brenda." "Oh ya?" "Kau... ingin menjauhkan Sonia dari Brenda?" Tangan Georgia berhenti menulis, mengangkat kepala lalu menatap lurus Yuge. "Apa aku terlihat mampu memikirkan hal konyol selain pelajaran?" "Bukankah bagus kalau dia tidak dekat dengan Brenda, sehingga teman-temannya tidak berani bully kau. Aku memikirkannya, selama ini mereka berlindung di belakang Sonia, agar dapat menyentuh kau." Georgia menghela napas panjang. "Aku tidak peduli." "Aku yang peduli." Georgia mengabaikan Yuge dan kembali menulis. *** Sonia turun dari tangga, jalan menuju dapur, melihat Brenda dan Thomas duduk di taman bersama Silvia dan Sarah. "Sonia, kau tidak masuk sekolah hari ini? Bolos?" tanya Seinna sambil jalan di depan pelayan yang membawa kereta dorong makan. "Silvia lelah dan tidak bisa berangkat sekolah, dia baru menang lomba." "Lomba apa?" tanya Sonia sambil mengerutkan kening. Seinna menepuk pipi Sonia dengan lembut. "Sayangku, kau lupa? Adik kau sudah menjadi model, sebentar lagi pasti bisa menjadi model profesional, membanggakan keluarga kita." "Kenapa aku tidak tahu?" Sonia mengangkat salah satu alis, lomba itu harusnya dia ikuti. "Kau sibuk, belakangan ini pulang pagi, jadi..." Sonia mengerutkan kening, amarahnya mulai meluap. Namun, begitu mendengar suara tawa Silvia dan Thomas bersamaan, amarahnya mereda. Lomba model itu aslinya dia yang dapat info dan ingin ikut, waktu itu dia bingung cari pakaian yang pas dengan tema karena tidak punya uang banyak, sementara dirinya tidak punya tabungan sama sekali. Sonia balik badan, jalan ke dapur, mengabaikan Seinna dan pelayannya. "Jangan ada yang masuk ke dapur," ucapnya pada pelayan yang berjaga. Seinna mengabaikan Sonia lalu jalan menghampiri meja Silvia dan teman-temannya. "Aku bawakan kue dan teh untuk kalian, selamat menikmati." Brenda melirik dalam kastil. "Hari ini Sonia tidak masuk sekolah." "Iya, aku tidak tahu alasannya." Sienna tersenyum sambil memindahkan cangkir dan piring dari kereta makanan ke meja. "Dia memang agak sulit diatur." Silvia menghela napas panjang. "Mungkin ada yang dipikirkan kakak... akhir-akhir ini pulang malam entah ke mana." Brenda bangkit dari kursi. "Aku ingin menjenguknya." Silvia ikut berdiri, meski perasaannya tidak suka karena Brenda cenderung melihat Sonia daripada dirinya, dia harus bisa menahan diri. Thomas tetap duduk, menatap pemandangan mewah taman. Brenda yang melihat itu, bertanya. "Kau tidak melihatnya?" "Bukannya kau bilang kalau lebih baik dia yang datang, bukan kita." Brenda menarik napas. "Ya, memang." "Lalu kenapa kita harus menjenguknya?" "Kau kekasihnya." "Justru karena aku kekasihnya, dia harus datang dan menghibur," sahut Thomas sambil mengambil cookies di meja. "Kita sama-sama bangsawan." Brenda mengangguk puas. "Kau benar, jadi..." Dia mengarahkan perhatian ke Silvia yang juga duduk. "Apa yang akan kau berikan di pesta amal?" Silvia melirik Seinna yang diam membeku. "Itu..." Seinna tersenyum dan menjawab dengan percaya diri. "Nanti kami akau memikirkannya." Brenda menaikkan salah satu alis. "Memikirkan? Tinggal menghitung hari dan kalian masih berpikir? Jangan-jangan kalian belum tahu apa yang dibawa?" "Bukankah kita datang untuk beli barang?" tanya Seinna. Di masa lalu dia melihat ibu Sonia beli barang di pesta amal, bukan memberikan barang. Silvia melirik kesal ibunya yang bertanya seperti itu. "Kita donasi lalu beli barang yang diinginkan, berarti kalian berdua mau beli barang saja?" tanya Brenda dengan senyum elegan yang dipelajarinya sejak kecil. Silvia tidak punya uang banyak untuk beli barang mewah. Seinna tersenyum, berusaha menutupi kegugupannya. "Kami akan mengusahakan yang terbaik." "Kalian diundang?" tanya Thomas dengan senyum licik. Silvia bertanya pada Brenda dengan hati-hati. "Bukankah kita berangkat bersama?" Brenda mendecak. "Tidak, aku akan berangkat bersama Alex. Thomas pakai undangan ayah tiri sebagai perwakilan, kau bisa datang dengan jalur beli undangan atau minta pada ayahmu, mereka pasti berikan dengan mudah." Silvia hendak menjawab namun Seinna, cubit pundaya, menyuruh diam. Seinna mengucapkan terima kasih lalu pamit masuk ke dalam kastil, menghindari pertanyaan Brenda lagi. Pelayan yang mengikuti dari belakang, bertanya dengan nada penasaran. "Nyonya baik-baik saja? Mereka pasti ingin menguji Anda.' Seinna mendesis kesal. "Mereka hanya ingin permalukan anak-anakku, lihat saja kalau putriku menjadi model profesional, pasti banyak bangsawan mendekat." "Anda benar sekali, nona sangat cantik, pasti banyak yang menginginkannya." Tidak terasa Seinna dan pelayannya tiba di depan pintu dapur, namun salah seorang pelayan berwajah oriental menghalangi jalan. "Kurang ajar." Pelayan maju dan hendak menampar pelayan muda itu. "Yang Mulia melarang siapa pun masuk ke dapur." Salah satu alis Seinna terangkat, melihat pemandangan di dalam dapur, Sonia yang serius memasak. "Koki..." "Letakkan saja di sini kereta makanan, saya yang akan menyelesaikannya." Pelayan Seinna hendak membalas, namun Seinna buru-buru bicara dengan nada lembut. "Putriku sedang belajar masak, mungkinkah untuk teman-temannya yang datang sekaligus perayaan kemenangan adiknya? Aku sangat terharus melihat hubungan akur kalian." Seinna meninggikan suara hingga bisa didengar koki dan pelayan yang ada di sekitar pintu dapur. "Aku akan bicara ke anakku dan teman-temannya." "Biar saya saja yang bicara, Anda tunggu di sini." Pelayan Sienna menatap jijik pelayan muda berwajah oriental itu. "Lebih baik Anda masuk ke dalam kamar, udara di sini sangat kotor." Pelayan berwajah oriental hanya diam dan mengabaikan ucapan pelayan Seinna, dia hanya menjalankan tugas sebagai pelayan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD