KABAR

1856 Words
Hanya bisa menerima dan berserah pada waktu, pada alam yang mengawasi hidup dengan ketat. ♧♧♧♧♧♧ Manik hazel itu bergerak-gerak dengan sejuta kata yang tidak terungkap. Helena memandang lekat sosok wanita setangah baya di hadapannya. "Dora, mungkin ini sulit untuk dilakukan. Begini saja, di saat kita sedang berdua, kamu tidak usah duduk di lantai, jika ingin menyampaikan sesuatu, berdiri saja. Itu perintah," ujar Helena dengan lembut. Ketakutan yang membayang pada bahasa tubuh wanita itu membuat Helena jatuh iba. Dora mengangguk tanpa bisa berkata apa-apa. "Aku akan meracik obat untukmu, untuk mengatasi rasa nyeri dan sakit di kakimu itu. Sekarang tolong siapkan air panas, aku ingin mandi dan nanti, antar aku keliling mencari tanaman liar di luar sana, Oya, apa kalian membuat garam?" tanya Helena hampir saja lupa menanyakannya. Dora berdiri agak bersusah payah. Rasa sakit dan ngilu pada sendi lututnya sedang menyerang. "Garam datang dari luar, My Lady. Setiap pohon persik berbuah, pedagang datang kesini. Kami menukarnya dengan buah persik dan buah pir," sahut Dora sambil berdiri. "Hmm ... tiga sampai lima bulan sekali. Kapan pohon persik berbuah?" tanya Helena. "Satu kali purnama lagi, My Lady," sahut Dora dengan khidmat. "Apakah di dapur ada persediaan garam?" tanya Helena kembali. "Ada sebongkah besar, My Lady." "Ambillah sekepalan tangan ini, lalu tumbuk sampai halus dan bawa ke sini," titah Helena. "Hamba, My Lady," sahut Dora yang merasa canggung karena tidak sopan meninggalkan yang dilayaninya saat ia sedang berdiri. Helena tersenyum. "Pergilah, hanya kita berdua tidak butuh tata krama." Ruangan kamar masih tertutup rapat, gadis itu menghampiri jendela dan membuka selotnya. Tangan halus itu mendorong jendela ke arah luar dan bukan pemandangan hutan yang dilihatnya, melainkan beberapa gundukan semak-semak yang disukai oleh ular-ular berbisa, sedangkan jaraknya ke bangunan kayu tersebut hanya sekitar lima meter saja. Ia segera menutup kembali jendela tersebut, lalu berlari keluar dan melihat penjaga yang langsung bersimpuh di atas lantai. "Panggil tuan Abram kalian, sekarang!" perintah Helena kepada mereka. "Hamba My Lady." Keduanya menyahut berbarengan dan salah satu dari mereka segera undur diri. Helena kembali masuk ke dalam kamar lalu ia duduk di atas sofa sambil berpikir. Tidak lama masuk para pelayan membawa berember-ember air panas yang masih mengepulkan asap dan air dingin. Betapa repotnya harus mengangkut air ke dalam kamar. Gadis itu menunggu sampai semua selesai, lalu ia mulai mencampurkan air panas dengan air dingin ke dalam bathtub. Kemudian, Dora masuk setelah menutup pintu kamar dan menyerahkan garam bubuk yang berwarna kehitaman di dalam mangkuk yang terbuat dari tanah liat. Helena menerima garam tersebut dengan sedikit terheran-heran melihat warnanya. Tanpa ragu, ia mencicip sedikit garam dan rasanya asin bercampur pahit. Ia tersenyum. Warna kehitaman itu adalah zat belerang yang sangat bermanfaat untuk menyembuhkan segala macam penyakit kulit. Ia harus memisahkannya agar garam murni bisa dikonsumsi dan zat belerangnya bisa dijadikan obat. Kemudian ia memasukkan garam tersebut pada ember yang berisi seperempat air panas, kemudian mengecek suhunya. Dora memperhatikan apa yang dilakukan oleh wanita muda tersebut dengan roman wajah ingin tahu. "Ambil kursi," ujar Helena kepada Dora. "Hamba My Lady?" tanya Dora tidak paham dengan perintah itu. "Ya, ambil kursi makan, taro di sini." Helena menunjuk tempat di samping bathtub yang terletak ditengah-tengah ruangan. Dora segera mengangkat kursi dan meletakkannya di tempat yang ditunjuk oleh Helena, lalu, gadis itu menaruh ember di depan kursi dan ia menarik tangan Dora untuk duduk di atas kursi teraebut. "Duduk, angkat kedua kakimu, dan rendamlah di air panas itu. Duduklah dengan tenang sambil menunggu aku mandi," ujar Helena. Dora begitu gugup, ia belum pernah diperlakukan sebaik itu oleh siapa pun dan itu membuatnya sangat merasa tidak enak. Kegugupannya sulit untuk ditepis. Kedua kaki ia masukkan ke dalam ember, pertama kali, airnya terasa panas tapi Helena mengajarinya untuk beradaptasi dengan cara dicelupkan berulang-ulang sampai kulitnya bisa mentolerasi rasa panas. Dora memejamkan matanya, merasakan kenyamana luar biasa hanya dari kedua kakinya yang terendam air garam. Sementara itu, Helena telah telanjang bulat dan masuk ke dalam bathtub. Ia berendam dengan memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam air panas sambil mengerang. "Ah, enak sekali," gumamnya. Tiba-tiba, seseorang menyerobot masuk ke dalam kamar dan terkejut melihat gadis itu sedang berada di dalam bathtub. Sambil membungkuk dan berjalan mundur, Lelaki itu merasa wajahnya terbakar. Ia tergesa-gesa datang ke sana setelah mendengar laporan bahwa gadis itu memanggilnya dengan marah. Abram keluar dari kamar dan ia rela menunggu demi rambut yang bergelung di atas kepala, demi tengkuk yang begitu indah serta demi bahu yang seksi. Pemandangan sekilas itu telah membuat pikirannya sangat kacau. Lelaki itu duduk di atas teras dengan debaran jantung yang tak mampu ia kendalikan. Helena merasa cukup berendam karena kulit-kulit di jarinya berkerut. Ia segera keluar dari bathtub unik dan segera mengeringkan tubuhnya sambil menengok ke arah Dora yang ternyata sedang tidur. Bibir Helena naik, garis senyum yang tergambar di sana menyatakan pemahaman atas kenyamanan yang dirasakan oleh Dora. Merasa ada yang mengawasinya, Dora bangun tergagap, ia sangat terkejut dan merasa sangat bersalah. "Anda kurang tidur, Dora. Untuk malam nanti, aku pastikan tidurmu cukup," ujar Helena sambil melenggang ke arah lemari dan memilah baju yang ada di sana. Ia tidak ingin berdandan dengan kosmetik yang ada, di mana warnanya sangat mencolok. Kemudian, menyisir rambutnya yang tebal dan bergelombang dengan jemarinya. Helena menghampiri Dora yang tengah mengeringkan bathtub. "Dora, aku keluar karena tadi telah memanggil tuan Abram," ujar Helena sambil berbalik dan melangkah ke arah pintu. Semua orang yang melihat Helena langsung bersimpuh, tapi gadis itu terus melangkah ke ruang tamu yang pintunya terbuka dan melihat Abram tengah duduk di teras. Helena segera menghampirinya dan ikut duduk di samping lelaki itu yang terlonjak kaget lalu membungkuk di hadapan gadis itu. Helena menepuk kayu di sampingnya. "Duduklah, ada banyak yang harus aku sampaikan," ujar Helena dengan sikap santai. Ragu-ragu, Abram duduk sesuai yang diinginkan oleh Helena. "Mohon maaf, My Lady," ucapnya saat hendak duduk. "Pertama mengenai Dora. Tidakkah Anda tahu bahwa dia sakit rematik dan asam urat karena usianya? Nah, dia harus selalu dalam keadaan hangat. Untuk itu aku minta dibuatkan ranjang, ranjang untuk seluruh pelayan yang tinggal di sini." Helena menoleh ke sampingnya dan terkesiap melihat betapa tampannya lelaki itu jika diperhatikan dengan baik. "My Lady, itu sakit apa? Namanya baru dengar," kata Abram dengan nada heran. "Akan terlalu panjang jika dibahas. Yang kedua adalah tolong dibakar semak-semak yang ada di sekitar rumah kayu ini, karena semak-semak tersebut dijadikan sarang oleh ular berbisa. Aku tidak mau melihat ular dan itu harus dilakukan segera. Ketiga, aku butuh batang bambu kecil yang cukup panjang serta kayu-kayu sebab aku tidak mai orang repot-repot mengangkut air dalam ember dari sumber mata air ke rumah. Aku akan mengalirkan air tersebut langsung ke kamar mandi dan dapur memakai batang bambu yang disambung. Keempat, kumpulkan semua garam yang ada, karena aku harus memisahkan zat belerang dan garam murninya. Jika Anda mengkonsumsi belerang terus menerus, hanya akan mengikis organ tubuh menjadi ringkih dan sakit-sakitan. Garam itu, nantinya akan menjadi dua bagian. Garam berwarna putih menjadi bumbu untuk makanan, mengusir serangga, membunuh lintah dan banyak lagi kegunaannya, sementara belerang akan aku jadikan obat kulit. Sementara empat saja dulu permintaanku, bisa dilakukan dengan cepat?" Helena kembali menoleh dan memandang wajah Abram lekat-lekat. Abram terpana mendengar apa yang dikatakan oleh gadis tersebut. Ia nyaris tidak mempercayai pendengarannya. Bagaimana bisa seorang wanita memiliki pengetahuan yang lelaki pun tidak terpikir ke arah sana. Bahkan bisa membuat obat dan melakukan hal teknis yang harusnya dilakukan oleh lelaki dan atas ide lelaki. Rasanya ingin bertanya banyak hal kepada gadis itu, tapi Abram terpesona oleh manik hazel yang memiliki daya bius hingga membuat kepalanya terasa melayang. Abram telah jatuh terperosok pada pesona lahir batin dari gadis itu. Sekejap apa ingin ditanyakan hilang dari ingatan. Setelah berusaha menenangkan diri, Abram berkata dengan tenggorokan tercekat, "Ba--baik, My Lady ... akan segera saya laksanakan, hari ini juga. Saya permisi," ujar Abram sambil membungkuk dan berlalu ke arah samping rumah. Tidak lama kemudian, banyak orang telah berkumpul dan Helena memerintahkan orang-orang untuk menutup rapat semua celah di rumah tersebut agar asap tidak terlalu banyak menerobos rumah. Ia sangat membenci bau asap pembakaran. Butuh waktu tiga jam hingga udara mendekati kejernihan. Dalam waktu tiga jam tersebut, ranjang sebanyak lima buah telah sampai di halaman rumah, begitupun dengan selongsong bambu, telah menumpuk di sana. Abram kebingungan melihat selongsong bambu tersebut yang ukurannya berbeda-beda. Ia kebingungan bagaimana menyambung-nyambungkannya. Hari sudah menjelang sore saat Helena keluar dan memilih selongsonga bambu. Ia memilih ukuran yang paling kecil, seukuran dengan selang plastik yang dikenalnya di abad kedua puluh satu. Kemudian ia meminta pisau yang tajam dan mengajari anak buah Abram bagaimana cara menyambung bambu-bambu tersebut. Helena mengambil jarak dua puluh sentimeter dari ujung Bambu dengan tangannya yang terampil ia membelah bagian luar bambu tersebut cukup tipis, mengulitinya dengan hati-hati. Kemudian memasukkan hasil yang telah dikeratnya ke dalam bambu utuh. Bambu itu tersambung dengan padat dan sulit dicabut karena kemiringan pada keratan dilakukan dengan ukuran yang sempurna. Semua orang yang menyaksikan, terkagum-kagum dan mereka berlomba untuk mencobanya. Helena mengingatkan mereka bahwa ukuran pembeda pada unjung penutup sangat penting agar bambu bisa saling mengikat diri dengan baik. Orang-orang begitu serius dan bersemangat mengerjakannya, ada yang gagal, ada yang berhasil dan mereka riuh bersorak sorai bagaikan anak-anak mendapatkan mainan baru. Sorot mata kekaguman terus terpancar dari kedua mata Abram. Ia meyakini bahwa Syelena D'Arph adalah titisan Dewi, ia bertekat untuk merebutnya dari Pangeran Arion. Tidak peduli jika harus berperang besar-besaran, yang dibutuhkannya jika saat itu tiba adalah bala tentara yang ahli dengan jumlah banyak. Gadis itu berdiri di hadapan orang-orang, dia harus segera istirahat karena hari itu cukup melelahkan bagi jantungnya. "Tolong dengarkan semua, Aku harus minum obat dan akan tidur lebih lama. Ketika saya bangun, maka kita akan memasang pipa ini ke bagian dapur dan tiap kamar mandi. Besok, aku akan buat penutupnya, supaya air tidak terus menerus mengucur dan terbuang percuma. Saat ini aku mohon diri, terima kasih atas antusias kalian. Setelah pipa ini terpasang dengan baik, kalian bisa menggunakannya di tempat masing-masing. Permisi," tutur Helena kemudian berbalik ke arah dalam rumah. Entah kenapa jantungnya terasa sakit kembali meskipun tidak terlalu parah seperti biasa, ia butuh berpikir apakah tubuhnya resisten terhadap obat ramuan sang tabib atau ada hal lain yang memicunya. Sebab, seharusnya rasa sakit itu justru menghilang pelan-pelan. Helena butuh waktu untuk menelaah dan mendiagnosa sendiri. Dora telah mendapatkan ranjangnya yang berukuran satu orang. Berbeda dengan ranjang Helena yang berukuran untuk dua orang. Kedua mata Dora berkaca-kaca. Iq sangat berterima kasih kepada Helena yang telah begitu peduli kepadanya juga terhadap yang lain. Seseorang mengetuk pintu, mengabarkan bahwa ia datang dari kerajaan dan ingin menyampaikan sesuatu yang penting. Helena kembali keluar kamar menuju ruang tamu dan naik dua undakan untuk duduk di kursi kebesarannya. "Suruh masuk," titah Helena kepada penjaganya. Tamu pun memasuki ruangan, dua orang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahunan, membungkuk hormat sebelum bersimpuh di hadapan Helena. "Bicara!" titah Helena yang ingin segera menyelesaikan apapun masalahnya. "My Lady, hamba membawa kabar tidak bagus. Pangeran Arion telah disekap dan ditahan di dalam istana, karena kepergiannya untuk menyelamatkan My Lady, diketahui oleh seseorang yang belum tahu siapa, hingga Pemaisuri dan Raja memberikan hukuman tersebut. Maafkan hamba, My lady." Suasana di dalam ruangan pun memerangkap atmosfer ketegangan dari napas-napas yang dihela. ◇◇◇◇
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD