1650
Tapi ... bukan seperti ini wujud kematian, karena tubuh terkalahkan oleh zat kadaverin dan putresin. Hai, aku bahkan mempunyai tubuh asing yang ramping nan seksi meskipun ringkih ....
~~~~~> Helena Chrysti.
Dalam sebuah ruangan gelap dan pengap beralas tanah, juga berdinding tanah, terlihat dua orang bersebrangan di atas dipan masing-masing tanpa alas.
Satunya seorang lelaki tua yang berusia sekitar tujuh puluh tahunan, hanya mengenakan kain lusuh dan kotor yang dibebat pada pinggangnya, ia sedang duduk terpekur memandangi seorang wanita muda, yang mengenakan rok panjang lebar berwarna putih.
Pakaian wanita muda itu sangat kontras dengan keadaan sekelilingnya. Lelaki tua tersebut mengenali sosok wanita dari sejak dia dimasukkan ke dalam ruang tahanannya. Ia adalah putri sulung dari penglima perang kerajaan, Syelena 'D Arph.
Kecantikan seorang Syelena telah termasyur ke seantero negeri, sampai-sampai seorang Raja yang sangat berkuasa menginginkannya untuk dijadikan selir Raja. Tidak ada yang tahu sebelumnya bahwa Syelena menjalin hubungan dengan putra pertama kerajaan yaitu Pangeran Arion.
Pada jaman itu, siapapun yang dipinang untuk dijadikan selir, merupakan penghargaan tertinggi bagi mereka. Tidak heran kalau cita-cita tertinggi para wanita dari berbagai kalangan adalah menjadi selir Raja.
Di dalam catatan sejarah, tidak pernah ada satu pun yang menentang keinginan Raja di mana keinginan tersebut merupakan titah mutlak. Hanya Syelena yang dengan tegas menolak.
Penolakan itu mengandung resiko yang sangat tinggi, selain dirinya yang mendapat hukuman dipenjarakan, ayahnya sebagai panglima perang juga ikut dipenjarakan, bahkan ibu dan adiknya diusir dari kediaman para jenderal perang.
Syelena sendiri kondisinya tidak lebih baik, karena sebenarnya ia sering sakit di bagian d**a kirinya. Saat memasuki penjara bawah tanah yang kekurangan oksigen, sakitnya semakin menjadi. Gadis itu dibaringkan dengan kasar hingga membuat Syelena kepayahan bernapas.
Keajaiban terjadi, pada detik napas yang terakhir, Gadis itu terbatuk-batuk. "A-aduh, sakit sekali dadaku ini," rintihnya pelan.
Otaknya bekerja cepat, menelaah semua yang terasa pada tubuhnya. Seluruh ototnya nyeri, sendi-sendi seakan hampir patah, tapi yang utama adalah jantungnya. Ia harus meredakan sakit pada jantungnya dengan merubah posisi.
Ia tampak berusaha untuk mengangkat tubuhnya agar bisa duduk dan menyandarkan kepalanya pada sesuatu. Dengan susah payah, usahanya berhasil. Ia duduk dengan posisi menyandar tapi menyisakan celah cukup lebar dari mulai punggung atas sampai b****g.
Dengan posisi seperti itu, rasa nyeri bagai di tusuk-tusuk di jantungnya, bisa mereda dalam beberapa menit sambil ia mengatur napasnya. Gadis itu paham bahwa di mana pun dirinya saat ini berada, ruangan itu beroksigen tipis, hal ini berpengaruh pada aliran darahnya yang menuju jantung akan tersendat bahkan bisa membuat kerusakan pada organ lainnya.
"Aku berada di mana sih? Kenapa udara tipis sekali?" batinnya merasa heran.
Tiga puluh menit kemudian, ia membuka matanya. Tempat itu temaram, hanya ada cahaya dari api yang menempel pada dinding di luar pintu baja yang memisahkan ruangan itu dengan lorong di depannya.
Semua hal yang berada di sana, nyaris tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ia menatap lekat pada kakek yang berjarak tiga meter darinya. "Maaf, Kakek siapa?" tanyanya.
"Bicara apa kamu? Saya tidak mengerti," jawab sang kakek dengan nada datar.
Kebingungan muncul pada wajahnya yang cantik, ia mengerti ucapan lelaki tua itu meskipun bahasanya berbeda dengan yang dia ucapkan tadi.
"Maaf, Kakek siapa? Ini di mana?" tanya gadis muda itu menggunakan bahasa yang sama dengan lelaki tua sambil terheran-heran. Karena ia belum pernah mempelajari bahasa tersebut di mana pun.
"Masa kamu tidak tahu siapa saya yang pernah menjadi juru tulis ayahmu?" tanya lelaki tua dengan wajah tercengang.
"Ayah saya hanya seorang nelayan, dia tidak punya juru tulis," gumamnya semakin kebingungan.
"Kamu tidak tahu siapa dirimu? Apa kamu hilang ingatan?" tanya kakek masih tercengang.
"Saya Helena Chrysti, seorang laboran yang bekerja pada perusahaan farmasi terbesar di kota Milos," sahutnya dengan yakin.
"He he he, Milos itu laut Aegea, Yunani. Sangat jauh dari sini, Nona." Kakek itu terkekeh panjang.
Helena terkejut dengan ucapan lelaki itu, tapi ia bertahan agar tubuhnya tidak bergerak, ia sadar dengan kondisinya saat ini bisa membuat jantungnya berhenti dengan cepat.
"Di mana saya sekarang, Kek?" tanya Helena tidak menggubris ucapan lelaki tua itu.
"Kamu berada di penjara bawah tanah, sebelah timur istana kerajaan," jawabnya.
"Kenapa saya ada di penjara?" tanya Helena semakin merasa heran.
"He he he, karena kamu menolak dijadikan selir Raja. Akibatnya, ayahmu juga ikut dipenjara, tapi bukan di sini," jawab kakek.
Helena menahan napas sebentar, ingin rasanya ia berteriak karena telah berbicara omong kosong dengan kakek tua itu. Tapi tubuhnya sangat ringkih saat ini.
"Kamu itu Syelena 'D Arph. Bukan Helena, ayahmu seorang panglima perang yang ditakuti. Kamu menolak menjadi selir Raja karena telah menjadi kekasih Pangeran Arion, putra mahkota kerajaan ini," tutur kakek tua dengan wajah tanpa ekspresi.
Helena mendengarkan dengan seksama dan ia terhenyak kaget melihat baju yang dipakainya saat itu. "Siapa yang mengganti bajuku? Di mana seragam laboratku? Ini baju apa seperti ini?" tanyanya panik.
Kakek tua itu tertegun, sejenak ada kebimbangan di matanya. Jelas ia mendengar nada asing dari logat bicara Syelena.
"Ini baju kuno, oh bahkan aku belum pernah melihatnya." Tanpa sadar Helena telah duduk tegak sekarang. Kedua tangannya sibuk memegang kain rok yang terasa kasar di tangannya.
"Kuno? Bagaimana bisa? Syelena selalu memakai pakaian dengan gaya terbaru," ujar kakek.
"Tahun berapa ini? Apa kalian tahu perhitungan tahun, tanggal dan hari?" tanya Helena tidak yakin.
"He he he, selamat datang di tahun 1650, Syelena," ujarnya meledek seraya merebahkan dirinya di atas dipan.
Tidak lama kemudian terdengar suara dengkuran. Helena menatap kakek tua yang sedang tidur. Tubuhnya kurus kering tapi ia tahu, kakek itu mempunyai pengetahuan yang luas, setidaknya di jaman itu.
"Ha? Jaman itu? Jaman ini? Ya, Tuhan Ya, Dewa ... aku berada di mana ini? Ah, aku adalah arwah? Ya, aku sudah meninggal di ruangan labolatorium karena menghisap kebocoran gas?" ceracau Helena sambil menangis.
Dia teringat detik terakhir sebelum kehilangan kesadaran, ia sedang berusaha menekan tombol yang bisa membuat jendela kaca terbuka ke halaman luar pabrik yang luas.
"Ah, mama, papa, adikku, pasti mereka sedih ...," gumam Helena dalam isak tangisnya.
Sesaat gadis itu tertegun, pertanda otaknya sedang bekerja, ia menghalau ingatan lain yang tidak berkolerasi dengannya. Perlahan kakinya yang telanjang menginjak tanah, ia berdiri dan merasakan bahwa ia masih hidup! "Tapi, tubuh siapa ini? Syelena?!" serunya dengan gugup.
Wajah cantik itu menoleh ke arah pintu baja, ia mendengar suara-suara. Seperti sebuah pukulan yang di lakukan kepada beberapa orang dan suara benda terjatuh ke atas tanah yang pantulannya menggema.
Ia menekan dadanya yang terasa sakit saat jantung berdegup kencang. "Jangan ... jangan mati saat ini, jangan ...." Helena menangkap bayangan hitam hendak menelungkupnya hingga ia tidak sadarkan diri.
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤