Sisi Lain Syelena

1906 Words
Salahkah jika pada akhirnya semua merasakan terjatuh pada pesona dan kebaikan seorang Syelena D'Arph? ♧♧♧♧♧♧ Siapapun, tidak bisa memungkiri bahwa Syelena D'Arph berparas sangat cantik. Segala sesuatu pada dirinya adalah keindahan yang menggambarkan kecantikan seorang Dewi. Lelaki itu menghempaskan dirinya di atas kasur dengan jantung yang masih bertalu-talu. Ia mengangkat tangan kanannya, masih merasakan kelembutan dari tangan gadis itu, saat ia memegangnya. 'Ah, Syelena ... kamu hanya bayangan yang mampu memporak porandakan sebuah kerajaan! Haruskah kucuri hatimu dan memulai permusuhan dengan Pangeran Arion?' batin Abram tidak karuan. Selama beberapa saat kemudian, lelaki itu merasakan kegelisahan yang teramat sangat, tubuhnya berguling-guling di atas kasur, mencoba menghalau dan melawan pesona seorang putri D'Arph. Dok Dok Pintu kayu tebal di ketuk dengan sebuah alat. Terdengan suara dibalik pintu. "Tuan Besar, hamba Dora menghadap Tuan." "Masuk!" Seorang wanita memasuki ruangan setelah pintunya dibuka oleh dua orang penjaga. "Bicara!" titah Abram dengan perasaan kalut. "Tuan, salahkan hamba yang khawatir kepada My Lady. Beliau sendirian setelah orang-orang ikut berlari bersama Tuan, malam ini dingin sekali, My Lady bahkan tidak tahu caranya menyalakan api, Tuan. Izinkan Hamba untuk menyalakan api, Tuan," ucap Dora sambil bersujud di atas lantai kayu setelah mengutarakan maksudnya. "APA?! Berani-beraninya orang meninggalkan My Lady?" Lelaki itu terlonjak dari atas kasur, kegelapan malam sangat pekat di tengah hutan, siapa pun tidak mungkin tahan menghadapinya. Besok hari ia akan membuat perhitungan dengan mereka. "Panggil semua pelayan dan penjaga yang harusnya bertugas di sana!" Suara Abram menggelegar oleh rasa marah. "Hamba, Tuan," sahut Dora segera bangkit dan tergopoh-gopoh keluar karena para pelayan dan penjaga telah ia kumpulkan sebelum memberanikan diri mengetuk kamar tuannya. Melihat para pelayan menundukkan wajahnya dan membungkuk, Abram tersulut emosi. "Kalian menolak melayani My Lady? Pergi ke gunung sekarang juga selama tiga purnama! Pergi!" teriak Abram dengan napas tersengal. Dora terkejut sekali, meski begitu, ia segera ikut bangkit untuk pergi ke gunung menjalani hukuman di sana tanpa makan dan tanpa rumah. "DORA!" Suara Abram menggelegar, membuat jantung Dora meronta ingin keluar dari raganya. "Ha--ha--ham--ba, Tu--tuan ...." Dora terduduk kembali oleh rasa lemasnya. "Panggil lima orang pelayan dan empat penjaga, sekarang juga berangkat ke kediaman My Lady, cepat!" teriak Abram seraya keluar dari ruang tidurnya yang hangat dan berlari sambil merampas obor dari tangan anak buahnya, menembus kegelapan hutan. Semua orang dibuat bingung oleh sikap Abram yang belum pernah mereka lihat sebelumnya yaitu, berlari kencang! "Apakah My Lady yang memerintahkan agar pimpinan kita berlari-lari?!" Pertanyaan keheran-heranan dari semua orang, terwakili oleh salah satunya. Mereka saling pandang satu sama lain dan seseorang menimpali, "Apakah kita juga akan disuruh berlari-lari?" "Ayo kita pergi!" hasut salah seorang dari mereka. Tanpa dikomando, dalam sekejap, semuanya telah menghilang dari tempat mereka berkumpul, melesat dalam kepiawaian berlarinya yang disertai keilmuan. Abram Linkton telah sampai di teras dan mencoba membuka pintu, tapi pintu itu terkunci oleh selot dari dalam. Ia merasakan kengerian yang luar biasa melihat seluruh rumah gelap pekat. Lelaki itu memutar ke arah samping dan memasuki pintu yang tidak terkunci dari ruang dapur. Perlahan-lahan langkahnya menuju kamar Helena yang memang pintunya tidak dipasangi kunci demi keamanan penghuni kamarnya karena seharusnya ada penjaga yang berjaga di samping kiri kanan pintu tersebut. Selimut telah terlipat menutup gundukan dibawahnya, Abram segera menyalakan obor-obor kecil dari api obor yang dibawanya. Dalam sekejap, ruangan tersebut terang benderang, Kemudian ia meletakkan obor yang dibawanya di atas meja dimana telah tersedia sebuah ceruk dari tanah liat untuk dudukan obor. Dengan hati yang bergemuruh, Abram menghampiri ranjang dan tangannya yang gemetar berusaha menarik selimut dengan sangat pelan. Sejurus kemudian, ia terkejut mendapati wajah yang membiru dari gadis tersebut. Refleks, tangannya menyentuh wajah Helena. Tanpa pikir panjang ia segera melucuti bajunya sendiri dan naik ke atas kasur lalu meraih gadis yang seluruh tubuhnya membiru dengan napas yang sangat lambat. Gadis yang mengenakan baju dalaman tersebut diraihnya dalam pelukan Abram, kemudian ia membuka dalaman sang gadis untuk dipeluk kulit bertemu kulit dengan erat di dalam selimut tebal dan berat. Hanya itu satu-satunya cara yang diketahui oleh Abram untuk menyelamatkan seseorang yang hampir terkena hipotermia. Berangsur-angsur, kehangatan mulai menjalar dari dalam tubuh Helena, Jantungnya mulai terasa berdegup oleh Abram, kulitnya perlahan kembali memutih tapi Abram masih enggan melepaskan tubuh itu dari pelukannya. Sekuat tenaga lelaki itu menahan gejolak gairah yang timbul dan sebuah kesadaran menghentaknya. Ia tidak boleh diketahui oleh gadis itu telah memeluknya dalam keadaan telanjang, bahkan menyentuh sesuatu yang kenyal dan terasa enak itu. Dengan berat hati, ia melepaskan diri lalu menarik dalaman Helena dan memakaikannya lagi, saat gadis itu belum sadar dari pingsannya. Setelah memakai bajunya kembali Abram meletakkan kepala Helena di atas bantal dan menyelimutinya sampai sebatas leher. Udara di dalam kamar itu kini telah menghangat oleh api-api obor, kemudian ia menambahkan api di dalam kamar mandi agar rasanya membulat di ruangan kamar dan Helena bisa tidur dengan nyaman. Lelaki itu berdiri di ujung ranjang, memandangi paras cantik yang bagaikan titisan Dewi. Kesintalan tubuhnya terasa masih melekat dan itu membuat kepala Abram pusing. Terhuyung-huyung, Abram melangkah keluar dari kamar dan seluruh ruangan sudah terang benderang. Dora berdiri di depan pintu dan langsung bersimpuh saat Abram keluar dari sana. "Dora! Ambil kasurmu dan masuklah. Periksa apakah My Lady sudah cukup hangat atau tidak, sediakan ramuan penghangat tubuh!" perintah Abram yang disahuti dengan bergeraknya seorang pelayan ke dalam dapur untuk meracik minuman penghangat tubuh yang bisa diminum dalam keadaan panas atau dingin, khasiatnya tetap sama. Dengan perasaan yang sangat berat, Abram harus segera pergi dari sana. Ia melangkahkan kakinya menuruni undakan teras dan berjalan perlahan-lahan dengan pikiran dan perasaan yang tidak menentu. Langkahnya tersaruk-saruk dan sesekali terseok-seok menahan sesuatu yang menggelegak di dalam dirinya. "Aku mabuk, Dewa!" teriaknya dalam guyuran salju tipis yang turun dengan lembut menghinggapi tubuhnya serta desisan suara obor besar yang juga dihinggapi salju. "Aarh, aku ingin kembali, Dewa. Bolehkah?!" teriak Abram putus asa sambil menengadahkan kepalanya ke langit. Yang dilihatnya bukan jawaban tapi salju-salju kecil yang turun bagaikan kapas. "Aku ingin terus memeluknya sampai tua, jangan kau biarkan aku gila oh, Dewa!" Lelaki itu seorang pengembara, bukan lelaki suci yang tidak pernah merasakan kenikmatan tubuh seorang wanita. Di setiap pengembaraannya, ia selalu mampir di rumah bordil* dan menikmati petualangan s*x* dari yang biasa-biasa saja sampai yang terhebat sekalipun. Tapi, kenapa tubuh gadis itu berbeda? Apa yang menjadi pembedanya? Abram tidak menemukan jawaban atas hal itu. Langkah kakinya begitu gontai dan tidak peduli dengan sekitarnya. Pikirannya melamun begitu dalam hingga sulit untuk di sadarkan, ia bergerak murni digerakkan oleh alam bawah sadarnya sampai merebahkan diri di atas kasurnya dengan tatapan kosong menerawang. Pagi menyingsing, Dora disibukkan dengan memeriksa Helena bolak balik. Gadis itu belum juga terbangun sementara matahari yang muncul malu-malu dibalik awan, telah merangkak naik dan sebentar lagi berada tepat di atas kepala manusia. Dora sudah pernah melihat sebelumnya gadis itu tertidur sangat lama. Namun, bukan itu yang meresahkan dirinya, tapi ... bekas seseorang yang sangat terlihat dari kasur Helena. Kengerian terus membayang pada wajah Dora. Apa yang telah Abram lakukan kepada Helena di atas kasur tadi malam? Ia bergidik saat melihat baju dalaman yang dipakai gadis itu tidak terkancing sempurna dan salah dalam penempatan. Seorang gadis, tidak mungkin melakukan kesalahan seperti itu. Dora berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menutup rapat-rapat rahasia kecil yang bisa membuat perang tersebut, sebab ia yakin, Syelena tidak sadarkan diri dan ia mengira-ngira jika tidur gadis yang tidak normal tersebut akibat dari obat yang diminumnya kemarin sore. Seseorang menghadap Dora, seorang gadis lincah dan berani yang tidak disukainya. Dora menerima gadis tersebut di ruang dapur. Sambil duduk di atas balai, Dora bertanya, "Siapa yang mengutusmu datang kemari?" "Yang Mulia Tuan Abram, karena Tuan membutuhkan tukang pijat untuk tamunya sore ini, aku yang diutus untuk menggantikannya." jawab gadis itu yang dipanggil dengan sebutan Circe, yang artinya adalah seorang penyihir dan yang bersangkutan tidak keberatan dengan panggilan tersebut, justru ia mengatakan kalau dirinya ingin mempunyai kekuatan layaknya penyihir. Dora hanya mendengus mendengar hal itu, hati kecilnya kecewa kenapa tuannya mengirim orang yang sangat tidak kompeten dan selalu menjadi biang keributan di mana-mana. "Dengar, kamu hanya diperbolehkan berada di ruang dapur. Tidak boleh masuk ke kamar My Lady walaupun untuk mengambil sesuatu! Paham?!" gertak Dora sambil melotot. "Iya, iya ..., Mak, kok galak sih," ujar Circe manja. "Aku bukan emakmu. Berhenti menggunakan sebutan itu, atau kamu boleh pergi dari sini!" ancam Dora kepadanya. Circe tampak berpikir, ia memang malas bekerja, karena harus berkeringat dan merasa capai. Tapi rasa penasarannya atas diri putri Jenderal besar D'Arph yang dikabarkan kecantikannya mampu menandingi sang Dewi sehingga digilai oleh Pangeran Arion yang sangat tampan dan gagah, membuat Circe memilih bertahan untuk bekerja di sana. "Iya, hamba mohon maaf, tidak sekali lagi. Mohon izinkan bekerja di sini," sahut Circe sambil membungkuk sopan. Dora tidak bergeming. Ia merasakan bahwa gadis itu mempunyai tujuannya sendiri, dalam hatinya ia bertekad untuk mengawasi gerak gerik gadis itu secara ketat. Wanita tambun itu bangkit meninggalkan Circe dan kembali ke kamar Helena. Ia melihat si empunya kecantikan telah duduk dengan wajah bersemu merah. "My Lady sudah bangun," sapa Dora yang langsung bersimpuh di hadapan Helena. Helena tidak menjawab, tapi ia turun dari kasurnya dan merasakan tubuhnya terasa sangat baik. Kemudian ia menghampiri Dora dan menariknya agar segera berdiri. "Dora, kamu tuh sudah tua, ngaku mau melayani aku, tapi kenapa tidak mau nurut dengan apa yang kuperintahkan?" tanya Helena dengan kesal. Mendengar hal itu, Dora membelalak ketakutan dan seketika tubuhnya bergetar. "Sa--saya salah apa, My Lady." Sambil hendak bersimpuh kembali, tapi Helena mencegahnya dan membawa Dora ke sofa dua dudukan lalu di suruhnya duduk di sana sambil kedua tangan yang gemuk itu digenggam erat oleh Helena. Mata Dora membelalak dengan mulut menganga. Tapi, Helena tidak bergeming. "Kamu mau melayaniku?" tanya Helena menatap tajam pada bola mata Dora yang saat itu mengangguk dengan cepat. "Kamu mau menuruti kata-kataku tanpa bantahan?" tanya Helena kembali. Dora kembali mengangguk dengan cepat kali ini. "Dora, umurmu berapa?" Helena memperhatikan kulit wajah dan warna bola mata Dora. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang tahu mengenai hal itu, My Lady," sahut Dora. "Hm ... aku mau lihat kakimu, Dora. Buka roknya atau aku singkap sendiri!" titah Helena yang membuat Dora gelagapan tapi tidak berani membantah. Ia menyingkap roknya dengan wajah penuh kebingungan dan ketakutan. Helena meraba bagian tungkai dan menekan-nekannya dengan halus kemudian menambah tekanan dan Dora meringis. Tangan Helena berpindah pada mata kaki Dora yang langsung memejamkan matanya karena tidak tega melihat tangan itu menyentuh kakinya yang kotor. Helena menekan bagian itu dan jelas tanpa tekanan pun Dora meringis dan refleks menarik kakinya. Gadis itu menatap Dora lekat-lekat. "Kamu sakit, Dora. Namanya rhematik dan asam urat! Karena sakitmu ini, aku melarang kamu duduk bersimpuh di lantai lagi! Paham?!" seru Helena sambil melotot ke arah wanita yang keras kepala itu. Dora membelalak, ia baru mendengar istilah tersebut tapi ia mengakui kalau kakinya suka sakit dan ngilu, hanya saja ia mengabaikannya karena harus terus bekerja. Tatapan Helena tertambat pada kasur tipis yang digulung dan menempel pada dinding. "Kamu tidur di sini tadi malm?" tanya Helena sambil menoleh kepada Dora yang langsung menundukkan wajahnya. "Hamba, My Lady. Di minta tuan pimpinan agar bisa mengecek suhu My Lady." Dora ketakutan karena ternyata gadis di hadapannya itu cukup galak. Helena menarik napas. Sambil menatap Dora yang menunduk ia bertutur, "Dora, bagaimana kakimu bisa tidak sakit jika kamu tidur dibawah terus. Lagipula kakimu harus direndam air panas sebelum tidur, makanan ada yang harusnya tidak kamu makan dan aku akan meracik obat untukmu." "Dora, tolong jangan duduk di lantai. Kalau mau duduk, duduklah di kursi. Tidak usah membungkuk kepadaku, bisa?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD