Seinna tidak paham, kenapa Sonia bisa berubah. Dulu, anak itu selalu menurut dan percaya padanya "Sonia, ini hanya salah paham. Tolong, dipahami... Silvia hanya tidak ingin kehilangan teman bermain," ucapnya dengan lembut.
Raut wajah Sonia berubah jijik. "Teman bermain atau pelayan?"
"Dia pelayan sekaligus teman bermain," sahut Silvia yang mulai tenang.
"Jadi, kau tahu nama aslinya?"
"Apa?"
"Aku tidak akan mengulang, kau sudah mendengarnya."
Silvia menggigit bibir dengan perasaan cemas, melirik ibunya untuk membantu.
Seinna tidak bisa bantu banyak, Sonia sudah berubah dan tidak bisa dikendalikan.
Pada akhirnya, malam itu Silvia terpaksa mengalah dan menyerahkan pelayan pribadinya pada Sonia, Seinna menegur keras di dalam kamar.
"Dia hanya pelayan immigran, kau bisa mendapatkan pelayan manapun sesuka hati."
Silvia tidak suka mendengar ucapan Seinna. "Aku ingin tanya, besok... setelah aku melatih pelayan baru, dia ingin pelayan itu, kau berikan padanya?"
Seinna terdiam, kedua putrinya memang selalu mengalah demi ego Sonia.
"Jika dia menganggap dirinya kakak... harusnya mengalah pada kami." Silvia mengeluarkan semua pikirannya. "Aku lelah harus mengalah pada manusia egois."
"Kalau lelah, sebaiknya hindari saja dan tidak menempel padanya."
Seinna dan Silvia spontan menoleh dengan jantung berdebar, takut percakapan mereka didengar Sonia dan mata-matanya. Namun, ternyata yang berkomentar adalah Leonard, adik Silvia.
Silvia menghela napas lega lalu menegur Leonard. "Ketuk pintu dulu."
"Pintu terbuka lebar, aku hanya berdiri di sini dari tadi mengamati kalian berdua."
Tiba-tiba Seinna teringat dengan teguran temannya. "Leonard, kau tidak berkumpul dengan Brenda dan adiknya?"
Leonard menaikkan salah satu alis. "Aku berteman dengan pembully?" ucapnya sambil menatap rendah sang kakak.
"Mereka bukan pembully, Leonard. Kau hanya tidak paham realita dunia saja," sahut Silvia sambil memutar bola mata. "Kau harus bisa bersosialisasi, jangan jadi anak aneh."
Seinna menatap kesal putra satu-satunya. "Jangan hanya berdiri di sana, bantu Silvia bicara dengan ayahmu."
"Memangnya dad mau dengar?" tanya Leonard sambil menguap. "Kau saja tidak pernah di dengar, apalagi aku."
"Bersikap sopan, Leo," tegur Silvia dengan tatapan tajam.
"Aku akan bersikap sopan jika kalian tidak bertindak di luar batas, kau dan aku bisa sekolah mewah berkat kebaikan tuan rumah," balas Leonard, tanpa takut. "Bersikap baik dan jangan buat masalah."
Silvia semakin marah mendengar ucapan adiknya. "Dia merebut semua yang aku miliki, padahal dia punya segalanya, kenapa aku harus selalu mengalah?"
Seinna menjadi panik lalu menarik putranya masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, dia bingung karena hubungan ketiga anaknya tidak selalu akur. "Bisakah kalian akur sebentar saja? Setelah kita menguasai rumahh, baru kalian bisa bertindak sesuka hati."
Silvia menunjuk Leonard dengan kesal. "Dia yang mulai duluan, aku sudah tenang tadi."
"Mencari kambing hitam?" ejek Leonard dengan nada tidak puas. "Kadang aku heran, kenapa kalian bertiga tidak bisa bertindak masuk akal?"
"Kau hanya ingin bela anak pungut itu kan?" Silvia semakin kesal. "Kau datang ke sini ingin menegurku?"
"Anak yang kau maksud... anak angkat Grand Duke, klien dad. Posisi kau tidak ada apa-apanya dengan mereka."
"Hah! Masih kalah dengan posisi Brenda." Silvia menganggap remeh ucapan Leonard. "Kau yang buta, mengikuti anak tidak jelas masa depannya."
Leonard berusaha menahan amarah, tidak suka mendengar ucapan Silvia.
Sienna semakin khawatir, begitu mendengar ucapan putrinya. "Leo, jauhi anak itu, lebih baik menikah dengan bangsawan yang..."
"Kalian tidak bisa mengaturku, aku tidak ingin masa depan rusak karena ulah kalian."
Sienna menampar keras Leonard.
Leonard yang tidak siap, terkejut.
"Silvia sudah berjuang keras demi kita, dia menempel pada Sonia dan Bernda supaya punya masa depan. Bagaimana denganmu? Hanya menempel pada anak pungut tidak berguna, kau bangsawan!"
Leonard menatap marah Silvia dan Sienna bergantian, lalu keluar kamar dan membanting pintu kamar dengan kesal.
Sienna memijat kening. "Anak itu tidak bisa diberitahu sama sekali, aku heran kenapa dia bisa seperti itu? Padahal dua anakku lainnya tidak masalah."
"Kalian terlalu memanjakannya." Silvia kembali kesal begitu mengingat wajah angkuh Leonard.
"Berkat dia, kita bisa tinggal di rumah ini, tahan saja." Sienna berusaha menenangkan Silvia. "Kalian semua harus punya masa depan baik, siapa tahu anak pungut itu... bisa bantu masa depan Leo."
"Aku jamin, dia tidak bisa bantu masa depan Leo. Dia saja dicampakkan tunangannya, bagaimana bisa punya masa depan yang baik?"
"Kau yakin?" tanya Sienna yang semakin takut. "Leo tidak akan punya masa depan?"
"Aku bisa jamin itu, dia tidak punya masa depan, sekolah saja dibayar kekasih Brenda."
Kekasih Brenda adalah tunangan Georgia.
Sienna menghela napas panjang. "Aku akan bicara ke Tuan."
"Aku minta pelayan yang bagus juga, beritahu saja demi keamanan, aku kan calon super model di masa depan, siapa tahu bisa buat koneksi yang bagus untuk keluarga ini... tapi..." Kedua bahu Silvia menurun. "Aku butuh status sebagai anak sah."
Kedua mata Sienna terbelalak, menatap ngeri putrinya yang sudah melampaui batas. "Diakui anak dari ayah tirimu, sudah dianggap bagus, sekarang harus mengakui kau sebagai anak sah? Dia bukan ayah kandungmu."
Silvia cemberut mendengar ucapan ibunya. "Memang tidak masuk akal, tapi bisa dicoba kan? Siapa tahu dia mau."
"Kalau pun dia mau, anak-anaknya pasti menolak," desis Sienna. "Jangan berpikir aneh-aneh dulu, masalah amal... aku punya ide bagus."
Kedua mata Silvia berbinar. "Benar, amal... aku donasi atau beli?"
Sienna menghela napas panjang. "Kita terpaksa ambil barang di rumah ini."
Silvia tersenyum bahagia sambil tepuk tangan, semua barang di kastil ini punya sejarah dan sangat berharga, jika dimasukkan ke pesta amal, pasti meningkatkan gengsi. Ibunya adalah istri pemilik kastil, jadi wajar menggunakan barang sesuka hati, bukan?
"Kita ambil barang yang sudah dilupakan Tuan.."
Silvia terdiam. "Bukannya bisa ambil sesuka hati?"
Sienna menghela napas panjang, berharap anak-anak tahu fakta yang sebenarnya, namun dia tidak ingin anak-anaknya kecewa dan rendah diri. Mereka bertiga harus percaya diri. "Iya, tapi sebaiknya jangan ambil sembarangan. Kastil ini pasti akan diwariskan dan para tetua akan memastikan semua barang sesuai pada tempatnya."
Silvia mulai merasa itu masuk akal. Jika kastil ini jatuh ke tangan Leonard, berkat dirinya yang bisa membangun relasi baik, pasti para tetua merasa bangga. "Benar juga, sebaiknya ambil barang yang punya sejarah dan tidak akan diperiksa para tetua."
Sienna dan Silvia mulai berpikir. Tidak lama, saling menatap dan tersenyum penuh arti, mereka sudah mendapat jawabannya.
"Aku akan mencari gaun bersama Brenda, masalah harga..." Silvia menatap ibunya dengan khawatir. Masalah donasi sudah ada jawabannya, tinggal gaun dan perhiasan.
Sienna menghela napas panjang. "Pakai gaun dan perhiasan bekas Sonia."
Silvia mendecak kesal. "Bukankah waktu itu bilangnya cari penjahit dan toko perhiasan terbaik?"
"Kau sudah buat masalah dengan Sonia, sekarang kau berharap beli gaun dan perhiasan? Aku sangat yakin, Sonia sudah mengadu ke ayahnya masalah ini, jadi jangan berharap lebih."
Silvia kesal, tapi tidak berani mengutarakannya lagi, takut tidak bisa hadir ke pesta amal.