Pergi

1318 Words
Hari sudah menjelang siang, dan Vani baru saja bangun dan membuat sarapan. Berniat membangunkan Clara untuk sarapan bersama, setelah melepas apron yang digunakan nya untuk memasak Vani langsung melangkahkan kaki nya menuju kamar yang ditempati oleh Clara. Begitu di depan kamar Clara dan mencoba membuka nya ternyata tidak terkunci dan saat Vani masuk kedalam betapa terkejutnya Vani saat tidak melihat satu barang pun milik Clara disana kamar yang awalnya banyak barang barang milik Clara sekarang kosong seperti tidak di tempati oleh siapa pun. Vani berjalan menuju lemari dan dengan kasar membuka nya begitu saja, dan benar dugaan nya jika pakaian Clara sudah tidak ada disana yang artinya si pemilik juga sudah tidak ada di rumah ini. Vani lalu melangkahkan kaki nya dengan terburu-buru ke ruang tamu dan mengambil ponsel nya yang tergeletak di meja disana dan mencoba menghubungi Clara, satu, dua, bahkan sampai panggilan ketiga belum juga diangkat oleh Clara yang membuat Vani khawatir dengan keadaan dan keberadaan wanita itu sekarang. . Sedangkan di tempat yang cukup jauh dari tempat Vani berada Clara sedang membereskan barang nya yang baru saja sampai diantar oleh jasa pindah rumah. Ya Clara memutuskan untuk pindah dari kost yang dia tempati bersama dengan Vani dan memilih tinggal sendiri di apartemen yang dia sewa dengan uang tabungan nya. Keputusan ini sudah di ambil bulat oleh Clara mengingat tujuan nya pergi dari Jakarta adalah untuk memutus hubungan nya dengan keluarga Wijaya, dan sekarang malahan keluarga Wijaya tau dimana keberadaan nyadan dirinya rasa apa yang sudah dia lakukan sudah lah benar. Clara tidak pergi dari kota indah Bali, karena tuntutan pekerjaan dan juga Clara mempunyai ikat kontrak yang membuat nya bertahan di kota Bali. Sebenarnya hari ini Clara seharusnya bekerja karena masih hari Jum'at, tapi Clara melakukan ijin mendadak dengan alasan sakit yang bisa membuatnya tidak bekerja. Meskipun alasan yang sebenarnya adalah karena dia pindahan dan membutuhkan tenaga ekstra untuk membereskan barang barang nya. Saat Clara selesai membereskan kamar tidur nya, ponsel yang berada di nakas kamar itu berbunyi sangat kencang sebagai tanda jika ada yang menelfon. Langsung saja Clara mengambil ponsel nya dan melihat siapa yang menghubungi "Kayak nya gw juga harus ganti nomor deh biar tenang" gumam Clara saat tahu jika yang menelfon adalah Vani. "Halo Van" kata Clara begitu mengangkat telfon itu setelah mencoba menormalkan keadaan nya yang sebenarnya masih di liputi kecewa dan amarah. 'lo kemana? Kenapa barang barang Lo nggak ada semua di kamar?' tanya Vani dengan marah, tapi juga lega karena akhirnya telfon nya diangkat oleh Clara "Sorry gw baru kasih tau kalo gw pindah. Dadakan banget soal nya" jawab Clara sambil mendudukan dirinya di atas kasur. 'kenapa sih Lo harus pindah? Dan kenapa Lo juga nggak ngasih tau gw atau Devian kita kan bisa bantu Lo pindah' kata Vani tidak terima karena Clara pindah secara tiba-tiba. "Ya sebenarnya itu tujuan gw pindah diem-diem biar Lo atau Devian nggak tau" kata Clara tanpa rasa bersalah nya mengungkapkan langsung apa yang ada di pikirannya. 'lo? Apa?' ulang Vani karena merasa tidak yakin dengan apa yang di katakan oleh Clara. "Huft, gw nggak mau Lo atau Devian atau siapapun tau dimana gw sekarang. Gw mau bilang makasih sama kalian yang 4 tahun ini bareng gw terus selama kita kuliah bareng, tapi maaf menurut gw kita nggak sedeket itu sampe Lo dan Devian ikut campur masalah keluarga gw" 'lo sama Devian udah jadi keluarga cla, jangan egois Devian atau Tante Retta berhak buat ikut campur masalah keluarga kalian' kata Vani mencoba memberikan pengertian kepada Clara "CK, ternyata Lo bener bener nggak tau apapun ya, sampe Lo nyimpulin hal kayak gitu. Denger ini ya Van..." Clara menjeda sebentar sebelum akhirnya dia melanjutkan "Gw Dateng jauh dari Jakarta ke Bali itu buat keluar dari keluarga Wijaya, dan dengan seenak nya Lo juga Devian malah berusaha bikin gw terlibat lagi sama keluarga itu. Dan lagi mau Devian atau siapapun jadi keluarga Wijaya itu bukan urusan gw lagi, gw nggak suka dengan kalimat 'dia keluarga Lo jadi dia berhak ikut campur urusan lo' nggak, nggak ada siapapun yang gw ijinin buat ikut campur sama urusan gw sekalipun gw kenal orang nya gw nggak suka itu" setelah mengatakan hal itu Clara langsung mematikan panggilan itu lalu mematikan ponsel nya juga agar tidak ada yang bisa mengubungi nya untuk saat ini. Sejak kemarin dirinya diliputi oleh emosi yang sangat besar, jadi untuk beberapa waktu dia tidak mau dihubungi siapapun dan apapun alasannya, karena Clara butuh ruang untuk mengendalikan emosi nya. Dengan kasar Clara meletakan ponsel itu lalu berjalan kearah kamar mandi untuk membersihkan tubuh setelah lelah beres-beres tempat tinggal baru nyaitu, membayangkan tubuhnya terguyur oleh segar nya air membuat Clara tidak sabar untuk mandi. *** Liam kira hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan atau setidak nya membuat dia semangat saat kembali ke kantor karena tahu jika Clara adalah sekretaris nya saat ini, dimana wanita itu yang memang dia cari dalam kurun waktu beberapa waktu belakangan ini. Tapi itu semua pupus sudah saat Liam mendengar kabar jika Clara tidak masuk di karena kan sakit. Dan tentu saja Liam tidak yakin jika Clara sungguhan sakit, dia bahkan menduga jika Clara sengaja menghindari nya, karena yang dia lihat kemarin keadaan wanita itu baik baik saja. "Da...da...." Lamunan Liam langsung terpecah saat mendengar suara dari pojok ruangan dimana kini tempat itu sudah di sulap menjadi tempat bermain sang putra Juna yang memang akan dia bawa kekantor. "Kenapa anak Daddy? Mau apa sayang?" Tanya Liam begitu sampai di hadapan Juna dan membawa putra nya kedalam gendongan. Jika biasa nya hanya sesekali Liam membawa Juna kini pria itu harus membawa Juna setiap hari. Karena ibu nya yang biasa menjaga Juna saat Liam bekerja harus ikut sang ayah ke Jakarta mengurus perusahaan disana. Dan Kei, pria itu sedang sibuk merencanakan pameran seni nya di Paris dan akan berangkat besok pagi karena membutuhkan waktu yang panjang dan cukup lama untuk mempersiapkan pameran itu. "Ante??" Liam mengerti siapa yang dimaksud oleh Juna, pria kecil ini menanyakan Clara yang setahunya dari Kei kalau Juna memang sudah mulai dekat dengan Clara. "Ante Clara nggak masuk sayang, dia lagi sakit" kata Liam, kini Liam sudah kembali ke kursi kebesaran nya dengan Juna yang duduk di pangkuan nya. "Ante sakit?" tanya Juna sambil menatap sang Daddy dengan tatapan polos nya "Iya ante lagi sakit. Juna harus do'ain supaya ante bisa cepat sembuh dan ketemu Juna lagi" kata Liam yang di balas anggukan Juna dengan semangat. Liam bersyukur dengan ada nya Juna dan itu membuat hidupnya lebih berwarna. Dan Liam menjadi memiliki tujuan lain selain keluarga nya tentu saja, untuk sekarang Juna yang akan menjadi pusat tenaga nya dan pusat kebahagian nya. "Daddy janji buat selalu bikin kamu senang nak, dibandingkan hal lain senyum kamu yang paling Daddy ingin lihat" gumam Liam sambil mengelus pelan pipi Juna yang sedang tersenyum dan membuat nya menjadi chubby. *** Kei sedang bingung sekarang, ini hari terakhirnya di Indonesia sebelum berangkat ke Paris untuk melakukan pameran dan persiapan nya, dan hal itu memakan waktu 3 bulan memang lama namun Kei sudah bertekad untuk membuat acara nya dengan sempurna. Dan sebelum berangkat esok hari Kei ingin menghabiskan waktu nya hari ini dengan Clara, tapi sejak pagi hingga siang menjelang dirinya sama sekali tidak bisa menghubungi Clara karena ponsel gadis itu mati. Kei sudah mencoba menghubungi pihak perusahaan untuk mencari tahu alasan kenapa Clara tidak bisa dihubungi, tapi nyatanya Clara tidak masuk karena alasan sakit. Jujur Kei khawatir, dan dia juga tidak mau bertanya tentang kebenaran itu kepada Liam, karena sejak mengetahui jika mereka menyukai wanita yang sama tidak lagi ada percakapan diantara kedua nya. Dan Kei sendiri sebisa mungkin memilih untuk menghindari Liam karena hati nya meminta hal itu. Alasan nya? entah Kei juga tidak mengerti apa alasan nya. Mungkin itu semua terjadi karena hati nya belum bisa menerima jika dia akan bersaing dengan saudara nya sendiri dalam memperebutkan seorang gadis yang mana hal itu tidak pernah sekalipun terjadi pada keduanya. TBC vote komen nya jangan lupaaaaaaa
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD