BULLY

1009 Words
"Sonia." Sonia yang menuruni tangga dan bersiap pergi ke sekolah, melihat Seinna dan kedua anaknya menunggu di bawah tangga. "Kau semalam pulang terlambat lagi kan?" tanya Seinna. "Kenapa bawa makanan banyak?" "Kenapa kau bertanya? Tahu dari mana aku bawa makanan?" "Pelayan dapur melapor, ada tempat makanan yang hilang." "Hilang?" "Ya, padahal ayahmu melarang siapa pun menggunakannya." "Oh, ayahku hanya melarang orang tidak berkepentingan memakai barang-barang kami, setidaknya dia masih bisa berpikiran sehat." Silvia terlihat cemberut begitu mendengar ucapan Sonia, namun tidak diutarakannya. Seinna tidak mau ambil pusing ucapan Sonia mengenai itu, dia hanya ingin jawaban lain. "Semalam... kau bersama anak pung... maksudku Georgia?" "Kenapa memangnya?" "Jangan bersamanya, pembawa masalah." "Masalah?" "Sonia, aku hanya memperingatkan kau, Georgia sudah bawa masalah ke orang lain. Dia tidak berhak mengambil hak yang bukan miliknya." "Menarik, berikan aku salah satu contoh." "Dia... kau tahu tentang ini? Undangan pesta amal milik keluarga Earl Brighton?" "Apa hubungannya denganku?" "Dia tidak pernah datang, tapi malah bilang akan datang bersama Alex." Sonia menaikkan salah satu alis. "Semalam?" "Ya." Angguk Seinna. "Kau tahu hal ini?" "Untuk apa aku mengetahuinya? Bukan urusanku." Silvia menjadi tidak sabar, semakin kesal begitu mengingat tangisan Brenda pagi hari di telepon. "Dia mencuri undangan." "Sekarang yang jadi pertanyaan aku, kenapa kalian peduli? Undangan keluarga Earl Brighton urusan mereka, bukan kalian, kenapa kalian ikut campur dan menyalahkan Georgia?" Silvia menipiskan bibir begitu mendengar ucapan Sonia, namun tidak berani mengucapkan apa pun. Sonia menatap mereka curiga. *** "Oh, lihat. Ada pencuri di sekolah." Georgia yang baru masuk gedung sekolah, dihadang Brenda dan teman-temannya. "Hallo pencuri." Georgia berusaha melewati mereka, namun gagal. Salah satu teman Brenda merampas tas Georgia lalu mengeluarkan isinya ke lantai, yang lain menyiramnya dengan air keruh. "Oh, astaga. Bau sekali, bagaimana bisa kau sebau ini? Oh, aku lupa kalau kau... memang dari keluarga bau." Brenda menutup hidung dengan angkuh. "Pergi sana, ke tempat asalmu." Georgia masih diam, tidak mengatakan apa pun, hanya memandang buku-bukunya yang sudah basah. "Lihat, Brenda. Bukannya ini gelang yang diberikan kekasihmu?" Brenda melirik gelang di tangan salah satu temannya. "Oh, memang ada pencuri di sini." Georgia juga perhatikan gelang di tangan anak itu, warnanya sangat cantik dan bisa membuat anak-anak perempuan lainnya iri. Brenda menjambak Georgia yang hanya diam. "Kau cemburu? Kau berusaha menghancurkan aku? Kau tidak bisa melakukan itu, Alex beri aku kebebasan, berbeda dengan kau yang hanya mengaku tapi tidak bisa diberikan apa pun. Georgia merasa kesakitan dan tetap tidak mengatakan apa pun. Brenda menjadi kesal dan mendorongnya hingga punggung membentur tembok. Georgia yang tidak siap, tiba-tiba merasakan sesak. Brenda dan teman-temannya panik, lalu meninggalkan tempat, murid lain yang lewat tidak berani mengganggu bahkan menolong Georgia. Georgia mengambil obat di saku rok dengan susah payah, tapi terlambat, pandangannya menghitam terlebih dahulu. Maya yang sudah datang dari pagi dan mengambil buku di perpustakaan terlebih dahulu, masuk kelas, lalu melihat teman-teman sekelas mengerumuni meja Georgia. Jantung Maya berdetak kencang, berusaha menerobos kerumunan dan melihat tulisan tidak layak di meja Georgia. "Apa lagi yang anak itu lakukan?" "Dia selalu membuat masalah?" "Lebih baik jangan sekolah di sini." Maya mendecak kesal dan keluar dari kerumunan, teringat Daniel yang tiba-tiba keluar dari perpustakaan terburu-buru. "Di mana anak itu?" gumamnya sambil berusaha mencari Daniel di sekitar. Saat berhenti istirahat untuk mengatur napas, Maya mendengar percakapan siswa yang melewatinya. "Memalukan, dia pingsan lagi." "Bau juga." Maya menarik tangan salah satu siswa. "Aku tahu kalian di kelas biasa, bukan bangsawan. Beritahu aku di mana anak yang kalian maksud?" Siswi itu ketakutan begitu melihat lambang bangsawan di jas Maya. "Di depan pintu masuk gedung." Maya bergegas pergi ke pintu masuk gedung, kali ini tidak ada kerumunan, para siswa hanya berjalan melewati mereka, meski penasaran. Maya dan semua murid di sekolah tahu, Sonia penguasa sekolah dan sering mengganggu Georgia. Sekolah mereka terbaik nomor satu di dunia, tidak ada yang berani ikut campur jika tidak mau dikeluarkan dari sekolah. "Daniel." Daniel berjongkok dan memeluk Georgia. "Mereka sudah keterlaluan." Lina datang menyusul dan melihat pemandangan menyedihkan. "Bantu aku membereskan buku Georgia." Maya mengangguk dan bantu Lina, sementara Daniel menghubungi kakaknya dengan pesan singkat di telepon. Tidak lama, Yuge datang dan menggendong Georgia setelah memeriksanya. Daniel ikut dari belakang sementara Lina dan Maya tetap di sekolah, menjaga barang-barang Georgia. Satu jam kemudian, Sonia datang terlambat dan masuk tanpa peduli pada guru yang menjelaskan pelajaran, duduk santai setelah mengangguk kecil pada guru dan teman-teman sekelas memberikan salam. Guru jengkel dan berkata, "kita sekolah, untuk belajar, bukan bersenang-senang apalagi menunjukkan kekuasaan. Tadi pagi ada salah satu murid pingsan karena ulah murid lain, kalian jangan sampai terlibat kalau tidak mau masa depan jatuh." Sonia mengerutkan kening. "Siapa yang Anda maksud?" Guru tersenyum ke Sonia. "Tidak ada, hanya nasehat." Sonia tahu ada yang tidak beres, tadi pagi dia melihat petugas kebersihan membersihkan pintu masuk sekolah, biasanya mereka mulai bekerja saat para murid masuk kelas dan tidak mengganggu aktifitas. Sonia keluar kelas sambil membawa barang-barangnya dan pergi ke kelas Georgia. Anak itu mengikuti kelas akselerasi, punya gedung sendiri. Beberapa menit kemudian, Sonia tiba di depan pintu kelas dan melihat bangku kosong di dalam, dia menyipitkan mata dan masuk. "Oh, Yang Mulia." Guru yang mengenali Sonia, membungkuk hormat. Sonia masuk kelas dan menatap bangku kosong. "Meja itu punya Georgia kan?" "Benar." "Kenapa dia tidak masuk hari ini?" "Saya tidak tahu." "Kau tidak peduli?" "Yang Mulia, saya hanya guru, pengajar bukan tukang absen." Suatu kebanggaan tersendiri mengajar murid-murid dari sekolah elit, mereka tidak mau mendapat masalah dan dikeluarkan secara tidak hormat. Gaji dan gengsi bisa mereka dapat bersamaan di tempat ini. "Kau tidak tahu?" Maya dan Lina bertukar tatapan dari jarak jauh. Sonia mengedarkan pandangan lalu berjalan ke Maya, dia mengenali anak ini sebagai salah satu bangsawan bangkrut, dan juga teman dekat Georgia. "Di mana dia?" "Siapa?" tanya Maya yang bingung. "Georgia, kenapa dia tidak masuk sekolah? Dia tidak pernah absen kan?" "Dia selalu absen." Salah satu murid berusaha menjilat Sonia. "Dia sering tidak masuk kelas." Sonia mengerutkan kening dan bertanya di dalam hati. Jarang masuk kelas tapi selalu ke perpustakaan? "Georgia baik-baik saja, dia izin tidak masuk," sahut Maya yang berusaha melindungi temannya. Sonia masih tidak percaya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD