Perjalanan Menuju Wilder

1122 Words
Gadis itu terengah-engah, sekuat tenaga ia menahan dirinya agar tetap sadar, dari mulutnya keluar ceracau yang tidak jelas. Bayangan hitam besar di kegelapan, membuatnya sangat terkejut dan ketakutan. Tapi helaan napas berat itu, samar-samar menyadarkannya bahwa ia merasa familiar Seorang lelaki dengan penutup tubuh berupa jubah menjuntai hampir menyentuh tanah, meraih tubuh Helena yang di matanya adalah Syelena. Gadis itu tampak ketakutan dan kesulitan bernapas. Lelaki berpostur tinggi dan sangat tegap serta gagah itu, terlihat khawatir dan tergesa-gesa. Tangan kekarnya mengangkat Syelena dalam satu ayunan cepat dan dengan cepat pula ia menghilang dari ruangan temaram dan lembab itu. Gerakannya ringan seolah melayang tanpa beban, ia terus melangkah panjang-panjang menuju pintu rahasia, di mana pintu tersebut hanya digunakan khusus oleh keluarga kerajaan. Mendengar suara napas Syelena yang tajam tersengal-sengal, perasaannya semakin kacau, ia terus mengayun langkah sambil berusaha tidak menimbulkan suara. "U-da-ra, a-aku bu-tuh u-dara," Suara yang keluar dari raga Syelena nyaris berbisik, serak dan kepayahan. "Sabar, Cintaku. Sebentar lagi ya." Jangankan Helena, dia pun ingin segera menyudahi langkahnya dari lorong panjang yang pengap tersebut. Helena berusaha menahan dirinya agar tidak jatuh pingsan, untuk menghindari detak jantungnya berhenti tiba-tiba. Ia sangat kesakitan dan sesak napas berat. Sesuatu yang telah rusak menahun dalam organ dalamnya ia rasakan begitu jelas dan ia tahu, dalam keadaan sadar, setidaknya ia bisa melakukan sesuatu. Tiba lama kemudian, udara segar yang bebas polusi bagaikan oksigen murni memasuki pernapasannya, Seketika hatinya merasa lega karena oksigen yang bersih merupakan nutrisi penting bagi sel-sel di dalam tubuhnya. Helena megap-megap menghirup udara semampu yang bisa dihisapnya, seolah-olah udara dengan tiba-tiba bisa menipis lagi. "Kamu sakit, Cintaku?" tanya lelaki itu yang tak lain adalah putra mahkota kerajaan bernama Pangeran Arion, sang kekasih Syelena. "Ah, iya. Aku butuh meluruskan punggung ... tolong, jangan naik kuda," pinta Helena ketakutan saat ia dibawa mendekati kuda besar yang terikat pada batang pohon. "Bukannya kamu suka berkuda?" tanya Arion dengan heran. "Iya, tapi d**a^ku sakit saat ini," sahut Helena dengan susah payah. Lelaki gagah yang tinggi itu mengerti. "Kalau begitu, biar kamu ditandu saja, ya ... perjalanan masih jauh menuju hutan wilder, kita akan mengambil jalan memutar melewati gunung batu dari sini," ucap Arion sambil memberi isyarat kepada pasukannya. Perjalanan menuju hutan dilakukan dalam senyap, mereka menyusuri sungai yang gelap gulita dipandu oleh orang yang sangat mengenal seluk beluk jalan di pinggiran sungai itu. Helena duduk di atas tandu, menahan beban tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di belakang. Rasa sakit pada jantungnya mulai reda, ia mempertahankan posisinya sampai terasa normal dan ia bisa tidur dengan nyaman. Pangeran Arion mendampingi Helena dari atas kudanya, pada wajah lelaki itu tergurat kekhawatiran yang sangat dalam. Sesekali ia menoleh kepada wanita yang dicintainya itu dan mulai tenang ketika melihat kekasihnya tertidur dengan lelap. Pada sesi istirahat mereka, Helena ditemani oleh Arion, tidur berdampingan. Napasnya yang tersengal-sengal membuat sang Pangeran khawatir. "Apa yang terjadi padamu, Cantik?" tanya Arion bersungguh-sungguh. Helena membuka kelopak mata pada raga barunya itu, ia menatap dalam-dalam pada iris coklat yang memancarkan kehangatan rasa kepadanya. "Aku belum tahu, yang jelas jantungku bermasalah," ucap Helena perlahan. "Oh, jantung? Apa yang terjadi pada jantungmu? Bukanlah selama ini kamu baik-baik saja? Katakan padaku, apakah ada seseorang yang memberikan ramuan padamu?" Arion mengangkat tubuhnya dan duduk menghadap Helena dengan roman wajah diselimuti kecurigaan. Helena menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak, jantung ini bermasalah dari sejak lahir, ya aku bisa merasakannya," jelas Helena yakin. "Itu tidak mungkin My Lady ... aku tahu dari sejak kecil kita sering bermain bersama, tidak pernah kamu sakit dan sesakit ini," Arion menyangkal perkataan Helena. "Prajurit kepala!" teriak Arion memanggil salah seorang pasukannya. "Hamba, Yang Mulia Pangeran," jawab prajurit kepala menghadap sambil membungkuk. "Sekarang juga, cari tahu siapa yang telah memberikan ramuan, makanan atau minuman kepada Nona D'Arph!" perintahnya tegas. "Hamba menjalakan tugas, Yang Mulia Pangeran." Prajurit itu membungkuk dua kali sebagai tanda pamit. Sementara itu, Helena memejamkan matanya. Percuma ia mengatakan sesuatu jika keyakinan Arion berbeda dengan dirinya. 'Aku membutuhkan obat agar darahku tidak menjadi kental,' batin Helena. Tapi ia sadar, di jaman ini obat-obatan yang ia perlukan tidak mungkin ada karena belum ditemukan oleh para ahli farmasi manapun. Alih-alih mencari obat yang memang tidak ada, sebuah ide melintas pada benaknya. 'Aku harus meracik sendiri obat itu, semoga bisa menemukan tanaman sonchus arvensis,' batin Helena. Kembali kelopak matanya terbuka dan mendapati Arion sedang menatapnya dengan penuh kekhawatiran. "Apa kamu tahu di mana ada tanaman perdu di jalan yang kita lewati?" tanya Helena. "Tentu saja sepanjang perjalanan kita dikepung oleh perdu, ada apa, Cantikku?" tanya Arion merasa heran. Helena tersenyum, pada sorot matanya tersirat kelegaan. "Aku mencari satu jenis tanaman untuk melancarkan peredaran darahku agar tidak mengental," sahut Helena. "Dari mana kau tahu tentang itu, My Lady?" Arion terkejut mendengar perkataan Kekasihnya. "Pernah baca," jawab Helana cepat sambil kembali memejamkan matanya. "Bahkan, kamu tidak lulus saat pelajaran membaca, Sayangku ...," Arion mengingatkan. "Tidak lulus bukan berarti tidak bisa," Helena tersenyum merasa geli. Rupanya Syelena adalah tipe gadis yang manja dan semau-maunya sendiri. Helena tahu bahwa gadis yang raganya ia tempati sekarang adalah seorang yang mempunyai kecerdasan tinggi. "Baiklah, Sayang ... kamu memang selalu berpura-pura bodoh dari sejak kecil, ha ha ha." Arion tertawa keras, menertawakan dirinya yang selalu berhasil ditipu daya oleh gadis itu. "Kita akan mencari tanaman perdu itu, apakah tanaman itu punya nama?" tanya Arion sambil bersiap merebahkan dirinya di samping Helena. "Sonchus arvensis," desis Helena tapi terdengar jelas oleh Arion. Lelaki tampan yang berpostur sangat gagah itu terkejut hingga ia kembali mengangkat tubuhnya untuk duduk. "A-apa? Sonsus arpensis?" tanya Arion bingung. "Bahasa apa itu?" Dahinya mengernyit. "Itu nama tanaman yang biasa tumbuh di daerah yang memiliki curah hujan tinggi sepanjang tahun, aku sangat membutuhkannya," Helena sudah kewalahan karena berbicara terus. "Aku istirahat dulu," pamitnya kepada Arion seraya memejamkan matanya kembali. Lelaki itu terpaku di tempat. Ia sangat terkejut dengan ucapan dan sikap kekasihnya yang berubah 360 derajat. Seketika tubuhnya merinding. Kini semakin jelas bahwa sorot mata Syelena adalah sorot mata asing yang seolah belum pernah bertemu dengannya. Ya. Dirinya tidak menemukan keaslian Syelena yang sangat ia kenal. Kedua bola matanya menoleh dam menatap lekat-lekat gadis itu. Wajah, rambut, pakaian, bentuk tubuh, warna kulit semuanya benar Syelena, tapi tatapan matanya bukan Syelena! Arion menjauhkan diri dari sosok gadis yang sedang mencoba untuk tidur itu. Ia terus memandangi Syelena seolah-olah ketakutan akan berubah wujud sambil teruss berpikir kemungkinan-kemungkinan apa saja yang bisa membuat perubahan selama gadis itu dipenjarakan oleh baginda Raja. Keesokan harinya, Helena tidak menemukan tanaman yang ia cari, meski ia terus mengabsen nama-nama tanaman yang dilihatnya. Pada akhirnya ia pasrah karena sudah terlalu kelelahan. Perjalanan dengan jalan kaki yang di tempuh siang dan malam meskipun telah melewati jalur memotong, sangat menyiksa bagi Helena dengan rasa sakit yang menyerang seluruh tubuhnya. Ia membutuhkan istirahat yang panjang dan obat-obatan. .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD