SAKSI PERSELINGKUHAN

1051 Words
"Sudah lama aku tidak makan enak." Andre mengusap perut dan menutup mulut untuk menahan sendawa di tenggorokan. "Setiap hari hanya makan roti, roti dan roti. Tidak kenyang sama sekali." Sekarang mereka berlima keluar dari perpustakaan dengan perut kenyang. "Kalau begitu, kalian mau bantu aku?" Sonia akhirnya punya kesempatan. "Aku dan Karin hobi masak, tapi kami tidak tahu bagaimana menghabiskannya, dibuang pun rasanya sayang karena bukan masakan gagal." "Kau mau buka restoran?" Tebak Georgia. "Tidak mungkin hobi masak sebanyak itu kecuali acara keluarga, tidak setiap hari ada acara besar, kan?" "Aku tidak tahu." Sonia tersenyum. "Hanya ingin menghabiskan uang?" "Bukannya kau butuh uang untuk modal jadi model?" tanya Yuge yang masih tidak percaya. Sonia berhenti lalu balik badan, menatap takjub yuge. "Tahu dari mana? Aku memang butuh uang banyak." "Dulu kau selalu bilang mau menjadi model dan punya uang banyak supaya aku tertarik?" Sonia malu begitu mengingatnya, dia balik badan dan jalan, membelakangi Yuge sementara pelayannya berdiri di samping bawa kotak makan. "Kau yakin tidak bicara pada Georgia?" Andre dan Georgia berhenti begitu mendengar nama Georgia disebut, Sonia dan pelayannya yang di belakang, otomatis berhenti, Yuge melakukan hal sama dan menoleh ke pintu yang setengah terbuka. "Buat apa aku bicara padanya?" "Dia tunangan kau, harusnya kalian datang bersama." "Untuk apa? Dia hanya permalukan aku." "Jadi, aku yang ikut? Bagaimana kalau ada gosip tidak menyenangkan? Secara status, aku saudara tiri." Sonia melihat kedua tangan Andre mengepal sementara Georgia memeluk erat buku di pelukannya. "Tidak masalah, aku bisa bilang kau adikku, tapi tidak masalah jika mereka tahu, kau kekasihku." "Jangan nakal, bagaimana kalau ada yang lihat." "Memangnya bisa apa mereka kalau lihat? Kau belum melayaniku dua hari ini." Andre hendak mendorong pintu, ditahan Georgia. "Tapi..." Georgia menggeleng. Mereka berlima di depan pintu bisa mendengar suara erangan kedua pasangan m***m itu. Yuge geram mendengarnya. Sonia perhatikan pintu yang setengah terbuka, lalu menendangnya. Cahaya lampu di dalam ruangan sangat terang, memperlihatkan kulit dan raut wajah dua pasangan m***m. "Wah, tidak aku sangka bisa melihat pemandangan konyol." Sonia memiringkan kepala sambil mengejek dua sejoli m***m. "Bukankah Brenda di bawah umur? Alasan kau tidak menyukai Georgia juga sama." Brenda yang dari tadi membuka kaki sementara Alex di tengahnya, spontan berusaha menutup pakaian meski posisi masih di tempat sama. Sonia bersiul. "Wow, Brenda. Kau selalu mengejek aku tidak bermoral, sekarang siapa yang tidak bermoral di sini?" Brenda meraung marah. "KELUAR!" Yuge muncul di belakang Sonia, kedua mata menyipit. "Alex, tidak aku sangka kau melakukan hal ini di sekolah? Jangan-jangan Brenda selalu ke kantormu... kalian melakukan hal sama?" Alex yang sudah menutup pakaian, balik badan. Begitu melihat Georgia, dia tertawa kesal. "Georgia, kau bawa pasukan?" Georgia masih berdiri di luar ruangan, melihat ruangan sempit yang dipakai m***m, membuatnya sedih. Dia mengalihkan pandangannya, tidak mau melihat pasangan m***m itu. Brenda menatap kesal Georgia. "Masih saja mengikuti Alex." Sonia menutup pandangan Brenda dan Alex ke Georgia sambil berkacak pinggang. "Kalian menutup kesalahan dengan menyalahkan Georgia, otak kalian ada di mana?" Brenda menatap tidak mengerti Sonia. "Kau teman baikku, bagaimana bisa berkata jahat? Aku tidak pernah menyalahkan orang lain, kecuali orang itu salah?" "Merebut tunangan orang bukan kesalahan?" Brenda memutar bola mata. "Oh, ayolah Sonia. Hanya karena ada Yuge di sini, kau ingin bersikap sok suci? Selama ini kau juga bermain dengan adikku, jadi di mana letak kesalahannya." Sonia melihat kuku tangan dengan santai, cat kuku sudah dibersihkan, hanya terlihat kuku normal, sehat dan bersih. "Benar, aku dan Alex sangat suka bermain, kami bangsawan, wajar punya tunangan sejak kecil. Yuge jika ingin bermain dengan wanita lain, aku tidak permasalahkan sekarang." Brenda mengerutkan kening. "Selama ini kau selalu menjaga image di hadapan Yuge." "Oh, ya. Aku selalu menjaga semuanya berada di jalan benar, tapi aku tidak menyangka kau yang mulai semua duluan. Kenapa?Tidak bisa masuk ke pesta amal tanpa bantuan Alex? Terus kenapa kau malah menghina Georgia, hanya karena tidak bisa datang sementara kau... menjilat s**********n Alex." "SONIA!" raung Brenda. "AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN KAU, MESKIPUN KITA TEMAN BAIK!" "Apa aku salah?" tanya Sonia dengan nada santai. "Tidak ada yang salah, semuanya benar, lagipula.. aku tidak beli kau maafkan aku atau tidak, semua yang aku katakan adalah kebenaran." "Kebenaran apa? Kau..." Brenda terdiam begitu melihat tatapan tajam Alex. "Mereka yang mulai, aku hanya melawan." Alex memijat kening dengan kesal lalu mengusir para tamu tidak diundang. "Keluar dari sini." "Kalau begitu, kami berempat menjadi saksi untuk Georgia," kata Sonia dengan senyum licik. "Selama ini kalian selalu cerita ke banyak orang, kalau Georgia mengganggu dan kejar kalian, malam ini aku melihat semuanya. Bagaimana kalian menyebut nama Georgia dan meremehkannya." "Sonia." "Jangan sebut namaku." Sonia menatap angkuh Brenda. "Aku tidak pernah mengenal kau." Brenda menggigit bibir, rencananya gagal. Padahal dia hanya ingin pamer ke Sonia, berhasil masuk ke pesta lalu menggunakan anak itu untuk membantunya berikan donasi ke pesta amal. Sonia tertawa di dalam hati, Brenda pasti bingung, tidak ada yang bisa digunakan. Di masa lalu, supaya bisa membalas dendam pada Yuge, dia melakukan segala cara agar Brenda mau menolong. "Sonia, kita sudah lama berteman." Sonia mundur dan menarik tangan Georgia. "Ayo pulang, aku tidak suka mencium bai menjijikan di dalam ruangan." Yuge menggeleng sedih, menatap Alex yang tidak mengatakan apa pun. "Aku kecewa padamu." Alex tidak peduli. *** Setibanya di rumah, Sonia berendam dengan bantuan Karin. Menghela napas lega begitu mendapat kenyamanan mewah. Karin memijat pundaknya yang lelah. "Anda yakin memutuskan pertemanan?" "Lebih baik tidak punya teman, daripada menghadapi orang bodoh seperti mereka." Karin menatap bingung belakang kepala Sonia. "Anda selalu bersama mereka." "Aku tidak suka selingkuh, aku benci melihat orang yang tidak punya komitmen, mereka selingkuh." "Tapi Anda sudah mengetahuinya sejak awal." "Buta." "Yang Mulia, kenapa Anda tidak bilang pada mereka tentang rumah makan? Siapa tahu mereka akan datang dan..." "Dulu, aku selalu berharap orang lain membantuku, sekarang aku tidak mau merepotkan orang lain lagi. Yah, mereka tahu aku butuh uang, tapi aku tidak butuh donasi mereka." Sonia menggerakkan bahunya sedikit. "Rasanya sangat nyaman dipijat begini." Karin tersipu. "Terima kasih." "Jadi, bagaimana progressnya?" "Sudah bisa dijual, tapi lebih baik kita menjual sedikit produk, supaya tidak bingung." Sonia mengangguk. "Kita batasi pelanggan, aku tidak mau terlalu banyak orang datang." "Yang Mulia, kita hanya jualan di halaman rumah, lagipula kita butuh uang lagi." "Tidak masalah, aku akan mendapatkannya." "Minta Yang..." "Tidak, aku tidak akan minta keluargaku." Sonia meregangkan tubuh. "Kita akan berjuang berdua." Karin tersenyum tipis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD