"Satu jam yang digunakan untuk merasa khawatir, lebih melelahkan dari pada satu hari untuk bekerja keras."
~~~> Sepositif
2021
Seorang gadis baru saja tertidur di atas meja kerjanya. Bertumpu pada kedua tangan yang masih menggenggam ball point. Kertas yang berisi coretan rumus-rumus masih berserakan dari atas meja sampai ke lantai.
Pekerjaannya memang belum selesai, ia diharuskan untuk lembur karena terlalu banyak sampel obat yang harus diperiksanya dengan teliti. Waktu menunjukkan pukul 23.14, kelelahan yang dirasakannya telah memaksa tubuh Helena Chrysti untuk terlelap.
Seorang keamanan gedung pabrik farmasi yang setiap tiga puluh menit berkeliling memeriksa ruang demi ruang, melihat gadis itu tertelungkup di atas meja dari jendela kaca yang besar. Merasa khawatir, ia terpaksa memasuki ruang labolatorium untuk memeriksanya.
“Miss Helena, apakah Anda baik-baik saja, Miss?” tanya Pedro sang keamanan, seraya meneliti gadis itu dengan seksama.
Terdengar helaan napas lega, kini ia tahu bahwa gadis itu hanya tertidur. Tapi ia harus membangunkannya sebab ruang labolatorium adalah satu-satunya ruangan yang paling berbahaya di dalam gedung itu.
“Miss, bangun ... lebih baik pulang. MISS?! Seru Pedro agak meninggikan suaranya tapi dengan nada lembut. Pedro tidak berani membangunkan Laboran yang terkenal genius itu dengan menyentuhnya, hingga ia hanya mengandalkan suaranya saja.
Lamat-lamat, suara Pedro terasa berasal dari mimpi di telinga Helena. Namun, ia bergerak karena suara itu semakin nyata. Helena bangun dan tergagap, “ma-maaf, sa-saya ketiduran,” ujar Helena seraya membetulkan letak kaca matanya yang miring.
“Saya minta maaf karena telah memasuki ruangan yang terlarang ini, semata-mata karena saya khawatir dan harus memeriksanya,” ujar Pedro dengan sopan.
“It’s oke, Pedro. Thanks,” sahut Helena seraya membereskan kertas-kertas berisi coretan-coretan rumus yang rumit.
Pedro berbalik melangkah keluar dari ruang labolatoriun itu. Helena merasa pusing karena tidurnya terganggu, tapi ia harus segera pulang. Setelah menyusun kertas dan berkas, ia meraih tas dan jaket panjangnya lalu mematikan lampu ruangan dan mengunci pintu.
Udara dingin dengan suhu tiga belas derajat celcius, menerpa wajahnya. Helena mengetatkan syal rajut tebal yang melilit leher, lalu menutupinya dengan kerah jaket panjangnya. Ia harus berjalan agak jauh menuju tempat di mana mobilnya terparkir pagi tadi.
Hanya punya waktu beberapa jam saja untuk tidur karena pagi-pagi harus kembali ke labolatorium, Helena melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia memasuki desa nelayan Fyropotamos yang berjarak empat puluh kilo meter dari kantornya.
Berhenti di sebuah rumah besar berwarna merah, menghadap ke laut lepas, Helena turun dari mobilnya. Ia bergegas memasuki rumah orang tuanya, lalu menuju kamarnya yang hangat dan nyaman.
Ia hanya melepas sepatu kets, jaket dan syal kemudian masuk ke dalam selimut dan tertidur dengan lelap, masih mengenakan kaus kakinya.
Pukul enam pagi, suasana di dapur rumah tersebut telah ramai. Kedua orang tua Helena menyiapkan sarapan pagi bersama-sama untuk mereka dan kedua putra putrinya.
"Helena belum bangun? Jam berapa semalam dia pulang?" tanya lelaki setengah baya kepada istrinya.
"Mungkin lepas dari jam dua belas malam, dia lembur beberapa hari ini." Wanita itu membawa nampan berisi beberapa mangkuk sayuran dan daging lalu meletakkannya di meja makan.
"Cepat di makan, kalau mau ikut papa ke laut," ujarnya kepada pemuda tanggung yang memasang headset di kepalanya. "Aku bangunkan Helena dulu," pamit wanita itu kepada suami dan putranya.
Ia menaiki tangga ke lantai dua dan berhenti di depan sebuah pintu lalu mengetuknya sambil memanggil nama putrinya. "Helena ... sudah bangun? Sarapan sudah siap!" teriaknya. Tidak ada jawaban.
Tangannya terulur memegang handle pintu dan memutarnya, pintu itu terbuka lalu ia masuk ke dalam kamar dan tercengang melihat putrinya tidur masih mengenakan seragam labolatorium.
"Helena? Bangun, Nak. Helena?!" serunya sambil mengguncang pelan lengan gadis itu.
"Hm ... masih ngantuk, Ma," jawab Helena tidak sanggup membuka kelopak matanya yang terasa berat.
"Tapi kamu harus bangun, kalau kesiangan kerja kena penalty, kan," sahut ibunya bersikeras.
Helena duduk dengan cepat meski kedua matanya masih terpejam rapat. "Ma, bisa tolong gak buat surat ijin, aku butuh tidur, Ma ...." Helena menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.
"Eh ... mana bisa orang kerja seperti itu? Ijin apa? Masuk akal tidak? Ayo bangun, Sweety," rayu sang ibu.
Sejurus kemudian, wanita itu diam terpaku. Tiba-tiba saja, ia merasakan ulu hatinya bergejolak, rasanya sangat tidak nyaman. Otaknya berputar cepat mengingat semua orang terdekatnya.
Suami dan putranya akan melaut mengambil ikan dari cold storage pada sebuah kapal besar yang tidak bisa berlabuh ke pantai kecil. Setelah itu mereka akan langsung pulang untuk mengolah ikan tersebut.
Putrinya hanya akan bekerja di labolatorium farmasi seperti biasanya. Tapi firasat buruk yang ia rasakan justru dari putrinya. Sejenak ia menimbang-nimbang, "apa perlu minta surat dokter tetangga untuk ijin ke kantornya?" batin wanita itu.
Namun, tiba-tiba ia dikejutkan oleh loncatan putrinya dari atas kasur. "Ma ... aku harus pergi, aku sudah menemukan rumusnya!" teriak gadis itu, secepat kilat masuk ke kamar mandi.
"Kamu selesai mandi langsung pergi?" tanya wanita itu masih terkejut sekaligus merasa heran.
"Iya, Moo," jawab Helena sambil menggosok giginya.
"Sarapannya dibekal saja ya, mama siapin dulu" ujarnya segera keluar dari kamar lalu menuruni tangga kembali ke dapur.
"Kami berangkat dulu, Ma ...," pamit suaminya.
"Eh, bentar, Pa, aku mau ketemu Helena dulu," ujar anak kedua mereka yang akan memulai perkuliahan pertamanya di tahun ini.
Dalam sekejap, pemuda tersebut telah menghilang dari pandangan orang tuanya.
"Helena? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya adiknya.
"Hei, mau apa kamu? Jangan bilang mau minta uang! Tidak ada," tegas Helena seraya mengenakan jaketnya cepat-cepat.
"Aku cuma merasa gak enak hati, semoga kamu baik-baik aja ya ... jangan lupa, pulang cepat. Aku boleh peluk, kan?" tanyanya seraya menghampiri Helena dan memeluknya erat-erat.
Helena kebingungan dengan tingkah adiknya yang tidak biasa itu. "Kamu kesambet apa sih? Makanya jangan main ke laut terus, di sana kamu bukan ketemu dewa laut, malah ketemu setan laut. Gak beres nih." Helena mengomel panjang-panjang.
Sang adik hanya tersenyum melihat kakaknya itu berceloteh tidak karuan. "Bye, Helena, take care!" serunya sambil berlari menuruni tangga.
Helena mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Ia merasa aneh dengan perubahan adiknya itu, "ah, paling juga ada maunya, baik-baikin dulu, huh." Helena mendecih.
Ia segera menyusul adiknya turun ke bawah dan menyambar toples plastik tempat makanan yang disuruh bawa oleh ibunya.
"Aku pamit ya, Ma!" teriak Helena seraya berlari ke arah mobilnya. Dalam perjalanan ke kantor, Helena bersenandung kecil untuk menghilangkan sisa-sisa kantuknya sambil melihat kiri-kanan, menikmati keindahan alam sepanjang sisi pantai dengan bebatuan berwarna putih.
Sementara itu, ibunya Helena berdiri mematung melihat kepergian putrinya hingga butiran lembut pasir putih yang beterbangan tergulung oleh ban mobil, kembali merebahkan diri di atas tanah berwarna coklat muda. Ia sangat lelah dengan perasaan negatifnya atas kepergian Helena Chrysti.
Kedua tangan ia tangkupkan di atas dadanya, semilir angin dingin yang bertiup dari arah laut, membuatnya merinding. Ia menengadah ke arah langit. "Apa maksudnya perasaan tidak enak ini?" gumamnya lirih.
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤