Amarah

1382 Words
Dengan langkah yang gontai Clara memasuki gerbang dimana kost nya berada. Dia ijin kepada Kei untuk pulang cepat, dan Kei mengijinkan itu karena memang Clara tidak ada lagi pekerjaan di kantor dan tidak ada alasan bagi Kei untuk menahan wanita itu lebih lama. Hal ini masih sangat sulit untuk dicerna Clara, dimana dia bertemu dengan sahabat nya semasa sekolah dan juga mantan gurunya yang telah mengambil hati nya 4 tahun yang lalu. Benar benar hal yang sulit di terima, terlebih lagi pria itu akan menjadi bos nya nanti. "Huft.... Cla ayolah jangan dijadiin masalah. Bersikap biasa aja, dia udah ada yang punya dan Lo harus sadar itu" kata Clara pada dirinya sendiri berusaha menyadaarkan diri pada kenyataan. Clara sendiri tidak menyangka jika perasaan nya yang dulu ia kira sebagai cinta monyet nyatanya cinta yang sesungguh nya. Karna tidak dipungkiri pertemuan nya dengan Willy membuat hati Clara yang telah lama kosong menjadi kembali bergetar, seakan seperti tau siapa pemilik nya. Dan Clara pun tahu hal itu karena cinta, karna selama ini hanya kepada Willy lah Clara merasakan hal itu, bahkan pada Devan yang gencar mendekati nya pun sama sekali tidak pernah merasakan hal itu jika pria lain yang mendekati nya rasanya seperti kosong lain hal nya jika itu liam. Clara masuk kedalam kost nya, dan Clara tebak jika Vani sedang kedatangan tamu karena sandal yang ada di depan pintu bertambah, dan begitu masuk kedalam Clara bisa melihat Vani, Devian dan seorang wanita paruh baya yang sama sekali tidak Clara kenal seperti menunggu sesutu di ruang tamu. "Cla, Lo udah pulang?" Tanya Vani begitu melihat Clara masuk kedalam rumah. "Emh iya nih, gw agak nggak enak badan makanya minta ijin pulang" kata Clara dengan senyuman canggung sebab wanita paruh baya yang bersama dengan Vani itu menatap Clara sangat intens. "Lo sakit?" tanya Vani saat melihat Clara memang sedikit pucat di wajah nya "Enggak cuma pusing sedikit aja" kata Clara menjelaskan "Cla, ini yang gw bilang kemaren. Nyokap gw mau ketemu sama lo" kata Devian buka suara memotong pembicaraan Clara dan juga kekasihnya Vani. Clara mengangguk paham, ternyata wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan senyuman ramah itu adalah orangtuanya Devan dan Devian, jelas saja Clara canggung karena dia tidak pernah yang namanya bertemu dengan orang tua Devian dan Devan. "Selamat sore Tante, saya Clara temen nya Vani dan Devan juga Devian" kata Clara setelah mendekat dan menyalami wanita itu dengan sopan. "Hai Clara, aduhh akhirnya bisa ketemu kamu juga" kata Retta ibu Devian dengan sayang, karena dia benar-benar ingin bertemu dengan Clara belakangan Ini dan tentu nya karena suatu maksud. Clara tentu saja tersenyum canggung, karena dia tidak pernah sekali pun bertemu dengan ibu dari Devan dan Devian ini, dan yang mengherankan ada alasan apa yang membuat nya ingin sekali bertemu dengan Clara. "Cla, mending sekarang Lo taro barang-barang Lo di kamar dan mandi gih, abis itu turun soal nya ada yang mau di omongin Tante Retta dan Devian ke Lo" kata Vani yang sadar akan kecanggungan yang dialami Clara. Clara pun mengangguk "saya ke kamar dulu ya tan" pamit Clara lalu pergi ke atas dimana kamarnya berada untuk menaruh barang barang dan membersihkan dirinya. *** Kembali ke rumah besar keluarga Pramudya, dimana Liam dan juga Dhea sedang berbincang serius di gazebo taman yang ada di rumah mewah itu banyak hal yang keduanya bicarakan termasuk tentang Clara yang menjadi perbincangan utama. "Jadi sekarang apa yang bakal kak Liam lakuin? Kita udah tau dimana keberadaan Clara" kata Dhea membuka suara, mereka memutuskan pulang saat Clara secara tiba-tiba ijin pulang karena tidak enak badan, dan Liam melarang Dhea kembali ke rumah nya karena ada yang ingin dibicarakan pria itu, sedangkan Kei kembali ke kantor dan Juna ikut pulang dengan Liam dan Dhea. "Aku belum kepikiran apapun buat sekarang Dhe, ini masih terlalu tiba-tiba dan kayak nya Clara juga masih canggung banget" kata Liam menilai pertemuan perdana nya dengan Clara setelah 4 tahun berlalu. "Aku udah mutusin buat batalin keberangkatan aku ke Jerman. Sebenarnya bukan batalin tapi tunda, ada banyak hal yang mau aku cari tahu tentang Clara karna aku ngerasa kalo banyak hal yang Clara sembunyiin dan aku nggak mau kalau dia sampai kabur-kaburan lagi" kata Dhea dengan keputusan nya karena dia peduli dengan Clara dan juga menurutnya Clara membutuhkan tempat untuk bercerita dan dia ingin menjadi tempat itu. "Kamu benar, tapi inget ini nggak mudah dan kita nggak boleh gegabah karena itu bisa bikin Clara nggak nyaman" Liam masih ingat betul bagaimana sikap Clara satu itu, dia akan menghindari orang yang membuat nya tidak nyaman dan itu terjadi sejak dulu. *** Clara diam mendengar perkataan Tante Retta yang mengatakan sebuah kebenaran yang sebenarnya Clara tidak peduli tapi kenapa dia harus tau sesuatu hal yang sebenarnya tidak ingin lagi dia ketahui? "A-apa?" tanya Clara terbata bata begitu mendengar perkataan Retta. "Iya Cla, bokap Lo dan nyokap gw udah nikah beberapa bulan yang lalu. Dan nyokap gw pengen Lo tinggal sama kita sekarang ini biar makin mengakrabkan diri" kata Devian menjelaskan apa yang di maksud perkataan ibu nya tadi. Ya hal ini yang menjadi salah satu alasan Devan memutuskan untuk menyerah dalam memperjuangkan Clara. Karena Clara kini menjadi saudara tiri nya yang artinya mereka tidak boleh ada ikatan hubungan cinta selain sebagai saudara, hal yang sebenarnya menyakiti Devan namun dia memilih mengutamakan kebahagiaan ibu nya. "Maaf sebelum nya, bukan tidak sopan atau bagaimana. Kalian nggak ada yang tau bagaimana kondisi saya dengan orang yang kalian sebut sebagai ayah saya itu, tapi apapun alasan nya saya tidak berharap bertemu dengan nya lagi atau bahkan tinggal satu atap dengan nya. Sekalipun kalian meminta nya sendiri kepada saya" jawab Clara dengan tegas dan mantap pada keputusan nya. Dia akhirnya mengerti mengapa ayah nya tidak bisa datang ke acara wisuda nya karena alasan bulan madu? Cih dia sekarang tau siapa wanita yang di nikahkan oleh pria yang 'katanya' ayah itu. Ibu dari teman nya sendiri "Tapi nak, permasalahan apapun yang terjadi diantara kalian bisa di selesaikan dengan baik jika kamu mau. Mamah yakin papah kamu ngerti kok dan mau kita bareng hidup bersama" kata Retta dengan nada bujukan nya tapi hal itu tidak bisa membuat Clara luluh, luka yang di berikan orang tua nya setelah perceraian keduanya membuat Clara sulit untuk menerima salah satu nya ataupun kedua nya lagi, hatinya sudah terlanjur kecewa karena merasa seperti sudah tidak dianggap lagi. "Tidak!! Anda sama sekali tidak mengerti" kata Clara sambil menggeleng kan kepala nya dengan keras, pertanda jika dia tidak percaya kalau ada yang mengerti dirinya di dunia ini. "Cla, dengerin kata mamah kenapa sih? Bukan masalah kok kalo lu tinggal bareng sama kita" kata Devian yang mulai kesal karena susah membujuk Clara. "Nggak ada masalah di Lo!! Tapi masalah itu ada di gw!!" Kata Clara yang kelepasan emosi "lo- Lo mana tau apa yang gw rasain dan apa yang gw Alamin karna bukan Lo sendiri yang ngerasain" kata Clara lagi dengan nada yang keras terkesan membentak, yang sudah pasti membuat yang ada disaana kaget. "Bukan cuma Lo yang pernah ngerasain perpisahan orang tua Cla, gw juga" kata Devian tidak mau kalah dengan kekeras kepalaan Clara, dan menurut nya Clara egois karena tidak memikirkan bagaimana perasaan ibunya yang mendengar perkataan wanita itu. "Tapi seenggak nya Lo masih ada nyokap yang dengan sepenuh hati ngerawat Lo dan ngebuat Lo nggak ngerasain kurang kasih sayang meskipun tanpa sosok papah!!" Kata Clara dengan emosi, seperti nya Devian berhasil memancing emosi Clara "Lo nggak tau gimana rasa nya gw yang harus hidup sendiri padahal kedua orang tua gw ada!! Lo nggak tau rasanya jadi gw yang butuh mereka di saat saat penting gw tapi mereka lebih sibuk sama pasangan baru mereka masing masing nggak peduliin gw sebagai anak nya!! LO GAK TAU ITU DAN NGGAK AKAN PERNAH TAU SAMPE LO SENDIRI YANG NGERASAIN!!" nafas Clara mulai tidak teratur karena teriakan nya, semua emosi yang terkumpul selama ini akhirnya bisa dia luapkan "Lo-" Clara menunjuk Devian dengan jari telunjuk nya dan wajah yang penuh dengan amarah "Lo nggak ada sedikit pun tau tentang kehidupan gw, dan Lo nggak berhak nentuin apa yang baik dan enggak buat kehidupan gw" setelah itu Clara memutuskan pergi dari sana menuju kamar nya dan membanting cukup keras pintu kamar itu membuat Vani yang baru datang setelah membuat minum pun kaget melihat nya karena baru kali ini melihat Clara Semarah itu. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD