“Aku berjalan selalu di pantai ini, Antara pasir dan buih. Air pasang bakal menghapus jejakku. Dan angin kencang menyembur hilang buih putih. Namun, lautan dan pantai akan tinggal abadi.”
~~~~~~~> Kahlil Gibran.
Tugas berat yang harus dijalani Helena selama hampir dua minggu ke belakang, tanpa batas waktu hingga terlewat jam makan, telah membuatnya frustasi.
Ia berkerja bagai robort dengan wajah datar tanpa ekspresi. Pagi hari tiba di kantornya dengan masih berbekal kantuk. Melakukan absensi digital, memasuki ruangan untuk mensterilkan tubuh dan barang-barang yang ada padanya.
Mengganti sepatu di depan lorong labolatorium dengan sandal khusus, mengenakan jas dan penutup kepala steril, mencuci tangan pada wasafel yang berjejer, kini ia siap memasuki pintu ruang keramat itu.
Sebuah laboratorium khusus untuk mengecek dan mengurai isi atau kandungan pada obat-obatan dan perangkat kimia lainnya. Labolatorium itu sangat besar, tapi bilik di mana ia bekerja hanya berukuran enam kali tujuh meter.
Helena baru ditempatkan di sana selama dua minggu, sejak aparat yang berwenang di kota itu menemukan pabrik obat yang disinyalir palsu. Tidak hanya satu pabrik, ternyata mereka juga menemukan pabrik kosmetik yang dicurigai menggunakan bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh manusia.
Hectic. Ya, hanya itu yang menggambarkan kegiatan Helena hingga larut malam setiap harinya. Ia ingin segera terbebas dari beban itu dan kembali menempati bilik labolatorium utamanya di basement gedung. Bilik rancangan produksi dan pengawasan obat-obatan.
Setelah mengeringkan kedua tangannya dengan uap panas dari mesin pengering, gadis itu menyalakan layar yang berada di dinding dan menghadap ke mejanya. Ia ingin menyapa rekan-rekan di kantor utamanya.
Panggilannya diterima oleh rekan-rekan yang sudah berada di kantornya. Lima orang muncul pada layarnya masing-masing.
Helena tertawa lirih melihat mereka. "Morning, everyone! Hei ... Bianca! Mimpi buruk apa kamu sampai wajahmu seperti itu?" serunya sambil mengeluarkan berkas-berkas dan menyalakan komputer di mejanya.
"Kamu tidak lebih baik dariku, Helena! Bahkan lebih mengerikan," bantah Bianca yang di sambut kekehan teman-temannya.
"Benarkah? Apa aku mengerikan?" tanya Helena bimbang.
"Yea, Helena, cepatlah selesaikan tugasmu dan kembali ke sini!" seru Kevin sambil menyilangkan jari telunjuk dengan jempol ke depan layar sebagai tanda 'cinta'.
"Hm ... tidak kalau kau selalu menabur cinta di mana-mana, Kev," seloroh Helena yang disambut ledakan tawa dari teman lainnya.
Kevin satu-satunya teman pria di kelompok Helena yang tidak pernah lelah menyatakan cinta kepada mereka, satu persatu.
"Ok, guys ... go get your work, see u at lunch," Selena mengakhiri sambungan video call dengan mereka.
Fax masuk berlembar-lembar, suara mesin fax yang sedang mencetak huruf-huruf bagaikan musik di telinga Helena hingga ia mengayunkan kepalanya sambil bersenandung tidak jelas.
Lembaran itu dikirim langsung dari meja big bos, yang meminta Helena segera membongkar sample demi sample yang telah sampai di ruangannya dan meminta laporan hari ini juga.
"What?! Bagaimana caranya harus report hari ini? Ya, Tuhan ... tolong kirimkan prince charming ke sini untuk membantukuu ...," doa ngawur Helena yang semakin frustasi dengan tugas barunya.
Dengan sangat berat hati, Helena menggeser seluruh pekerjaannya di atas meja ke bagian sudut dari meja kerja itu, menggantinya dengan tugas pekerjaan dari sang big bos, lalu menjejerkan kertas fax yang diterimanya di atas meja.
Sebelum ia memeriksa secara fisik dari objek yang akan ditelitinya, Helena akan mempelajari data-data terlebih dahulu, termasuk nama-nama yang disematkan pada objeknya. Mayoritas pemberian nama pada obat-obatan mewakili bahan yang terkandung di dalamnya atau bahkan nama orang penemunya.
Gadis itu begitu tenggelam dalam pekerjaannya hingga jam makan siang terlewatkan dan mengabaikan beberapa telepon dari teman-temannya sendiri. Namun, ia menerima panggilan telepon dari ibunya.
"Helo, Ma," sapa Helena tanpa menghentikan kegiatannya memecahkan rumus-rumus perbandingan komposisi dari satu nama objek penelitian.
"Sudah makan siang? Sarapan tadi di makan?" tanya ibunya di ujung telepon.
Helena terdiam sejenak sebelum menjawab, "sudah, Ma." Kenyataannya dia benar-benar lupa akan toples berisi sarapan pagi yang disediakan oleh ibunya.
"Baiklah, hati-hati dan usahakan pulang tidak terlalu larut," ujar sang ibu, ada nada kekhawatiran pada suaranya.
"Oke, Ma ...." jawab Helena pendek. Ia mematikan sambungan telepon, kembali pada pekerjaannya.
Tepat pukul lima sore, Helena yang sudah mulai dikejar laporan oleh sekretaris big bos, mulai mengambil sample dari kotak yang diurutkannya sesuai urutan abjad.
Bekerja sendirian memang tidak efisien dalam hal waktu. Kelelahan dan beban mental menjadi faktor utama terjadinya kecelakaan. Helena tanpa sadar telah menyenggol sebuah tabung reaksi kaca hingga pecah di lantai, ia melihat tabung itu kosong, hingga ia abai memeriksanya.
Kenyataannya, pada dasar tabung masih tersisa cairan setengah tetes yang sedang menunggu zat lain bersentuhan dengannya. Dalam ruang laboratorium, selang gas untuk memanaskan zat larut, mengalami korosi hingga gas tersebut terdorong dari dalam, merembes melalui pori-pori dan menyambar cairan dari tabung yang pecah dan hanya berjarak dua senti meter saja.
Lima menit kemudian, Helena merasakan pusing yang dahsyat. Otaknya mengenali bahwa hal itu adalah akibat dari suatu zat tercampur udara dan terhirup olehnya di ruangan tanpa ventilasi.
Kesadaran terakhir adalah tombol jendela otomatis yang akan membuka jendela kaca saat tombol ditekan agar tekanan udara dari dalam ruangan terhempas ke alam bebas dan meminimalkan kerusakan pada paru-paru serta organ penting tubuh lainnya.
Jemarinya sudah sampai menyentuh tombol, tapi ia tidak sempat menekannya, tubuhnya ambruk ke lantai. Darah segar muncul dari mulut dan hidungnya.
Berakhirlah riwayat Helena sebagai laboran cerdas di kota penuh sejarah, menuju kehidupan lain di masa lampau, dalam kehidupan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya kecuali khayalannya tentang pangeran tampan yang akan menjemputnya seperti cinderela.
♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧♧