"Clara..." Clara yang mendengar nama nya di panggil pun menoleh dan mendapati Kei yang ternyata memanggil nama nya dari belakang. Clara memutar tubuh nya menghadap kearah Kei dan dia bisa melihat Kei yang sedikit berlari menuju arah nya.
"Kei?" Sapa Clara bingung karena bisa bertemu dengan Kei di halaman apartemen nya. Clara sendiri baru saja selesai berbelanja kebutuhan tempat tinggal baru nya.
"Cla kamu kemana aja? Aku hubungin kenapa enggak bisa?" Tanya Kei begitu sampai di hadapan Clara.
"Emh Maaf hp aku mati, aku nggak tau kalo kamu ngehubungin aku, soalnya aku baru pindahan" kata Clara tidak enak. Karena saking kesal nya dengan Vani dan yang lainnya Clara sampai lupa jika bisa saja Kei atau orang kantor menghubunginya karena ada hal penting.
"Kamu pindahan?" Tanya Kei
"Ya..." Jawab Clara seadanya.
.
.
Clara dan Keiland memutuskan untuk pergi ke sebuah caffe yang tidak jauh dari sana. Keduanya membutuhkan ruang untuk bicara berdua dan tentu saja di setujui oleh Clara dengan mudah.
"Jadi ada apa kamu ngehubungin aku?" Tanya Clara karena takut ada urusan penting di kantor.
"Nggak ada hal penting sih sebenar nya, aku cuma mau ngajak kamu makan siang awal nya. Cuma nggak kamu jawab dan ini udah sore juga" kata Keiland menjelaskan maksudnya.
"Maaf sekali lagi ya..." Kata Clara dengan raut tidak enak nya.
"Nggak apa apa, cuma aku sekalian mau pamit" perkataan Kei kali ini membuat Clara menatap nya dengan bingung.
"Pamit? Kamu mau kemana?" Tanya Clara lagi
"Kamu tau kalau aku cuma pengganti CEO di kantor. Dan Abang aku udah balik jadi aku nggak akan disana lagi, aku bakalan ke Paris buat ngadain acara pameran seni"
"Pameran seni? Kapan?" Tanya Clara antusias karena Clara yang type suka hal berbau seni juga sebenar nya.
"Beberapa bulan lagi kalau nggak ada halangan tapi aku tetap harus berangkat besok buat mempersiapkan semuanya"
"Semangat ya... Aku yakin kamu pasti bisa" Clara berkata seperti itu tulus dari hati karena dia sudah merasa dekat dengan Kei, dan tanpa sadar Clara memegang tangan Kei yang ada diatas meja.
Clara yang melakukan tanpa sengaja tapi hati Kei yang berdebar saat merasakan itu. Dan Kei dengan tatapan yang dalam menatap Clara penuh arti.
.
.
.
"Selamat pagi tuan" Clara membungkukkan badan nya saat Liam berjalan mendekati meja nya dengan Juna yang ada di gendongan.
"Hmm..." Jawab Liam dengan dehaman lalu melanjutkan langkah nya masuk kedalam ruangan diikuti dengan asisten pribadi pria itu.
Begitu melihat Liam masuk kedalam ruangan nya, Clara langsung mendudukkan dirinya di kursi belakangnya dan menghembuskan nafas nya secara kasar.
"Huft... Syukur deh dia nggak ada ngomong macam-macam. Ayo Cla kita kerja kayak biasa aja profesional" gumam Clara menyemangati dirinya sendiri.
.
.
Didalam ruangan nya Liam menaruh Juna di tempat dia biasa bermain di sudut ruangan Liam. "Ilham, kamu jagain Juna disini" kata Liam dengan tegas.
Kali ini dia membawa Ilham asisten pribadi nya untuk membantu menjaga Juna. Karena pekerjaan nya belakangan ini cukup banyak dan dia tidak mungkin membiarkan putra nya bermain sendiri.
"Baik tuan" jawab Ilham lalu mendudukkan dirinya di dekat Juna yang sudah mulai bermain dengan beberapa mainan nya disana.
Sebelum kembali ke tempat duduk nya, Liam mencium kening putra nya sebentar. Lalu melangkah menuju kursi kebesaran nya.
Begitu duduk disana, tatapan Liam langsung tertuju pada Clara yang sedang fokus di depan komputernya. Kaca ruangan Liam akan terlihat buram dari luar tapi jelas terlihat dari dalam dan melakukan perubahan pada kaca ruangan nya Liam lakukan kemarin saat Clara tidak masuk, dan tujuan nya tentu saja untuk melihat gadis itu.

Sejak dulu, Liam sangat menyukai Clara uang fokus dengan apa yang dia kerjakan. Dan saat ini melihat Clara membuat seluruh tubuh nya berdesir.
Clara Wijaya. Entah sekarang atau 4 tahun yang lalu wanita ini memang bisa membuat Liam kehilangan kontrol pada diri nya sendiri, hingga membuat nya menjadi sosok pria yang b******k.
.
.
.

Ruangan rapat yang tadinya berisik mendadak menjadi hening begitu seorang William Pramudya memasuki ruangan itu bersama dengan sekretaris nya. Clara Wijaya.
"Bisa kita mulai rapatnya sekarang?" Pertanyaan yang tanpa perlu jawaban dari Liam membuat Clara mengangguk dan langsung berdiri dari tempat duduk nya yang berada di sebelah Liam.
Rapat kali ini membahas tentang keputusan Liam untuk membangun hotel terbaru di pulau Jawa yang memiliki potensi pariwisata tinggi. Liam sendiri juga sudah membawa beberapa usulan prihal lokasi dan juga desain nya, dan sekarang tinggal memberikan keputusan.
Clara dengan tab di tangan nya berjalan menuju depan ruangan dimana proyektor terlah menyala dan siap untuk digunakan. Dengan lugas dan juga elegan Clara menjelaskan hal yang menjadi keputusan Liam dan juga alasan nya, ada juga beberapa usulan yang di tolak.
Sosok Clara yang sedang sibuk berbicara menjelaskan sangat menarik perhatian seluruh orang yang ada diruangan rapat ini.
"Damn!! She so hot" gumam seorang investor dari Inggris, pria itu hanya berbeda 2 kursi dari Liam.
Ya... Liam akui itu, dan jelas Liam sudah lebih tau tentang Clara sejak lama. Bahkan di usia nya yang masih remaja Clara sudah memiliki bentuk tubuh yang bagus.
.
Rapat sudah selesai, jika biasanya pemimpin rapat atau pemimpin perusahaan yang keluar lebih dulu, maka kali ini Liam memutuskan untuk keluar paling belakang. Memilih menunggu Clara menyelesaikan pekerjaan membereskan berkas milik Liam.
Dalam diam Liam memperhatikan Clara, sampai tangan gadis itu yang ingin mengambil sebuah map di hadapan Liam, langsung saja Liam menahan pergelangan tangan Clara dengan erat.
Clara yang diperlakukan secara tiba-tiba itu kaget, dan ingin menarik tangan itu dengan sekuat tenaga, tapi apalah daya kekuatan Clara tidak seberapa dengan Liam.
"Tu-tuan...." Kaget Clara membuat nya gugup sekaligus ketakutan. Jelas saja Clara ketakutan karena tatapan Liam kali ini mengingatkan nya pada apa yang mereka pernah lakukan di 4 tahun yang lalu, hal yang sampai kapanpun tidak akan pernah Clara lupakan dalam hidupnya.
"Kau mencoba menghindari ku?" Tanya Liam dengan pandangan mengintimidasi dan nada suara yang menajam.
Liam mulai berdiri, tapi tidak melepaskan cengkraman nya di tangan Clara, sedangkan Clara sendiri sama sekali tidak bisa menjawab perkataan Liam.
Dalam sekali sentakan yang dilakukan oleh Liam membuat Clara berada di dalam pelukan nya, tangan Liam sendiri sudah bertengger manis di pinggang ramping Clara.
"Kau tau, sejak pertemuan pertama kita beberapa hari yang lalu aku sangat ingin melakukan ini padamu, tapi disana terlalu ramai apa lagi ada Juna yang masih kecil" kata Liam sambil mengecup pelan perpotongan leher Clara.
"Haruskah kita melakukan hal seperti dulu? Agar kecanggungan ini hilang?" Clara benar benar syok dengan perkataan dan perlakuan Liam, hanya tangan sebelah kanan Clara yang mencoba membatasi sentuhan tubuh mereka.
Terlalu banyak hal yang mereka lakukan dimasa lalu dan tanpa batasan, Clara berusaha ingin melupakan kebodohan nya dimasa lalu tapi nyatanya Liam datang dan membuat nya mengingat hal itu lagi.
TBC vote komen nya ditunggu ya....