"Jadi, mereka datang ke pesta amal?" tanya Sonia pada Karin yang sudah berdiri di hadapannya. "Hmm..."
"Sepertinya, mereka akan mengambil salah satu barang berharga kastil." Karin memiringkan kepala. "Yang Mulia, Anda juga datang ke sana?"
Sonia cemberut. "Tidak, Daddy sudah dapat undangannya?"
"Semua ada di ruangan kepala pelayan, para pelayan langsung meletakkannya di sana. Nyonya tidak punya akses."
"Bagus, bakar saja."
Karin terkejut, biasanya Sonia selalu antusias diundang ke pesta besar, terutama pesta yang bisa membuatnya pamer. "Yang Mulia, Anda yakin?"
"Ayah dan kakakku tidak pernah hadir, Samuel juga entah kenapa tidak tertarik, biasanya dia suka pesta, aku hadir juga tidak ada gunanya di sana, hanya menghabiskan waktu dan uang."
Ini pertama kalinya Karin mendengar ucapan bijak Sonia. "Yang Mulia..."
Sonia duduk bersandar di sofa, menatap lurus Karin yang berdiri tegak di hadapannya, para bangsawan masih bersikap rasis, memandang rendah manusia yang memiliki warna di kulit. Bagi mereka, warna putih merupakan kasta tertinggi dari ras manusia.
"Orang tua kau meninggal? Karena apa?"
Karin menjawab tanpa menunjukkan perasaan sedih. Sudah sekian tahun hari-harinya dibuat bekerja sambil menangis, sekarang air matanya mungkin sudah mengering. "Sudah lama, mereka kelelahan, dan tidak punya uang banyak. Saya merasa berterima kasih, karena kastil ini mau menerima saya yang tanpa orang tua."
"Kau tahu... alasan orang tua kabur dari negara?"
"Tidak tahu, mereka tidak akan pernah mau melibatkan saya."
Sonia mengangguk paham, tidak ada orang tua yang ingin anaknya terjerumus masalah. "Baik, kita lewatkan saja masalah itu. Aku sudah bicara ke daddy, kau menjadi pelayan pribadiku."
Karin mengangguk, senyum antusias muncul. "Terima kasih Yang Mulia."
"Aku pilih kau karena bisa masak, aku butuh kemampuan itu. Masalah kemampuan lain, aku tidak terlalu permasalahkan. " Sonia sudah memikirkannya sejak lama. "Aku mau buka rumah makan."
"Ya?" Karin terkejut dengan ucapan Sonia. Tiba-tiba buka rumah makan? Apa dia salah dengar?
"Aku rencana buka rumah makan, aku butuh kau buat bantu aku masak."
Karin ragu untuk beri masukan, biar bagaimana pun masakan Sonia belum tentu enak untuk orang lain. "Anda bicarakan dulu pada Yang Mulia..."
"Daddy pasti menolak keras dan berikan uang, rasanya tidak menyenangkan."
Karin terdiam, tidak bisa berkomentar.
"Aku ingin cari uang sendiri, dengan rumah makan itu... mungkin bisa bantu modal aku menjadi model."
Karin sudah tahu mengenai cita-cita Sonia menjadi model, rahasia umum di kalangan pelayan, tapi entah kenapa yang sukses dan dipuji malah Silvia, adik tiri Sonia.
Karin semakin pusing dengan impian Sonia. "Lebih mudah jika Anda bicara pada Yang Mulia, mungkin beliau bisa bantu bukakan jalan menuju model."
"Daddy hanya fokus di bidang kesehatan, begitu juga kakak, lagipula..." Sonia terdiam.
Karin menunggu Sonia melanjutkan ucapannya.
Sonia menghela napas panjang. "Tidak mudah mengurus kastil dan semua harta turun temurun, bisnis keluarga tidak bisa menopang semuanya. Aku tidak ingin melakukan kebodohan di masa lalu."
Karin terharu dengan keputusan Sonia yang mulai dewasa. "Saya akan bantu anda semaksimal mungkin."
Sonia teringat sesuatu, bangkit dari sofa lalu berjalan menuju brankas lemari. Dia mengambil satu peti berukuran sedang, diserahkan ke Karin. "Ambil ini."
Karin mengambil peti, menatap bingung Sonia.
"Untuk kau."
Karin terbelalak lalu menyerahkan peti ke Sonia dengan perasaan takut. "Yang Mulia, saya tidak bisa terima."
"Kau belum buka dan sudah menolaknya?" Goda Sonia dengan senyum mengembang, sangat cantik di mata Karin.
"Saya sudah menjadi pelayan sejak kecil, kastil juga sudah menjaga saya dengan baik, tidak mungkin saya menerima barang dari Anda."
"Ambil saja, anggap saja ini sebagai penebusan masa lalu."
Karin menatap tidak mengerti, selama ini dirinya jarang berinteraksi pada Sonia dan lainnya, hanya fokus merawat Silvia.
"Isinya uang dan perjanjian sewa rumah."
Tatapan Karin beralih sedih. "Anda mengusir saya? "
"Tidak, kau tetap tinggal di sisiku di jam tertantu, sisanya kau pulang dengan penjagaan ketat."
Mata Karin membulat. "Maksud Anda..."
"Aku menyewa rumah supaya kau bisa masak resep buatanku, dan mengolahnya dengan baik. Aku memang suka masak tapi itu bukan fokus utamaku, kau paham?"
Karin mengangguk tanpa sadar lalu menyadari kalimat 'resep buatan'. "Yang Mulia buat resep sendiri?"
Sonia menghabiskan waktu dengan memasak di masa lalu, tentu saja resep mommy sudah pernah diolah dirinya. "Aku membayangkan beberapa resep mom diolah, pasti enak."
Karin tersenyum canggung.
***
Dua hari, Sonia dan Karin sibuk membuat contoh makanan, banyak yang gagal, namun mereka tidak menyerah.
Sonia memiliki daya ingat lemah, tentu saja ada beberapa bagian olahan yang tidak diingat, Karin menjadi penyelamat di beberapa bagian.
"Apa ini?" tanya Yuge sambil mengendus makanan di meja. "Dilarang bawa makanan."
Sonia tidak peduli dan tetap mengeluarkan tempat makanan piknik yang dibelinya dari Indonesia.
Georgia merasa dejavu melihat tempat makan piknik yang besar. Bagian bawah besar berisi sop, atasnya nasi lalu atas lagi lauk. "Wow."
Andre duduk di samping Georgia, menatap aneh Sonia yang mengeluarkan bekal, lalu melirik pelayan yang berdiri di belakanh, hanya diam tidak bantu sama sekali.
Yuge tanya pada Sonia. "Kenapa kau bawa makanan?"
"Aku punya banyak tugas rumah, harus diselesaikan malam ini," ucap Sonia dengan nada santai. "Jadi, aku tidak mau kita kelaparan, tenang saja... meski ada tamu tidak diundang, masih bisa dapat bagian."
Andre memutar bola mata dengan kesal. "Aku sering belajar di sini, beberapa hari tidak ikut karena sibuk. Kau yang tidak diundang di sini."
"Huh, kalau gitu... kau tidak akan dapat makanan buatanku," balas Sonia dengan nada kesal, lalu tersenyum ke Georgia. "Masakan ini dari resep ibu kandungku, aku olah sedikit."
Georgia mengenali sop di dalam. "Rawon? Daging?"
Sonia mengangguk. "Mom catat ayam dan manisa. Aku ubah menjadi daging, aku rasa kita semua butuh daging sapi. Daging babi rasanya tidak pas untuk lidahku."
Georgia tertawa geli.
Andre dan Yuge semakin tidak paham.
Sonia bingung dan bertanya. "Apa? Ada yang salah? Kenapa tertawa?"
Georgia berusaha menahan tawa dan menjelaskan. "Ibuku suka rawon, karena tidak bisa beli daging atau ayam, diubah menjadi manisa. Aku dan adikku tidak suka, ibuku yang suka. Oh ya, rawon memang dibuat dengan daging. Daging sapi."
Sonia dan Karin terdiam, menatap rawon yang sudah mereka olah dengan susah payah.
Georgia yang melihat itu jadi kasihan, sementara Yuge dan Andre tertawa keras, menertawakan kebodohan Sonia dan pelayannya.
Sonia menghela napas panjang. "Aku sudah susah payah mengolah bersama Karin selama dua hari."
Andre dan Yuge berhenti tertawa, suasana malam hari di perpustakaan menjadi canggung.