Sonia ingin menangis rasanya, di masa lalu berusaha keras membuat resep rawon sesuai ingatan, tapi yang ditulis resep hanyalah daging ayam dan manisa.
Dia juga berusaha keras mencari tahu tentang sayur manisa, dapat pun harganya mahal.
Karin punya ide mengganti daging ayam dengan berbagai daging lainnya, namun yang masuk di lidah hanya daging sapi.
Sonia masukkan daging sapi milik Sam yang belum dimasak koki rumah.
"Kenapa mom malah menulis lain?" gerutu Sonia.
Karin tersenyum kecil.
Sonia balik badan setelah mengambil piring yang sudah diisi makanan ke Karin. "Ini makan saja."
Karin terkejut dan hanya melihat piring di tangan Sonia.
"Ada apa? Kau tidak mungkin berdiri terus di sini kan?"
"Tapi Yang Mulia.."
"Duduk dan makan," perintah Sonia.
Karin mengambil makan di tangan Sonia lalu jalan ke meja yang berbeda.
"Kau mau ke mana? Lauknya di sini."
Karin berhenti lalu melihat tuannya dengan bingung. "Saya..."
"Duduk dan makan di sini."
Karin terpaksa duduk di samping Sonia dan mulai makan.
Yuge, Georgia dan Andre yang melihat adegan itu, hanya terdiam meskipun dalam hati merasa bingung dengan perubahan Sonia.
"Apa?" tanya Sonia yang menyadari perhatian tiga orang di meja. "Makan."
"Biasanya kau tidak suka pelayan duduk di samping," ucap Andre dengan nada heran. "Ngomong-ngomong, makanannya lumayan. Terima kasih sudah bekerja keras."
Georgia menyikut Andre yang duduk di sampingnya, dia paham sindiran anak laki-laki itu.
Yuge yang duduk di samping Sonia, berusaha mencerna adegan tadi. Apakah anak ini benar-benar berubah?
"Karin sudah banyak bantu aku selama dua hari ini, kenapa aku tidak mau duduk di sampingnya?"
"Karena kau putri rasis," Andre menjawab dengan tenang.
Georgia memutar mata dengan kesal. "Andre."
"Aku benar kan?" Andre menatap bingung Georgia. "Dia rasis."
Georgia menghela napas kesal.
Yuge tidak suka ucapan Andre. "Tidak, Sonia selama ini hanya menetapkan batasan, wajar seorang pelayan berdiri di belakang melayani tuan," belanya.
Andre tidak berani berdebat jika Yuge sudah turun tangan. Pria itu teman dekat kakaknya, dia kembali makan dengan lahap.
Yuge jadi kesal. "Kau berani mengkritiknya dan juga mengambil makanannya?"
"Setiap manusia harus berani bersuara," sahut Andre, tanpa merasa bersalah.
Georgia hanya diam dan merasakan makanan di piringnya, merindukan kampung halaman sekaligus masakan ibunya. "Menurutku..."
Andre dan Yuge terdiam, mendengar Georgia mulai bicara.
"Ibu kandung kau, seorang koki."
"Koki? Mom memang pandai masak, tapi aku tidak tahu dia koki." Sonia berusaha menggali ingatan masa lalunya, nihil seperti biasa.
"Ya, orang awam pasti menuliskan resep sesuai, tidak mengubahnya. Namun, resep yang ditulis di buku... diubah atau berbeda dengan resep asli, aku rasa beliau seorang koki."
Andre dan Yuge makan dengan tenang, mendengar percakapan Sonia dan Georgia.
Sonia memiringkan kepala. "Benar juga, kau memang jenius."
Yuge dan Andre sama-sama tersedak begitu mendengar pujian Sonia.
Karin dengan sigap mengambil dan menyodorkan gelas di dekat mereka berdua.
Andre dan Yuge menghabiskan minuman lalu mengucapkan terima kasih pada Karin.
Karin menunduk dan kembali melanjutkan makan.
Georgia sedikit perhatikan sikap Karin, lalu mengalihkan perhatian ke Yuge dan Andre yang mulai tenang.
"Ada apa? Kalian berdua ingin menghinaku lagi?" tanya Sonia dengan kesal.
"Tidak, hanya terkejut," sahut Andre.
Sonia memutar bola mata.
Yuge menatap Sonia dengan khawatir. "Kau baik-baik saja?"
"Apa sih kalian berdua?" Sonia semakin kesal dengan kelakuan mereka berdua.
"Kami mengenalmu sejak kecil, kau tidak pernah memuji orang lain." Andre menatap Sonia dengan sikap menantang. "Apa? Kau ingin menjilat Yuge?"
"Hanya anak kecil tapi sudah bersikap sok?" Sonia tidak takut dengan tantangan Andre. "Terserah aku melakukan apa pun, yang penting aku tidak pernah kabur dari rumah setiap ada masalah."
Andre bangkit dan marah, menunjuk Sonia. "Kau tidak tahu apa-apa."
"Duduk," perintah Georgia. "Kau yang salah, mulai duluan."
Andre duduk, mulai mengatur napas dan kembali makan. "Menyebalkan," gerutunya.
Yuge hendak bicara, begitu melihat gelengan Georgia, dia terdiam.
Sonia perhatikan kelakuan dua pria yang menurut pada Georgia. "Lihat kan, kalian menuruti Georgia, buat apa aku menjilat kalian? Aku hanya berterima kasih karena Yuge dan Georgia sudah bantu aku mengerjakan tugas sekaligus mengasah otak."
"Mengasah otak?" Andre menjadi bingung.
Sonia tanpa sadar menjelaskan pada Andre. "Aku hanya tidak ingin menjadi manusia pelupa, sekaligus ingin menggali ingatan masa lalu, semakin kita mengasah, semakin tajam ingatan kita bukan?"
"Apa yang akan kau lakukan setelah berhasil mengasah waktu?" tanya Andre dengan bingung.
"Aku ingin bertemu mom, mungkin tinggal sama beliau atau mengajak beliau tinggal ke rumahku nantinya. Kastil dan bisnis keluarga pasti akan diserahkan ke Ryo, tidak mungkin aku tinggal bersama kakak. Jadi, lebih baik aku persiapkan diri keluar dari kastil."
Andre terkejut lalu bertanya lagi. "Kau benar-benar serius keluar dari kastil? Apa yang membuat kau berubah? Apa di kastil membuatmu tidak nyaman? Tidak mungkin paman atau kak Ryo mengusirmu dari kastil."
"Ya, aku tidak nyaman dengan situasi sekarang." Sonia mengangguk santai. "Dad menikah lagi dengan pelayan pribadi mom, kedua anak bawaannya buat aku sakit kepala, berbeda dengan Leonard yang pendiam. Dia tidak terlalu banyak ikut campur di kastil, yah... kalau aku jadi dia, juga tidak akan mau ikut campur, lebih baik menjauh."
"Itu sebabnya kau tidak main lagi dengan Brenda dan lainnya?" tanya Andre yang mulai tertarik dengan cerita Sonia, tapi juga sedikit waspada, takut yang diceritakan hanya kebohongan.
"Wanita itu setuju menjual buku resep mom, mantan kepala pelayan sudah mengakui, wanita itu.. dia mengakui sebagai kecerobohan, padahal tidak mungkin dia tidak tahu mengingat selalu mengurus kebutuhan mom."
"Sebelumnya kau dekat dengan anak-anaknya kan?" tanya Yuge.
"Aku dekat karena mereka berani mendekatiku, manusia mana yang berani mendekatiku setelah melakukan banyak keburukan?" Sonia tanya balik pada Yuge.
Yuge tidak menjawab dengan ucapan, hanya mengacak rambut Sonia dengan gemas.
"Akhirnya kau mulai sadar," ejek Andre.
Sonia kesal, tapi tidak bisa ditunjukan. Memang benar yang diucapkan lawan bicara, masa lalunya penuh dengan keburukan. Herannya, dia bisa menceritakan keburukan sendiri di depan orang-orang, padahal sebelumnya, dia merasa malu atau harga dirinya terlalu tinggi untuk cerita kesalahan sendiri.
Karin yang mendengar cerita Sonia, terharu, berjanji pada diri sendiri, akan melayani Sonia dengan baik.
"Ah, aku mendapat undangan amal. Kau sudah?" tanya Yuge pada Sonia.
Sonia mengangguk kecil. "Setiap tahun dapat, aku kan selalu datang."
"Kau benar-benar tidak akan datang?" tanya Yuge yang memastikan lagi.
"Tidak, aku tidak datang," Sonia menjawab tegas.
"Kau mau pergi denganku? Ayahku sudah persiapkan barang yang akan didonasikan, kau bisa bantu aku pilih."
"Kenapa harus aku? Biasanya kan ada Daniel atau teman lainnya yang bisa bantu."
"Kau suka perhiasan, pasti paham mengenai barang-barang itu."
Sonia berpikir sejenak.
"Ikut dan aku akan berikan buku resep mommy kau."
"Memang mommy pernah menulis buku resep untuk keluargamu?"
"Ibuku tidak pandai memasak, jadi beliau bantu dan menulis banyak resep sederhana."
"Oke, aku ikut." Sonia tidak berpikir dua kali, dia penasaran dengan buku resep itu.
Andre menganga melihat interaksi sepasang tunangan yang hubungannya mendingin, sudah kembali hangat. "Aku hanya tidak masuk sebentar, sudah melihat banyak perubahan, hebat."