Sonia tahu keributan di depan pintu dapur dan mengabaikannya, pelayan berwajah oriental itu melakukan tugasnya dengan baik, tapi sepertinya pernah melihat wajah itu entah di mana. Dia menggeleng dan kembali sibuk mengurus bahan-bahan.
"Salah."
Sonia mendongak dan melihat pelayan itu sedag menatap bahan-bahan di meja. "Hah?"
"Lebih baik dipotong kecil-kecil, sebelum ditumis, kalau dibuat besar begitu, menyerapnya jadi kurang dan tidak seimbang."
Sonia menatap lekat pelayan di hadapannya. "Kau..."
"Ah, maaf. Saya tidak bermaksud..."
"Aku tidak buat tumisan atau sup, memang sengaja aku potong kasar untuk camilan."
"Camilan?"
"Bawang goreng, bisa buat makan bersama nasi atau camilan, aku ingin makan itu sekarang."
"Hanya digoreng? Bawang merah? Saya baru tahu, apakah enak?"
"Sangat enak, kau bisa mencobanya."
"Anda pernah masak itu?" tanya pelayan berwajah oriental.
Sonia lupa kalau para pelayan muda di sini sudah bekerja sejak kecil, di bawah usia tujuh belas tahun hanya mendapat makan dan tempat tinggal, lumayan untuk para imigran anak-anak. Tidak ada yang berani mengkritik kebijakan ayah Sonia. Nah, karena itu para pelayan muda tahu kelakuan Sonia sejak kecil, di masa lalu dirinya tidak pernah masak di kastil, setelah menikah dia baru belajar memasak setelah merasa bosan karena mengurus anak.
"Tidak, aku hanya mencoba dari buku resep ibuku."
"Buku resep warisan memang sangat berharga."
Sonia melirik pintu dapur yang terbuka lebar, sekarang dijaga dua pengawal. "Kau yang menyuruh mereka?"
Pelayan muda itu mengangguk. "Saya tidak bisa jaga di depan sendirian, harus ada pria dewasa."
"Siapa namamu?"
"Karin."
Kedua mata Sonia terbelalak, menatap Karin yang berdiri di seberang meja dengan curiga. "Kau... pelayan pribadi Silvia?"
"Saya menjadi pelayan pribadi dia atas perintah Nyonya, tapi... saya pelayan kastil ini." Karin mendongak, menatap lurus Sonia. "Bolehkah saya melihat Anda memasak?"
Sonia masih curiga pada Karin. "Tidak, aku tidak mau berbagi resep dengan orang lain."
Karin terlihat kecewa, matanya masih menatap meja masak.
"Kau... kenapa mau jadi pelayan pribadi Silvia?' tanya Sonia yang langsung menyesal bertanya atas kebodohannya.
"Saya tidak bisa menolak, hanya pelayan."
"Usiamu berapa?" tanya Sonia yang mengangguk paham.
Karin menyebutkan usia.
Sonia menaikkan salah satu alis. "Lalu kenapa kau bantu aku? Bukannya berada di sisi Silvia?"
"Nona sepertinya malu saya ada di sisinya jika ada teman atau kenalan datang, biasanya pakai pelayan pribadi Nyonya."
"Kau tadi menghalangi mereka..."
"Tidak apa, mereka yang buat masalah, lagipula selama kedua Yang Mulia tidak ada di dalam kastil, Anda penguasanya." Karin masih menatap bahan di atas meja.
Sonia yang perhatikan itu, jadi penasaran. "Kau suka masak?"
Karin mengangguk. "Ya."
"Sejak kapan kau di sini dan memasak?"
'"Waktu kecil, orang tua saya suka memasak. Prinsip mereka, meski tidak punya uang, setidaknya bisa menikmati makanan enak." Karin mengenang masa lalu. "Saya tidak tahu sejak kapan berada di sini, di usia berapa... karena kami tidak pernah merayakan ulang tahun."
"Kau tidak punya dokumen identitas?" tanya Sonia.
Karin menggeleng pelan, kali ini perhatiannya ke Sonia.
"Usiamu mirip dengan anak itu... dia lebih beruntung."
Karin tersenyum malu. "Yang Mulia, jika Anda ingin masak sendiri, saya bisa berjaga di sudut dapur. Anda bisa masak dengan tenang."
"Kau bisa membantuku." Sonia mengambil keputusan cepat. "Asal, kau menjadi teman bermainku?"
"Pelayan seperti saya menjadi teman bermain?"
"Aku tidak punya banyak teman, kau mau?"
"Saya tidak punya bahan bicara dan tidak enak dengan pelayan lain."
"Sepertinya kau paham cara memasak, kau bisa bantu aku masak untuk keluargaku." Sonia memikirkan cara lain, akhirnya dia mulai ingat tentang Karin. Anak itu dijebak Silvia dan berakhir di penjara hanya karena mengirim pesan untuk dirinya, dan Sonialah yang membuat Karin meninggal. "Aku tidak tahu kedekatanmu dengan Silvia, yang aku tahu... kau pelayan keluargaku."
Karin menjadi canggung.
"Jadi... bisakah aku melihat tubuhmu?"
***
"KAKAK SANGAT KETERLALUAN! BAGAIMANA BISA MENGAMBIL PELAYAN PRIBADIKU?" Silvia meraung setelah masuk ke dalam kamar Sonia tanpa izin. "KAKAK BISA AMBIL PELAYAN LAIN, BUKAN PELAYANKU!"
Sonia yang sedang baca buku melirik jendela kamarnya. "Oh, sudah malam."
Silvia menghentakan kaki dengan kesal. "Ada banyak pelayan di sini, kenapa harus pelayanku yang kakak ambil?"
"Memangnya kau yang bayar gaji dia?"
"Memangnya kakak bayar gajinya?"
"Yang bayar ayahku dan aku anaknya."
Silvia terdiam lalu menatap marah Sonia. "Aku juga bagian dari keluarga ini."
"Kau hanya anak pelayan keluargaku, ibumu menikah dengan ayahku hanya untuk mengurus kami, bukan menjadi Nyonya rumah di sini, lalu kau siapa di sini?"
Bibir Silvia bergetar, tidak menyangka bisa mendengar ucapan tidak berperasaan itu. "Bukankah selama ini kakak mengakui aku sebagai adik dan ibuku..."
"Hanya karena ibumu melahirkan Leonard, bukan berarti kami menganggapmu ssbagai keluarga. Di masa lalu, aku memang menerima kalian dengan hati tulus, tapi rupanya pelihara ular pun masih tidak mengenal tuannya dengan baik, salah satu contohnya adalah sekarang... masuk ke kamarku tanpa izin dengan teriakan menjengkelkan, apa itu kelakuan bangsawan?"
Silvia langsung sadar begitu mendengar teguran keras dari Sonia. "Aku... hanya tidak ingin kehilangan Karin. Dia pelayan baik dan kami sangat dekat. Bagaimana bisa kakak dengan lancang mengambilnya?"
"SILVIA!" Seinna bentak putri sulungnya dengan panik, tidak menyangka putrinya akan bereaksi berlebihan. "Jangan ganggu kakakmu."
"Dia kakakku? Bagaimana bisa dia menjadi kakakku kalau berusaha merebut barang orang lain?!"
Seinna menampar putrinya dengan marah, kali ini anak itu sangat keterlaluan.
Sonia hanya mengamati drama ibu dan anak yang penuh dengan perasaan tak terlukiskan, yang satu marah kehilangan pelayan sementara yang lain takut kehilangan hidup nyaman.
"Kenapa..." sorot mata Silvia antara sedih sekaligus terkejut, selama ini ibunya tidak pernah memukul.
"Kau sudah bicara dan bersikap keterlaluan, minta maaf pada kakakmu."
"Kenapa aku harus minta maaf padanya?"
"SILVIA!"
Silvia masih tidak menyadari kesalahannya, dia diliputi amarah karena mendengar Sonia menginginkan pelayan pribadi begitu Brenda dan Thomas pulang setelah puas mencecarnya. "Bagaimana bisa kalian melakukan ini padaku?"
Sonia menaikkan salah satu alis, berusaha menahan senyum. Silvia memang sangat menyukai Karin, tapi begitu tidak berguna, dia akan membuangnya begitu saja, namun karena tangannya tidak mau kotor, dia menjebak Sonia sebagai tersangka pembunuhan, yah meskipun selalu ada tambahan kalimat 'tidak sengaja'.
"Karin pintar masak dan dia bantu aku di dapur tadi, aku pikir dia bisa bantu masak ke depannya, tapi ternyata kalian tidak suka. Tidak masalah, aku akan bicara pada daddy, kalau kalian menyayangi pelayan itu."
Silvia hendak bicara namun dihalangi Seinna.
"Silvia lelah dan terlalu emosional, semua bisa dibicarakan baik-baik."
"Masuk kamar tanpa izin dan berteriak, termasuk bicara baik-baik?" tanya Sonia sambil menutup buku dan meletakkannya di meja. "Aku hanya melihat pelayan cakap yang bisa membantu, bukan pesolek atau pun penjilat." Sonia tersenyum sambil menyipitkan kedua mata. "Wajar bukan, aku memilih pelayan yang dibayar keluargaku? Kecuali jika pelayan itu dibayar kalian... wajar marah."
Seinna terkejut melihat ketenangan Sonia, padahal sebelumnya anak itu selalu tersinggung dan marah. "Sonia, mungkin kau tidak tahu tentang peraturan anak di bawah umur yang bekerja di kastil."
"Oh, tentang itu... aku tahu, dia memang belum cukup usia, lalu kenapa?"
"Karena belum cukup usia, Silvia tidak bisa menggajinya."
Sonia tersenyum sinis.