Clara masih menunggu sampai Dhea berhenti menangis, karna sejak 15 menit yang lalu sahabat nya ini belum juga berhenti menangis. Ini adalah kebiasaan Dhea yang jika sudah menangis akan sangat sulit di hentikan.
"Nara... Udah dong Lo jangan nangis lagi gw kan udah ada disini sekarang" kata Clara mencoba menenangkan. Hal yang dia lakukan sejak membawa sahabat nya duduk disalah satu kursi yang ada di dalam restoran itu.
Lain hal nya dengan Nara yang menangis dengan se segukan, Clara justru bingung harus melakukan apa. Menangis? Ayolah Clara sudah belajar untuk tidak mengeluarkan air mata itu lagi 4 tahun belakangan ini banyak hal yang seharus nya dia tangisi, namun karena tidak ada tempat untuk bercerita membuat nya harus menahan itu dan menjadi kebiasaan menahan tangisan nya..
Terlalu banyak hal yang bisa membuat Clara menangis sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidak menangis lagi se sedih apapun hal yang sedang dia alami. Karena menangis hanya membuat Clara terlihat lemah dan Clara tidak suka dengan hal itu.
"Lo jahat Cla, Lo pergi gitu aja bahkan nggak ngomong sama gw" kata Nara setelah bisa mengendalikan tangis nya. Hal yang pertama keluar daari mulut Nara adalah bentuk kekecewaan nya kepada sang sahabat yang pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padanya.
"Maaf Nara. Gw bener bener nggak bermaksud buat kayak gitu. Wa-waktu itu gua bener bener kalut dan nggak ada yang gw pikirin selain pergi jauh" Jawab Clara, karena saat dia memutuskan untuk pergi ke Bali dia bukan ingin melanjutkan kuliah nya saja, yang utama adalah melarikan diri dari keadaan yang semakin menyakiti nya, dan alasan kuliah hanya agar semua nya mudah.
"Tapi pergi nggak menyelesaikan masalah Cla" nasehat Nara yang jelas tidak suka dengan tindakan yang dilakukan oleh Clara yaitu lari untuk menghindari masalah.
"Iya, pergi emang nggak nyelesaikan masalah. Tapi terkadang dengan pergi bisa ngebuat gw nenangin diri dan nyari jalan keluar dari masalah"
"Terus sekarang Lo udah dapet jalan keluarnya emang?" Pertanyaan Nara di angguki oleh Clara karena memang dia sudah membuat keputusan dari masalah yang dia hadapi.
"Ya gw udah dapet semua jalan nya makanya gw ada di sini sekarang dan bukan Jakarta" kata Clara dengan senyum nya, tapi Nara tahu jika itu bukan senyum tulus tapi senyum miris yang mudah sekali dibaca oleh nya dari Clara.
"Gimana?" tanya Nara penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh Clara.
"Gw mutusin buat keluar dari keluarga Wijaya.." Clara diam sebentar sebelum melanjutkan lagi perkataan nya "Dan gw nggak akan balik ke Jakarta lagi" kata Clara akhirnya dan itu membuat Nara kaget.
Dia kira Clara tidak tahu jika dia dikeluarkan dari keluarga Wijaya, tapi nyatanya sejak awal Clara memang sudah memutuskan untuk tidak terlibat lagi dengan keluarga itu. Tapi sebagai seorang sahabat jelas Nara akan mendukung apapun keputusan Clara selama itu tidak membahayakan sahabat nya, dan lagi seperti nya bukan masalah jika Clara keluar dari keluarga Wijaya sekarang karena memang keluarga itu sudah tidak menganggap sahabatnya lagi.
"Cla Lo serius?" tanya Nara memastikan
"Apa menurut Lo gw sekarang bercanda?" Tanya Clara dengan tatapan serius nya yang menegaskan jika apa yang dia katakan tentang keputusan nya adalah benar dan dia serius untuk hal itu.
"Cla tapi mereka keluarga Lo" kata Nara lagi berusahaa memberikan saran, karena bagaimana pun juga suatu saat Clara pasti membutuhkan keluarga nya terutama sang ayah untuk hari pernikahan nya.
"Dia emang keluarga gw, tapi gw nggak pernah ngerasa seperti bareng keluarga selama sama mereka. Lo tahu sendiri gimana sikap mereka ke gw, gw ada gw butuh mereka tapi mereka nggak butuh gw" kata Clara lagi mengingat bagaimana perlakuan keluarga nya itu kepada dirinya yang status nya adalah anak mereka satu satu nya.
"Cla..." Lirih Nara, Nara bisa menyimpulkan jika Clara sudah merasakan kekecewaan yang berlebih di sebabkan keluarga nya yang membuat Clara menjadi seperti ini. Clara sangat berbeda, jika dulu Clara hanya bisa diam melihat perilaku orang tua nya Clara yang sekarang berani membantah dan bertindak sesuai keinginannya.
"Keputusan gw udah bulat nar" kata Clara karena tidak ingin mendengar kalimat bujukan dari Nara lagi, keputusan nya tidak bisa di ganggu gugat karena apa yang dilakukan nya ini sudah dia pikirkan matang matang.
"Ekhem...." Deheman dari belakang keduanya membuat dua wanita itu menoleh.
Yang Clara lihat ada Kei, juga Juna yang berada di gendongan seorang pria dewasa yang sepertinya sempat dia lihat beberapa waktu lalu, wajah yang tidak asing tapi Clara tidak ingat dimana pernah melihat nya.
"Oh emh kei, maaf aku jadi lupa kalo tadi kesini sama kamu sama Juna" kata Clara lalu berdiri merasa tidak enak karena harus meninggalkan Kei dan Juna karena sibuk menenangkan Nara yang menangis.
"Ante...." Juna menggeliat di pelukan Liam dan meminta Clara untuk menggendong nya. Clara pun sempat terlihat canggung saat ingin mengambil karena tidak mengenal pria itu tapi karena melihat Juna yang ingin sekali digendong oleh nya akhirnya Clara memberanikan diri untuk menggendong nya.
Tapi ternyata Liam peka keinginan anak nya dan memberikan begitu saja Juna, dan saat memberikan Juna kepada Clara tanpa sengaja tangan kedua nya bersentuhan dan menciptakan sengatan tersendiri untuk Clara.
"Juna kenapa?" Tanya Clara saat melihat anak itu seperti nya menginginkan sesuatu.
"Mam.." pinta anak itu.
"Emh, aku pesanin makanan dulu ya... Ini udah waktu makan siang nya Juna" kata Kei lalu pergi dari sana untuk memesan makanan, padahal bisa saja memanggil pelayan untuk kesana tapi Kei memilih pergi dari sana entah apa alasan nya.
"Cla kamu lupa sama dia?" Tanya Nara yang melihat Clara seperti nya lupa dengan William karena dari pandangan yang Clara tunjukan terlihat asing saat melihat Liam.
"Eh? Aku nggak inget" kata Clara dengan senyum canggung nya pada pria di hadapannya ini karena malu melupakan siapa yang ada di hadapannya ini.
"Ini pak Willy, William mantan guru BHS. Inggris kita waktu SMA" dan setelah mendengar perkataan itu senyum yang awal nya ada di wajah Clara terlihat sangat manis dengan perlahan menghilang.
***
"Kenalin ini William Pramudya Abang aku sekaligus bos kamu nanti di perusahaan" kata Kei setelah memesankan makanan untuk Juna, dirinya dan Clara.
"Kita udah saling kenal" kata Liam sedangkan Clara hanya berusaha tersenyum yang malah jadi terlihat canggung.
Jujur saja, dia tidak terharap lagi bertemu dengan Willy setelah semua ini. Diantara semua orang yang ada di dunia ini, keluarga Pramudya dan juga Willy adalah orang yang paling ingin Clara hindari pertemuannya.
"Mulai besok kamu bakalan ketemu sama dia, karna aku kan cuma pengganti dia dan dia bos nya. Dan besok dia udah balik lagi kerja di perusahaan" kata Kei lagi dan Clara mengangguk mengerti walaupun sebenarnya Clara sedang menyusun rencana bagaimana caranya dia untuk mengundurkan diri dari perusahaan Willy tanpa membayar denda kontrak.
"Emh kamu apa kabar Cla?" Tanya Liam pada Clara.
"Baik pak" kata Clara
"Kamu setelah lulus langsung ke Bali? Kuliah dimana?" Tanya Liam lagi.
"Ya, setelah semua nya selesai saya langsung ke Bali dan kuliah di universitas ***"
"Lo kuliah sejauh ini kenapa nggak ngabarin si Cla? Kalo gw tahu lu mau kuliah di Bali kan gw bisa bareng sama lo juga" kata Nara menimpali agar tidak terlihat canggung.
"Maaf gw nggak sempet ngabarin, karna emang gw nggak ngabarin siapapun dan ini udah jadi keputusan gw" kata Clara menjawab pertanyaan Nara
"Lo tinggal dimana sekarang?" Tanya Nara lagi.
"Gw ngekos sama temen kampus gw"
"Permisi tuan nona" kata seorang pelayan meng interupsi percakapan kedua nya dengan mengantarkan pesanan makanan mereka.
"Juna makan dulu sama Daddy ya" kata william begitu makanan Juna datang, dan hal itu tidak lepas dari perhatian Clara.
Ternyata William benar menikah bahkan sekarang memiliki seorang putra, seorang anak berusia 3 tahun yang belakangan ini dekat dengan nya yang merupakan keponakan Kei, ternyata adalah anak William.
Pria yang Clara cintai semasa sekolah SMA, pria yang mengisi hari hari nya yang penuh dengan kekosongan itu.
Dan kenyataan ini seperti menyadarkan Clara, meskipun keduanya di pertemukan kembali tapi status salah satu nya sudah berbeda. Hal itu mengharuskan Clara untuk pergi (lagi) menjauh agar perasaan yang sudah di kubur dalam selama 4 tahun ini tidak lagi naik ke permukaan.
Tapi Clara yakin jika hal itu tidak lah mudah, mengingat Clara terikat kontrak dengan perusahaan yang mengharuskan nya bekerja minimal selama 1 tahu baru boleh mengundurkan diri atau Clara hati membayar udang denda karena memutus kontrak secara sepihak.
Tbc