bc

Amara: Mencintai Tunangan Sepupuku

book_age18+
5
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
boss
heir/heiress
drama
sweet
bxg
bold
city
polygamy
wild
like
intro-logo
Blurb

Kedatangan Dirja Rana Manggala dan keluarga Manggala ke rumah kakeknya membuat Asmara Danya Wisesa bertanya-tanya. Pasalnya, ia baru saja memutuskan hubungan dengan lelaki itu. Bukan karena ada hal buruk yang dilakukan Dirja. Bukan karena lelaki itu selingkuh, bukan juga karena Dirja tega memukulnya.Tidak.Mereka berpisah karena Amara yang tidak percaya kalau cinta harus dibuktikan dengan menikah.Pernikahan Mama dan Papanya dulu memang indah dan bahagia, namun pernikahan itulah yang membuat Amara menjadi sebatang kara seperti sekarang. Kawin lari mereka adalah bencana yang membuatnya jadi hidup sendirian di tengah keluarga kakeknya yang beracun. Kakeknya yang memaksakan semua yang diinginkannya pada hidup Amara, Tante Indi yang selalu memandangnya dengan sinis, perebutan posisi CEO di Wise Corp dengan Sakala, dan Nalika yang ramah pada semua orang namun selalu mengabaikannya.Semua itu sudah cukup untuk membuatnya tidak percaya pada pernikahan itu bisa membawa kebahagiaan dalam hidup. Mama dan Papanya mungkin bahagia, tapi bagaimana dengan ia sekarang?Namun Dirja yang datang bukan untuknya melainkan untuk Nalika Radia Wisesa, sepupunya itu, membuat hatinya tercabik. Ia menghadang Dirja tanpa ragu hari itu. Ia menatap apa Dirja benar sudah tidak mencintainya dan memilih sepupunya. Tapi pertanyaan Dirja padanya membuat semua sisa pertahanannya runtuh.

“Aku menawarkan cinta, Amara. Tapi kamu memilih luka. Inikah yang kamu inginkan? Perasaan terluka seperti ini?”

chap-preview
Free preview
1. Mantan Jadi Ipar
Lelaki itu adalah Dirja Rana Manggala. Lelaki yang berdiri tengah-tengah semua orang itu adalah orang yang sama dengan yang selalu menyatakan bahwa ia mencintainya. Lelaki yang berdiri berhadapan dengan Nalika di sana adalah lelaki yang sampai saat ini masih ada di dalam hatinya. Lelaki yang kini tersenyum menawan itu adalah lelaki yang masih bisa ia dengar bisik puji dalam khayalannya tadi. Lelaki yang sudah ia ucapkan kata putus seminggu yang lalu. Juga adalah lelaki yang sudah ia buat sakit hati. Mata perih Amara berkedip. Ia mengalihkan pandangan dari pasangan yang sedang ditanya-tanya oleh kakek itu. Tidak tahu kenapa tapi sakit sekali melihat mereka berdua saling berhadapan. Tapi tatapannya yang beralih malah bertabrakan dengan pandangan mata Bunda di seberang tempat duduknya. Perempuan yang sudah Amara kenal juga. Perempuan yang menjadi tempat bersandarnya selama beberapa waktu yang lalu. Perempuan yang selama ia bersama Dirja selalu menjadi tempatnya berbagi cerita. Perempuan pemilik surga dari Dirja. Bibir Amara naik, melengkung memaksa diri tersenyum dan mengangguk kecil. Tadi saat sesi sambutan dan bersalaman, ia menunduk mencium punggung tangan Bunda dengan khidmat. Ia juga dapat pelukan pelan darinya. Satu yang akan menghilang kembali dari hidupnya. Amara menahan diri untuk duduk lebih lama di sana. Berusaha keras menghindari tatap setiap orang yang mengenalnya di keluarga Manggala. Amara menahan diri untuk tidak menangis. Amara menahan diri untuk tidak bersin. Amara menahan diri untuk tidak menggaruk ujung hidungnya yang gatal karena wangi bunga. Ia pandai menahan diri. “Neng Nalika Radia, apakah bersedia untuk mengenal lebih dekat Akang Dirja Rana sebelum nanti berlanjut ke jenjang selanjutnya?” Nalika mengangkat wajah. Wajahnya yang cantik –mata cokelat keturunan Wisesa, hidung mancung bangir, bibir bulat penuh yang seksi, dan proporsi wajah tirus oval yang seimbang. Hari ini ditambah dengan riasan make up flawless yang membuatnya tambah cantik. Rambutnya yang berwarna gelap disanggul rapi dengan hiasan long sirkam seri Melati-nya Tulola, menyisakan helaian di sisi kiri dan kanan yang membingkai wajahnya. Mata Nalika menatap bergantian pada Dirja dan pada pembawa acara hari ini, Rainy Arunika. Lalu tersenyum canggung. “Ih, malu-malu ya ini Neng pengacara, padahal kalau di ruang persidangan lantang banget suaranya,” goda Rainy yang membuat semua orang tersenyum. Kecuali Amara yang masih diam dan mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Oh, kalau gitu, kita ganti pertanyaannya ke pihak lelaki. Calon imam, calon kepala keluarga, Akang Dirja,” panggil Rainy dengan lebih tegas. Dirja yang tersenyum kecil mengangguk tanpa mengangkat pandangan pada Rainy. “Apakah sudah siap untuk lebih mengenal Nalika banyak sebelum nanti kita berlanjut ke arah yang lebih serius lagi?” tanya Rainy dengan pertanyaan yang sama. Kini Dirja mengangkat pandangannya. Bukan menatap Nalika yang ada di depannya, tapi melirik Amara yang duduk hampir di ujung sofa yang mengelilingi ruang tamu. Melihat wajah Amara yang terangkat namun dengan mata yang menunduk. Tatapan sinis yang ia berikan pada Amara itu langsung ia ganti dengan pandangan ramah saat menyadari semua mata kini terarah padanya, menunggu jawabannya. “Kalau Lika mengizinkan, saya siap untuk berkenalan lebih lanjut,” jawab Dirja dengan suara tenangnya. Mata Amara terangkat. Melihat bagaimana senyum Dirja dan tatapannya yang terarah pada Nalika yang mengulum senyumnya. Tatapan yang dulu hanya melihat kepadanya. “Gimana, Neng?” tanya Rainy yang sekarang menatap Nalika. Tangan Nalika yang memegang microphone terangkat naik, “Bismillah,” katanya lalu nyengir, “atas izin dan restu dari mama dan papa,” ia menoleh pada Indi Jandra dan Barata Wisesa, “juga dari Kakek,” ia menyipitkan mata dan tersenyum pada Darja Hadi, lalu kembali menoleh pada lelaki yang berdiri di depannya. Dirja menatap balik Nalika. Tatapan tajam, tanpa perasaan, hanya ucapan yang manis, Nalika tersenyum, “Hm, saya mengizinkan kita untuk saling mengenal,” ucapnya dengan suara yang manis, “Hai, aku Nalika, persiapkan diri kamu untuk mengenal aku yang bisa aja bikin kita jadi berlanjut ke tahap selanjutnya,” lanjutnya ramah dengan kerlingan mata dan uluran tangan yang mengajak berkenalan. Terdengar kekehan pelan yang memenuhi ruang tamu besar itu dengan keberanian Nalika. “Waw! Gebrakan yang berani, Neng Lika,” puji Rainy yang ikut bersemangat dengan apa yang baru saja Nalika katakan. Dirja mengalihkan pandangan pada tangan terulur Nalika. “Gimana, Akang Dirja?” Rainy menoleh pada Dirja, “ini Si Eneng udah ngasih lampu ijo gini buat lanjut terus.” Ujung bibir Dirja kembali terangkat saat ia tersenyum, matanya kembali menatap pada wajah yang punya sedikit kemiripan dengan Amara itu. Matanya. Tangannya naik, menjabat tangan mungil halus milik Nalika, “Hai, Nalika. Saya Dirja. Saya menunggu hal apa yang bisa membuat kita lanjut ke tahap selanjutnya.” Jawaban berani Dirja membuat semua orang tua tersenyum dan menggeleng pelan dengan kedua anak yang baru bertemu untuk berkenalan itu. Sedangkan semua sepupu mereka yang datang sibuk bersorak menggoda pasangan baru di depan mereka. Kecuali Amara yang menatap itu dengan mata perih dan menggigit bibir dalamnya menahan gemetar. Kalau saja ia tahu acara apa yang didatanginya hari ini, ia tidak mau datang. Biar saja ia dapat wejangan Kakek dua hari dua malam. Kalau saja ia tahu. -o0o- Pagi tadi, … Parkiran luas di dalam area rumah kakeknya, rumah besar keluarga Wisesa itu sudah penuh oleh mobil-mobil yang ia kenali. Asmara Danya Wisesa –atau yang biasa dipanggil Amara, memarkirkan Audi A5 berwarna putihnya di tempat yang masih kosong. Ia menurunkan sunvisor, menatap pada cermin, menatap wajahnya yang sudah dirias. Make up tipis sehari-hari yang tidak mencolok. Tangannya meraih pouch make up yang selalu ada di sana, mengambil lipstik berwarna nude, lalu mengoleskannya ke bibirnya yang penuh. Ia mengatupkan bibir dan merapikan dengan jari telunjuknya. Lalu terpaku menatap dirinya sendiri. “Cantik banget pacar aku.” Telinganya masih mendengar satu pujian dari orang yang sudah ia dorong begitu jauh. Pujian yang biasa ia terima saat sedang membereskan make up-nya, saat ia sedang tersenyum, atau setiap kali mereka selesai berciuman. Pujian yang selalu sukses membuatnya merasa dicintai. Tapi itu dulu. Itu kemarin. Sebelum Amara tahu bahwa ada satu hal yang tidak akan bisa mereka sepakati bersama. Satu hal yang sulit untuk Amara mengerti sendiri. Bahwa ia tidak ingin menikah. Ia tidak ingin terikat dengan sebuah janji yang hanya akan membawa kesengsaraan. Ia pikir begitu. Itulah yang membuatnya mendorong lelaki itu jauh-jauh. Memutuskan hubungannya dan menghindarinya selama hampir seminggu ini. Kepala Amara menggeleng kemudian, menggerakan mutiara yang tergantung di tusuk konde berkepala kupu-kupu yang menyangga sanggulan rambutnya. “Jangan dipikirin lagi!” perintahnya pada diri sendiri. Amara menatap matanya yang hari ini memakai softlens minus tanpa warna, yang memperlihatkan warna mata aslinya. Cokelat terang yang cemerlang. Menatap matanya sendiri untuk meyakinkan dirinya. Meyakinkan hatinya. Tangannya bergerak menutup sunvisor. Ia beralih pada tasnya hari ini, Chanel 25 medium berwarna burgundy yang menjadi hadiah ulang tahun ke dua delapan dari kakeknya, Darja Hadi Wisesa. Merapikan yang ada di dalamnya, memindahkan lipstik yang dipakainya, menyemprotkan parfum sekali lagi. Juga memastikan inhalernya ada di sana. Asma-nya selalu kambuh jika ada di sini. Karena rumah kakeknya berada di wilayah dingin Lembang, yang selalu berhasil membuat jalan napasnya menutup. Kini Amara beralih pada sandalnya yang bergambar bunga matahari, menunduk menggantinya dengan Manolo Blahnik Maysli berwarna hitam. Ia meraih kunci lalu membuka pintu mobil. Turun dengan tangan menggamit tasnya. Lalu menutup kembali pintu mobil, terakhir menekan kunci. Saat berbalik, ia menyipit menatap matahari pagi yang terasa hangat menyentuh kulit wajahnya. Amara menarik napas, wangi segar udara pagi dan sekelilingnya yang ditumbuhi pohon pinus membuat jalan napasnya lega. Matanya menutup sebentar, merasakan hening, damai, yang terdengar beberapa cicit burung dan suara dari rimbunan pohon yang ada di sisi kiri kanan rumah. Kepalanya menunduk, membuka matanya menatap kebaya berpotongan kutubarunya hari ini. Kebaya organza berwarna pink blush yang sederhana, dengan kamisol senada. Ia padukan dengan celana panjang bahan berwarna cream. Tidak mencolok. Dan tidak akan membuat Nalika kalah dari penampilannya yang biasa-biasa ini. Yah, benar. Tujuannya datang ke kediaman kakeknya adalah untuk menghadiri acara pertemuan sepupunya, Nalika Radia Wisesa. Yang akan bertemu dengan calon suaminya. Calon suami? Amara tidak yakin ingatannya benar. Tapi yang ia tahu adalah Nalika hari ini akan bertemu dengan seorang lelaki. Dijodohkan dengan entah siapa. Kemarin seluruh keluarganya datang dadakan untuk fitting baju di butik miliknya, Kupu. Acara pertemuan dadakan ini membuatnya rela direpotkan karena semua orang jadi memuji bagaimana pelayanan Kupu untuk semua orang. Jadi, disinilah ia sekarang. Menjadi anggota keluarga yang baik. Tanpa tahu apa yang akan dihadapinya di dalam sana. -o0o-

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.6K
bc

Kali kedua

read
220.5K
bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.6K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook