Liam sudah sampai di Jakarta karena pria itu melakukan penerbangan pertama di pagi hari, begitu sampai di bandara Soekarno Hatta Liam langsung memesan taksi online untuk mengantarkan nya ke rumah yang akan dia tempati selama 1 minggu di Jakarta.
Sepanjang perjalanan Liam selalu melihat luar, ingatan nya kembali kemasa lalu dimana dirinya meninggalakan kota yang awalnya dia tuju menjadi pelarian dari keluarga nya, sampai satu alasan yang membuat Liam pergi meninggalkan kota Jakarta yang penuh dengan kenangan manis ini. Meskipun tidak semua tempat memiliki kenangan namun kenangan yang membuatnya selalu bahagia ada di kota besar ini.
Saking asik nya bernostalgia dengan pikiran nya, Tanpa terasa ternyata perjalanan harus usai karena sudah sampai di tempat tujuan, Liam turun dibantu sang supir taksi untuk menurunkan barang bawaan nya. Sebenarnya dia tidak perlu repot-repot untuk melakukan itu jika saja mau meminta anak buah nya yang ada di jakarta untuk membantu tapi kali ini tidak.
karena ada yang ingin Liam lakukan dan pastikan di Jakarta menyangkut masa lalu nya, dan jika dia meminta anak buah nya maka apa yang dia lakukan akan cepat di ketahui oleh kedua orang tua nya dan dia tidak mau hal itu sampai terjadi. Mengingat dia telah mengecewakan orangtua nya karena tidak bisa mempertahakan rumah tangga yang dia bangun, padahal baik papih atau mamih nya berharap banyak dengan rumah tangga yang Liam jalani.
"Terimakasih pak" kata Liam begitu koper terakhir miliknya sudah di turunkan.
"Sama sama tuan" kata supir taksi itu, lalu sang supir taksi langsung memasuki mobilnya lagi setelah menerima bayaran dari jasa nya.
Liam sendiri belum memutuskan untuk masuk ke dalam rumah nya, dia memandangi rumah yang persis ada di depan rumah nya. Telah lama dia tidak mendengar kabar dari si pemilik rumah, seharusnya Liam sendiri tidak berharap banyak, dia juga sadar diri jika semua nya kacau karena sikap pengecut nya ini. Kesalahan di masa lalu yang dilakukan oleh liam terlalu fatal hingga dia sendiri tidak berharap banyak walaupun masih memiliki setitik harapan menemukan titik terang dari tujuan nya.
"Gimana kabar kamu sekarang? Aku nanya ke Nara tentang kamu tapi dia sendiri nggak tau kamu ada dimana. Aku mau egois sekali aja supaya bisa ketemu kamu, walaupun dulu aku yang ninggalin kamu tapi akhirnya aku juga yang mau ketemu sama kamu" gumam Liam sebelum memasuki rumah nya sambil membawa barang bawaan nya tadi.
***
Liam mendudukkan dirinya di kursi kebesaran dengan jabatan tertinggi di perusahaan itu. begitu datang tadi Liam sudah di hadapi dengan tumpukan berkas yang menjadi tugas nya selama 1 minggu kedepan.
"Permisi tuan" panggil dari luar yang Liam dengar.
"Masuk" kata Liam mempersilahkan Sekretaris nya untuk masuk, sekretaris yang akan membantu nya selama di perusahaan yang ada di Jakarta.
"Ada apa?" tanya Liam begitu sekretaris nya masuk kedalam ruangan.
"Tuan Rega Wijaya sudah datang tuan"
"Suruh dia masuk aku akan menemui nya di ruangan ku" kata Liam, setelah itu sang sekretaris undur diri dan melaksanakan perintah dari bos nya itu.
Rega Wijaya, Liam kenal betul dengan nama keluarga itu karena wanita dari masa lalu nya juga menggunakan nama belakang itu. Dan alasan utama Liam mau terbang jauh ke Jakarta dari bali dan meninggalkan putra semata wayang nya adalah untuk mencari tahu tentang wanita masa lalu nya itu yang sudah lama tidak terdengar kabar nya, lebih tepat nya sudah 4 tahun sejak kepergian nya meninggalkan Jakarta.
Kepulangan Liam dari Amerika bersama putra nya disambut dengan kabar kerja sama yang akan di lakukan keluarga Pramudya dan juga keluarga Wijaya, yang mengharuskan sang papah terbang ke Jakarta untuk mewakili Liam yang sebenarnya baru saja kembali dan butuh istirahat.
Tapi saat tau jika itu keluarga Wijaya, Liam tidak menyia-nyiakan kesempatan dan dengan meyakinkan kedua orangtua nya jika dia sanggup untuk pergi ke Jakarta tapi dengan catatan dia hanya 1 minggu di Jakarta dan kembali ke Bali karena dibandingkan di Jakarta Perusahaan Pramudya di bali jauh lebih membutuhkan Liam.
"Selamat siang Liam" sapa pria paruh baya yang baru saja masuk kedalam ruangan Liam dengan senyuman nya.
"Selamat siang Om" sapa balik Liam sambil bangun dari singgah sana nya dan menghampiri tuan Rega, lalu menjabat tangan pria tua tersebut dan membawa nya menuju sofa yang sudah tersedia disana.
Perbincangan yang cukup panjang diantara keduanya terjadi begitu saja sampai pada akhirnya kedua pria berbeda usia itu sadar jika sudah waktunya makan siang. Liam yang sadar akan hal itu menghentikan perbincangan mereka dan memanggil sekretarisnya untuk memesankan hidangan makan siang mereka.
"Kemal benar benar beruntung memiliki putra seperti kamu" kata Rega memuji Liam, jujur saja Rega benar benar merasa jika sahabat nya Kemal beruntung karena bisa memiliki putra yang mau meneruskan bisnis nya. Dan bisa dikatakan sukses diusia muda
"Ah tidak juga om, awalnya aku juga kurang tertarik sama dunia bisnis sampai akhirnya ngeliat papih kasian sudah berumur tapi masih sibuk di perusahaan" kata Liam menyangkal perkataan dari Rega karena dia tidak suka dipuji.
Rega dan Kemal sebenarnya berteman atau bisa di sebut juga bersahabat, bahkan sejak mereka remaja. Namun begitu kedua nya lulus SMA Kemal memutuskan untuk melanjutkan kuliah nya di Amerika, dan pertemuan terkahir mereka adalah saat Kemal menikah, lalu setelah itu mereka tidak pernah bertemu dan sibuk dengan urusan dan bisnis masing-masing.
"Bukankah om juga punya anak? Kenapa tidak melanjutkan perusahaan om saja?" tanya Liam memancing pertanyaan kepada Rega, siapa tau dia bisa mendapatkan suatu informasi.
"Tidak sekarang mungkin nanti, ada banyak hal yang harus di persiapkan untuk memberikan jabatan apa lagi status nya bukan lah anak kandung om" kata Wijaya yang mengudang kerutan di dahi Liam, sepertinya ada hal yang berbeda dengan maksud nya ini.
Liam, mengetahui jika keluarga Wijaya merupakan sahabat papah nya adalah 4 tahun yang lalu saat pria itu datang menghadiri pernikahan nya dengan sang mantan istri. Dan saat itu Liam baru menyadari jika dia sudah tepat melangkah dengan pergi dari Jakarta tapi akhirnya Liam sadar jika cinta tidak di paksa yang membuat dirinya akhirnya berpisah dengan sang mantan Istri.
"Tunggu dulu om, apa maksud om dengan bukan anak kandung?" tanya Liam bingung
"Ah iya, om lupa mengatakan padamu. Saat kamu masih di Amerika sebenarnya om sudah menikah lagi dan Istri om yang sekarang punya anak Laki-laki dan rencana nya om bakalan angkat dia jadi pewaris perusahaan om" kata Rega dengan bangga nya mengatakan itu semua kepada Liam
"Bukan nya om punya anak kandung?" dan pertanyaan Liam itu mengundang tatapan yang aneh dari Rega, tatapan menandakan ketidak sukaan saat Liam membahas masalah itu.
"Bisa kita tidak usah membahas itu?" kata Rega dengan sedikit ketus, karena dia sama sekali tidak suka jika harus membahas tentang anak kandung nya yang menurutnya sekarang sudah menjadi anak kurang ajar dan durhaka.
"Maaf sebelum nya om, tapi kenapa?" tanya Liam yang keburu penasaran dengan yang sebenarnya terjadi di keluarga Wijaya, meskipun sedikit banyak dia tau tentang permasalahan internal keluarga itu. Tapi dia tidak tau dengan apa yang terjadi di 4 tahun belakangan ini.
"Anak itu bahkan pergi setelah kelulusan nya, entah kemana tidak ada yang tahu. Mungkin dia merasa sudah tidak membutuhkan orang tua nya lagi setelah selesai kuliah. Padahal om yang mati matian mencarikannya biaya untuk berkuliah" kata Wijaya yang tidak bisa menutupi wajah marah nya saat mengingat anak nya yang sama sekali tidak dia dengar kabar nya setelah kelulusan selesai.
Dia sangat marah saat mengetahui putri semata wayang nya yang tidak kembali setelah menyelesaikan pendidikannya di kota lain, dan saat Wijaya mencoba mencari nya tidak ada yang mengetahui dimana keberadaan putri nya dan membuat Wijaya mengecap anak nya sebagai anak tidak tahu diuntung karena setelah mendapatkan apa yang diinginkan malah pergi begitu saja.
TBC